05/06/2026
Perencanaan yang dilakukan oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam dalam menghadapi krisis bukanlah sikap pasrah tanpa arah, melainkan strategi yang sangat matang dan realistis.
Beliau memahami bahwa kondisi krisis menuntut perilaku yang berbeda dari keadaan normal.
Nabi Yusuf kemudian membagi rencananya ke dalam tiga fase yang jelas.
Fase pertama adalah masa produktif selama tujuh tahun, sebagaimana firman Allah: ﴿تزرعون سبع سنين دأبا﴾, yaitu masa di mana manusia diperintahkan untuk bekerja keras, menanam secara terus-menerus, dan membangun cadangan tanpa henti.
Fase kedua adalah masa krisis yang berat selama tujuh tahun berikutnya: ﴿ثم يأتي من بعد ذلك سبع شداد﴾, di mana simpanan yang telah dikumpulkan akan digunakan dengan penuh perhitungan.
Pada fase ini, kedisiplinan, penghematan, dan pengelolaan yang bijak menjadi kunci utama untuk bertahan.
Adapun fase ketiga adalah masa pemulihan dan harapan, sebagaimana firman Allah: ﴿ثم يأتي من بعد ذلك عام فيه يغاث الناس وفيه يعصرون﴾.
Pada masa ini, pertolongan Allah datang, kehidupan kembali berjalan normal, dan manusia kembali merasakan hasil dari usaha mereka.
Ini menunjukkan bahwa krisis bukanlah kondisi yang abadi. Dengan persiapan yang baik sebelum krisis, kesabaran saat krisis, serta keyakinan kepada pertolongan Allah, maka sebuah masyarakat akan mampu bangkit kembali dan melanjutkan kehidupan dengan lebih kuat.
Sumber: Yusuf alaihissalam, Dr Ali Ash Shalabi