09/03/2026
Amerika dan Israel: Kemitraan Strategis di Era Kecerdasan Buatan
Hubungan antara Amerika Serikat dan Israel dalam bidang kecerdasan buatan (AI) telah berkembang menjadi kemitraan strategis yang semakin erat dalam beberapa tahun terakhir. Kemitraan ini tidak hanya mencakup kerja sama teknologi, tetapi juga dimensi geopolitik, militer, dan diplomasi publik yang kompleks.
Kerja sama resmi pemerintah
Pada Januari 2026, Amerika Serikat dan Israel menandatangani deklarasi bersama tentang kemitraan strategis di bidang kecerdasan buatan, menjadikan Israel sebagai negara pertama yang menandatangani perjanjian semacam ini dengan AS . Penandatanganan yang berlangsung di Kota Daud, Yerusalem ini melibatkan pejabat tinggi kedua negara, termasuk Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar dan Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee .
Kemitraan ini merupakan bagian dari inisiatif yang dipimpin AS bernama Pax Silica—sebuah kerangka kerja sama yang bertujuan memperkuat kolaborasi teknologi di antara negara-negara sekutu AS . Pax Silica sendiri mencakup 10 negara dan dirancang untuk membangun rantai pasokan dan kerja sama teknologi di bidang AI, energi, komputasi canggih, dan teknologi ruang angkasa .
Bidang kerja sama yang disepakati meliputi:
· Kecerdasan buatan (machine learning untuk kesehatan, keamanan siber, sistem otonom)
· Semikonduktor (perluasan inisiatif chip terkait penelitian)
· Robotika (pengembangan teknologi otomasi)
· Energi baru (penyimpanan baterai, optimalisasi jaringan listrik)
· Teknologi ruang angkasa melalui Artemis Accords
Israel berencana mendirikan laboratorium AI terapan bersama AS di Israel, yang memungkinkan peneliti dan perusahaan dari kedua negara mengembangkan serta menguji sistem AI canggih menggunakan data dan infrastruktur bersama .
Kerja sama sektor swasta untuk militer
Di luar kerja sama pemerintah, perusahaan-perusahaan teknologi dari kedua negara juga menjalin kolaborasi di sektor pertahanan. VisionWave Holdings, perusahaan teknologi pertahanan AS, menjalin kemitraan strategis dengan PVML, perusahaan Israel yang berfokus pada keamanan data sensitif dengan memanfaatkan AI .
Kemitraan ini menghubungkan radar VisionWave dan perangkat visi komputer bertenaga AI dengan infrastruktur data aman milik PVML. Sistem ini memungkinkan "agen" AI bekerja langsung dengan data pertahanan di lapangan tanpa memindahkan atau menyalin informasi rahasia. Sistem ini dapat merencanakan misi, melacak kemajuan, dan bereaksi secara real-time .
Menurut kedua perusahaan, kolaborasi ini menargetkan operasi pertahanan dan keamanan dalam negeri, membantu tim membuat keputusan yang lebih cepat dan akurat. CEO VisionWave, Noam Kenig, menyatakan proyek itu "memberikan fondasi untuk mendefinisikan ulang cara kerja intelijen" .
Upaya memengaruhi sistem AI global
Salah satu aspek paling kontroversial dari keterlibatan Israel dalam ekosistem AI adalah upaya sadar untuk memengaruhi bagaimana sistem AI generatif seperti ChatGPT merespons pertanyaan tentang Israel dan topik terkait.
Pada September 2025, terungkap bahwa Kementerian Luar Negeri Israel mengontrak perusahaan Amerika bernama Clock Tower X dengan nilai kontrak $6 juta untuk kampanye diplomasi publik yang "paling ambisius" di AS sejak perang Gaza dimulai . Perusahaan yang dipimpin oleh Brad Parscale—mantan manajer kampanye Donald Trump—ini ditugaskan untuk:
1. Membangun situs web dan konten yang dapat membentuk data yang digunakan untuk melatih model bahasa besar seperti ChatGPT, Grok (X), dan Gemini (Google)
2. Menggunakan perangkat lunak MarketBrew AI untuk memengaruhi algoritma mesin pencari Google dan Bing agar konten pro-Israel muncul di peringkat atas
3. Memproduksi konten yang ditargetkan untuk audiens Gen Z di TikTok, Instagram, YouTube, dan podcast dengan target 50 juta tayangan per bulan
Pendekatan ini disebut "Generative Engine Optimization" (GEO)—analog dengan Search Engine Optimization (SEO) tetapi untuk sistem AI. Gadi Evron, CEO perusahaan keamanan siber Israel Nostick, menjelaskan, "Sama seperti SEO memetakan situs web yang menentukan hasil pencarian, GEO memetakan sumber yang memengaruhi respons AI" .
Proyek ini muncul di tengah menurunnya dukungan terhadap Israel di kalangan generasi muda Amerika. Jajak pendapat Gallup menunjukkan hanya 9% warga Amerika berusia 18-34 tahun yang mendukung operasi militer Israel di Gaza, sementara survei lain menemukan 47% warga Amerika percaya Israel melakukan genosida .
Kontroversi dan pengawasan
Keterlibatan perusahaan teknologi AS dalam operasi militer Israel juga memicu kontroversi. Pada September 2025, Microsoft mengumumkan penghentian sebagian layanan cloud dan AI untuk militer Israel setelah investigasi media mengungkap dugaan penggunaan teknologi Microsoft dalam pengawasan massal terhadap warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat .
Investigasi yang dilakukan The Guardian, +972 Magazine, dan Local Call menemukan bahwa militer Israel menggunakan platform cloud Azure untuk menyimpan jutaan rekaman panggilan telepon warga Palestina. Presiden Microsoft, Brad Smith, menegaskan bahwa pihaknya "tidak menyediakan teknologi untuk memfasilitasi pengawasan massal terhadap warga sipil" .
Unit 8200, pasukan siber elit Israel, disebut-sebut terlibat dalam pemanfaatan teknologi Microsoft untuk pengawasan tersebut. Kelompok pro-Palestina dan aktivis pekerja teknologi menyambut keputusan Microsoft sebagai kemenangan moral, meskipun kontrak komersial lainnya dengan Israel tetap berjalan .
Implikasi geopolitik
Kemitraan AI AS-Israel tidak dapat dipisahkan dari konteks persaingan global, khususnya dengan China. Dr. Tal Pavel, pakar internet dan komputer Israel, menempatkan kemitraan ini dalam konteks persaingan teknologi global, terutama dengan China .
Di bawah pemerintahan Trump, pendekatan yang diambil berbeda dari era Biden. Jika sebelumnya AS lebih mengandalkan kebijakan larangan dan pembatasan ekspor chip AI, kini pendekatannya adalah "memperkuat kerja sama teknologi dalam blok negara-negara sekutu" .
Thaddeus Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Ekonomi, Jacob Helberg, menyatakan bahwa kemitraan ini bertujuan memastikan "negara-negara sekutu membentuk masa depan teknologi" . Sementara itu, Duta Besar Huckabee menegaskan, "Tidak ada yang artificial tentang kemitraan AS dan Israel. Ini nyata dan bermanfaat bagi kedua negara" .
Kesimpulan
Hubungan Amerika Serikat dan Israel dalam bidang kecerdasan buatan mencerminkan kemitraan yang multidimensional. Di satu sisi, ada kerja sama resmi pemerintah melalui Pax Silica yang bertujuan memperkuat ekosistem teknologi sekutu AS. Di sisi lain, ada kolaborasi sektor swasta yang mendorong inovasi militer. Sementara itu, upaya sistematis untuk memengaruhi sistem AI global menunjukkan kesadaran bahwa pertempuran narasi kini juga berlangsung di dalam algoritma.
Kemitraan ini bukan tanpa kontroversi—pengawasan massal, keterlibatan dalam konflik Gaza, dan upaya membentuk opini publik melalui AI menjadi isu-isu yang terus mengemuka. Namun yang jelas, AI telah menjadi arena baru bagi aliansi strategis AS-Israel, dengan implikasi yang akan dirasakan jauh melampaui batas-batas teknologi.