Potret Daerah

Potret Daerah Lokal • Viral • Trending
Dari Daerah untuk Indonesia

Hanya berbekal uang Rp70 ribu, Zakaria (38) memberanikan diri meninggalkan Bekasi menuju Pangandaran bersama ketiga anak...
08/08/2026

Hanya berbekal uang Rp70 ribu, Zakaria (38) memberanikan diri meninggalkan Bekasi menuju Pangandaran bersama ketiga anaknya.

Tak punya tujuan pasti di kota baru, Zakaria memilih menjadi pemulung demi bertahan hidup sekaligus memastikan anak-anaknya tetap bisa mengenyam pendidikan.

Perjalanan itu tak mudah. Urusan dokumen kependudukan yang belum lengkap sempat membuat harapannya pupus. Bantuan yang dijanjikan pun tak kunjung datang.

Namun Zakaria tak menyerah.

Hingga akhirnya, kabar yang selama ini dinanti datang juga. Ketiga anaknya resmi diterima bersekolah.

"Alhamdulillah banget," ucap Zakaria penuh syukur.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengumpulkan barang bekas. Penghasilannya terkadang hanya sekitar Rp25 ribu sehari.

"Daripada saya ngemis, mending saya mulung," katanya.

Kini, pagi Zakaria dimulai dengan mengantar anak-anaknya ke sekolah. Setelah itu, ia kembali menyusuri jalan demi mencari rongsok yang bisa dijual.

Mungkin bagi sebagian orang, mengantar dan menjemput anak sekolah adalah rutinitas sederhana.

Namun bagi Zakaria, momen itu adalah buah dari perjuangan panjang—meninggalkan kenyamanan, bertahan dalam keterbatasan, dan bekerja keras agar anak-anaknya punya masa depan yang lebih baik.

Karena bagi seorang ayah, kadang kebahagiaan terbesar bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, tetapi tentang melihat anak-anaknya tetap bisa sekolah dan memiliki kesempatan untuk meraih cita-cita.

Rp200 Ribu Sebulan, Guru Honorer di Banyuwangi Tetap Bertahan Mengajar Sejak 2021Di tengah biaya hidup yang terus mening...
08/08/2026

Rp200 Ribu Sebulan, Guru Honorer di Banyuwangi Tetap Bertahan Mengajar Sejak 2021

Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, ada sosok guru yang memilih tetap mengabdi meski menerima penghasilan yang mungkin tak sebanding dengan perjuangannya.

Namanya Wiga Kurnia Putri (27), guru honorer di salah satu SMP swasta di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Sejak 2021, Wiga setia mengajar mata pelajaran IPS dan PKN. Namun, setiap bulan ia hanya menerima honor sebesar Rp200 ribu.

Nominal tersebut tentu sangat jauh dari kata layak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi bagi Wiga, uang bukanlah alasan utama untuk berhenti mengajar.

Ia memahami sekolah tempatnya mengabdi juga memiliki keterbatasan. Karena itu, Wiga mengaku tidak terkejut dengan besaran honor yang diterimanya.

Di balik angka Rp200 ribu itu, ada waktu, tenaga, kesabaran, dan ketulusan yang ia berikan untuk mendidik generasi penerus bangsa.

Kisah Wiga menjadi pengingat bahwa masih ada guru-guru yang bertahan bukan karena besarnya penghasilan, melainkan karena kecintaan terhadap dunia pendidikan dan keinginan untuk terus memberi manfaat.

Rp200 ribu mungkin hanya angka di atas kertas. Namun di baliknya, ada pengabdian seorang guru yang nilainya tak ternilai.

Menurut kamu, apakah kesejahteraan guru honorer seperti Wiga sudah seharusnya menjadi perhatian serius?

Tumbuh Tanpa Didampingi Orang Tua, Diasuh Kakek-Nenek, Tegar Justru Raih IPK Sempurna di Kedokteran UGM Sejak kecil, Teg...
08/08/2026

Tumbuh Tanpa Didampingi Orang Tua, Diasuh Kakek-Nenek, Tegar Justru Raih IPK Sempurna di Kedokteran UGM

Sejak kecil, Tegar Inang Pratama tumbuh dalam keterbatasan. Ia tidak menjalani masa kecil bersama orang tuanya, melainkan dibesarkan dengan penuh kasih oleh kakek dan neneknya.

Keterbatasan hidup ternyata tak pernah berhasil memadamkan semangat belajarnya.

Justru dari kesederhanaan itulah, Tegar tumbuh menjadi pemuda yang pantang menyerah. Ia berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu kampus terbaik di Indonesia.

Tak berhenti sampai di sana, Tegar terus membuktikan kemampuannya. Setiap semester, ia berhasil meraih IPK sempurna untuk setiap mata kuliah yang ditempuhnya.

Prestasi tersebut tentu menjadi kebanggaan besar bagi kakek dan nenek yang selama ini merawat dan mendampinginya. Di saat yang sama, pencapaian Tegar juga menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.

Yang membuat perjuangannya semakin berarti, Tegar bisa menempuh pendidikan kedokteran melalui beasiswa KIP Kuliah.

Ia pun mengaku sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Perjalanan Tegar menjadi pengingat bahwa seseorang tidak harus lahir dari keadaan serba ada untuk memiliki masa depan yang luar biasa.

Kadang, dari rumah sederhana dan keterbatasan, lahir mimpi yang begitu besar.

Dan Tegar sedang membuktikannya.

Semoga langkahnya menjadi inspirasi bagi anak-anak muda lainnya untuk terus belajar, berjuang dan tidak menyerah pada keadaan.

Bangun pukul 01.00 WIB, Saat Teman-Temannya Terlelap, Derlin Sudah Sibuk Membuat Kue untuk Dijual di SekolahDi usia yang...
08/08/2026

Bangun pukul 01.00 WIB, Saat Teman-Temannya Terlelap, Derlin Sudah Sibuk Membuat Kue untuk Dijual di Sekolah

Di usia yang masih sangat muda, Derlin Wahyudi, siswa MAN 4 Pandeglang, memilih menjalani hari dengan perjuangan yang tak biasa.

Hampir setiap hari, ketika kebanyakan orang masih terlelap dalam tidur, Derlin sudah bangun sekitar pukul 01.00 WIB. Ia membuat aneka makanan seperti donat dan bakpao untuk kemudian dijual sebelum pelajaran dimulai maupun saat jam istirahat di sekolah.

Bukan perkara mudah. Adonan harus dibuat dan menunggu hingga mengembang. Bahkan, Derlin mengaku terkadang sudah bangun dini hari pun masih bisa terlambat.

"Iya jam 1 kalau enggak gitu nanti takut kesiangan. Apalagi bikin donat sama bakpao harus nunggu ngembang dulu, kadang bangun jam segitu aja s**a telat juga," ucap Derlin.

Rasa lelah pun tak jarang membuatnya tertidur di dalam kelas.

"Pernah juga pas mata pelajaran MTK aku ketiduran saking capeknya dan pas bangun muka aku penuh sama sepidol pak guru," kata Derlin sambil tertawa.

Di balik candanya, tersimpan perjuangan yang luar biasa. Derlin bahkan mengaku terkadang hanya tidur sekitar satu jam.

Namun, ia tidak memilih mengeluh.

Derlin tetap ceria menjalani hari. Di media sosial TikTok miliknya, ia pun lebih sering memperlihatkan kerja keras daripada mengumbar kesulitan hidup yang dijalaninya.

Hasil dari berjualan ia tabung untuk keperluan sekolah. Sebagian digunakan untuk jajan, bahkan sesekali untuk membeli beras dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Keuntungan yang didapat terkadang memang tak sebanding dengan tenaga dan waktu yang ia keluarkan. Tetapi Derlin tetap memilih bersyukur.

Di saat banyak anak seusianya masih bisa menikmati waktu istirahat tanpa memikirkan kebutuhan hidup, Derlin justru belajar tentang arti tanggung jawab, kemandirian dan perjuangan.

Ia mungkin masih seorang pelajar, tetapi langkah kecil yang dilakukan setiap dini hari menunjukkan satu hal: mimpi besar sering kali dibangun dari pengorbanan yang tak terlihat.

Semoga perjuangan Derlin menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha.

TAMPIL MENGGELEGAR! ZHIFANA BIKIN PANGGUNG DA8 BERGETAR! Malam penuh kejutan datang dari panggung Dangdut Academy 8! Zhi...
07/08/2026

TAMPIL MENGGELEGAR! ZHIFANA BIKIN PANGGUNG DA8 BERGETAR!

Malam penuh kejutan datang dari panggung Dangdut Academy 8! Zhifana, talenta muda asal Pesisir Selatan binaan Coach Selfie Yamma, kembali membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar peserta biasa.

Tampil di Top 37 Grup 6, Zhifana tampil penuh percaya diri membawakan lagu “Mataharimu” ciptaan Adibal Sahrul yang dipopulerkan oleh Sridevi. Suara merdu, penghayatan kuat, hingga aksi panggungnya sukses membuat penampilannya terasa begitu istimewa!

Yang paling bikin merinding, Zhifana berhasil mendapatkan D’Boss pertama di DA8 dari King Ragnar! Tak berhenti sampai di situ, tiga dewan juri yang bertugas—Shoimah, Lesti Kejora, dan Wika Salim—juga kompak memberikan 3 SO untuk penampilan Zhifana.

Hasilnya? Zhifana LANGSUNG LOLOS ke babak selanjutnya!

Dukungan dan doa dari Pesisir Selatan pun kembali terbayar dengan penampilan luar biasa malam ini. Perjalanan Zhifana di panggung DA8 masih panjang. Akankah langkahnya terus melaju hingga menjadi bintang dangdut berikutnya?

Selamat, Zhifana! Terus menggelegar dan buktikan bahwa talenta dari Pesisir Selatan mampu bersinar di panggung nasional!

Bertahun-tahun berdiri di depan kelas, mendidik dan mendampingi anak-anak, ternyata harus berakhir dengan sebuah keputus...
07/08/2026

Bertahun-tahun berdiri di depan kelas, mendidik dan mendampingi anak-anak, ternyata harus berakhir dengan sebuah keputusan yang disebut datang begitu tiba-tiba.

Tiga guru SD IT Rabbani Kota Bengkulu, Elsita, Tita Aryani, dan Ririn Safitri, mengaku diberhentikan secara mendadak pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Yang membuat hati semakin berat, mereka mengaku tidak pernah menerima surat peringatan maupun pemberitahuan resmi sebelumnya. Tita Aryani bahkan telah mengabdi selama 12 tahun, sementara salah seorang guru lainnya disebut telah mengabdikan diri selama 13 tahun.

“Saya bingung, kok tiba-tiba diberhentikan tanpa ada kesalahan,” ujar Tita dengan mata berkaca-kaca.

Kini, persoalan tersebut tak hanya menyisakan kesedihan bagi para guru. Kasus ini juga memunculkan pertanyaan besar tentang nasib, kepastian kerja, dan perlindungan hak tenaga pendidik swasta yang telah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya di dunia pendidikan.

Ketua Umum Pemuda MADANI Provinsi Bengkulu, Abdullah, SH, meminta persoalan tersebut mendapat perhatian serius dan dikawal bersama.

Sebab di balik ruang kelas dan seragam guru, ada kehidupan, keluarga, serta pengabdian panjang yang layak dihargai.

Benarkah pengabdian belasan tahun bisa berakhir hanya dengan pemberitahuan lisan?

Sep**ang sekolah, saat teman-temannya menikmati waktu luang, Hafiz justru berjalan kaki menjajakan gorengan. Bukan karen...
07/08/2026

Sep**ang sekolah, saat teman-temannya menikmati waktu luang, Hafiz justru berjalan kaki menjajakan gorengan. Bukan karena malu, tetapi karena ia punya satu mimpi besar: menjadi prajurit TNI.

Muhammad Hafiz Faturrahman, siswa SMA Negeri 1 Palopo, memilih jalan yang tak mudah demi mewujudkan cita-citanya.

Setiap hari, ia menyusuri sudut Kota Palopo dengan berjalan kaki. Keranjang merah berada di lengan kanannya, sementara botol saus menggantung di lengan kiri. Di bawah terik matahari maupun derasnya hujan, ratusan gorengan tetap ia jajakan.

Tak ada rasa malu ketika harus menawarkan dagangan kepada teman-temannya di sekolah.

“Saya tidak ingin menjadi beban keluarga,” ungkap Hafiz.

Ia memilih berusaha sendiri daripada terus meminta uang saku kepada orang tua. Dari setiap rupiah yang didapat, sebagian ia sisihkan untuk ditabung.

Namun, yang ia tabung bukan sekadar uang.

Hafiz sedang menabung harapan untuk masa depan.

Di balik keranjang gorengan yang ia bawa setiap hari, tersimpan impian besar untuk mengabdikan diri kepada negara sebagai prajurit TNI.

Perjuangan Hafiz akhirnya sampai ke telinga Komandan Kodim 1403 Palopo, Letkol Armed Kabit Bintoro.

Melihat kegigihan dan semangat Hafiz, Dandim memberikan dukungan nyata dengan memfasilitasinya mengikuti latihan pembinaan fisik di Lapangan Gaspa.

Kini, Hafiz mendapat latihan intensif dari personel Kodim Palopo sebagai persiapan menghadapi seleksi penerimaan prajurit TNI di masa depan.

Hari ini, ia mungkin masih berjalan kaki membawa keranjang gorengan.

Tetapi setiap langkah itu sedang membawanya semakin dekat dengan cita-citanya.

Hafiz mengajarkan satu hal sederhana: keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Selama ada kemauan untuk berjuang, jalan menuju cita-cita selalu bisa dicari.

Semoga langkah Hafiz dimudahkan hingga suatu hari nanti keranjang gorengan itu berganti seragam loreng yang selama ini ia impikan.

Buka usaha baru, Bang Ali justru sisihkan 10 persen keuntungan untuk warga kurang mampu. Ali Zainal Abidin atau yang akr...
07/08/2026

Buka usaha baru, Bang Ali justru sisihkan 10 persen keuntungan untuk warga kurang mampu.

Ali Zainal Abidin atau yang akrab disapa Bang Ali dikenal masyarakat Pamekasan dan Sumenep sebagai pengusaha yang gemar berbagi.

Dari hasil usahanya, ia kerap menyisihkan rezeki untuk membantu warga yang membutuhkan.

Kini, Bang Ali kembali merintis usaha baru. Ia membuka Millenial Breakshot (MBS) Billiards dan Cafe di Jalan Jenderal Sudirman No. 28, Kabupaten Sumenep.

Namun ada hal menarik di balik bisnis barunya.

Bang Ali berkomitmen menyisihkan 10 persen keuntungan usaha tersebut untuk membantu warga kurang mampu, khususnya masyarakat di Pamekasan dan Sumenep.

Baginya, berbisnis bukan hanya tentang berapa besar keuntungan yang didapat, tetapi juga seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.

“Semakin kita berbagi, semakin kita bermanfaat untuk orang lain,” kata Bang Ali.

Bahkan pada hari pertama pembukaan MBS Billiards dan Cafe, 400 pengunjung pertama mendapatkan promo khusus. Cukup membayar Rp50 ribu untuk bermain biliar selama satu jam, pengunjung mendapat tambahan satu jam bermain secara gratis, satu kaos, air mineral, serta makanan ringan.

Sebuah usaha mungkin dimulai untuk mencari keuntungan. Tetapi Bang Ali ingin memastikan, sebagian keuntungan itu kembali menjadi kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan.

Karena pada akhirnya, rezeki bukan hanya tentang apa yang kita punya, tetapi juga tentang berapa banyak orang yang bisa ikut merasakan manfaatnya.

Gaji hanya Rp200 ribu sebulan, tetapi langkahnya tak pernah berhenti untuk mencerdaskan anak bangsa. Di saat sebagian da...
07/08/2026

Gaji hanya Rp200 ribu sebulan, tetapi langkahnya tak pernah berhenti untuk mencerdaskan anak bangsa.

Di saat sebagian dari kita mungkin mengeluh tentang fasilitas dan kenyamanan, Bapak Empan Supandi justru mengajarkan arti ketulusan lewat perjuangan yang luar biasa.

Setiap bulan, beliau hanya menerima Rp200.000. Jumlah yang tentu sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun, kecilnya penghasilan tidak membuat semangatnya untuk mengajar ikut mengecil.

Setiap hari, Bapak Empan rela berjalan kaki sejauh 12 kilometer demi sampai ke sekolah. Terik matahari dan derasnya hujan menjadi bagian dari perjalanan yang harus ia lalui.

Bagi sebagian orang, 12 kilometer mungkin terasa begitu jauh. Tetapi bagi Bapak Empan, jarak itu seakan tak berarti ketika ada anak-anak yang menunggunya untuk belajar.

Ia terus melangkah, bukan karena imbalan yang besar, melainkan karena panggilan hati untuk mendidik generasi penerus bangsa.

Kisah Bapak Empan Supandi menjadi pengingat bahwa di pelosok negeri masih ada guru-guru yang berjuang dalam keterbatasan, tetapi tetap memberikan yang terbaik untuk murid-muridnya.

Mereka mungkin tidak selalu mendapat sorotan. Tidak p**a berdiri di panggung dengan penghargaan.

Namun, setiap langkah yang mereka tempuh menuju sekolah adalah bukti bahwa pendidikan Indonesia masih memiliki orang-orang yang berjuang dengan ketulusan.

Semoga kisah Bapak Empan menjadi pengingat bagi kita untuk lebih bersyukur, sekaligus semakin menghargai perjuangan para guru yang mengabdikan hidupnya demi masa depan anak bangsa.

Bagikan kisah ini agar semakin banyak orang mengetahui perjuangan guru-guru di pelosok negeri dan semoga perhatian serta apresiasi yang layak semakin banyak diberikan kepada mereka.

Bukan hanya membawa p**ang penghargaan, Rizal membawa ayahnya naik ke atas panggung. Momen sederhana itu justru membuat ...
07/08/2026

Bukan hanya membawa p**ang penghargaan, Rizal membawa ayahnya naik ke atas panggung. Momen sederhana itu justru membuat banyak mata berkaca-kaca.

Di sebuah sekolah di Sulawesi, seorang siswa bernama Rizal menunjukkan bahwa prestasi tidak selalu tentang siapa yang berdiri paling depan, tetapi juga tentang siapa yang selama ini berada di belakang dan menjadi sumber kekuatan.

Rizal bukan berasal dari keluarga berada. Namun, keterbatasan ekonomi tak pernah memadamkan semangatnya untuk belajar.

Dengan kerja keras dan ketekunan, ia berhasil meraih Juara Umum 1 di sekolahnya.

Saat momen kelulusan tiba, Rizal mendapatkan penghargaan atas prestasinya. Namun, ada satu hal yang membuat momen tersebut terasa jauh lebih istimewa.

Ia mengajak sang ayah, seorang penyandang disabilitas, untuk naik ke atas panggung bersamanya.

Dengan penuh kasih, Rizal menggenggam erat tangan ayahnya yang tampak kesulitan berdiri tegap karena kondisi fisiknya.

Di atas panggung itu, bukan hanya sebuah penghargaan yang mereka terima.

Ada air mata haru, kebanggaan, dan rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Bagi Rizal, prestasi tersebut bukan hanya miliknya. Itu adalah hadiah untuk keluarga, terutama sang ayah yang selalu memberikan dukungan di tengah segala keterbatasan.

Mungkin tubuh sang ayah memiliki keterbatasan, tetapi kasih sayangnya telah menjadi kekuatan besar bagi Rizal untuk melangkah sejauh ini.

Hari itu, Rizal tidak membiarkan ayahnya hanya menyaksikan keberhasilannya dari kejauhan.

Ia menggandeng tangan sang ayah dan mengajaknya berdiri bersama.

Sebab di balik setiap anak yang berhasil, sering kali ada orang tua yang diam-diam berjuang, mendoakan, dan menjadi alasan untuk tidak menyerah.

Rizal mengajarkan kita bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dan ketika keberhasilan akhirnya datang, jangan lupa menggandeng tangan orang-orang yang telah menemani perjalanan kita.

Semoga langkah Rizal terus dimudahkan dan prestasinya menjadi kebanggaan bagi keluarga serta inspirasi bagi banyak anak Indonesia.

Address

Curup
123456

Telephone

+6282377524885

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Potret Daerah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Potret Daerah:

Shortcuts

Share