13/01/2026
Pada masa yang sangat tua, jauh sebelum sejarah manusia ditulis, konon pernah berdiri sebuah peradaban agung bernama Atlantis. Negeri ini terletak di sebuah p**au besar di balik Pilar Herkules, di tengah samudra luas. Atlantis bukan negeri biasa. Kota-kotanya tersusun melingkar, dialiri kanal-kanal air yang teratur, dengan bangunan megah dan teknologi yang melampaui zamannya.
Bangsa Atlantis hidup makmur. Tanah mereka subur, lautan memberi kekayaan, dan ilmu pengetahuan berkembang pesat. Mereka dipimpin oleh raja-raja keturunan dewa laut Poseidon, yang pada awalnya memerintah dengan kebijaksanaan dan keseimbangan antara kekuatan dan moral. Atlantis menjadi simbol peradaban ideal—maju, damai, dan berkuasa.
Namun kejayaan perlahan mengubah mereka. Kekuasaan melahirkan keserakahan, kemakmuran menumbuhkan kesombongan. Bangsa Atlantis mulai melupakan nilai-nilai kebajikan, mengejar dominasi, dan berambisi menaklukkan dunia lain. Ketika keseimbangan itu runtuh, para dewa pun murka.
Dalam satu malam yang mengerikan, bumi berguncang. Gempa besar, letusan dahsyat, dan banjir raksasa menghantam p**au itu. Laut menelan kota demi kota. Istana, kanal, dan seluruh kejayaan Atlantis tenggelam ke dasar samudra, lenyap seolah tak pernah ada.
Kisah ini pertama kali ditulis oleh filsuf Yunani Plato sekitar 360 SM, yang mengaku mendapatkannya dari catatan para pendeta Mesir kuno. Sejak saat itu, Atlantis menjadi teka-teki terbesar sejarah: apakah ia benar-benar sebuah peradaban nyata yang hilang, atau hanya sebuah kisah peringatan tentang bahaya kesombongan manusia?
Hingga kini, tidak ada bukti pasti yang membuktikan keberadaannya. Namun Atlantis tetap hidup—dalam legenda, dalam pencarian para ilmuwan, dan dalam imajinasi manusia—sebagai simbol bahwa setinggi apa pun peradaban berdiri, ia bisa runtuh dalam sekejap ketika kebijaksanaan ditinggalkan.