AceNime

AceNime Fanpage? Ini cuma akun alter yang pura-pura jadi Fanpage anime~

Aku melihat kabar soal suatu pesta di suatu kampus. Kadang aku merasa, sikap melarang orang menonton media tertentu—film...
08/05/2026

Aku melihat kabar soal suatu pesta di suatu kampus. Kadang aku merasa, sikap melarang orang menonton media tertentu—film, anime, buku, atau karya lain—dengan alasan "pengaruh buruk" sering kali terdengar arogan karena mengandung asumsi bahwa orang lain dianggap mudah terseret dan tidak memiliki kemandirian berpikir, sementara yang melarang menempatkan dirinya seolah lebih kebal, lebih dewasa, atau lebih mampu memilah.

Tentu berbeda jika yang dibahas adalah anak-anak. Tapi kalau di kampus, bukankah ruang akademik seharusnya melatih kemampuan berpikir kritis alih-alih membatasi konsumsi media? Kalau ada kekhawatiran terhadap isi sebuah film, karya atau sekadar persoalan babi, kenapa responsnya bukan membimbing mahasiswa untuk membaca konteks, memahami pesan, mengkritisi narasi, dan mendiskusikannya secara dewasa?. Kampus mestinya menjadi tempat orang belajar menghadapi gagasan seliar apapun, bukan cuma jadi tempat steril yang aman bagi sudut pandang tertentu aja. Meski yang khawatir cuma sekadar... takut ada mahasiswa kejang-kejang liat tulisan di akun ku kalau cara didiknya penuh sensor.

Aku juga sempat mendengar alasan melarangnya adalah "menjaga stabilitas" atau narasi sejenis. Masalahnya, logika seperti ini mudah berubah menjadi budaya membungkam. Mirip ungkapan "diam adalah emas" yang awalnya nasihat untuk menjaga lisan, tetapi sekarang kerap dipakai untuk menekan orang agar tidak bersuara. Sedikit berbeda pendapat dianggap bikin gaduh. Sekadar mengatakan "aku nggak s**a anime ini" saja bisa langsung dicap kekanak-kanakan, terlalu banyak protes, atau dianggap mencari masalah.

Lucunya, sebagian orang juga gemar membawa prinsip "nrima ing pandum" atau menerima keadaan apa adanya. Tapi prinsip itu sering diterapkan sepihak, orang lain diminta menerima keadaan, keputusan, larangan, bahkan sensor. Tapi ketika ada orang lain yang sekadar menyampaikan ketidaks**aan atau kritik, mereka justru tidak mampu menerima adanya dinamika pendapat. Kalau benar percaya pada sikap menerima, seharusnya bisa menerima juga bahwa tidak semua orang akan menyukai anime yang sama, kan?. Kecuali... Kalau fans berat anime tersebut👀 Aku bisa memahami tanpa membenarkan.

—Ace

Mencoba mengeksplorasi film lagi, kali ini judulnya Leon: The Professional (1994). Aku kesulitan nyari contoh yang mirip...
06/05/2026

Mencoba mengeksplorasi film lagi, kali ini judulnya Leon: The Professional (1994). Aku kesulitan nyari contoh yang mirip banget di anime, tapi kalau kamu s**a tema childcare, selain Buddy Daddies dan Spy x Family, aku punya beberapa rekomendasi:

1. Hinamatsuri
2. Kakushigoto
3. Kumichou Musume to Sawagakari
4. Beelzebub

Tapi yah... Hampir semuanya lebih ke menonjolkan komedi~

—Ace

Belum nemu anime yang sekiranya mirip Film Lo**ta 1997 tapi satu-satunya yang buat aku ngerasain vibes yang sama itu man...
01/05/2026

Belum nemu anime yang sekiranya mirip Film Lo**ta 1997 tapi satu-satunya yang buat aku ngerasain vibes yang sama itu manga Watashi ga 15-sai dewa Nakunattemo yang pernah ku bahas sebelumnya.

Kayaknya... Ini pertama kali aku bahas film 😂

—Ace

Awalnya aku lihat orang bilang "Anime jaman sekarang kok gini amat ya?". Tapi buatku dan teman yang aku kenal sudah nont...
23/04/2026

Awalnya aku lihat orang bilang "Anime jaman sekarang kok gini amat ya?". Tapi buatku dan teman yang aku kenal sudah nonton banyak anime jadul, tentu bilang, "Bukannya dulu lebih parah?".

Contoh paling parah anime pasca covid itu Kaifuku Jutsushi dan Mahoako. Anime yang dilabeli sebagai hard e***i jaman dulu seperti Aki-Sora setara sama kedua anime ini, yaitu ada "adegannya", cuman gak eksplisit sampai keliatan "barangnya".

Kalau menurutku, bedanya sekarang ceritanya lebih ditekankan, jadi nilai jualnya bukan fanservice sensual doang. Anime yang dilabeli sebagai hard e***i sekarang, justru lebih banyak yang mirip kayak Megami no Ryoubo-kun atau Haite Kudasai Takamine-san. Yang lebih banyak kulit yang terlihat tanpa adegan "itu" gitulah. Hanya tingkatan yang lebih terbuka dari e***i biasa.

Aku iseng cek di Myanimelist, ternyata jaman dulu dan sekarang beda format.

Sekarang mungkin keliatan main aman karena animenya dibuat untuk tayang di TV (terutama siaran tengah malam) regulasinya tentu lebih ketat dari format yang digunakan anime hard e***i lawas.

Dan formatnya adalah OVA.

Buat yang belum tau, kata google OVA itu diproduksi dan langsung dirilis daman bentuk DVD/Blu-ray tanpa dirilis ke TV ataupun bioskop terlebih dahulu.

Jadi, anime hard e***i jaman dulu gak dibebani kewajiban sensor, makanya bisa lebih parah.

Cuman setelah aku cek lebih jauh lagi dari keterangan semua anime semacam ini yang pernah ku tonton, plot twits-nya adalah... anime jadul dan sekarang sama aja😂

Yang membedakan tetap format TV dan OVA. Dan jaman juga gak seberpengaruh itu dalam konteks ini.

Mungkin, aku dan temanku bilang kalau jaman dulu lebih parah karena dulu nonton bajakan di masa sebelum paham soal format penayangan anime. Itulah yang mengaburkan pengetahuan soal ini.

Tapi setelah nonton Ishuzoku Reviewers di Bastation sebagai contoh anime hard e***i jaman sekarang yang tayang dalam format TV series, aku menyimpulkan:

GAK ADA BEDANYA 😭

Bedanya memang dari awal ada hard e***i yang sampai ada adegan itu tapi gak eksplisit dan ada yang cuma versi lebih terbuka dari e***i biasa.

Tanita, perusahaan spesialis alat kesehatan asal Jepang, kembali menggandeng game mobile populer Blue Archive untuk meri...
21/04/2026

Tanita, perusahaan spesialis alat kesehatan asal Jepang, kembali menggandeng game mobile populer Blue Archive untuk merilis lini merchandise unik berupa pedometer (alat penghitung langkah kaki).

Kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari kerjasama sebelumnya. Kali ini, hadir dengan total 136 varian desain, yang mencakup hampir seluruh siswa dari akademi di Kivotos, termasuk Arona dan Plana. Setiap pedometer menampilkan ilustrasi karakter favorit beserta warna dan logo sekolah masing-masing, sehingga Sensei bisa langsung tahu karakter dari akademi mana hanya dengan melihat desainnya.

Harganya sekitar 3.520 yen (termasuk pajak), dan dijual secara made-to-order melalui situs resmi Tanita Online Shop.

Pemesanan dibuka mulai 20 April 2026 pukul 14:00 hingga 20 Mei 2026 pukul 13:00 waktu setempat, dengan pengiriman dijadwalkan secara bertahap mulai pertengahan Juli 2026. Karena sifatnya made-to-order, pemesanan tidak bisa dibatalkan dan tidak ada pengembalian barang.

Produk ini diharapkan semakin mendekatkan para Sensei dengan gaya hidup sehat, sambil tetap bisa 'jalan-jalan' bareng para murid kesayangannya di dunia nyata.

— Ace

Sedih aku wak
16/04/2026

Sedih aku wak

Ada yang belum sempet ku bahas tapi bersinggungan dengan topik "antara fiksi dan kenyataan di anime", yaitu... Cosplayer...
12/04/2026

Ada yang belum sempet ku bahas tapi bersinggungan dengan topik "antara fiksi dan kenyataan di anime", yaitu... Cosplayer. Ini juga kritik untuk orang yang sepaham denganku soal memisahkan fiksi dan kenyataan tapi yang keblabasan.

Kita tahu, cosplayer itu bermain di garis antara fiksi dan kenyataan.

Mereka bawa karakter fiksi ke dunia nyata, tapi tetap manusia nyata yang punya batas. Bukan objek bebas buat dikomentari seenaknya, apalagi yang aneh-aneh.

Masalahnya, masih banyak yang nganggep sosial media itu ruang tanpa konsekuensi. Padahal yang dihadapin tetap orang nyata.

Kalau kamu paham batas antara fiksi dan kenyataan, harusnya kamu juga paham kapan itu berhenti jadi "fiksi" dan mulai butuh tanggung jawab sebagai manusia.

— Ace Aizawa

Dari perdebatan kasus author manga Act-Age sampai author Rurouni Kenshin, dari kontroversi Mushoku Tensei sekaligus stat...
09/04/2026

Dari perdebatan kasus author manga Act-Age sampai author Rurouni Kenshin, dari kontroversi Mushoku Tensei sekaligus statement authornya, sampai perdebatan soal representasi di karya yang sama-sama tayang musim ini; JoJo's Bizarre Adventure (episode selanjutnya diundur sih kabarnya, lol) dan Witch Hat Atelier, anime fantasi yang cukup dintantikan juga.

Berikut adalah opiniku terkait "Author melekat vs terpisah dari karyanya" dan berbagai perdebatan turunannya.

Selamat membaca dan selamat malam.

— oleh Ace Aizawa

Ah, jadi inget aku diblokir sampai sekarang oleh seorang sepuh perkara beda pendapat waktu bahas chapter ini 😔 Lagian ke...
09/04/2026

Ah, jadi inget aku diblokir sampai sekarang oleh seorang sepuh perkara beda pendapat waktu bahas chapter ini 😔

Lagian kenapa ya, orang-orang yang mampir di akun ini, bukan followerku, tapi pakai postinganku buat membantah postingan beliau. Mana aku di-tag p**a.

Aku kan cuma menyampaikan interpretasi ku sendiri atas Kanokari Chapter 215 di akunku sendiri, bukan berniat membantah postingan beliau.

Tega kalian, tega~ 😭

Meski sejauh ini belum ada yang sampai ngegoreng dengan bikin semacam thread atau ocehan panjang di luar platform ini ta...
20/03/2026

Meski sejauh ini belum ada yang sampai ngegoreng dengan bikin semacam thread atau ocehan panjang di luar platform ini tapi maafkan aku, kau bisa tulis keluh kesahmu di kolom komentar 🙏

Setiap ada kasus kekerasan yang viral, kolom komentar sering berubah jadi arena debat moral.Kasus pembacokan di kampus k...
09/03/2026

Setiap ada kasus kekerasan yang viral, kolom komentar sering berubah jadi arena debat moral.

Kasus pembacokan di kampus kemarin juga begitu. Tapi kalau diperhatikan, yang diperdebatkan orang sebenarnya bukan cuma soal kejahatan, melainkan soal siapa yang pantas dianggap korban.

Ada yang reaksinya cukup lurus, "pelaku harus ditangkap, diproses hukum, dan korban harus diselamatkan."

Sekilas terlihat kaku, bahkan bisa saja dibilang "tidak paham konteks". Padahal justru ini cara pandang yang paling sejalan dengan prinsip hukum karena fokusnya jelas. Ada tindakan melanggar hukum dan ada pelaku yang harus mempertanggungjawabkannya.

Sebaliknya, ada juga yang sebelum bicara soal kejahatan justru sibuk memeriksa karakter korban. Seolah-olah ada syarat moral tak tertulis bahwa korban harus cukup "baik" dulu baru layak mendapat empati.

Kalau korban tidak memenuhi gambaran "perfect victim", simpati mulai runtuh, bahkan kadang dialihkan ke pelaku.

Pola ini tidak hanya muncul di kasus nyata. Di diskusi fiksi pun sama.

Meski tidak sama persis, penonton Takopii no Genzai pasti familiar dengan perdebatan soal Shizuka dan Marina. 

Shizuka adalah korban perundungan, tapi dia bukan karakter yang sepenuhnya "baik". Marina perundung, tapi ceritanya juga menunjukkan latar belakang yang membuat sebagian penonton mencoba memahami kenapa dia menjadi seperti itu.

Kita bisa memahami kenapa seseorang menjadi pelaku kekerasan tanpa pernah menyimpulkan bahwa kekerasan itu benar. Dalam hukum pun, motif membantu menjelaskan peristiwa, tapi tidak otomatis menghapus tanggung jawab.

Masalahnya, bahkan ketika kompleksitas itu disajikan dalam fiksi, banyak orang tetap memaksanya menjadi hitam-putih. Korban harus sepenuhnya suci, pelaku harus sepenuhnya monster.

Tapi menariknya, standar itu sering berubah ketika ceritanya bergeser menjadi balas dendam. Kekerasan yang sama tiba-tiba dianggap wajar selama diarahkan kepada orang yang dianggap pantas menerimanya.

Kalau di fiksi, kita bisa anggap saja itu katarsis (pelampiasan). Tapi kalau di dunia nyata, mungkin itu tanda bahwa banyak orang punya potensi besar jadi penjahat atas nama moralitas pribadi. Serius.

Address

Depok

Telephone

+628886176494

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when AceNime posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to AceNime:

Share