Ahmad Fajar Qomarudin

Ahmad Fajar Qomarudin 𝘽𝙚𝙧𝙨𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙝-𝙨𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙝𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙞𝙝 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙢𝙖𝙣𝙛𝙖𝙖𝙩 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙢𝙪.

Permanently closed.
RASULULLAH ﷺ SELALU MEMOHON TAMBAHAN ILMUPenguasaan ilmu Agama, tidak diragukan lagi sangat bermanfaat bagi seorang Musl...
04/10/2026

RASULULLAH ﷺ SELALU MEMOHON TAMBAHAN ILMU

Penguasaan ilmu Agama, tidak diragukan lagi sangat bermanfaat bagi seorang Muslim, Mengingat, seluruh aspek kehidupannya telah diatur oleh Islam. Orang yang berilmu akan berjalan dengan mantap. Sementara orang yang berpengetahuan agama pas-pasan, atau bahkan derajatnya nol, akan berhadapan dengan ketidakjelasan, keraguan dan perasaan was-was, bahkan mungkin saja terjerumus dalam lubang kesesatan. Bila merasa yakin pun, keyakinannya belum dapat dipertanggungjawabkan, karena tak berlandaskan ilmu.

Dalam al Quran, Allah Azza wa Jalla memuji orang-orang yang berilmu. Sanjungan-sanjungan tersebut hanya ditujukan bagi mereka yang mendalami ‘ilmuddîn (ilmu agama). Ilmu yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Itulah sumber kebaikan yang hakiki dan murni.

Kebaikan sangat penting bagi seseorang di dunia ini. Dengan berilmu, seseorang akan mengetahui kebaikan-kebaikan yang banyak. Tak mengherankan, bila Allah Azza wa Jalla menyuruh Rasul-Nya yang mulia untuk memohon tambahan ilmu. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

dan katakanlah :”Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. [QS. Thâhâ/20:114]

Ayat di atas, dinyatakan oleh al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya (al-Fat-h, 1/187), sangat jelas berindikasi tentang keutamaan ilmu yang sangat besar. Sebab, Allah Azza wa Jalla tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan apapun selain tambahan ilmu

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan alasan mengapa Rasulullah ﷺ, hamba Allah yang paling berilmu tentang Allah Azza wa Jalla , diperintahkan untuk berdoa memohon tambahan ilmu. Kata beliau, “ Sesungguhnya ilmu adalah kebaikan. Dan limpahan kebaikan memang dibutuhkan. Ilmu itu sendiri berasal dari Allah Azza wa Jalla . Dan cara untuk menggapainya ialah dengan keseriusan, antusiasme besar kepada ilmu, memintanya dan memohon bantuan kepada Allah Azza wa Jalla serta menghinakan diri kepada-Nya pada setiap saat. Demikian penuturan beliau dalam tafsirnya (hal. 551)

Sebagai pelaksanaan dari perintah di atas, di antara doa yang beliau panjatkan berbunyi:

اَللَّهُمَّ انْفًًًًًًََعْنِيْ مَا عَلَّمْتَنِيْ وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِيْ وَزِدْنِيْ عِلْماً

Ya Allah, berilah manfaat atas apa yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat bagiku, dan tambahilah aku ilmu [HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah, dishahihkan al-Albâni]

Sufyân bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Beliau (Rasulullah ﷺ) senantiasa berada dalam tambahan ilmu sampai beliau wafat”. [Tafsir Ibnu Katsir 5/312].

Perhatian besar terhadap masalah penting ini juga menjadi bagian kehidupan generasi Salaf. Mereka memohon tambahan ilmu dari Allah Azza wa Jalla al’Alîm al-Khabîr. ‘Abd bin Humaid rahimahullah dan Sa’îd bin Manshûr rahimahullah meriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu pernah berdoa:

اَللَّهُمَّ زِدْنِيْ إِيْمَاناً وَفِقْهاً وَيَقِيْناً وَعِلْماً

Ya Allah, berilah aku tambahan iman, pemahaman, keyakinan dan ilmu

Seorang Muslim sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ, senantiasa diperintahkan agar memohon tambahan ilmu juga karena ilmu ibarat lautan yang tak pernah bertepi. Semakin dalam seseorang mengarunginya, semakin sadar betapa dangkal apa yang telah ia mengerti.

Demikianlah, seorang hamba akan selalu berada dalam naungan kebaikan selama ia tekun mempelajari hal-hal yang bermanfaat dan dapat memanfaatkan apa yang ia ketahui serta senantiasa menjaga semangat untuk tidak puas dengan apa yang telah diketahui sampai menghadap Allah Azza wa Jalla .

Sumber.
Fiqhul Ad’iyah 4/111 dan lainnya

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
..

𝗧𝗘𝗥𝗨𝗦𝗟𝗔𝗛 𝗠𝗘𝗠𝗣𝗘𝗟𝗔𝗝𝗔𝗥𝗜 𝗜𝗟𝗠𝗨 𝗔𝗚𝗔𝗠𝗔, 𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗕𝗘𝗥𝗛𝗘𝗡𝗧𝗜 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗠𝗔𝗧𝗜 !Salah seorang ulama di kalangan Tabi’in, Sa’id bin Jubair...
04/10/2026

𝗧𝗘𝗥𝗨𝗦𝗟𝗔𝗛 𝗠𝗘𝗠𝗣𝗘𝗟𝗔𝗝𝗔𝗥𝗜 𝗜𝗟𝗠𝗨 𝗔𝗚𝗔𝗠𝗔, 𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗕𝗘𝗥𝗛𝗘𝗡𝗧𝗜 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗠𝗔𝗧𝗜 !

Salah seorang ulama di kalangan Tabi’in, Sa’id bin Jubair rohimahulloh pernah berkata :

“Seseorang itu akan tetap disebut ulama (orang yang berilmu), selama dia tetap terus belajar.

Adapun jika dia berhenti mencari ilmu dan menganggap dirinya telah merasa cukup (yakni tidak butuh lagi untuk belajar), maka dia akan menjadi orang yang paling bodoh.” ( Min Hadyi Salaf, hal. 77)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah juga pernah berkata :
“آفة العلم الكبر، وآفة العبادة الرياء”

“Petaka/bencana ilmu itu adalah SOMBONG (kesombongan), sedangkan petaka/bencana ibadah itu adalah RIYA’ (s**a pamer amal).”

( Ar-Raddu ‘alaa Asy-Syadzaliy, hal. 207)

Yakni, sombong, merasa cukup dengan ilmu yang telah ada, padahal masih minim (sedikit sekali), dan enggan (tidak mau) belajar lagi, dan juga diiringi sikap meremehkan atau merendahkan orang lain.

Al-Imam Ibnu Jama’ah Al-Kinany rohimahulloh juga pernah berkata :

“Janganlah seseorang itu sombong, menolak untuk mengambil faedah ilmu yang dia belum ketahui dari orang yang di bawahnya !

Bahkan hendaknya dia bersungguh-sungguh mencari faedah ilmu, karena hikmah itu adalah milik seorang mukmin. Di manapun dia temui, hendaklah dia mengambilnya.”

(Disebutkan dalam : Min Hadyi Salaf, hal. 77)

Jadi, tetaplah terus belajar dan beramal, sesuai kemampuan !

Selagi masih mampu, teruslah belajar, catatlah dan ambillah setiap faedah ilmu yang anda dapatkan, jangan malas menghadiri halaqoh-halaqoh dan majelis-majelis ilmu, dari para ulama dan para da'i yang terpercaya agama dan Ilmunya .....

Jangan lupa mengiringinya dengan mengamalkan ilmu yang kita pelajari itu, juga sesuai dengan kemampuan kita ....

Semoga Alloh subhanahu wa ta'ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita, agar menjadi penuntut ilmu yang abadi, hingga kita berpisah dari dunia yang fana ini ....

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah ....

Surabaya, Kamis pagi yg sejuk, 29 Jumadil Akhir 1445 H / 11 Januari 2024 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya...

𝗗𝗢𝗦𝗔 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗛𝗔𝗟𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗜𝗡𝗧𝗨 𝗥𝗘𝗭𝗘𝗞𝗜Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:“Maksiat merupakan penghalang di pintu usaha, dan ...
04/10/2026

𝗗𝗢𝗦𝗔 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗛𝗔𝗟𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗜𝗡𝗧𝗨 𝗥𝗘𝗭𝗘𝗞𝗜

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:
“Maksiat merupakan penghalang di pintu usaha, dan sungguh seorang hamba benar-benar dihalangi dari rezeki karena dosa yang dia perbuat."

📖 Al-Fawaid hlm. 70

Perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah ini menunjukkan bahwa maksiat menjadi sebab terhalangnya rezeki. Karena dosa akan mendatangkan murka Allah, mengurangi keberkahan, dan menutup pintu-pintu kebaikan.

Al-Qur’an menegaskan, bahwa dosa dan maksiat bisa mendatangkan musibah dan menutup pintu kebaikan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).”
(QS. Asy-Syûrâ: 30)

Jadi, dosa bukan hanya berakibat di akhirat, tapi juga di dunia: bisa menghilangkan keberkahan, mempersulit urusan, bahkan menutup pintu rezeki. Sebaliknya, taqwa dan istighfar membuka pintu rezeki.

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا • وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. Ath-Thalâq: 2–3)

فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًۭا ﴿١٠﴾ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًۭا ﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَ‌ٰلٍۢ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّـٰتٍۢ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَـٰرًۭا ﴿١٢﴾

Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (p**a di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh: 10–12)

Al Qurthubi mengatakan:

في هذه الآية دليلٌ على أنَّ الاستغفار يُستنزل به الرزق والأمطار

Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa istighfar merupakan salah satu sebab yang mendatangkan rezeki dan turunnya hujan.
📖 Tafsir Qurthubi 18/261

Jafar Ash Shadiq pernah berpesan kepada Ats Tsauri: "Wahai Sufyan, jika rezekimu terasa seret, maka perbanyaklah istighfar".
📖 At Targhib karya Ibnu Syahin, hlm. 342

Wallahu A'lamu Bish Shawâb...

03/10/2026

Ketika REZEKI terasa seret...
Usaha seakan mampet ...
Relasi pun perlahan menghilang ...

Jangan menyerah.
Tetaplah kuat dan percaya.
Teruslah berikhtiar,
perbaiki usaha, perluas silaturahmi, dan jangan pernah berhenti berdoa.

Bisa jadi, di balik kesulitan ini, Allah sedang menyiapkan jalan rezeki yang lebih luas, penuh berkah, dan tak pernah kita sangka.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
(QS. Asy-Syarh: 5)

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."
(QS. Ath-Thalaq: 2–3)..

🌿 𝗞𝗔𝗕𝗔𝗥 𝗚𝗘𝗠𝗕𝗜𝗥𝗔 𝗕𝗔𝗚𝗜 𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗦𝗔𝗕𝗔𝗥1️⃣ Allah Pasti Menguji Hamba-NyaAllah berfirman:﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ...
03/10/2026

🌿 𝗞𝗔𝗕𝗔𝗥 𝗚𝗘𝗠𝗕𝗜𝗥𝗔 𝗕𝗔𝗚𝗜 𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗦𝗔𝗕𝗔𝗥

1️⃣ Allah Pasti Menguji Hamba-Nya

Allah berfirman:

﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"Dan sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah : 155)

🔹 TAFSIR ULAMA:

Ibnu Katsir: Allah menguji hamba-Nya dengan kebahagiaan dan kesulitan.

As-Sa’di: Ujian adalah pemisah antara yang jujur dan dusta, yang sabar dan yang berkeluh kesah.

2️⃣ Bentuk Ujian

• Rasa takut → dari musuh.
• Lapar → kekurangan makanan ringan (bukan yang mematikan).
• Kekurangan harta → hilang karena bencana, dirampas, atau rusak.
• Kekurangan jiwa → wafatnya orang-orang tercinta atau sakit.
• Kekurangan buah-buahan → gagal panen karena hama, cuaca, atau bencana.

👉 Tujuan: menyeleksi, bukan membinasakan.

3️⃣ Sikap Orang Beriman Saat Musibah

Allah berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali."
(QS. Al-Baqarah: 156)

🔹 Ini disebut istirja’ (ucapan saat musibah).

• Mengandung tauhid & pengakuan bahwa manusia milik Allah.
• Mengingatkan bahwa semua akan kembali kepada-Nya.

4️⃣ Balasan Bagi Orang Sabar

Allah berfirman:

أُو۟لَـٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ

"Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
(QS. Al-Baqarah: 157)

🔹 Makna “shalawat dari Allah”:

• Menurut al-Qurthubi → ampunan, rahmat, keberkahan, dan kemuliaan.
• Menurut ath-Thabari → maghfirah (ampunan).
• Menurut Ibnu Katsir → pujian dari Allah.

5️⃣ Kesabaran Meluruskan Aqidah

Allah berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥۚ

"Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia memberi petunjuk kepada hatinya."
(QS. At-Taghahun: 11)

🔹 TAFSIR:

• Alqamah:
Orang yang sadar bahwa musibah dari Allah lalu ridha.
• Said bin Jubair:
Ia mengucapkan istirja’.

👉 Kesabaran adalah pintu hidayah hati.

6️⃣ Hikmah Musibah

Ibnu Taimiyyah: musibah adalah kenikmatan karena:
• Menghapus dosa-dosa.
• Melatih kesabaran.
• Menjadikan hamba lebih dekat kepada Allah.
• Membuka pintu doa, tawakkal, dan kembali kepada Allah.

7️⃣ Bahaya S**a Mengeluh

• Orang jahil → mengadukan Allah kepada manusia.
• Orang berilmu → hanya mengadu kepada Allah, menyalahkan diri sendiri, bukan takdir Allah.

8️⃣ Musibah Sebagai Pendidikan Jiwa

Bencana melatih jiwa agar tegar, sabar, dan lebih mengenal kelemahan diri.

Menjadikan manusia sadar bahwa tidak ada tempat bergantung kecuali Allah.

✨ RINGKASAN UTAMA

1. Musibah adalah ujian dari Allah untuk memisahkan orang yang beriman sejati.
2. Orang beriman bersikap dengan istirja’ (إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ).
3. Balasan bagi orang sabar: ampunan, rahmat, pujian Allah, dan hidayah.
4. Kesabaran memperkuat aqidah dan iman kepada takdir.
5. Musibah sejatinya menghapus dosa dan mendidik jiwa...

🧩 𝐓𝐄𝐑𝐊𝐔𝐌𝐏𝐔𝐋 𝐒𝐈𝐅𝐀𝐓 𝐐𝐀𝐍𝐀’𝐀𝐇 𝐃𝐈 𝐏𝐀𝐆𝐈 𝐇𝐀𝐑𝐈Jika sifat qana’ah itu telah terkumpul pada diri seorang muslim, maka hakikatnya i...
01/10/2026

🧩 𝐓𝐄𝐑𝐊𝐔𝐌𝐏𝐔𝐋 𝐒𝐈𝐅𝐀𝐓 𝐐𝐀𝐍𝐀’𝐀𝐇 𝐃𝐈 𝐏𝐀𝐆𝐈 𝐇𝐀𝐑𝐈

Jika sifat qana’ah itu telah terkumpul pada diri seorang muslim, maka hakikatnya ia telah mendapatkan dunia seisinya.

𝐉𝐢𝐤𝐚 𝐓𝐢𝐠𝐚 𝐍𝐢𝐤𝐦𝐚𝐭 𝐈𝐧𝐢 𝐓𝐞𝐫𝐤𝐮𝐦𝐩𝐮𝐥 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐃𝐢𝐫𝐢 𝐀𝐧𝐝𝐚 𝐝𝐢 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐇𝐚𝐫𝐢

Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“𝘉𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 (𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢), 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘱𝘰𝘬𝘰𝘬 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢.”
(HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Hadits di atas menunjukkan bahwa tiga nikmat di atas jika telah ada dalam diri seorang muslim, maka itu sudah jadi nikmat yang besar. Siapa yang di pagi hari mendapatkan tiga nikmat tersebut berarti ia telah memiliki dunia seisinya.
Lihat Rosysyul Barod Syarh Al Adab Al Mufrod, hal. 160.

𝐀𝐣𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐒𝐢𝐟𝐚𝐭 𝐐𝐚𝐧𝐚’𝐚𝐡

Hadits di atas dibawakan oleh Ibnu Majah dalam Bab ”Qana’ah”. Di mana rizki yang disebutkan dalam hadits tersebut dikatakan cukup dan patut disyukuri. Inilah sifat qana’ah yang harus dimiliki oleh setiap muslim.

Pembahasan qana’ah dalam sunan Ibnu Majah tersebut disebutkan p**a hadits dari ’Abdullah bin ’Amr bin Al ’Ash, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ

”𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘐𝘴𝘭𝘢𝘮, 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘳𝘪𝘻𝘬𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱, 𝘥𝘢𝘯 𝘲𝘢𝘯𝘢’𝘢𝘩 (𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱) 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘳𝘪𝘻𝘬𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵.”
(HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dalam bab yang sama pada Sunan Ibnu Majah disebutkan p**a hadits,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ ». قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ « عَلَيْكُمْ »

”Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
”𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯. 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘭𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘮𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘯𝘶𝘨𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 -𝙠𝙖𝙩𝙖 𝘼𝙗𝙪 𝙈𝙪’𝙖𝙬𝙞𝙮𝙖𝙝- 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶.”
(HR. Ibnu Majah no. 4138, shahih kata Syaikh Al Albani).

Disebutkan p**a hadits Abu Hurairah berikut,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ »

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
”𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱.”
(HR. Al-Bukhari no. 6446, Muslim no. 1051, At-Tirmidzi no. 2373, Ibnu Majah no. 4137).

𝗚𝗵𝗶𝗻𝗮 𝗻𝗮𝗳𝘀 dalam hadits ini yang dimaksud adalah tidak pernah tamak pada segala hal yang ada pada orang lain.

Dalam hadits di atas terdapat pelajaran dari Ibnu Baththol di mana beliau berkata ketika menjelaskan hadits dalam Shahih Bukhari,

يريد ليس حقيقة الغنى عن كثرة متاع الدنيا، لأن كثيرًا ممن وسع الله عليه فى المال يكون فقير النفس لا يقنع بما أعطى فهو يجتهد دائبًا فى الزيادة، ولا يبالى من أين يأتيه، فكأنه فقير من المال؛ لشدة شرهه وحرصه على الجمع، وإنما حقيقة الغنى غنى النفس، الذى استغنى صاحبه بالقليل وقنع به، ولم يحرص على الزيادة فيه

”𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘢𝘳𝘢𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢. 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘶𝘨𝘦𝘳𝘢𝘩𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 (𝘢𝘭𝘪𝘢𝘴: 𝘧𝘢𝘬𝘪𝘳). 𝘐𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩. 𝘐𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨. 𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘧𝘢𝘬𝘪𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 (𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢). 𝘚𝘪𝘬𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘯𝘪𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘫𝘦𝘭𝘦𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘬𝘶𝘴𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢. 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘩𝘢𝘬𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘪. 𝘐𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘳𝘢𝘬𝘶𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata,

مَنْ كَانَ طَالِبًا لِلزِّيَادَةِ لَمْ يَسْتَغْنِ بِمَا مَعَهُ فَلَيْسَ لَهُ غِنًى

”𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘪, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪.”
(Syarh Shahih Muslim, 7: 140).

Yang dimaksud qana’ah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Baththol,

الرضا بقضاء الله تعالى والتسليم لأمره علم أن ما عند الله خير للأبرار،

”𝘙𝘪𝘥𝘩𝘰 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘛𝘢’𝘢𝘭𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬.”

Itulah qana’ah.

𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐓𝐚𝐤 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐲𝐚 𝐇𝐚𝐫𝐭𝐚

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

”𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘴𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘬𝘸𝘢. 𝘚𝘦𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘬𝘸𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘺𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵.”
(HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4: 69, shahih kata Syaikh Al Albani).

Jadi tak mengapa kaya asalkan bertakwa. Yang namanya bertakwa, selalu merasa cukup dengan kekayaan tersebut. Ia tidak rakus dengan terus menambah. Kalau pun menambah karena hartanya dikembangkan, ia pun merasa cukup dengan karunia Allah yang ada. Dan yang namanya bertakwa berarti selalu menunaikan kewajiban yang berkaitan dengan harta tersebut melalui zakat, menempuh jalan yang benar dalam mencari harta dan menjauhi cara memperoleh harta yang diharamkan Islam.

🤲 𝘠𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘢𝘯𝘶𝘨𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘪𝘧𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘔𝘰𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘲𝘢𝘯𝘢’𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘶𝘨𝘦𝘳𝘢𝘩𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 ...

Penulis:
✍️ Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. ..

𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘯𝘢𝘴𝘪 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 ...𝗛𝗨𝗧𝗔𝗡𝗚 𝗕𝗜𝗦𝗔 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗛𝗔𝗡𝗚𝗨𝗦𝗞𝗔𝗡 𝗣𝗔𝗛𝗔𝗟𝗔 𝗔𝗠𝗔𝗟 𝗜𝗕𝗔𝗗𝗔𝗛𝗠𝗨Jangan remehkan ...
30/09/2026

𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘯𝘢𝘴𝘪 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 ...

𝗛𝗨𝗧𝗔𝗡𝗚 𝗕𝗜𝗦𝗔 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗛𝗔𝗡𝗚𝗨𝗦𝗞𝗔𝗡 𝗣𝗔𝗛𝗔𝗟𝗔 𝗔𝗠𝗔𝗟 𝗜𝗕𝗔𝗗𝗔𝗛𝗠𝗨

Jangan remehkan soal hutang piutang. Bila sudah punya kemampuan jangan ditunda-tunda lagi untuk membayarnya. Dalam Islam, hutang diperbolehkan, namun ada adabnya.

𝟭𝟭 𝗔𝗗𝗔𝗕 𝗛𝗨𝗧𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗜𝗨𝗧𝗔𝗡𝗚 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗜𝗦𝗟𝗔𝗠 :

✅ Jangan pernah tidak mencatat hutang piutang.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian melakukan hutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya." (QS Al-Baqarah: 282)

✅ Jangan pernah berniat tidak melunasi hutang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللَّهَ سَارِقًا

"Siapa saja yang berhutang, sedang ia berniat tidak melunasi hutangnya, maka ia akan bertemu Allah sebagai seorang pencuri." (HR. Ibnu Majah ~ hasan shahih)

✅ Punya rasa takut jika tidak bayar hutang, karena alasan dosa yang tidak diampuni dan tidak masuk surga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

"Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang". (HR. Muslim)

✅ Jangan merasa tenang kalau masih punya hutang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِيَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

"Barangsiapa mati dan masih berhutang satu dinar atau dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan (diambil) amal kebaikannya, karena di sana (akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham." (HR. Ibnu Majah ~ shahih)

✅ Jangan pernah menunda membayar hutang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ، فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيٍّ فَلْيَتْبَعْ ‏

"Menunda-nunda (bayar hutang) bagi orang yang mampu (bayar) adalah kezaliman." (HR Al-Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi)

✅ Jangan pernah menunggu ditagih dulu baru membayar hutang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَعْطُوهُ فَإِنَّ مِنْ خِيَارِ النَّاسِ أَحْسَنَهُمْ قَضَاءً ‏

"Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam pembayaran utang." (HR Al-Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi)

✅ Jangan pernah mempersulit dan banyak alasan dalam pembayaran hutang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَدْخَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ رَجُلاً كَانَ سَهْلاً مُشْتَرِيًا وَبَائِعًا وَقَاضِيًا وَمُقْتَضِيًا الْجَنَّةَ

"Allah 'Azza wa jalla akan memasukkan ke dalam surga orang yang mudah ketika membeli, menjual, dan melunasi hutang." (HR An-Nasa'i, dan Ibnu Majah)

✅ Jangan pernah meremehkan hutang meskipun sedikit.

Rasulullah ﷺ bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ ‏

"Ruh seorang mukmin itu tergantung kepada hutangnya sampai hutangnya dibayarkan." (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

✅ Jangan pernah berbohong kepada pihak yang memberi hutang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ

"Sesungguhnya, ketika seseorang berutang, maka bila berbicara ia akan dusta dan bila berjanji ia akan ingkar." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

✅ Jangan pernah berjanji jika tidak mampu memenuhinya.

Allah Ta'ala berfirman :
.. وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا...

"... Dan penuhilah janji karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban .." (QS Al-Israa': 34)

✅ Jangan pernah lupa doakan orang yang telah memberi hutang.

وَمَنْ آتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

"Barang siapa telah berbuat kebaikan kepadamu, balaslah kebaikannya itu. Jika engkau tidak menemukan apa yang dapat membalas kebaikannya itu, maka berdoalah untuknya sampai engkau menganggap bahwa engkau benar-benar telah membalas kebaikannya." (HR. An-Nasa'i dan Abu Dawud)

🤲 𝗗𝗢𝗔 𝗔𝗚𝗔𝗥 𝗟𝗨𝗡𝗔𝗦 𝗛𝗨𝗧𝗔𝗡𝗚

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ.

“Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai arasy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an).

Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau-lah yang pertama (Al-awwal), sebelumMu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir (Al-Akhir), setelahMu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang zhahir (Azh-Zhahir), tidak ada sesuatu di atasMu, Engkau-lah yang Batin (Al-Bathin), tidak ada sesuatu yang menghalangiMu, lunasilah hutang kami dan berilah kami kekayaan hingga terlepas dari kefakiran".
(HR. Muslim (4/2084, no. 2713)

اَللهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dari cengkraman hutang dan laki-laki yang menindas-(ku)” (HR. Al-Bukhari: 7/158, “Adalah Rasulullah ﷺ sering (membaca) doa ini, lihat Al-Bukhari dalam Fathul baari: 11/173)

اَللهُمَّ اكْفِنِي بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِني بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِـوَاكَ

"Ya Allah, cukupilah aku dengan (rezeki)-Mu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Kayakanlah aku dengan kenikmatan-Mu selain-Mu” (HR. At-Tirmidzi: 5/560, lihat Shahih At-Tirmidzi: 3/180)

Itulah bacaan doa agar cepat melunasi hutang, baik itu hutang yang banyak maupun hutang yang sedikit semoga cepat terlunasi setelah mengamalkan doa-doa tersebut di atas. Jangan lupa p**a untuk selalu berdoa minta rezeki yang halal dan baik.

Resapi maknanya.. dan tinggalkan makan dari harta haram ...

Wallâhu A'lamu bish Shawâb

Semoga Allah mudahkan kita melunasi hutang-hutang kita ... 🤲
..

𝗞𝗘𝗨𝗧𝗔𝗠𝗔𝗔𝗡 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗛𝗨𝗧𝗔𝗡𝗚𝗜Rasulullah ﷺ bersabda:إنَّ السلفَ يجري مجرى شطرِ الصدقةِ“Sesungguhnya pinjaman (salf) itu kedudukan...
29/09/2026

𝗞𝗘𝗨𝗧𝗔𝗠𝗔𝗔𝗡 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗛𝗨𝗧𝗔𝗡𝗚𝗜

Rasulullah ﷺ bersabda:

إنَّ السلفَ يجري مجرى شطرِ الصدقةِ

“Sesungguhnya pinjaman (salf) itu kedudukannya seperti setengah sedekah.”

(HR. Ahmad no. 3911), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Musnad 387, dan Abu Ya‘la no. 5366. Lihat Shahih Al-Jami‘ No. 1640)

📜 Penjelasan:

Syariat sangat menganjurkan terwujudnya kasih sayang, persaudaraan, dan sikap saling membantu di antara manusia. Syariat juga menjelaskan besarnya pahala bagi orang yang membantu meringankan kesulitan orang lain, memberikan pinjaman kepada mereka, atau memberikan kelonggaran waktu kepada orang yang sedang mengalami kesulitan hingga ia memiliki kemampuan untuk membayar.

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya pinjaman (salf) itu kedudukannya seperti setengah sedekah.”

Yang dimaksud dengan salf adalah pinjaman yang baik (qardh hasan), yaitu pinjaman yang tidak memberikan keuntungan bagi pemberi pinjaman dan tidak mensyaratkan adanya tambahan ketika pembayaran kembali.

“Kedudukannya seperti setengah sedekah” maksudnya adalah pahala memberikan pinjaman adalah setengah dari pahala bersedekah. Hal itu karena dalam memberikan pinjaman terdapat manfaat berupa membantu memenuhi kebutuhan seorang Muslim, meringankan kesulitannya, dan menutupi kekurangannya.

Kedudukan memberikan pinjaman menjadi begitu besar dan pahalanya sangat agung karena orang yang meminjam pada umumnya adalah orang yang sedang membutuhkan.

Disebutkan p**a dalam riwayat Ibnu Majah bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعسِرًا كان له بكُلِّ يوْمٍ صَدَقةٌ، ومَنْ أنْظَرَه بعدَ حِلِّه كان له مِثْلُه في كُلِّ يوْمٍ صَدَقةٌ

“Barang siapa memberikan penangguhan kepada orang yang sedang kesulitan, maka baginya pahala sedekah setiap hari. Dan barang siapa memberikan penangguhan kepadanya setelah jatuh tempo pembayaran, maka baginya pahala sedekah semisal itu pada setiap hari.”

📜 Intinya:
Memberikan pinjaman tanpa mengambil keuntungan dan tanpa mensyaratkan tambahan merupakan bentuk membantu orang yang membutuhkan, dan dalam hadits ini disebutkan bahwa pahala pinjaman tersebut seperti setengah pahala sedekah.

Sumber:
https://dorar.net/hadith/sharh/112691..

Address

Jalan Radar Auri
Depok

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ahmad Fajar Qomarudin posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Ahmad Fajar Qomarudin:

Shortcuts

Share