29/12/2025
SIHIR PELAKOR
Kamu pertama kali menyadarinya dari bau.
Bukan parfum.
Bukan juga bau tanah.
Melainkan bau kembang layu bercampur darah—datang tiba-tiba setiap kali suamimu p**ang larut malam.
Awalnya kamu mengira itu hanya perasaan perempuan yang terlalu lelah. Tapi lalu perubahan itu datang satu per satu. Cara suamimu menatapmu kosong. Sentuhannya dingin. Dan kebiasaan barunya: menyebut nama perempuan lain saat setengah tidur.
Ratih.
Nama itu seperti duri di dada.
Kamu menyelidiki diam-diam. Sampai suatu sore, kamu melihatnya sendiri: seorang perempuan bergaun merah duduk di warung seberang kantor suamimu. Rambutnya panjang, hitam, matanya menatap ke arahmu—padahal kamu yakin dia belum melihatmu.
Saat matanya bertemu dengan matamu,
perempuan itu tersenyum.
Dan kamu langsung muntah darah.
Sejak hari itu, rumahmu tidak pernah benar-benar tenang. Di sudut kamar, kamu sering melihat bayangan perempuan duduk menyisir rambut. Di cermin, bayanganmu kadang tersenyum sendiri—padahal kamu tidak.
Kamu tahu.
Ini bukan sekadar perselingkuhan.
Ini sihir.
Dari seorang pelakor yang tidak ingin berbagi—ingin memiliki sepenuhnya.
Tubuhmu semakin lemah. Rambutmu rontok. Setiap malam, kamu bermimpi berada di dalam tanah sempit, sementara suara perempuan itu berbisik di telingamu:
“Pergi saja. Dia bukan milikmu lagi.”
Akhirnya kamu datang ke seorang perempuan tua di pinggir desa. Ia hanya menatapmu lama, lalu menggeleng pelan.
“Dia tidak hanya ingin suamimu,” katanya.
“Dia ingin menggantikan hidupmu.”
Air matamu jatuh.
“Kapan…?”
“Malam Jumat Kliwon,” jawabnya. “Saat darah dan cinta sama-sama dipanggil.”
Malam itu kamu p**ang, memandangi suamimu yang tidur p**as. Kamu ingin membencinya. Ingin berteriak. Tapi yang keluar hanya tangis.
Karena kamu sadar—
ia juga korban.
Tepat tengah malam, udara berubah dingin. Perempuan bergaun merah muncul di ujung ranjang. Kali ini wujudnya jelas: wajahnya cantik, tapi matanya hitam berlubang.
“Sudah waktunya,” katanya.
Kamu berdiri, tubuh gemetar.
“Apa kurangnya aku?” tanyamu lirih.
Perempuan itu terdiam.
Untuk pertama kalinya, senyumnya runtuh.
“Aku hanya ingin dicintai,” katanya pelan. “Tak pernah ada yang memilihku.”
Kamu menangis.
Bukan karena takut—
tapi karena kasihan.
Dengan sisa tenaga, kamu mengucapkan doa yang diajarkan perempuan tua itu. Bukan doa balas dendam. Melainkan doa pelepasan.
Cahaya putih menyelimuti kamar. Perempuan itu menjerit—bukan karena sakit, tapi karena kehilangan. Tubuhnya memudar, berubah menjadi gadis kecil yang menangis sebelum akhirnya lenyap.
Pagi datang.
Suamimu terbangun sambil memanggil namamu. Ia menangis, memelukmu, meminta maaf tanpa tahu kenapa.
Tapi kamu tersenyum.
Karena tubuhmu terasa ringan.
Terlalu ringan.
Beberapa hari kemudian, kamu pergi untuk selamanya.
Di pemakaman, suamimu bersujud, menangis seperti anak kecil. Di antara tangisnya, ia berbisik:
“Maaf… aku terlambat memilih.”
Dan malam itu, saat ia p**ang ke rumah kosong, ia mencium bau yang sangat ia kenal.
Bukan bau sihir.
Bukan bau kembang.
Melainkan aroma masakanmu.
Hangat.
Tenang.
Seperti pelukan terakhir.