Jaringan Informasi Hindu Indonesia

Jaringan Informasi Hindu Indonesia Sekumpulan Informasi Hindu Indonesia. Om, Swastiastu, Om. Terima Kasih. Om, Shanti, Shanti, Shanti, Om

JARINGAN INFORMASI HINDU INDONESIA

Jika dipecah berdasarkan kata memiliki makna :

- Jaringan : Sumber informasi bersifat interaktif, terbuka dan layak menjadi bahan diskusi. Siapapun boleh memberikan informasi bertujuan untuk membangun pemahaman yang sehat.

- Informasi : Konten yang informatif, aplikatif dan semudah mungkin untuk dipahami.

- Hindu : Informasi - informasi yang terkait dengan ni

lai - nilai ke Hindu an, baik bersifat kedalam diri maupun berkaitan dengan keluar diri (lingkungan)

- Indonesia : Semangat Indonesia yang berbeda namun satu menjadi landasan yang inklusif dalam membangun halaman Facebook ini.

***
CMIIW (Correct Me If I'm Wrong) adalah kode keniscayaan jikalau kebenaran mutlak hanyalah milik Hyang Widhi, Hyang Maha Kuasa. Setiap kekeliruan yang disampaikan dalam konten Halaman Facebook ini dapat disampaikan secara Langsung dalam kolom komentar maupun melalui perangkat pesan pribadi Halaman Facebook.

***
Untuk mensupport halaman Facebook ini cukup melakukan share seluas - luasnya agar peluang pengguna Facebook lainnya like/mengikuti Halaman ini.

31/07/2023

Purnama dan Galungan bertepatan, 500 tahun sekali terjadi!

Sumber : Hindu Channel

Makna Sugihan Jawa, Lengkap dengan Penjelasan, Banten, dan Pemujaan, Rangkaian GalunganSugihan Jawa merupakan rangkaian ...
27/07/2023

Makna Sugihan Jawa, Lengkap dengan Penjelasan, Banten, dan Pemujaan, Rangkaian Galungan
Sugihan Jawa merupakan rangkaian dari hari raya Galungan yang dirayakan umat Hindu di Bali.

Hari raya Sugihan Jawa dirayakan setiap enam bulan sekali atau 210 hari sekali.

Adapun hari raya itu digelar pada Kamis Wage wuku Sungsang.

Kata Sugihan Jawa berasal dari kata Sugi dan Jaba dari bahasa Sansekerta.

Untuk kata Sugi miliki arti pembersihan atau membersihkan.

Sedangkan kata Jaba memiliki arti luar.

Oleh karena itu, Sugihan Jawa bermakna hari untuk pembersihan alam semesta atau bhuana agung.

Terkait Sugihan Jawa ini dijelaskan pada Lontar Sundarigama.

Dalam lontar ini, disebutkan kutipan sebagai berikut.

Sungsang, rehaspati wage ngaran parerebwan, sugyan jawa kajar ing loka, katwinya sugyan jawa ta ngaran, apan pakretin bhatara kabeh arerebon ring sanggar mwang ring parhyangan, dulurin pangraratan, pangresikan ring bhatara, saha puspa wangi. Kunang wwang wruh ing tatwa jana, pasang yoga, sang wiku anggarga puja, apan bhatara tumurun mareng madyapada, milu sang dewa pitara, amukti banten anerus tekeng galungan. Pakreti nikang wwang, sasayut mwang tutwang, pangarad kas**an ngaranya.

Artinya:

Saat Kamis Wage Sungsang merupakan hari parerebon atau Sugihan Jawa.

Saat ini merupakan saat untuk melakukan rerebu di sanggah dan parahyangan, yang disertai pangraratan dan pembersihan untuk Bhatara dengan kembang wangi.

Seseorang yang punya kemampuan spiritual akan melaksanakan yoga semadhi, dan pendeta akan melakukan pemujaan tertinggi.

Hal ini karena Bhatara pada hari ini turun ke dunia diiringi oleh para Dewa Pitara untuk persembahan hingga Galungan.

Adapun tujuan dari Rerebu atau marerebon adalah menetralisir kekuatan negatif yang ada pada alam semesta atau Bhuana Agung.

Untuk banten atau upakara yang dipersembahkan berupa sesayut tutwan atau pangarad kas**an.

04/06/2023

Bagaikan tanah, demikian p**a orang suci. Tidak pernah marah, teguh pikirannya bagaikan tugu kota, bersih tingkah lakunya bagaikan kolam tak berlumpur. Bagi orang suci seperti ini tak ada lagi siklus kelahiran.' (Dharmapada Buddha 95)
—'Orang yang tenang yang tetap tidak terganggu karena s**a dan duka, dan yang menganggap kebahagiaan dan kesusahan adalah sama, memenuhi syarat untuk pembebasan dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan.' (Bhagavad Gītā 2.15)

𝗦𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁 𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶 𝗪𝗮𝗶𝘀𝗮𝗸 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗸𝗮𝘄𝗮𝗻-𝗸𝗮𝘄𝗮𝗻 𝗕𝘂𝗱𝗱𝗵𝗶𝘀 🙏

Via

• Rahajeng Tumpek LandepSeperti apa itu menajamkan pikiran menurut perspektif Vedānta dan Saṃkhyā?—'Keterikatan dan kebe...
05/11/2022

• Rahajeng Tumpek Landep

Seperti apa itu menajamkan pikiran menurut perspektif Vedānta dan Saṃkhyā?
—'Keterikatan dan kebebasan bersemayam di dalam pikiran; jadi ketika pikiran mendapatkan kedamaian, belenggu Samsāra (kesengsaraan) juga berakhir. Ketika seseorang berkata: "Dia adalah musuhku", "dia adalah teman", "dia bukan musuh atau bukan teman" — semua pemikiran yang berbeda-beda ini bersemayam di dalam pikiran dan hasil dari rekayasa pikiran (dualitas). Pikiran itu sangat sulit ditaklukkan; karena alasan inilah orang-orang harus menaklukkan pikirannya dengan latihan terus menerus dari segala sisi. Ia yang menghadapi keberhasilan dan kegagalan dalam sikap yang sama, tidak gembira disaat senang dan tidak berduka di saat sedih. Memperlakukan kawan dan musuh dengan sikap yang sama. Memandang emas dan pasir dengan sikap pikiran yang sama. Ia juga melakukan pekerjaannya tanpa keterikatan pada hasilnya. Tugas demi tugasnya tanpa pikirannya terganggu dengan rasa kekhawatiran, dan kecemasan, ia akan memperoleh kebahagiaan murni melalui realisasi dirinya dan memperoleh Mokṣa.'

Sumber: Bhagavad Gītā Bab 14 dan Śrimad Devī Bhāgavata Mahāpurāṇa Skanda 1 Bab 18.

______________________________

Credit Photo:

27/08/2022

RAHAJENG TUMPEK KANDANG
Tumpek Kandang adalah upacara keagamaan Hindu Bali yang di dedikasikan untuk hewan. Upacara ini dirayakan setiap Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Uye berdasarkan sistem Kalender Bali. Tumpek Kandang dirayakan di seluruh Bali.
🎥

NON-HINDU: "ORANG HINDU KOK MEMUJA BINATANG? DIMANA KEWARASANNYA?"Atharvaśīrṣa Upaniṣad dari Atharvaveda menyatakan bahw...
27/08/2022

NON-HINDU: "ORANG HINDU KOK MEMUJA BINATANG? DIMANA KEWARASANNYA?"

Atharvaśīrṣa Upaniṣad dari Atharvaveda menyatakan bahwa tidak ada apapun yang terpisah dari Śiva (Tuhan), jadi menganggap ciptaan berbeda dengan pencipta adalah masih setengah kebenaran (Vyavahārikā). Ini adalah filsafat Śiva Kasmir dan filsafat monistik Vedānta.

Namun "identitas" juga bukan berarti segalanya adalah Dia. Dengan kata lain Yang Lebih Tinggi (Tuhan) meliputi yang lebih rendah (ciptaan), dan karena itu Tuhan menyatu dengan yang lebih rendah, segala sesuatu adalah atribut-Nya, segala sesuatu adalah anggota tubuh-Nya. Ini adalah filsafat Śakti Visiṣṭhādvaita (Vīraśaiva), Pratyabhijña, Śrī Ramanuja, Śivādvaita Śrīkanta atau Śiva Visiṣṭhādvaita.

Menghina binatang berarti kita menghina Viṣṇu yang merupakan batin dari semua makhluk hidup. Batin Viṣṇu adalah Śrī Rudra, batin Rudra adalah Maheśvara, batin Maheśvara adalah Sadāśiva, batin Sadaśiva adalah Śakti, dimana dengan Śakti itu, Parāśiva (Brahman Yang Agung) berada dalam hubungan 'tadatmya'.
—'Tuhanku yang terkasih, mereka yang telah sepenuhnya mengabdikan hidup mereka untuk kaki padma-Mu tentu saja mengamati kehadiran-Mu sebagai Paramātmā dalam setiap makhluk, dan dengan demikian mereka tidak membedakan antara satu makhluk hidup dengan makhluk lainnya. Orang-orang seperti demikian memperlakukan semua makhluk hidup secara setara. Mereka tidak pernah diliputi oleh kemarahan seperti binatang, yang tidak dapat melihat apa pun tanpa pembedaan.'

Śiva Stutī di dalam Bhāgavata Purāṇa (4.6.46)
______________________________
Rahajeng Tumpek Kandang. 😇🙏
Photo: via filsafat_hindu

SELAMAT DAN SUKSES ATAS PELETAKAN BATU PERTAMA "HINDU KAHARINGAN CENTER" DI PALANGKARAYA, KALIMANTAN TENGAHOM Swastyastu...
01/08/2022

SELAMAT DAN SUKSES ATAS PELETAKAN BATU PERTAMA "HINDU KAHARINGAN CENTER" DI PALANGKARAYA, KALIMANTAN TENGAH

OM Swastyastu,
Tabe Salamat Salam Sahujud Karendem Malempang,

Atas nama seluruh Relawan Dharma Hindunesia dan jajaran Dekornas Puskor Hindunesia menyampaikan selamat atas peletakan batu pertama, Hindu Kaharingan Center, semoga akan menjadi inspirasi bagi munculnya center -center Hindu lainnya yang berbasis pada keragaman dan kearifan lokal di masing-masing komunitas Hindunesia temurun yang sudah jadi bagian dari Hindu Nusantara

Saudara kita Hindu Kaharingan juga sudah dari awal bergabung dengan Hindu membentuk Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan, yang SANGAT TEPAT bagi terwujudnya konsep Hindu Nusantara, sekaligus sebagai PERLINDUNGAN TERHADAP TATANAN Hindu yang menjunjung nilai-nilai adat, tradisi dan budaya setempat. Inilah yang akan menjadi solusi bagi TEGAK-nya konsep BHINEKA TUNGGAL IKA dalam HINDU NUSANTARA. Sehingga pengaruh-pengaruh luar seperti sampradaya asing yang saat ini menjadi "aliran atau sekte KOROSIF" dalam Hindu Nusantara akan sulit masuk dan berkembang.

Semoga dengan hadirnya Hindu Kaharingan Center akan menggugah tokoh-tokoh Hindu Bali, Hindu Jawa, Hindu Tengger, Hindu Wiwitan, Hindu Karo, Hindu Tamil, Hindu Bharat, Hindu Kei, Hindu Marapu, Hindu Sasak, Hindu Toraja, Hindu Meratus, dsb., akan SEGERA mengikuti jejak saudara kita Hindu Kaharingan membentuk MAJELIS dan CENTER. Sehingga Parisada benar-benar menjadi berkumpulnya tokoh-tokoh MAJELIS dari berbagai komunitas untuk MENJADI LEMBAGA KEUMATAN HINDU NUSANTARA TERHORMAT dan DIMULIAKAN UMAT.

Selamat dan Sukses untuk Hindu Kaharingan. Perlindungan jati diri dan kearifan lokal masing-masing komunitas adalah HAK bagi penganutnya dan KEWAJIBAN bagi PARISADA untuk MENGAYOMI dan MEMBINANYA. Bukan melindungi dan memelihara serta membesarkan SAMPRADAYA ASING yang sarat KONVERSI dan MENGGERUS KEARIFAN LOKAL NUSANTARA'.

Sahey. OM Santih, Santih, Santih OM

Ida Bagus K Susena
Relawan Dharma Hindunesia
Ketum Dekornas Puskor Hindunesia

18/06/2022

Begini suasana Hari Raya Galungan dan Kuningan Umat Hindu yang merantau di Desa Kotaraya, Sulawesi Tengah.
🎥 Wayan Widana

Rahajeng Galungan dari Pulau Surga, Bali.—'Perayaan Hari Raya Galungan itu pertama-tama jatuh pada hari Rabu Kliwon, Wuk...
08/06/2022

Rahajeng Galungan dari Pulau Surga, Bali.
—'Perayaan Hari Raya Galungan itu pertama-tama jatuh pada hari Rabu Kliwon, Wuku Dungulan Sasih Kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan surga.' (Lontar Purāṇa Bali Dwipa)

Credit Photo: wanderskyy

21/03/2022

Aksi pawang hujan untuk memberhentikan hujan yang turun lebat sebelum race Moto GP 2022 di Sirkuit Mandalika.
📸:

Untuk Menghindari datangnya hujan, panitia MotoGP Mandalika menghadirkan Jero Balian dr Papua dgn Ritual Hindu nampak be...
21/03/2022

Untuk Menghindari datangnya hujan, panitia MotoGP Mandalika menghadirkan Jero Balian dr Papua dgn Ritual Hindu nampak berbagai canang dan banten....

Hasilnya manjur, Kualifikasi MotoGP Mandalika hari ini berjalan lancar tanpa adanya hujan... We Proud Hindu 👏👏👏🕉👍👍👍




Credit Photo: Bola.com

Jika Hindu melakukan realisasi diri kepada Nirguṇa Śiwa, orang Bali lambangkan itu dengan tempat yang sepi atau suung, s...
02/03/2022

Jika Hindu melakukan realisasi diri kepada Nirguṇa Śiwa, orang Bali lambangkan itu dengan tempat yang sepi atau suung, suung itu kosong tetapi sesungguhnya bukan kosong namun berisi Sang Maha Ada. Karena itu tempat pemujaan orang Bali disebut Padmāsana dimana pada puncak bangunannya berbentuk tahta singgasana kosong atau sebuah rong.

Upaniṣad (Weda) & Aji Kaweruh Śiwa (Āgama Bali) menekankan bahwa untuk bertemu dengan Sang Pencipta tidak mesti mendatangi langit & surga, melainkan cukup temukan dalam diri sendiri. Dia bersembunyi dengan keśūnyaan (sunyi) di dalam tubuh kita.
—'Tubuh ini kuil Tuhan. Di dalamnya ada tempat tinggal dalam bentuk teratai [yaitu hati], & di dalamnya lagi ada Ākāsha [angkasa / ruang kecil]. Seseorang harus mencari tahu siapa yang bersemayam di dalam ruang ini & dengan sungguh-sungguh ingin mengetahui apa yang ada di sana.' (Chāndogya Upaniṣad 8.1.1)

Oleh sebab itu Śiwa disebut Puṇḍarīkākṣa (Dia menempati teratai hati) & Parama-ātmā (Roh Yang Agung).
—'Ruang di dalam hati sama besarnya dengan ruang di luar angkasa. Langit & bumi ada di dalamnya. Begitu p**a api & udara, matahari & bulan, kilat & bintang-bintang, segala sesuatu ada di dalam ruang itu.' (Chāndogya Upaniṣad 8.1.3)

Oleh karenanya, Vedānta memandang dunia sebagai permainan 'petak umpet' yang hebat di mana Yang Maha Nyata bersembunyi di balik yang tampak.
—'Kuil yang terdiri dari ruang ada di dalam hati, penuh kebahagiaan, & Peristirahatan Tertinggi — Dia adalah tujuan terakhir kita.' (Maitri Upaniṣad 6.27)

Jadi, 4 Brata Penyepian:
1. tidak menyalakan cahaya,
2. tidak bekerja,
3. tidak berpergian, &
4. membatasi kesenangan indria-indria,
menuntun kita menyadari hakikat kaśiwaan dalam diri kita, karena milyaran semesta & berbagai macam kehidupan justru bersembunyi di dalam ruang hati kita.
—'Di dalamnya tidak ada kilatan petir atau sinar matahari atau bulan untuk menerangi Tuhan, namun dengan sinar jyoti kecermelangan-Nya alam semesta ini menjadi terang-benderang.' (Śiwa Purāṇa 7.1.3.14)

Hari Nyepi adalah momentum untuk mengetahui & merealisasikan Kesadaran Śiwa dalam laku kehidupan.

Credit Photo:

Address

Denpasar

Telephone

+628179793396

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Jaringan Informasi Hindu Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share