05/06/2026
الممتع في شرح الآجرومية
تَعْرِيفُ الْكَلَامِ
قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: (الكَلَامُ: هُوَ اللَّفْظُ الْمُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بِالْوَضْعِ).
الشَّرْحُ: بَدَأَ المصَنِّفُ (رحمه الله) بِتَعْرِيفِ الكَلامِ؛ لِأَنَّ النَّحْوَ لإِقَامَةِ الكَلَامِ.
فَقَالَ: الكَلَامُ: هو اللفظ المركب المفيد بالوضع.
فلا بُدَّ أن يجتمع في الكلامِ أربعةُ أُمورٍ:
أحدُها: أن يكونَ لفظًا: أيْ: صَوتًا مُشتَمِلًا عَلَى بعض الحُروفِ الهِجائِيَّةِ.
الثَّانِي: أن يكونَ مُرَكَّبًا: أَيْ: مُؤَلَّفًا مِنْ كَلِمَتَيْنِ أَوْ أَكْثَرَ.
الثَّالِثُ: أن يكونَ مُفِيدًا: أَيْ: يَحْسُنُ سُكوتُ المتكَلِّمِ عليْهِ.
الرَّابِعُ: أن يكونَ بالوَضْعِ: أَيْ: بِوَضْعِ العَرَبِ بِأَنْ يكونَ مِنْ كلامِهِم. (١)
نحو قولك: العِلْمُ نَافِعٌ (٢)، ونَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا﴾ (٣)،
وقول النبي ﷺ: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ» (٤).
فكلُّ مِنْ هَذِهِ الجُمَلِ كَلَامٌ نَحْوِيٌّ لِتَوَافُرِ الشُّرُوطِ المُتَقَدِّمَةِ فِيهَا، وَهِيَ:
(اللَّفْظُ، وَالتَّرْكِيبُ، وَالإِفَادَةُ، وَالوَضْعُ العَرَبِيُّ). (*)
Catatan Kaki & Peringatan:
(١) ينظر: 'حاشية الصبان' (٣٠/١)، و'شرح الراعي' ص(١١١) و'شرح الكفراوي' ص(١١).
(٢) فالعلم نافع: كلام عند النحاة؛ لأنّه: لفظ: مشتمل على بعض الحروف الهجائية، وهي: الألف، واللام، والعين... و مركب: لتركبه من كلمتين، الأولى: العلم، والثانية: نافع. و مفيد: لأنّه أفاد الإخبار بنفع العلم. وبالوضع العربي: لأنّه من كلام العرب.
(٣) النساء من الآية (١٦٤). (٤) أخرجه البخاري واللفظ له، ومسلم عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه.
(*) تنبيهان:
١- ترك المصنّف تعريف النّحو و النّحو: هو قواعد يُعرَف بها أحوال أواخر الكلم إعرابًا وبناءً.
٢- خرج بقول المصنف (اللفظ) الإشارة والكتابة ونحوهما، فلا تُسَمَّى كلامًا. وخرج بقوله (المركّب): الكلمة الواحدة نحو: زيد، وهل، وقام؛ فلا تُسَمَّى كلامًا وإن كانت لفظًا، وخرج بقوله (المفيد): المركب غير المفيد. نحو: عبدُاللهِ، وإنْ قامَ زيدٌ. وخرج بقوله: (بالوضع) كلامُ غيرِ العرب كالعجم ونحوهم.
Terjemahan Bahasa Indonesia
Al-Mumti' fi Syarh Al-Ajurrumiyyah
DEFINISI KALAM
Penulis (semoga Allah Ta'ala merahmatinya) berkata: (Kalam: ia adalah lafaz yang tersusun, memberikan faedah, dan disengaja [dengan bahasa Arab]).
Penjelasan: Penulis (semoga Allah merahmatinya) memulai dengan mendefinisikan kalam; karena ilmu nahwu ditujukan untuk meluruskan (menegakkan) kalam.
Maka beliau berkata: Kalam: ia adalah lafaz yang tersusun, memberikan faedah, dan dengan wadh'i.
Maka harus terkumpul dalam kalam itu empat perkara:
Pertama: Ia harus berupa lafaz: yaitu: suara yang mencakup sebagian huruf-huruf hijaiyah.
Kedua: Ia harus murakkab (tersusun): yaitu: tersusun dari dua kata atau lebih.
Ketiga: Ia harus mufid (memberikan faedah/makna sempurna): yaitu: pantas bagi pembicara untuk diam padanya (pendengar sudah paham dan tidak menunggu kelanjutan kata).
Keempat: Ia harus dengan wadh'i: yaitu: dengan peletakan (aturan) orang Arab, yakni dengan menggunakan bahasa mereka. (1)
Seperti ucapanmu: Al-'Ilmu nafi'un (Ilmu itu bermanfaat) (2), dan seperti firman-Nya Ta'ala: "Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung" (3), dan sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya" (4).
Maka setiap kalimat dari kalimat-kalimat ini adalah kalam menurut ilmu nahwu karena terpenuhinya syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya di dalamnya, yaitu: (Lafaz, Susunan, Faedah, dan Wadh'i bahasa Arab). (*)
Catatan Kaki & Peringatan:
(1) Lihat: 'Hasyiyah As-Sabban' (1/30), dan 'Syarh Ar-Ra'i' hal (111) dan 'Syarh Al-Kafrawi' hal (11).
(2) Maka Al-ilmu nafi'un (ilmu itu bermanfaat): adalah kalam menurut ahli nahwu; karena ia: lafaz: mencakup sebagian huruf hijaiyah, yaitu: alif, lam, dan 'ain... dan murakkab: karena tersusun dari dua kata, yang pertama: Al-Ilmu, dan yang kedua: Nafi'. dan mufid: karena ia memberikan faedah pemberitahuan tentang manfaat ilmu. Dan dengan wadh'i Arab: karena ia dari bahasa orang Arab.
(3) Surah An-Nisa dari ayat (164). (4) Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan lafaz ini miliknya, dan Muslim dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu.
(*) Dua Catatan Penting:
1- Penulis tidak menyebutkan (meninggalkan) definisi Nahwu. Dan Nahwu adalah: kaidah-kaidah yang dengannya diketahui keadaan akhir kata, baik secara i'rab maupun bina'.
2- Dikecualikan dari ucapan penulis (Lafaz): isyarat, tulisan, dan sesamanya, maka itu tidak dinamakan kalam. Dan dikecualikan dari ucapannya (Murakkab): satu kata seperti: Zaid, Hal, dan Qama; maka itu tidak dinamakan kalam meskipun ia berupa lafaz. Dan dikecualikan dari ucapannya (Mufid): susunan yang tidak mufid (tidak sempurna maknanya). Seperti: 'Abdu Allahi (Hamba Allah), dan In qaama Zaidun (Jika Zaid berdiri). Dan dikecualikan dari ucapannya: (Bil Wadh'i) ucapan selain orang Arab seperti orang 'Ajam (non-Arab) dan sesamanya.