Toko Tiga Bidadari

Toko Tiga Bidadari Conten creator digital
Bismillah.. Semoga cuan..

14/04/2026

Ya Allah lancarkan dan permudahkanlah rezeki kami ya Allah, berikanlah rezeki yang berlimpah keada kami ya Allah. Aamiin..

25/02/2026

Selalu bersyukur..
Allah akan melipat gandakan rezeki kita.

Sepasang suami istri, Didi Supandi dan Wahyu Triana Sari, menggugat aturan penghangusan sisa kuota internet ke Mahkamah ...
31/12/2025

Sepasang suami istri, Didi Supandi dan Wahyu Triana Sari, menggugat aturan penghangusan sisa kuota internet ke Mahkamah Konstitusi (MK). Gugatan tersebut teregistrasi dengan nomor perkara 273/PUU-XXIII/2025 dan menyasar Pasal 71 angka 2 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja yang mengubah Pasal 28 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.

Didi yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online dan Wahyu sebagai pedagang online menilai aturan tersebut merugikan konsumen, terutama pengguna internet yang menggantungkan penghasilan pada layanan digital. Pemohon menilai pasal tersebut bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28H Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dalam gugatannya, pemohon menyebut regulasi tersebut tidak menyesuaikan perkembangan teknologi informasi, khususnya penggunaan data internet. Selain tunduk pada regulasi telekomunikasi, penyedia layanan dinilai wajib mematuhi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

“Di mana berdasarkan Pasal 4 dan Pasal 7 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, pelaku usaha wajib menjamin hak konsumen untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, serta jaminan bahwa manfaat yang diterima sesuai dengan nilai transaksi,” demikian tertulis dalam gugatan yang dikutip dari laman Mahkamah Konstitusi, Selasa (30/12/2025).

Pemohon juga menilai aturan tersebut menimbulkan ketimpangan ekstrem antara pelaku usaha telekomunikasi dan konsumen karena memberi kewenangan sepihak kepada operator untuk menghanguskan sisa kuota internet. Kebijakan tersebut dinilai mencederai hak milik konsumen atas kuota yang telah dibayar lunas.

“Bahwa namun, hubungan hukum ini mengalami ketimpangan yang ekstrem (asymmetry of power) dengan munculnya kebijakan ‘penghangusan kuota sepihak’ oleh pelaku usaha saat masa aktif berakhir,” tulis pemohon.

Menurut pemohon, sisa kuota internet merupakan aset pribadi konsumen yang dilindungi secara konstitusional. “Bahwa ketika konsumen melakukan transaksi pembayaran (top-up atau pembelian paket), pada detik itu juga telah terjadi peralihan hak kepemilikan atas satuan volume data (gigabyte) dari penyedia jasa telekomunikasi kepada pengguna jasa telekomunikasi,” ujarnya.

Pemohon turut membandingkan kebijakan kuota internet dengan token listrik. Pemerintah dinilai tidak memberlakukan penghangusan sisa daya listrik meski tidak segera habis digunakan. “Hal tersebut membuktikan bahwa ketentuan norma a quo bersifat diskriminatif dan mengabaikan hak konsumen atas perlindungan hukum yang setara,” tulis pemohon.

Selain itu, negara dinilai lalai melindungi konsumen karena memberikan ruang bagi operator untuk menghanguskan kuota internet melalui pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja. “Dengan memberikan ketentuan norma a quo tetap berlaku tanpa syarat perlindungan sisa kuota, negara telah melakukan pengabaian konstitusional (constitutional omission),” kata pemohon.

Dalam petitumnya, pemohon meminta Mahkamah Konstitusi menyatakan Pasal 71 angka 2 Undang-Undang Cipta Kerja bertentangan secara bersyarat dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sepanjang tidak dimaknai adanya jaminan akumulasi sisa kuota data, konversi menjadi pulsa, atau pengembalian dana secara proporsional kepada konsumen.

30/12/2025

Haul

Di balik kemampuannya yang jenius, kecerdasan buatan (AI) ternyata menyimpan beban lingkungan yang sangat besar dan seri...
30/12/2025

Di balik kemampuannya yang jenius, kecerdasan buatan (AI) ternyata menyimpan beban lingkungan yang sangat besar dan sering kali luput dari perhatian publik. Sebuah penelitian terbaru di tahun 2025 mengungkap bahwa sistem AI global mengonsumsi antara 312 hingga 764 miliar liter air per tahun hanya untuk mendinginkan server di pusat data mereka.

Angka konsumsi air yang sangat masif ini ternyata setara dengan total penggunaan air tahunan oleh seluruh industri air minum kemasan di seluruh dunia. Panas yang dihasilkan oleh komputasi intensif untuk menjalankan model bahasa besar seperti ChatGPT membutuhkan pendinginan evaporatif yang konstan agar perangkat keras tidak mengalami kerusakan fatal.

Selain masalah air, jejak karbon AI juga sangat mengkhawatirkan dengan perkiraan emisi mencapai 32,6 hingga 79,7 juta ton CO2, yang setara dengan total emisi tahunan Kota New York. Hal ini menciptakan sebuah paradoks teknologi, di mana AI yang diharapkan bisa memberikan solusi bagi perubahan iklim, justru menjadi salah satu penyumbang polusi yang cukup signifikan.

Para ahli kini mendesak perusahaan teknologi raksasa untuk segera beralih ke sistem pendinginan yang lebih ramah lingkungan dan menggunakan sumber energi terbarukan sepenuhnya. Jika tidak segera dibenahi, perkembangan AI yang sangat pesat ini dikhawatirkan akan memicu krisis sumber daya air di wilayah-wilayah yang menjadi lokasi pusat data utama.

30/12/2025

Makam Abah guru sekumpul

Wah hebat ini.Perlu di contoh, agar benar amanah..MATEMATIKA DONASI FERRY IRWANDI ITU GAK MASUK AKAL. DUIT 7,6 MILIAR, T...
30/12/2025

Wah hebat ini.
Perlu di contoh, agar benar amanah..

MATEMATIKA DONASI FERRY IRWANDI ITU GAK MASUK AKAL. DUIT 7,6 MILIAR, TAPI BARANG YANG NYAMPE KAYAK ANGGARAN 15 MILIAR! INI CARANYA DIA "NGE-CHEAT" LOGISTIK.

Coba lo bedah datanya per 20 Desember 2025.
​Dana 7,6 Miliar bisa berubah jadi 106 ton beras, 3 ekskavator, 9 genset surya, sampe puluhan Starlink.
​Kalau pake hitungan proyekan biasa, duit segitu mungkin cuma dapet setengahnya karena habis dimakan biaya angkut & admin. Tapi Ferry mainin taktik "Logistik Gerilya".

Ferry ogah bakar duit donatur di ongkir. Solusinya?
1.​ Nebeng Institusi: Dia manfaatin pesawat TNI & Polri buat angkut barang berat antar pulau. Gratis & cepat.
2. ​Bypass Tengkulak: Kerjasama bareng Rumah Tani. Angkut hasil bumi langsung dari sumber, bukan beli di pasar yang harganya udah digoreng.
​Cost logistik ditekan sampe tiarap, jadi volume bantuan yang naik gila-gilaan.

Bagian paling mindblowing adalah soal biaya "printilan" yang biasanya bikin boncos.
​Sewa pesawat Susi Air (walau udah dikasih harga temen sama Bu Susi), uang makan tim, hotel, bensin... itu NOL RUPIAH dari uang donasi.
​Semua tagihan itu dibayar Ferry pribadi & kas Malaka Project. Prinsipnya ngeri: Duit rakyat harus balik ke rakyat 100%, operasional urusan belakangan.

Ini bukan sekadar charity, ini masterclass manajemen krisis.
​Ferry ngebuktiin kalau "Niat Tulus" + "Otak Encer" itu kombinasinya overpowered. Di saat yang lain sibuk bikin laporan pertanggungjawaban buat motong admin, Ferry sibuk mikir gimana caranya duit 1 rupiah bisa punya impact senilai 10 rupiah.

Curhatan Larisa chou punya supir Gen Z
29/12/2025

Curhatan Larisa chou punya supir Gen Z

Bayangkan kamu lagi di pesawat yang melaju lebih dari 500 km/jam, lalu menuang air ke gelas.Secara naluri, otak drama ki...
26/12/2025

Bayangkan kamu lagi di pesawat yang melaju lebih dari 500 km/jam, lalu menuang air ke gelas.
Secara naluri, otak drama kita ini mungkin membayangkan airnya luber ke belakang.

Tapi kenyataannya tidak begitu.
Air itu jatuh manis, lurus, sopan, sama seperti pesawatnya lagi parkir.

Dan di situlah sains mengambil peran.
Penjelasannya gini.

Pertama: kita semua satu geng
Di dalam kabin, kamu, gelas, air, kursi, dan udara adalah satu sistem.
Begitu pesawat mencapai kecepatan jelajah yang stabil, semua benda di dalamnya sudah bergerak bersama dengan kecepatan horizontal yang sama.
Airnya nggak diam, dia ikut ngebut, cuma kita nggak merasa.

Kedua: inersia, hukum setia kawan
Hukum Pertama Newton bilang, bahwa benda akan mempertahankan geraknya kalau nggak ada gaya luar yang maksa dia berubah.
Air di gelas sudah melaju ratusan km/jam bersama pesawat.
Jadi saat dituangkan, yang berubah cuma arah jatuh vertikalnya, bukan gerak majunya.
Dari sudut pandang kita di dalam pesawat, semuanya terasa tenang, padahal kita sedang meluncur di langit.

Ketiga: kebingungan klasik bumi datar
Ada yang bertanya, Kalau bumi berputar, kenapa kita nggak terlempar?
Ini lahir dari anggapan bahwa kecepatan selalu harus terasa.
Padahal tidak. Yang terasa itu perubahan kecepatan (percepatan), bukan kecepatannya sendiri.
Ditambah lagi, gravitasi menjaga atmosfer tetap setia, ikut berputar bersama bumi.

Keempat: analogi pesawat sebagai jawaban halus
Seperti air di pesawat, manusia, lautan, dan udara bergerak bersama bumi sebagai satu sistem raksasa.
Rotasi bumi hampir konstan, jadi tidak ada ‘sentakan’ yang bikin kita mental ke luar angkasa.

Kadang yang bikin bingung bukan dunia yang aneh, tapi intuisi kita yang belum diajak kenalan dengan fisika.

Dan sekarang, you know,
kita semua sedang melaju cepat,
hanya saja Tuhan membuatnya terasa begitu tenang.

——
Now I Know

Address

Ciloa 2
45362

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Toko Tiga Bidadari posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Toko Tiga Bidadari:

Share