Suratkabar SENI

Suratkabar SENI Seni Untuk Masyarakat

Selamat hari jadi Suratkabar SENI. Sukses selalu Don Dulang  dan Henny Bali Arts
12/01/2017

Selamat hari jadi Suratkabar SENI. Sukses selalu Don Dulang dan Henny Bali Arts

05/11/2016

MAWAR LIAR

Sekuntum mawar
warnanya liar dalam kamar

Napasku terhela tertahan
ditampar malam, jatuh mengaduh
tak lagi meminta!

_____________________
5 November | Don Dulang
Puisi | Prosa

05/11/2016

HATIMU, SAYANG!

Hatimu, sayang!
Saat ia menagih, berlarilah
ke dalamnya. Setelahnya tak pernah kau tanyakan
seberapa luka

Hati yang penuh puisi memaafkan khianat
Hati yang menyanyi menabur ampunan

Hatimu, sayang
Mahakasih yang sering kau buang!

_____________________
5 November | Don Dulang
Puisi | Prosa

05/11/2016

MENOMBAK MATAHARI

Kau lemparkan tombak-tombak itu
kepada matahari; membakar mata hatimu
Apa lagi yang bisa kaui lihat dalam gelap?

Kekasih, yang penyayang
yang menghunus kebenaran dalam dirimu

kau berikan ia mimpi buruk!

_____________________
4 November | Don Dulang
Puisi | Prosa

05/11/2016

Sebuah ungkapan mengatakan:
Sering kali yang terlihat bukanlah yang sesungguhnya.
Yang ada di balik yang terlihat itulah sesungguhnya.

Apakah itu? Saya tak tahu, kecuali
saya ada bersama di baliknya.

_____________________
3 November | Don Dulang
Puisi | Prosa

05/11/2016

PULANG

Jika ingin p**ang, ia luka oleh impian
mencari jalan takdir, dari jalanan
tapi hanya sampai di tepi hati

_____________________
3 November | Don Dulang
Puisi | Prosa

05/11/2016

LAMUNAN DI SERAMBI

Begitulah; sedikit kelokan
aku meragukan kesetiaan

Bukan, bukan tentang hujan turun. Tetapi
masih basah kenangan ketika lilin mati. Kuyup
ke hati; khianat yang manis

Hingga ke seberang
Asin laut, asin di impian
menganak sungai air mata di cekungan garis tangan

Bukan, bukan berbagi nasib! Celaka
ke kamar; tentang lenguh yang tak sama.

_____________________
2 November | Don Dulang
Puisi | Prosa

05/11/2016

Ia menanti
hingga hatinya robek.

Hatinya menggerutu
dan meringis.

Ia terus menanti
hatinya makin robek
meringis sengit dan menangis.

_____________________
1 November | Don Dulang
Puisi | Prosa

Mengucapkan selamat kepada Made Kaek, Made Somadita dan Wayan Linggih atas dibukanya Pameran di atas kertas; 'PAPER NOTE...
25/04/2014

Mengucapkan selamat kepada Made Kaek, Made Somadita dan Wayan Linggih atas dibukanya Pameran di atas kertas; 'PAPER NOTE'
Di Griya Santrian Gallery, Sanur, Bali.
Jumat, 25 April 2014. Pukul 18.20 WITA.

Pameran akan berlangsung hingga tanggal 25 Mei 2014.

Selamat Berpameran,
SURATKABAR SENI

SENI DI ATAS KERTASTETAPLAH SENI DI ATAS KERTASOLEH I WAYAN SUARDIKAAIR, apapun wadahnya, ia tetaplah air. Begitupun sen...
14/04/2014

SENI DI ATAS KERTAS
TETAPLAH SENI DI ATAS KERTAS

OLEH I WAYAN SUARDIKA

AIR, apapun wadahnya, ia tetaplah air. Begitupun seni, apapun wadah ungkapnya, ia tetaplah seni. Namun pengumpamaan itu tak selalu berlaku seperti itu. ada nilai, ukuran dan kenisbian; ada cara pandang, kuasa penentu dan isi kepala yang tak sama. Dengan begitu, sesuatu ialah ikhwal nisbi.

Seni (rupa) di atas kertas bukanlah peristwa baru. Ia adalah sejarah masa lalu dan bertaut hingga hari ini. Hampir semua masa, mazhab perjalanan seni rupa dan hampir semua perupa di dunia melewati “masa-masa kertas”. Ketika China menemukan kertas pertama kali, maka banyak karya-karya penting seniman dari China tersimpan di atas kertas. Begitu p**a Jepang dan akhirnya terbawa ke jaman berikutnya. Ribuan sektsa dan gambar seniman terpenting Abad Pertengahan Leonardo Da Vinci tersimpan dalam kertas-kertas berkualitas pada masanya. Jangan bertanya berapa harga per lembarnya karena berapa pun angka yang diterakan maka tak kurang para pekaya dunia akan menyerbunya.

MAKA, tiga perupa Bali mencoba kembali bermain, mencatat dan berkreasi di atas kertas. Tentu tak menutup kemungkinan bahwa karya-karya mereka di atas kertas adalah hasil studi beragam percobaan; cat air, arang, tinta, pulpen, pensil; juga imaji-imaji liar dari dalam ruang maupun respon ilham dari alam nyata. Namun sejauh proses kerja di mereka di atas kertas dan menghasilkan ratusan hasil studi, maka peluang-peluang karya jadi juga tak sedikit. Dan mereka merasa terpanggil untuk melibatkan publik luas buat menjalin komunikasi estetik dalam suatu pameran bermedium sepenuhnya kertas.

INILAH Paper Note, satu pameran bersama yang mengetengahkan tiga perupa Bali: Made Kaek, Made Somadita dan Wayan Linggih. Jika mereka seragam bermedium kertas, pertama-tama bukan karena sepanjang karier kesenirupaan mereka melulu bermedium kertas, melainkan tertuju kepada kembalinya kesadaran bahwa kertas ialah wialayah yang sah untuk berekspresi seni (rupa). Ia tak berurusan dengan mahal murahnya bahan; ia hanya berurusan dengan sejauh apa kesenian mereka diekspresikan dengan baik, tertuju pada mutu dan kepantasan pada hak mendapat percakapan apresiatif.

14/04/2014
Pelipur Lara Pada mula seni ialah pelipur lara. Pada mula yang lain ialah waktu senggang. Manusia-manusia goa menggores-...
13/02/2014

Pelipur Lara

Pada mula seni ialah pelipur lara. Pada mula yang lain ialah waktu senggang. Manusia-manusia goa menggores-gores garis, warna dan jadi gambar-gambar arkhaik seperti yang dapat dilihat di dinding goa atau tebing saat mereka tak berburu; para budak kulit hitam di Amerika yang didatangkan dari Afrika di malam hari saat tak mengangkut batu dan membikin jalan, memainkan alat-alat seadanya; batu, peralatan kerja dan segala potensi musical tubuh mereka. Lahirlah apa yang kemudian kita sebagai musik jazz.
Dulu, para petani Bali, seusai membajak huma dan menanam padi, mereka memiliki banyak waktu luang; menari, menembang, menggambar, membikin sesuatu yang bertalian dengan pekerjaan tangan. Hasilnya ialah legenda Lempad, Tjokot, I Maria, dan bertumbuh mekar segala pertunjukan yang dibangun sejak dulu dan hingga kini masih hidup tumbuh mewangi. Itu terjadi karena manusia Bali gemar mengisi waktu luang dan menghibur diri.
Hampir semua orang memiliki saat senggang; dari para jelata hingga raja-raja. Mereka perlu sandang, pangan, papan, tapi jangan lupa, mereka juga punya anganan. Waktu senggang dan anganan ialah dua keadaan paling sohib, pas dan universal sekaligus kontekstual. Saat senggang, raja-raja membutuhkan kelangenan; saat senggang, para jelata mengutak-atik sesuatu, ngobrol atau molor. Saat senggang adalah saat menghibur diri, menghibur akal dan hati, pelesiran ke sana kemari, atau membikin sesuatu yang menyenangkan hati.
Dan yang paling enjoy saat seni dibuat ialah justru saat senggang. Kebanyakan memang begitu. Dalam kondisi seperti itu, orang terbebas dari hal apapun selain mempersenang diri. Membikin sesuatu hanya untuk pelipur lara; bermain-main, mengerjakan sesuatu yang turun dari anganan, dan seumpama akhirnya selesai apa yang dikerjakan, juga tidak untuk apa-apa. Kadang ada bagian dari hidup yang tak perlu penjelasan tapi toh mendamainkan. Karena itu, hak seni ialah waktu luang. Seni sungguh tak s**a ketergopoh-gopohan.
Tapi jaman berubah, nilai dan ukuran juga tak sama. Di masa lalu, seni ialah bakti yang girang pada akal budi di waktu luang dan sepenuhnya sebagai pelipur lara; kini seni dumuatkan macam-macam. Seni ialah profesi, diukur-ukur dengan pasti dan diajarkan di bangku sekolah; seni ialah tuntutan ars longa vita brevis dan diberat-beratkan dalam wacana, filsafat dan kritik. Sebagian seni jadi seram, angkuh, mahal dan mewah; seni terasa memiliki “kasta”.
Kini tak mudah menikmati sebagian dari perkembangan seni. Apa-lagi seni yang dibubuhi kata “kontemporer” di belakangnya. Atas nama kontemporer, sepertinya segala ikhwal yang bersangkutan dengan seni seperti menjadi “sah”. Tetapi sebagian kecil toh ada yang curiga; jangan-jangan mazhab kontemporer adalah “cara paling nyaman untuk bersembunyi dari ketidakbecusan menyelami kesejatian dari keindahan seni”.

Kini, segala seni ialah pertaruhan penuh akal budi. Perge-rakannya hampir menyamai—dan mungkin juga me-lampui—progresivitas sains. Seni kini tak lagi selesai hanya sebagai pelipur lara di waktu senggang; seni sekarang ialah tentang membantah William Shakespeare “apalah sebuah nama” karena di dalam seni kini nama menjadi utama. Dan kabar utama dari seni hari ini ialah “seni tak selalu menjanjikan kemiskinan” seperti sejarah seni di hari kemarin. Tak sedikit dari seniman yang hidup bergelimpang mewah, mengenal banyak benda-benda mahal dan pergaulan dengan “orang-orang wangi”. Itu bagus. Asal “zona nyaman” itu tak memperbuntu akal budi. i wayan suardika

Address

Jalan Kembang Matahari I No. 139A, Blok B1
Denpasar

Telephone

62-361-251031

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Suratkabar SENI posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category