13/02/2014
Pelipur Lara
Pada mula seni ialah pelipur lara. Pada mula yang lain ialah waktu senggang. Manusia-manusia goa menggores-gores garis, warna dan jadi gambar-gambar arkhaik seperti yang dapat dilihat di dinding goa atau tebing saat mereka tak berburu; para budak kulit hitam di Amerika yang didatangkan dari Afrika di malam hari saat tak mengangkut batu dan membikin jalan, memainkan alat-alat seadanya; batu, peralatan kerja dan segala potensi musical tubuh mereka. Lahirlah apa yang kemudian kita sebagai musik jazz.
Dulu, para petani Bali, seusai membajak huma dan menanam padi, mereka memiliki banyak waktu luang; menari, menembang, menggambar, membikin sesuatu yang bertalian dengan pekerjaan tangan. Hasilnya ialah legenda Lempad, Tjokot, I Maria, dan bertumbuh mekar segala pertunjukan yang dibangun sejak dulu dan hingga kini masih hidup tumbuh mewangi. Itu terjadi karena manusia Bali gemar mengisi waktu luang dan menghibur diri.
Hampir semua orang memiliki saat senggang; dari para jelata hingga raja-raja. Mereka perlu sandang, pangan, papan, tapi jangan lupa, mereka juga punya anganan. Waktu senggang dan anganan ialah dua keadaan paling sohib, pas dan universal sekaligus kontekstual. Saat senggang, raja-raja membutuhkan kelangenan; saat senggang, para jelata mengutak-atik sesuatu, ngobrol atau molor. Saat senggang adalah saat menghibur diri, menghibur akal dan hati, pelesiran ke sana kemari, atau membikin sesuatu yang menyenangkan hati.
Dan yang paling enjoy saat seni dibuat ialah justru saat senggang. Kebanyakan memang begitu. Dalam kondisi seperti itu, orang terbebas dari hal apapun selain mempersenang diri. Membikin sesuatu hanya untuk pelipur lara; bermain-main, mengerjakan sesuatu yang turun dari anganan, dan seumpama akhirnya selesai apa yang dikerjakan, juga tidak untuk apa-apa. Kadang ada bagian dari hidup yang tak perlu penjelasan tapi toh mendamainkan. Karena itu, hak seni ialah waktu luang. Seni sungguh tak s**a ketergopoh-gopohan.
Tapi jaman berubah, nilai dan ukuran juga tak sama. Di masa lalu, seni ialah bakti yang girang pada akal budi di waktu luang dan sepenuhnya sebagai pelipur lara; kini seni dumuatkan macam-macam. Seni ialah profesi, diukur-ukur dengan pasti dan diajarkan di bangku sekolah; seni ialah tuntutan ars longa vita brevis dan diberat-beratkan dalam wacana, filsafat dan kritik. Sebagian seni jadi seram, angkuh, mahal dan mewah; seni terasa memiliki “kasta”.
Kini tak mudah menikmati sebagian dari perkembangan seni. Apa-lagi seni yang dibubuhi kata “kontemporer” di belakangnya. Atas nama kontemporer, sepertinya segala ikhwal yang bersangkutan dengan seni seperti menjadi “sah”. Tetapi sebagian kecil toh ada yang curiga; jangan-jangan mazhab kontemporer adalah “cara paling nyaman untuk bersembunyi dari ketidakbecusan menyelami kesejatian dari keindahan seni”.
Kini, segala seni ialah pertaruhan penuh akal budi. Perge-rakannya hampir menyamai—dan mungkin juga me-lampui—progresivitas sains. Seni kini tak lagi selesai hanya sebagai pelipur lara di waktu senggang; seni sekarang ialah tentang membantah William Shakespeare “apalah sebuah nama” karena di dalam seni kini nama menjadi utama. Dan kabar utama dari seni hari ini ialah “seni tak selalu menjanjikan kemiskinan” seperti sejarah seni di hari kemarin. Tak sedikit dari seniman yang hidup bergelimpang mewah, mengenal banyak benda-benda mahal dan pergaulan dengan “orang-orang wangi”. Itu bagus. Asal “zona nyaman” itu tak memperbuntu akal budi. i wayan suardika