09/01/2026
Panggung drama gong Bali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Prof. Dr. I Wayan Sugita, M.Si., seniman ikonik yang selama puluhan tahun menghidupkan karakter "Patih Agung" yang tegas dan berwibawa, telah tutup usia. Namun, di balik jubah kebesaran panggungnya, ia meninggalkan jejak kasih sayang yang mendalam bagi keluarga di Banjar Bukit Batu, Samplangan.
TIGA hari sebelum mengembuskan napas terakhir, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Ni Nyoman Kembar Sriasih,47, adik kandung almarhum. Tidak ada firasat besar, hanya sebuah perhatian tulus dari seorang kakak sulung kepada adiknya yang disabilitas.
"Kakak sempat kirim pesan WA, minta saya jaga kesehatan dan tidak boleh gemuk," kenang Sriasih dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di rumah duka, Gianyar.
Bagi Sriasih, Prof. Sugita bukan sekadar akademisi bergelar Guru Besar atau seniman besar. Ia adalah sosok pengayom dari delapan bersaudara yang selalu menyempatkan diri "pulang". Di sela kesibukannya mengajar di UHN I Gusti Bagus Sugriwa atau berkeliling pentas, almarhum hampir selalu mampir ke rumah masa kecilnya setiap kali menempuh perjalanan dari Bangli atau Klungkung.
Mengalir di Nadi, Abadi di Panggung
Bakat seni Prof. Sugita bukanlah kebetulan. Darah seni itu mengalir deras dari sang ayah, almarhum Ketut Merta, yang juga dikenal sebagai pemeran Patih Agung Barak. Seolah meneruskan tongkat estafet, Sugita menjelma menjadi figur sentral dalam jagat drama gong sejak tahun 1984.
Meski tidak mengenyam pendidikan seni formal, dedikasinya tak tertandingi. Namanya mulai melambung saat menyabet gelar Pemeran Pria Utama Terbaik dalam Festival Drama Gong Remaja se-Bali. Sejak saat itu, panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) menjadi saksi bisu ketegasannya.
-------+
https://radarbali.jawapos.com/hiburan-budaya/707048166/ketika-sang-patih-agung-itu-berpulang-si-pembawa-nyawa-pertunjukan-kini-menuju-panggung-keabadian