29/11/2025
Pohon Beringin ternyata memiliki peran yang sangat vital dan sakral dalam upacara keagamaan di Bali, khususnya dalam ritual Pitra Yadnya atau Mamukur (penyucian atma). Penggunaannya bahkan diatur dengan detail ritual khusus.
Menurut Dr. Wayan Murniti, Dosen Upakara IAHN Mpu Kuturan, Beringin menjadi sarana penting dalam upacara pengajuman pada rangkaian Mamukur, di mana tujuannya adalah membebaskan atma (roh) dari sifat keduniawiannya agar dapat menyatu dengan Sang Pencipta menjadi Dewa Pitara.
Daun beringin dipetik (ngangget don bingin) untuk mewujudkan prakerti sang pitara dalam bentuk puspa lingga.
Proses dan Aturan Sakral:
- Persiapan: Sebelum pemetikan, seorang Sulinggih akan ngwekasang banten (menghaturkan sesajen) kepada Dewa Sangkara (dewa tumbuhan), dilanjutkan dengan panca sembah oleh masyarakat.
- Aksi Pemetikan: Daun digait sebanyak tiga kali mengikuti arah jarum jam (Murwa Daksina).
- Aturan Ketat: Daun yang sudah digait tidak boleh jatuh ke tanah. Karena aturan inilah, masyarakat Bali menggunakan kain kafan atau kain putih sebagai wadah penampung saat proses penggaitan.
Secara mitologi, pohon beringin diyakini sebagai tumbuhan sorga dan tempat anjangsana (berkunjung) para pitara dan dewa. Dalam lontar Siwagama, dikisahkan bahwa pohon beringin mendapat anugerah dari Bhagawan Salukat untuk menjadi pelindung para Dewa dan wahana penyucian.
Pemilihan pohon beringin dalam Mamukur ini, menurut Dr. Murniti, bermakna sebagai wahana penyucian bagi arwah leluhur agar bisa mencapai kesempurnaan.
Apakah tradisi penggunaan simbol-simbol alam seperti Pohon Beringin ini menunjukkan kuatnya hubungan spiritual masyarakat Bali dengan lingkungan?