08/08/2026
Hanya berbekal uang Rp70 ribu, Zakaria (38) memberanikan diri meninggalkan Bekasi menuju Pangandaran bersama ketiga anaknya.
Tak punya tujuan pasti di kota baru, Zakaria memilih menjadi pemulung demi bertahan hidup sekaligus memastikan anak-anaknya tetap bisa mengenyam pendidikan.
Perjalanan itu tak mudah. Urusan dokumen kependudukan yang belum lengkap sempat membuat harapannya pupus. Bantuan yang dijanjikan pun tak kunjung datang.
Namun Zakaria tak menyerah.
Hingga akhirnya, kabar yang selama ini dinanti datang juga. Ketiga anaknya resmi diterima bersekolah.
"Alhamdulillah banget," ucap Zakaria penuh syukur.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengumpulkan barang bekas. Penghasilannya terkadang hanya sekitar Rp25 ribu sehari.
"Daripada saya ngemis, mending saya mulung," katanya.
Kini, pagi Zakaria dimulai dengan mengantar anak-anaknya ke sekolah. Setelah itu, ia kembali menyusuri jalan demi mencari rongsok yang bisa dijual.
Mungkin bagi sebagian orang, mengantar dan menjemput anak sekolah adalah rutinitas sederhana.
Namun bagi Zakaria, momen itu adalah buah dari perjuangan panjang—meninggalkan kenyamanan, bertahan dalam keterbatasan, dan bekerja keras agar anak-anaknya punya masa depan yang lebih baik.
Karena bagi seorang ayah, kadang kebahagiaan terbesar bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, tetapi tentang melihat anak-anaknya tetap bisa sekolah dan memiliki kesempatan untuk meraih cita-cita.