22/07/2025
Indonesia Raja Kemenyan Dunia, Tapi Kenapa Warganya Sendiri Malah Salah Paham?"
Pernah mencium aroma mistis kemenyan dan langsung dikaitkan dengan hal-hal gaib atau klenik? Jangan buru-buru suuzon! Ternyata, kemenyan adalah komoditas ekspor besar Indonesia yang diam-diam menyumbang ratusan miliar rupiah tiap tahun ke kas negara.
Faktanya, Indonesia adalah penghasil kemenyan terbesar di dunia. Bahkan ekspor kita mencapai 43.000 ton, dengan nilai mencapai Rp853 miliar. Tapi ironisnya, masih banyak masyarakat Indonesia sendiri yang malah mencemooh, salah paham, bahkan takut dengan tanaman ini. Kenapa bisa begitu?
Kemenyan: Antara Mistis dan Bisnis
Bagi sebagian masyarakat, terutama di kota besar, kemenyan sering distereotipkan sebagai "asap perdukunan" atau "alat pemanggil makhluk halus." Padahal, di luar negeri, kemenyan justru dianggap bahan premium untuk parfum, aromaterapi, farmasi, bahkan ritual keagamaan di Timur Tengah dan Eropa.
Sementara kita sibuk meledek, orang luar justru antre mengimpor kemenyan dari hutan-hutan Sumatera dan Tapanuli. Iya, mereka menghargai aroma dan nilai spiritual kemenyan — bukan dari sudut mistis, tapi dari kualitas dan budaya.
Petani Kemenyan: Kaya Aroma, Tapi Tetap Miskin
Yang bikin miris, meski jadi komoditas ekspor bernilai tinggi, nasib petani kemenyan lokal tak semanis aromanya. Harga yang mereka terima di tingkat kebun masih sangat kecil dibanding nilai jual ekspor. Bahkan, ada yang harus menunggu bertahun-tahun untuk satu pohon menghasilkan getah layak panen.
Di balik Rp853 miliar, ada tetes keringat petani yang tak pernah tampil di media. Dan ironinya, mereka bekerja di tengah stigma sosial yang salah kaprah.
Kenapa Pemerintah & Publik Perlu Buka Mata?
Jika negara lain bisa memuliakan lavender, gaharu, atau cedarwood, kenapa kita malah takut dengan kemenyan sendiri? Saatnya edukasi diluruskan. Potensi ini bukan sekadar “asap jin,” tapi peluang emas untuk ekspor hijau berbasis budaya lokal.
Bukan Mistis, Tapi Strategis!
Kemenyan bukan hantu, tapi harapan.
Bukan ritual gaib, tapi ladang devisa.
Bukan cerita seram, tapi cerita bisnis!