12/03/2024
Kasus 771
Assalamualaikum ....
Sebelumnya maaf, ya, Kak Diny dan Ummahat semua izin ikut curhat rubrik Pena Wanita. Dan mungkin ini akan lumayan panjang uneg-uneg yang akan saya sampaikan. Mohon nasihatnya, ya. 🙏
Jujur, saya adalah seorang anak yang sangat membenci bapak kandung saya sendiri. Itu karena perlakuannya ke mamak (keluarga) kurang baik. Sejak menikah sampai mamak mau meninggal dibiarkan bekerja banting tulang sendiri untuk kebutuhan sehari-hari (bapak seperti lepas tanggungjawab). Sedangkan bapak hanya ongkang-ongkang di rumah, main, kalau punya uang dinikmati sendiri. Yang paling bikin saya sakit hati, uang takziahan (waktu mamak meninggal) pun berani bapak ambil dan entah untuk apa.
Mamak saya janda anak tiga, Kak. Anak mamak s**a mengirim uang sebulan/beberapa waktu sekali. Yang saya sayangkan, bapak sebagai kepala keluarga bukannya memberi nafkah, tapi justru s**a mengungkit uang tersebut juga uang hasil jerih payah mamak sendiri. Mengatai mamak kalau punya uang banyak s**a keluar-keluar boro-boro beliin rokok sebatang. Padahal bapak justru yang sering seperti itu kalau punya uang. Jangankan menafkahi, beli kebutuhan dapur semurah garam pun belum pernah.
Tahun 2022 saya menikah. Berharap dengan saya menikah mungkin akan ada perubahan RT orang tua saya. Saya selalu berdoa dan melangitkan harapan agar bapak berubah dan hidup damai dengan mamak tanpa ada cekcok setiap harinya, tapi itu mungkin tak akan pernah terkabulkan. Faktanya mamak sudah meninggal dan bapak semakin tidak tahu diri.
Saya sering cekcok, Kak, sama bapak. Melihat wajahnya dan perilakunya seolah saya ini dendam pada bapak atas semua yang dilakukan selama ini. Pernah saking jengkelnya saya hampir melempar bapak pakai mangkok, pernah juga saya menangis sambil berkata kenapa saya punya bapak seperti Anda? Kenapa juga mamak dulu yang meninggal, bukan Anda saja?
Beberapa hari lalu, saya cekcok sama Bapak karena saya kesal banget dengannya. Saya punya bayi dan suami saya pun capek kerja seharian mau istirahat, eh, tengah malam bapak nyalain radio volume keras. Tentu saja terganggu. Saya matikan dihidupkan lagi, saya matikan lagi dihidupkan lagi sambil ditungguin. Akhirnya saya teramat kesal saya cabut colokannya dan saya lempar. Radiopun ikut terseret dan sepertinya rusak. Bapak bangkit, entah saya mau diapain tapi alhamdulilah urung. Bapak lantas ngomel, membahas anak kok seperti itu, ngatur orang tua! Terus bahas soal besarin anak. Saya pun tak mau kalah, karena tidak merasakan kasih sayang bapak jadi saya meragukan jika bapak berjuang ini-itu untuk saya. Karena faktanya yang terlihat hanya mamak yang berjuang untuk kehidupan saya.
Selain itu, bapak juga ngomel bawa-bawa suami saya. Pernah saya berantem kecil sama suami, bapak ikut campur sok-sok mau bela saya. Mengeluarkan sumpah serapah dan kata-kata menyakitkan untuk suami. Suami saya nangis, Kak. Jujur, di sini saya nggak bangga dibela bapak. Malah justru menyesal dan kasihan pada suami.
Kak, bagaimana agar saya bisa sabar hidup seatap dengan bapak saya? Bagaimana agar mental saya tetap sehat menghadapi bapak? Sedangkan setiap melihat bapak, hati ini sakit, dendam dan juga ada rasa kasihan tak mau ada pertengkaran di antara kami.
Dan saya termasuk anak durhaka, ya, Kak? Jika saya berani membantah bapak dan lebih memilih dan membela suami? Soalnya, terkadang bapak berperilaku seolah mencari-cari kesalahan suami.
Sebelumnya terimakasih. Mohon saran dan nasihatnya 🙏