Rindu Rosul

Rindu Rosul Belajar mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW agar berjaya di dunia dan akhirat

17/12/2025

Bismillah...

ADAB BERTAMU KE RUMAH ORANG

Para ulama terdahulu menempatkan urusan rumah sebagai bagian dari aurat, yang tidak setiap orang boleh mengakses dan memandangnya. Oleh karena itu, penting memperhatikan adab ketika berkunjung ke rumah seseorang

Adab pertama adalah meminta izin dengan mengucapkan salam. Jika tuan rumah menjawab salam, berarti diizinkan untuk masuk. Jika tidak, maka sebagai tamu harus siap dengan konsekuensinya, bisa jadi tuan rumah belum berkenan menerima tamu pada saat itu.

Selain mengucapkan salam, adab berikutnya adalah mengetuk pintu. Perlu diperhatikan, mengetuk pintu tidak boleh dilakukan dengan posisi langsung menghadap ke pintu. Secara sunnah, posisi tamu hendaknya bergeser ke kanan atau ke kiri pintu, agar ketika pintu dibuka, bagian dalam rumah tidak langsung terlihat.

Namun, masih banyak orang yang ketika mengetuk pintu tetapi tidak segera dibukakan, justru melihat ke dalam rumah melalui jendela. Padahal hal ini tidak diperbolehkan. Sebab urusan rumah seseorang adalah aurat, dan tidak setiap orang merasa nyaman apabila rumahnya dilihat dan diakses oleh orang lain.

Adab-adab ini mengajarkan kepada kita bahwa persoalan di dalam rumah merupakan bagian dari aurat. Termasuk di dalamnya kehidupan berumah tangga, karena rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal, tetapi di dalamnya terdapat problematika, pertikaian, serta berbagai persoalan yang sedang dihadapi oleh pasangan.

09/12/2025

Bismillah...

AGAR DATANG PERTOLONGAN ALLOH UNTUKMU

Kalau masih ada manusia.. yang mengira ada pihak lain yang lebih dekat pertolongannya dan lebih banyak menolongnya dari pada Alloh. Maka sesungguhnya dia tidak mengenal Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Bahkan orang yang datang menolongmu itu pun karena Alloh gerakan hatinya.
Alloh memasukkan cinta ke dalam hatinya sehingga ia mencintaimu dan mau menolongmu.

Bahkan dalam hal random yang terjadi padamu sekalipun, itu adalah rencana Alloh yang amat sempurna.

Tidak ada orang yang datang menolongmu, kecuali hal itu karena Alloh yang menggerakkan.
Tidak ada yang mampu menolongmu, kecuali Alloh juga yang izinkan.

Maka jangan salah sangka..
Ada Alloh di balik semua itu.

Kita ini sering salah..
Memuji orang yang menolong setinggi langit. Tapi memuji Alloh sekedarnya.
Kepada orang yang dianggap berjasa sampai nunduk-nunduk.. tapi kepada Alloh malah enggan bersujud.

Padahal di balik semua pertolongan itu ada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
Jangan sampai mengenal manusianya saja. Padahal mereka semua hanya wasilah. Tapi malah lupa mengenali Alloh yang menggerakkan semuanya.

Karenanya, di antara nasihat orang-orang sholeh adalah..
Perbaiki hubunganmu dengan Alloh, maka Alloh akan memperbaiki hubunganmu dengan manusia dan seluruh makhluk-Nya.

Sebab, jika hubunganmu dengan Alloh baik-baik saja.. maka pertolongan akan datang kepadamu kapan saja, dimana saja, dan begitu dekatnya.

Bagaimana menjaga hubungan baik dengan Alloh..?
1. Jauhi yang menjadi laranganNya.
2. Laksanakan apa yang menjadi perintahNya.
3. Cintai yang Alloh cintai (para nabi dan orang beriman).
4. Berbakti kepada orang tuamu dan jaga hatinya.
5. Baca Al Qur’an yang menjadi firmanNya.
6. Dzikir menyebut-nyebut namaNya.

08/12/2025

Bismillah...

DUA BELAS ORANG YANG DIDOAKAN MALAIKAT

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci
"Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Alloh, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci."(HR Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu Sholat
"Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu sholat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya : 'Ya Alloh, ampunilah ia. Ya Alloh sayangilah ia'."(HR Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim 469)

3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam sholat berjamaah
"Sesungguhnya Alloh dan para malaikat-Nya bersholawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan."(Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra' bin 'Azib)

4. Orang yang menyambung shaf sholat berjamaah (tidak membiarkan kosong di dalam shaf)
"Sesungguhnya Alloh dan para malaikat selalu bersholawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf."(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah,Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah)

5. Para malaikat mengucapkan 'amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah
"Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'amin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu."(HR Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shohih Bukhari 782)

6. Orang yang duduk di tempat sholatnya setelah melakukan sholat
"Para malaikat akan selalu bersholawat (berdoa) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat sholat dimana ia melakukan sholat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata : 'Ya Alloh ampunilah dan sayangilah ia.'"(HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106)

7. Orang-orang yang melakukan sholat shubuh dan 'asar secara berjama'ah
"Para malaikat berkumpul pada saat sholat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu solat 'asar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga sholat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Alloh bertanya kepada mereka : 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan sholat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan sholat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.'"(HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 9140)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan
"Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'amin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.'"(HR Imam Muslim dari Ummud Darda', Shahih Muslim 2733)

9. Orang-orang yang berinfak
"Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Alloh, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Alloh, hancurkanlah harta orang yang pelit (bakhil).'" (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari1442 dan Shahih Muslim 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur
"Sesungguhnya Alloh dan para malaikat-Nya bersholawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur" Insya Alloh termasuk disaat sahur untuk puasa "sunnah".(HR Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, dari Abdullah bin Umar)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit
"Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Alloh akan mengutus 70,000 malaikat untuknya yang akan bersholawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh."(HR Imam Ahmad dari 'Ali bin Abi Thalib, Al Musnad 754)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain"Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian.Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bersholawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain."(HR Imam Tirmidzi).

08/12/2025

Bismillah...

PINTU-PINTU MASUKNYA SETAN KEMANUSIA.

1. Al jahlu (kebodohan)
2. Al ghadhab (marah)
3. Hubbud dunya (gila dunia)
4. Thulul amal (panjang angan-angan)
5. Al hirshu (tamak)
6. Al bukhlu (pelit)
7. Al kibru (sombong)
8. Hubbul madhu (gila pujian)
9. Ar riyaau (pamer)
10. Al 'ujubu (bangga diri)
11. Al jaza'u wal hala'u (panik dan galau)
12. Ittiba'ul hawa (menuruti nafsu)
13. Su udz dzon (prasangka buruk)
14. Ihtiqorul muslim (merendahkan orang islam)
15. Ihtiqorudz dzunub (meremehkan dosa)
16. Al amnu min makrillah (merasa aman dari ancaman Allah)
17. Al qunuth min rahmatillah (pesimis dari rahmat Allah)

Semoga kita semua di jauhkan dari hal yang demikian...

SEMOGA BERMANFAAT

Rasulullah SAW bersabda ;
"Siapa yang menyampaikan satu ilmu dan orang membaca mengamalkannya maka dia akan beroleh pahala walaupun sudah tiada."

02/12/2025

Bismillah...

Pahala Jariyah dan Dosa Jariyah

Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang mengajak ke arah kebaikan, maka ia memperolehi pahala sebagaimana pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikitpun dan dari pahala-pahala mereka yang mencontohinya itu, sedang barangsiapa yang mengajak ke arah keburukan, maka ia memperolehi dosa sebagaimana dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya itu." (HR. Muslim)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1- Anjuran untuk berdakwah yaitu mengajak manusia kepada petunjuk dan kebaikan, keutamaan da’i.
2- Hadits ini juga peringatan dari dosa jariyah, perbuatan mengajak manusia kepada kesesatan dan penyimpangan, serta besarnya dosa penyeru (kepada kejelekan) tersebut dan akibatnya.
3- Barangsiapa yang memberi teladan (contoh) perbuatan yang baik, ia akan mendapatkan pahala jariyahnya yaitu, perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa jariyah orang-orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.
4- Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, hadits di atas jelas menunjukkan anjuran dan disukainya memberikan contoh perkara-perkara yang baik dan haramnya memberikan contoh perkara-perkara yang buruk. Orang yang memberi teladan perbuatan yang baik, maka ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Dan orang yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Begitu juga orang yang mengajak kepada petunjuk, ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, atau mengajak kepada kesesatan maka ia mendapat dosa seperti dosa-dosa pengikutnya, baik petunjuk atau kesesatan tersebut ia yang pertama kali memulainya, atau sudah ada sebelumnya (yang melakukannya). Dan baik itu dengan mengajarkan ilmu, atau ibadah, ataupun adab dan lainnya.
5- Perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengerjakannya setelahnya’, maknanya bahwa perbuatan teladan tersebut (diikuti oleh orang lain) baik semasa hidupnya ataupun setelah ia meninggal dunia. Wallâhu a’lam.”

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-qur'an :

1- Berdakwah yang paling inti, mengajak manusia kepada tauhid dan ketaatan

وَلَا تَدۡعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَـٰهًا ءَاخَرَۘ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَۚ كُلُّ شَیۡءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجۡهَهُۥۚ لَهُ ٱلۡحُكۡمُ وَإِلَیۡهِ تُرۡجَعُونَ

Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
[Surat Al-Qashash 88]

2- Dakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang tinggi kedudukannya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [Ali ‘Imrân/3:104]

3- Orang mencurahkan tenaganya berdakwah untuk menyesatkan manusia. Maka masing-masing dari keduanya berkedudukan seperti orang yang melakukan perbuatan tersebut.

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Mereka pada hari kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu. [An-Nahl/16 :25]

4- Orang yang berdakwah /mengajak manusia kepada selain sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka dialah musuh Beliau yang sebenarnya. Karena ia memutus sampainya pahala orang yang mendapat petunjuk dengan sunnah Beliau kepadanya. Dan ini merupakan sebesar permusuhannya.

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ ۖ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka dan pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan.” (Al-‘Ankabût/29 :1)

30/11/2025

Bismillah...

PENGIRING DOA AGAR CEPAT DIKABULKAN ADA 3 HAL

Jika doamu sudah amat sangat kau nanti wujud qobulnya. Jika hajatmu sudah amat sangat mendesak waktunya.

Maka iringi setiap munajatmu kepada Alloh ﷻ dengan 3 hal ini.

1. Serahkan wujud keinginanmu menjadi apa yang Alloh ridhoi.

Karena bisa jadi yang menghambat selama ini adalah, kita terlalu ngotot harus "begini, seperti ini, hanya ini".

Padahal mungkin saja hal yang kita minta belum tentu baik untuk kita. Alloh menahannya agar kita tidak celaka dengan keinginan kita sendiri.

Dan Alloh menahan sembari menunggu kita sadar.. bahwa yang paling penting adalah mau-Nya Alloh. Bukan maunya kita. Maka ridho-lah jika keinginanmu memang sudah memuncak.

2. Perbanyak Tobat.

Karena dosa adalah penghambatnya rezeki. Dan istighfar adalah penghancurnya dosa. Bahkan jika diperlukan.. tobat adalah cara tercepat membuat segala kebutuhanmu dicukupkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Ibnul Qayyim Al Jauzi mengatakan, "Bila engkau ingin berdoa, sementara waktu yang kau miliki begitu sempit, padahal dadamu dipenuhi oleh begitu banyak keinginan, maka jadikan seluruh isi doamu istighfar, agar Alloh memaafkanmu. Karena bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi-Nya tanpa engkau memintanya."

3. Bantu orang lain yang kesulitan.

Alloh janjikan melalui Rasulullah sholallahu'alaihi wa salam
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat." [HR. Muslim]

Dan ini mungkin jadi alasan..
Tiap keadaan kita tidak ideal, kayaknya malah banyak banget orang-orang yang butuh bantuan di depan mata. Padahal kita sendiri sedang kesulitan.

Saya akhirnya menemukan..
Ternyata, memang sebenarnya itulah cara Alloh memberikan kita pertolongan.

Dibuat kita melihat kesulitan orang lain, dengan harapan agar kita tergerak meringankan kesulitan mereka semampu kita. Dan itulah awal dari datangnya pertolongan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Semoga siapa pun yang sedang punya hajat. Terkhusus yang membaca tulisan ini,
Alloh kabulkan hajat dan doanya di waktu terbaik. Dan Alloh jadikan hatinya sabar menunggu waktunya. Dan ridho menerima hasilnya.

SEMOGA BERMANFAAT

30/11/2025

Bismillah...

DAGING INI HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN

Seorang Ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit.

Ia mendengar percakapan mereka :
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”
Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya.
“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”
Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”
“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sep**ang haji, ia tidak langsung p**ang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, di tepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, "bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.
“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.

“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarikalaka.'
"Ya Allah.. aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu."

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis
Ya allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat kabah. Ijinkan aku datang…..Ijinkan aku datang ya Allah..
Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.

“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?
“ya sayang” “Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”
"Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :
“tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata.
Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.
Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?
Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.
“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram".
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya p**ang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun
menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

“Ini masakan untuk mu”
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.
”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”
Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.
Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata.

01/04/2025

Puasa Syawal

Dari Abi Ayyub al-Anshari r. a. (diriwayatkan) … bahwa Rasulullah saw bersabda: Barang siapa sudah melakukan puasa Ramadan, kemudian menambahkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah melaksanakan puasa sepanjang masa. [HR Jama’ah ahli hadis selain dan an-Nasa’i].

Pelajaran yang terdapat didalam hadist:

1- Hadits ini menunjukkan bahwa diwajibkannya menyempurnakan puasa Ramadhan yang merupakan puasa wajib kemudian ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal yang merupakan puasa sunnah untuk mendapatkan pahala puasa setahun.
2- Dalam hadits lain disebutkan (yang artinya) : “Puasa Ramadhan sama dengan sepuluh bulan dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan dua bulan“
3- Yang berarti bahwa satu kebaikan mendapat sepuluh kebaikan, maka berdasarkan hadits ini barangsiapa yang tidak menyempurnakan puasa Ramadhan dikarenakan sakit, atau karena perjalanan atau karena haidh, atau karena nifas maka hendaknya ia menyempurnakan puasa Ramadhan itu dengan mendahulukan qadhanya dari pada puasa sunnat, termasuk puasa enam hari Syawal atau puasa sunat lainnya.
4- Jika telah menyempurnakan qadha puasa Ramadhan, baru disyariatkan untuk melaksanakan puasa enam hari Syawal agar bisa mendapatkan pahala atau kebaikan yang dimaksud.
5- Tidak diwajibkan untuk melaksanakan puasa Syawal secara terus menerus akan tetapi hal itu adalah lebih utama berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) : “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus dikerjakan walaupun sedikit“
6- Tidak disyari’atkan untuk mengqadha puasa Syawal setelah habis bulan Syawal, karena puasa tersebut adalah puasa sunnat, baik puasa itu terlewat dengan atau tanpa udzur.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur'an :

- Hadits ini menunjukkan bahwa puasa enam hari itu boleh dilakukan secara berurutan ataupun tidak berurutan, karena ungkapan hadits itu bersifat mutlak, akan tetapi bersegera melaksanakan puasa enam hari itu adalah lebih utama berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى

(yang artinya) : “..Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)” [Thaha : 84]

31/03/2025

Bismillah...

PUASA SYAWAL

Puasa syawwal akan menggenapkan ganjaran pahala setahun penuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,⁣

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ⁣⁣

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh. (HR. Muslim)⁣⁣
⁣⁣
Gak usah bingung caranya, ini 5 langkah mudah melaksanakan puasa Syawal.⁣⁣
⁣⁣
1. Puasanya dilakukan selama enam hari.⁣⁣

2. Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul

Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.⁣⁣

3. Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.⁣⁣

4. Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh.

Dan ingatlah puasa Syawal adalah puasa sunnah sedangkan qodho’ Ramadhan adalah wajib. Sudah semestinya ibadah wajib lebih didahulukan daripada yang sunnah.⁣⁣

5. Boleh melakukan puasa syawal di hari jumat dan sabtu⁣
⁣⁣

30/03/2025

Bismillah...

THR (Tuntunan Hari Raya)

1. Bangun Pagi
2. Mandi Pagi
3. Berpakaian rapih
4. Makan Sebelum Sholat Iedul Fitri

"Dari Anas bin Malik ia berkata: Adalah Rasulullah tidak keluar di hari Fitri sebelum beliau makan beberapa kurma dalam jumlah ganjil.(HR. Al Bukhari)_
5. Jalan kaki ke tempat shalat Iedul Fitri
6. Takbir ketika menuju tempat sholat Ied
7. Sholat Ied Berjamaah
8. Mendengarkan Khutbah
9. Mengucapkan Tahni'ah Taqobbalallohu Minna wa Minkum.
10. Pulang dengan rute yang berbeda.

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan,

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد

لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب

Hari raya Ied tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru tanpa cacat, hari raya Ied diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah ibadah dan taat. Hari raya Ied tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya, hari raya Ied diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.” (kitab Lathaif Al-Ma’arif, halaman 484)

26/03/2025

Bismillah...

LAILATUL QODAR JATUH PADA
MALAM KE 27 RAMADHAN?

Dari LATHAIFUL MA'ARIF IBNU RAJAB AL HANBALI

Dan mereka berselisih pendapat mengenai malam yang paling diharapkan (sebagai Lailatul Qadar), sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Di antara yang menguatkan pendapat bahwa malam itu adalah malam ke-27 adalah dalil dari Ubay bin Ka‘b yang bersumpah atas hal itu dan berkata bahwa ia mengetahuinya melalui tanda yang diberitahukan oleh Rasulullah ﷺ kepada mereka. Tanda tersebut adalah bahwa matahari terbit pada pagi harinya tanpa sinar yang menyilaukan. Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim.

Muslim juga meriwayatkan dengan lafaz lain dari Ubay bin Ka‘b رضي الله عنه, bahwa ia berkata:

والله إني لأعلم أي ليلة هي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين

"Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui malam apakah itu. Itu adalah malam yang Rasulullah ﷺ perintahkan kepada kami untuk menghidupkannya, yaitu malam ke-27."

Dalam Musnad Imam Ahmad, dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, disebutkan bahwa seorang lelaki berkata:

"Wahai Rasulullah, aku ini seorang lelaki tua yang sakit dan sulit bagiku untuk berdiri (beribadah). Maka perintahkanlah aku pada suatu malam yang dengannya Allah akan memberikan taufik kepadaku untuk mendapatkan Lailatul Qadar."

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

"عليك بالسابعة"

"Berpeganglah pada malam ketujuh."

Sanad hadis ini memenuhi syarat Bukhari.

Imam Ahmad juga meriwayatkan bahwa Yazid bin Harun berkata: "Telah memberitakan kepada kami Syu‘bah dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"من كان منكم متحريها فليتحرها ليلة سبع وعشرين"

"Barang siapa di antara kalian yang ingin mencari (Lailatul Qadar), maka hendaklah ia mencarinya pada malam ke-27."

Atau beliau bersabda:

"تحروها ليلة سبع وعشرين"

"Carilah ia pada malam ke-27."

Maksudnya adalah Lailatul Qadar. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Syabbabah, Wahb bin Jarir, Aswad bin ‘Amir dari Syu‘bah dengan lafaz yang sama. Dalam riwayat Aswad bin ‘Amir terdapat tambahan:

"في السبع البواقي"

"Pada tujuh malam yang tersisa."

Syu‘bah berkata: "Seorang terpercaya mengabarkan kepadaku dari Sufyan bahwa ia hanya mengatakan: 'Pada tujuh malam yang tersisa,' tanpa menyebut malam ke-27." Ahmad dalam riwayat dari putranya, Shalih, menyebutkan bahwa orang terpercaya itu adalah Yahya bin Sa‘id. Syu‘bah berkata: "Aku tidak tahu mana di antara mereka yang mengatakannya."

'Amr meriwayatkan dari Syu‘bah dan dalam hadisnya disebutkan:

"ليلة سبع وعشرين" أو قال: "في السبع الأواخر"

"Malam ke-27" atau ia berkata: "Pada tujuh malam terakhir," dengan adanya keraguan dalam lafaznya. Maka kesimp**annya adalah bahwa Syu‘bah ragu dalam ucapannya.

Hammad bin Zaid meriwayatkan dari Ayyub dari Nafi‘ dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, ia berkata:

"Mereka selalu menyampaikan kepada Nabi ﷺ bahwa Lailatul Qadar adalah malam ketujuh dari sepuluh malam terakhir."

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

"أرى رؤياكم أنها قد تواطأت إنها ليلة السابعة في العشر الأواخر فمن كان متحريها فليتحرها ليلة السابعة من العشر الأواخر"

"Aku melihat bahwa mimpi kalian telah sepakat bahwa ia adalah malam ketujuh dalam sepuluh malam terakhir. Maka barang siapa yang ingin mencarinya, hendaklah ia mencarinya pada malam ketujuh dari sepuluh malam terakhir."

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Hanbal bin Ishaq dari 'Arim dari Hammad, serta oleh Thahawi dari Ibrahim bin Marzuq dari 'Arim.

Bukhari dalam Shahih-nya juga meriwayatkan dari 'Arim, tetapi tidak menyebutkan lafaz "malam ketujuh," melainkan hanya:

"من كان متحريها فليتحرها في العشر الأواخر"

"Barang siapa ingin mencarinya, maka hendaklah ia mencarinya di sepuluh malam terakhir."

Abdurrazzaq dalam kitabnya juga meriwayatkan dari Ma‘mar dari Ayyub dari Nafi‘ dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata:

"Wahai Rasulullah, aku melihat dalam mimpiku bahwa Lailatul Qadar adalah malam ketujuh."

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

"إني أرى رؤياكم قد تواطأت إنها ليلة سابعة فمن كان متحريها منكم فليتحرها في ليلة سابعة"

"Sesungguhnya aku melihat bahwa mimpi kalian telah sepakat bahwa ia adalah malam ketujuh. Maka barang siapa yang ingin mencarinya di antara kalian, hendaklah ia mencarinya pada malam ketujuh."

Ma‘mar berkata: “Ayyub biasa mandi pada malam ke-23.” Hal ini menunjukkan bahwa ia memahami bahwa malam yang dimaksud adalah malam ketujuh yang tersisa (dari akhir Ramadan).

Ats-Tsa‘labī dalam tafsirnya meriwayatkan melalui jalur al-Hasan bin Abdul A‘lā dari Abdurrazzaq dengan sanad ini dan menyebutkan dalam hadisnya:

"ليلة سابعة تبقى"

"Malam ketujuh yang tersisa."

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

"إني أرى رؤياكم قد تواطأت على ثلاث وعشرين فمن كان منكم يريد أن يقوم من الشهر شيئا فليقم ليلة ثلاث وعشرين"

"Aku melihat bahwa mimpi kalian telah sepakat pada malam ke-23. Maka barang siapa di antara kalian ingin menghidupkan sebagian malam bulan ini, hendaklah ia menghidupkan malam ke-23."

Namun, lafaz-lafaz ini tidaklah terjaga dalam hadis, dan Allah lebih mengetahui kebenarannya.

Hadis dalam Sunan Abu Dawud

Dalam Sunan Abu Dawud, dengan sanad yang semua perawinya adalah perawi kitab Shahih, diriwayatkan dari Mu‘awiyah bahwa Nabi ﷺ menyebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam ke-27. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dan disahihkan oleh Ibnu Abdil Barr.

Namun, hadis ini memiliki ‘illah (kelemahan), yaitu bahwa hadis ini mauquf pada Mu‘awiyah (tidak sampai kepada Nabi ﷺ). Ini adalah pendapat yang lebih sahih menurut Imam Ahmad dan ad-Daraquthni. Selain itu, terdapat perbedaan lafaz dalam periwayatan hadis ini.

Hadis dalam Musnad Ahmad

Dalam Musnad Ahmad, dari Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه, disebutkan bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya:

"Kapan malam Lailatul Qadar?"

Rasulullah ﷺ menjawab:

"من يذكر منكم ليلة الصهباوات"

"Siapa di antara kalian yang mengingat malam ash-Shahbāwāt?"

Lalu Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه berkata:

"Aku, wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, aku mengingatnya. Saat itu aku sedang makan beberapa butir kurma untuk sahur dengan bersembunyi di balik bagian belakang pelana, pada waktu fajar terbit, dan saat itu bulan tampak bersinar."

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ya‘qub bin Syaibah dalam Musnad-nya dengan tambahan:

"Itulah malam ke-27."

Dan ia berkata:

"Sanadnya salih (baik)."

Makna "Ash-Shahbāwāt"
Ash-Shahbāwāt adalah suatu tempat di dekat Khaibar.

Dalam Musnad Ahmad juga terdapat riwayat lain dari Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"إن ليلة القدر في النصف من السبع الأواخر من رمضان"

"Lailatul Qadar berada di pertengahan dari tujuh malam terakhir bulan Ramadan."

Jika dihitung, awal tujuh malam terakhir jatuh pada malam ke-24, maka malam ke-27 adalah pertengahannya, karena sebelumnya ada tiga malam dan sesudahnya juga ada tiga malam.

Dalil yang Menguatkan Malam ke-27

Beberapa dalil yang menguatkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam ke-27:

1. Hadis yang menyebutkan bahwa malam itu termasuk dalam tujuh malam terakhir, di mana Rasulullah ﷺ dengan kesepakatan para sahabat menyuruh mencarinya pada malam-malam tersebut. Sedangkan masuknya malam ke-23 dalam tujuh malam terakhir masih diperselisihkan, tetapi tidak ada perbedaan bahwa malam ke-27 lebih ditekankan daripada malam ke-25.

2. Hadis Abu Dzar رضي الله عنه, yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengimami para sahabat dalam shalat malam pada malam-malam ganjil dari tujuh malam terakhir:

Pada malam ke-23, beliau shalat hingga sepertiga malam.

Pada malam ke-25, beliau shalat hingga pertengahan malam.

Pada malam ke-27, beliau shalat hingga akhir malam, sampai para sahabat khawatir akan kehilangan waktu sahur.

Pada malam itu, Rasulullah ﷺ mengumpulkan keluarganya dan para sahabat. Ini menunjukkan bahwa malam ke-27 lebih ditekankan dibandingkan malam-malam lainnya.

3. Pendapat Ibnu Abbas di hadapan Umar dan para sahabat
Ibnu Abbas رضي الله عنهما pernah memberikan argumen di hadapan Umar رضي الله عنه dan para sahabat, yang disetujui oleh Umar.

Dalam Musannaf Abdurrazzaq, dari Ma‘mar, dari Qatadah dan ‘Ashim, bahwa mereka mendengar ‘Ikrimah berkata:

"Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata: ‘Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah mengumpulkan para sahabat Nabi ﷺ dan bertanya kepada mereka tentang Lailatul Qadar. Maka mereka sepakat bahwa ia berada dalam sepuluh malam terakhir.’"

Ibnu Abbas رضي الله عنهما lalu berkata kepada Umar رضي الله عنه:

"Aku mengetahui, atau aku menduga malam apakah itu."

Umar رضي الله عنه bertanya:

"Malam apakah itu?"

Ibnu Abbas رضي الله عنه menjawab:

"Malam ketujuh yang telah berlalu atau malam ketujuh yang tersisa dari sepuluh malam terakhir."

Umar رضي الله عنه bertanya lagi:

"Dari mana engkau mengetahuinya?"

Ibnu Abbas رضي الله عنه menjelaskan dengan logika angka dalam Islam:

Allah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi.

Allah menciptakan tujuh hari dalam seminggu.

Waktu berputar dalam siklus tujuh.

Allah menciptakan manusia dalam tujuh tahap.

Manusia makan dari tujuh (yakni biji-bijian yang berasal dari tanah).

Manusia sujud di atas tujuh anggota tubuh.

Tawaf di Ka‘bah dilakukan sebanyak tujuh putaran.

Melempar jumrah dilakukan sebanyak tujuh lemparan.

Maka Umar رضي الله عنه berkata kepada Ibnu Abbas رضي الله عنه:

"Sungguh, engkau telah memperhatikan sesuatu yang kami tidak menyadarinya."

Kesimp**annya, berbagai riwayat dan logika angka dalam Islam menunjukkan bahwa malam ke-27 memiliki banyak indikasi sebagai Lailatul Qadar. Namun, tetap dianjurkan untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir, khususnya malam-malam ganjil.

Qatādah menambahkan pada pendapat Ibnu ‘Abbās dalam ucapannya: "يأكل من سبع" (manusia makan dari tujuh). Ia berkata bahwa maksudnya adalah firman Allah:

{فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبّاً، وَعِنَباً وَقَضْباً، وَزَيْتُوناً وَنَخْلاً، وَحَدَائِقَ غُلْباً، وَفَاكِهَةً وَأَبّاً}
(“Maka Kami tumbuhkan di bumi itu biji-bijian, anggur, sayur-mayur, zaitun, kurma, kebun-kebun yang rindang, buah-buahan, dan rumput-rumputan.”) (QS. ‘Abasa: 27-31)

Namun, dalam riwayat ini terdapat perbedaan mengenai apakah malam Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam yang telah berlalu atau tujuh malam yang tersisa.

Riwayat dari Ibnu Syāhīn

Ibnu Syāhīn meriwayatkan dari ‘Abdul Wāḥid bin Ziyād, dari ‘Āṣim al-Aḥwal, dari Lāḥiq bin Ḥumayd dan ‘Ikrimah, bahwa mereka berkata:

‘Umar رضي الله عنه pernah bertanya, "Siapa yang mengetahui kapan Lailatul Qadar?"

Kemudian disebutkan hadis yang serupa, dengan tambahan bahwa Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما berkata:

"قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: 'هي في العشر، سبع تمضي أو سبع تبقى.'"

"Rasulullah ﷺ bersabda: 'Ia ada di sepuluh malam terakhir, tujuh malam yang telah berlalu atau tujuh malam yang tersisa.'"

Riwayat ini berbeda dalam sanadnya karena menjadikannya mursal (sanadnya terputus) dan mengangkat bagian akhirnya sebagai perkataan Rasulullah ﷺ.

Riwayat dari Ibnu ‘Abdil Barr

Ibnu ‘Abdil Barr meriwayatkan dengan sanad yang ṣaḥīḥ dari Sa‘īd bin Jubair bahwa:

"Beberapa orang Muhājirin merasa keberatan dengan kedekatan ‘Umar رضي الله عنه kepada Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما. Maka ‘Umar mengumpulkan mereka dan bertanya tentang Lailatul Qadar. Mereka menyebut banyak pendapat tentangnya. Sebagian mengatakan malam ke-21, sebagian mengatakan malam ke-23, dan sebagian mengatakan malam ke-27."

Lalu ‘Umar رضي الله عنه berkata:

"Wahai Ibnu ‘Abbās, berbicaralah!"

Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما menjawab:

"Allāhu a‘lam" (Allah lebih mengetahui).

‘Umar رضي الله عنه berkata:

"Kami tahu bahwa Allah lebih mengetahui, tetapi kami bertanya tentang ilmumu."

Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما menjawab dengan metode istinbāṭ (penggalian hukum):

Allah itu ganjil dan mencintai yang ganjil.

Allah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi.

Jumlah hari dalam seminggu adalah tujuh.

Melempar jumrah dilakukan sebanyak tujuh kali.

Manusia diciptakan dari tujuh unsur.

Rezeki manusia berasal dari tujuh jenis makanan.

Maka ‘Umar رضي الله عنه berkata:

"Manusia diciptakan dari tujuh dan rezekinya berasal dari tujuh? Ini adalah hal yang belum aku pahami!"

Ibnu ‘Abbās رضي الله عنه lalu membacakan firman Allah:

{وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ} (“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (berasal) dari tanah.”) (QS. Al-Mu’minūn: 12)

Kemudian ia juga membacakan:

{أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبّاً، ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقّاً، فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبّاً، وَعِنَباً وَقَضْباً، وَزَيْتُوناً وَنَخْلاً، وَحَدَائِقَ غُلْباً، وَفَاكِهَةً وَأَبّاً، مَتَاعاً لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ}
(“Sungguh, Kami telah mencurahkan air dengan curahan yang deras, kemudian Kami belah bumi dengan belahan-belahan, lalu Kami tumbuhkan di dalamnya biji-bijian, anggur, sayur-mayur, zaitun, kurma, kebun-kebun yang rindang, buah-buahan, dan rumput-rumputan, sebagai kesenangan untuk kalian dan hewan ternak kalian.”) (QS. An-Nāzi‘āt: 25-33)

Kemudian Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما berkata:

"Dan ‘abb (rumput-rumputan) itu adalah makanan ternak."

Pendapat Sa‘īd bin Jubair

Dalam Ṭabaqāt Ibnu Sa‘d, diriwayatkan dari Isḥāq al-Azraq, dari ‘Abdul Malik bin Abī Sulaimān, dari Sa‘īd bin Jubair, dengan isi yang serupa. Ia menambahkan di akhirnya bahwa:

"Lailatul Qadar tidak lain adalah malam ke-23, yang telah berlalu atau yang tersisa."

Kemungkinan besar, Sa‘īd bin Jubair mendengar hal ini langsung dari Ibnu ‘Abbās, sehingga sanadnya muttaṣil (bersambung).

Riwayat dari ‘Āṣim bin Kulayb

Diriwayatkan dari ‘Āṣim bin Kulayb, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما, bahwa ‘Umar رضي الله عنه pernah mengumpulkan para sahabat tua dari kalangan Muhājirin dan bertanya kepada mereka:

"Rasulullah ﷺ telah bersabda bahwa Lailatul Qadar ada di sepuluh malam terakhir yang ganjil. Menurut kalian, malam ganjil yang mana?"

Sebagian menjawab:

"Kesembilan, ketujuh, kelima, atau ketiga dari akhir bulan."

Kemudian ‘Umar رضي الله عنه berkata:

"Wahai Ibnu ‘Abbās, berbicaralah!"

Ibnu ‘Abbās رضي الله عنه berkata:

"Aku hanya menyampaikan pendapatku."

‘Umar رضي الله عنه bertanya:

"Kami bertanya tentang ilmumu, bukan sekadar pendapat!"

Maka Ibnu ‘Abbās رضي الله عنه menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ banyak menyebut angka tujuh dalam berbagai hal.

Di akhir diskusi, ‘Umar رضي الله عنه berkata kepada para sahabat yang lebih tua:

"Apakah kalian tidak mampu berbicara seperti anak muda ini, yang rambutnya pun belum sepenuhnya tumbuh?"

Riwayat ini dikeluarkan oleh al-Ḥākim dan dinyatakan ṣaḥīḥ, serta oleh ats-Tsa‘labī dalam tafsirnya.

Pendapat Golongan yang Menguatkan Malam ke-27

Sebagian ulama belakangan mencoba menguatkan bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27 dengan metode istinbāṭ dari Al-Qur’an. Mereka berargumen:

1. Dalam surah Al-Qadr, Lailatul Qadar disebutkan tiga kali.

2. Kata "لَيْلَةُ الْقَدْرِ" terdiri dari sembilan huruf.

3. Jika angka sembilan dikalikan dengan tiga (jumlah penyebutan dalam surah), maka hasilnya adalah 27.

Namun, metode ini tidak memiliki dasar hadis yang kuat dan hanya bersifat dugaan. Oleh karena itu, pendapat yang lebih hati-hati adalah mencari Lailatul Qadar pada seluruh sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil.

Tanda-Tanda Lailatul Qadar pada Malam ke-27

Sebagian ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam ke-27 berdasarkan beberapa indikasi dan tanda-tanda, baik dari dalil syar'i maupun pengalaman yang dialami sebagian orang saleh.

1. Istinbāṭ dari Susunan Surat Al-Qadr

Sebagian ulama mencoba mengambil kesimp**an dari jumlah kata dalam Surah Al-Qadr:

Jumlah total kata dalam surah ini adalah 30 kata.

Kata "هي" dalam ayat "سلام هي حتى مطلع الفجر" adalah kata ke-27.

Oleh karena itu, mereka menyimpulkan bahwa malam ke-27 adalah Lailatul Qadar.

Pendapat ini disebut oleh Ibnu ‘Aṭiyyah, tetapi ia menegaskan:

> "Ini termasuk hal-hal yang menarik dalam tafsir, tetapi bukan bagian dari ilmu yang kokoh."

Dengan kata lain, ini hanyalah sekadar pendapat lemah yang tidak memiliki dalil yang kuat dari hadis atau ijmak ulama.

---

2. Tanda-Tanda Alamiah yang Terjadi pada Malam ke-27

Banyak ulama dan orang saleh mengamati tanda-tanda khusus yang terjadi pada malam ke-27, di antaranya:

1. Matahari terbit tanpa sinar yang menyilaukan

Hal ini disebutkan oleh Ubay bin Ka‘b, yang mengatakan bahwa ia mengetahui Lailatul Qadar berdasarkan matahari terbit keesokan harinya tanpa sinar yang kuat.

Ini diriwayatkan oleh ‘Abdah bin Abī Lubābah, yang mengatakan bahwa ia telah menguji tanda-tanda ini selama bertahun-tahun dan menemukan bahwa itu terjadi pada malam ke-27.

2. Air laut terasa tawar pada malam itu

Diriwayatkan bahwa ‘Abdah bin Abī Lubābah pernah mencicipi air laut pada malam ke-27, dan mendapati bahwa rasanya berubah menjadi tawar.

Kisah ini disebutkan oleh Imām Aḥmad dalam salah satu riwayatnya.

3. Malaikat terlihat di udara di sekitar Ka‘bah

Beberapa orang saleh dari kalangan salaf (generasi terdahulu) menyebutkan bahwa mereka pernah melihat malaikat di udara mengitari orang-orang yang sedang thawaf di Masjidil Haram pada malam ke-27.

4. Pohon-pohon kurma merunduk ke tanah

Diriwayatkan oleh Abū Mūsā al-Madīnī dari Abū Shaykh al-Aṣbahānī, bahwa ada seorang laki-laki di Irak yang selalu mengamati tanda-tanda Lailatul Qadar di malam-malam ganjil.

Seorang lelaki mendatanginya dan berkata: "Aku akan memberitahumu kapan Lailatul Qadar."

Pada malam ke-27, lelaki itu membawanya ke kebun kurma, dan ia melihat bahwa daun-daun kurma merunduk ke tanah.

Lelaki itu berkata: "Kami tidak pernah melihat kejadian seperti ini di malam lain, kecuali di malam ini."

5. Doa-doa yang mustajab

Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki yang lumpuh berdoa kepada Allah pada malam ke-27, dan keesokan harinya ia bisa berjalan.

Begitu p**a seorang perempuan yang lumpuh mengalami hal serupa setelah berdoa pada malam itu.

Seorang lelaki di Basrah yang bisu selama 30 tahun berdoa pada malam ke-27, dan keesokan harinya Allah mengembalikan kemampuannya berbicara.

---

3. Kisah Pengalaman Langsung Orang-Orang Saleh

Beberapa kisah juga disebutkan oleh para ulama:

Al-Wazīr Abū al-Muẓaffar Ibn Hubayrah mengatakan bahwa ia pernah melihat Lailatul Qadar pada malam ke-27 yang bertepatan dengan malam Jumat.

Ia melihat pintu langit terbuka di atas Ka‘bah, yang menurutnya sejajar dengan makam Rasulullah ﷺ.

Pintu langit itu tetap terbuka sampai ia melihat fajar menyingsing, lalu tiba-tiba pintu itu tertutup kembali.

Menurutnya, jika Lailatul Qadar jatuh pada malam ganjil yang bertepatan dengan malam Jumat, maka itu lebih utama.

---

4. Hadis Lemah tentang Cahaya dan Suara dari Langit

Diriwayatkan oleh Salamah bin Shabīb dalam kitab Faḍā’il Ramaḍān:

Ibrāhīm bin al-Ḥakam meriwayatkan dari ayahnya, dari Farqad, bahwa beberapa sahabat pernah berada di masjid dan mendengar suara dari langit serta melihat cahaya dan pintu yang terbuka di langit pada bulan Ramadan.

Mereka melaporkan hal ini kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda:

> "Adapun cahaya itu adalah cahaya Rabb Yang Maha Mulia, sedangkan pintu itu adalah pintu langit, dan suara itu adalah suara para nabi. Setiap bulan Ramadan, kondisi ini selalu terjadi, tetapi malam ini adalah malam di mana tabirnya tersingkap."

Hadis ini mursal dan dha‘īf (lemah), sehingga tidak dapat dijadikan dalil kuat untuk menetapkan bahwa Lailatul Qadar selalu terjadi pada malam ke-27.

---

Kesimp**an

1. Tidak ada dalil qath‘ī (pasti) bahwa Lailatul Qadar selalu jatuh pada malam ke-27.

2. Hadis-hadis shahih hanya menunjukkan bahwa Lailatul Qadar terjadi di sepuluh malam terakhir, khususnya malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, atau 29).

3. Sebagian ulama menduga malam ke-27 lebih utama berdasarkan tanda-tanda alam dan pengalaman orang saleh, tetapi ini bukan kepastian.

4. Cara terbaik adalah menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan ibadah, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ.

Bagaimana Menghidupkan Malam Lailatul Qadar

Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

> "Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Amalan-Amalan yang Dianjurkan di Malam Lailatul Qadar

1. Menghidupkan malam dengan shalat dan tahajud

Amalan terbaik di malam ini adalah shalat malam (qiyamullail) dan membaca Al-Qur’an.

Nabi ﷺ jika membaca ayat tentang rahmat, beliau memohon rahmat kepada Allah; jika membaca ayat tentang azab, beliau memohon perlindungan kepada Allah.

Ini menunjukkan bahwa cara terbaik menghidupkan malam Lailatul Qadar adalah dengan menggabungkan shalat, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan merenung.

2. Memperbanyak doa

Diriwayatkan bahwa Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha pernah bertanya:
"Ya Rasulullah, jika aku mengetahui malam mana yang merupakan Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?"
Maka beliau bersabda:

> "Ucapkanlah: اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Sufyan Ats-Tsauri berkata:
"Berdoa di malam itu lebih aku sukai daripada shalat."

Maksudnya, memperbanyak doa lebih utama daripada shalat yang tidak disertai banyak doa. Namun, yang paling baik adalah menggabungkan bacaan Al-Qur’an dengan doa.

3. Beribadah di siang harinya sebagaimana di malamnya

Imam Syafi’i dalam pendapatnya yang lama berkata:
"Disunnahkan untuk bersungguh-sungguh beribadah di siang harinya sebagaimana di malamnya."

Asy-Sya’bi berkata:
"Siangnya seperti malamnya," artinya ibadah dan kesungguhan dianjurkan sepanjang waktu di malam itu.

---

Kerinduan Para Pecinta terhadap Malam-Malam Terakhir

Para pecinta Allah melihat malam-malam sepuluh hari terakhir bukan sebagai malam biasa, tetapi sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, mereka menghitung hari-hari dengan penuh kerinduan demi menanti malam-malam tersebut.

Sebagaimana diungkapkan dalam bait syair:

قد مزق الحب قميص الصبر ... وقد غدوت حائرا في أمري
Cinta telah mengoyak baju kesabaran … dan aku kini kebingungan dalam urusanku.

آه على تلك الليالي الغر ... ما كن إلا كليالي القدر
Oh, betapa rindunya aku pada malam-malam indah itu … yang tiada lain seperti malam-malam Lailatul Qadar.

إن عدن لي من بعد هذا الهجر ... وفيت لله بكل نذر
Jika malam-malam itu kembali padaku setelah perpisahan ini … niscaya aku akan menunaikan segala nazarku kepada Allah.

وقام بالحمد خطيب شكري
Dan seorang khatib pun berdiri untuk menyampaikan pujian dan syukurku.

---

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

Banyak ulama yang berpendapat bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27, dengan berbagai dalil dan pengalaman yang telah mereka rasakan.

1. Matahari terbit tanpa sinar yang menyilaukan

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:

> "Tanda yang diberikan oleh Rasulullah ﷺ adalah matahari terbit di pagi harinya tanpa sinar yang menyilaukan." (HR. Muslim).

2. Air laut terasa tawar

Diriwayatkan bahwa ‘Abdah bin Abi Lubabah pernah mencicipi air laut di malam ke-27 dan mendapati bahwa airnya terasa tawar.

3. Para malaikat terlihat di langit

Sebagian ulama salaf yang sedang thawaf di Ka’bah pada malam ke-27 melihat para malaikat melayang di udara di atas kepala para jamaah.

4. Peristiwa-peristiwa luar biasa terjadi

Diriwayatkan bahwa pada malam ke-27, ada seorang laki-laki yang lumpuh berdoa kepada Allah, lalu tiba-tiba ia bisa berjalan kembali.

Seorang laki-laki di Basrah yang telah bisu selama 30 tahun berdoa di malam ke-27, lalu Allah membukakan lisannya sehingga ia bisa berbicara.

---

Kesimp**an

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh berkah, dan ibadah di dalamnya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan. Maka, sudah sepatutnya kita bersungguh-sungguh dalam beribadah, baik di malam maupun siang harinya.

Namun, semua tanda-tanda ini tidak menjamin kepastian malam Lailatul Qadar, sehingga yang terbaik adalah mencari dan menghidupkan seluruh malam-malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir Ramadan.

Sebagaimana kata seorang ulama:

يا يعقوب الهجر قد هبت ريح يوسف الوصل
Wahai Ya’qub yang merasakan perpisahan, kini telah berhembus angin Yusuf yang membawa pertemuan kembali.

Aku dulu memiliki hati yang dengannya aku hidup...
Namun kini ia hilang dalam gelombang perubahannya.
Wahai Tuhanku, kembalikanlah ia kepadaku...
Karena kesabaranku telah habis dalam mencarinya.
Tolonglah aku selama nyawa masih ada...
Wahai Penolong bagi mereka yang meminta pertolongan kepada-Nya.

Jika para pendosa berdiri di waktu sahur dengan penuh kerendahan diri,
Lalu mereka mengangkat surat pengampunan yang isinya:

> "Wahai Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesulitan, dan kami datang dengan barang dagangan yang sedikit, maka sempurnakanlah takaran bagi kami dan bersedekahlah kepada kami." (QS. Yusuf: 88)

Maka akan tampak di hadapan mereka tanda persetujuan atas permohonan itu:

> "Tidak ada celaan terhadap kalian pada hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (QS. Yusuf: 92)

Aku mengadu kepada Allah sebagaimana dahulu anak-anak Ya'qub mengadu kepada Yusuf...
Aku telah ditimpa kesusahan, dan Engkaulah yang mengetahui keadaanku dan melihat posisiku.
Hartaku yang sedikit membutuhkan kemurahan hati dari Dzat yang Maha Pemurah dan Setia.
Maka, si miskin ini datang berharap curahan kebaikan-Mu...
Kasihanilah kehinaannya dan limpahkanlah kasih sayang kepadanya.
Sempurnakanlah takaranku dan bersedekahlah kepadaku...
Sungguh aku hanyalah seorang miskin yang lemah dan tak berdaya.

---

Doa Malam Lailatul Qadar

Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Nabi ﷺ:

"Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku mengetahui malam mana yang merupakan Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?"

Maka beliau bersabda:

> "Ucapkanlah: اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Makna Nama Allah "Al-'Afuw" (Maha Pemaaf)

"Al-'Afuw" adalah salah satu nama Allah yang menunjukkan sifat-Nya yang menghapus dosa hamba-hamba-Nya tanpa meninggalkan bekas.

Allah mencintai sifat pemaaf, maka Dia memaafkan hamba-hamba-Nya dan juga menyukai jika hamba-hamba-Nya saling memaafkan.

Jika seseorang memaafkan orang lain, Allah pun akan memperlakukannya dengan ampunan-Nya yang lebih besar.

Nabi ﷺ sering berdoa:

> "Aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu."

Kasih Sayang Allah Lebih Besar dari Hukuman-Nya

Seorang ulama besar, Yahya bin Mu'adz, berkata:

"Jika ampunan bukanlah sesuatu yang paling dicintai Allah, maka Dia tidak akan menguji hamba-Nya yang paling mulia dengan dosa."

Artinya, Allah menguji banyak wali dan kekasih-Nya dengan dosa-dosa kecil,
agar mereka merasakan nikmatnya ampunan-Nya, karena Allah mencintai sifat pemaaf-Nya.

Seorang ulama salaf berkata:

"Jika aku mengetahui amalan yang paling dicintai Allah, niscaya aku akan mencurahkan seluruh tenagaku untuk melakukannya."

Lalu dalam mimpinya, seseorang berkata kepadanya:

"Engkau mencari sesuatu yang tidak akan terjadi. Allah mencintai untuk memaafkan dan mengampuni, maka seluruh hamba-Nya berada dalam ampunan-Nya. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa mengandalkan amalnya untuk selamat."

---

Empat Orang yang Tidak Mendapatkan Ampunan di Malam Lailatul Qadar

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Nabi ﷺ bersabda:

> **"Sesungguhnya Allah melihat kepada kaum mukminin dari umat Muhammad ﷺ di malam Lailatul Qadar, lalu mengampuni mereka dan merahmati mereka, kecuali empat orang:

1. Orang yang kecanduan khamr (minuman keras),

2. Orang yang durhaka kepada kedua orang tua,

3. Orang yang menyimpan kebencian dalam hatinya terhadap sesama Muslim,

4. Orang yang memutuskan tali silaturahmi."**

Hanya Ampunan Allah yang Menyelamatkan

Ketika orang-orang arif mengenal keagungan Allah, mereka tunduk dan merendahkan diri.

Ketika para pendosa mendengar tentang luasnya ampunan Allah, mereka berharap.

Tidak ada yang menyelamatkan kecuali ampunan Allah atau neraka.

Jika para pendosa tidak memiliki harapan dalam ampunan Allah, pasti hati mereka akan terbakar dalam keputusasaan.

Address

Depok
16413

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rindu Rosul posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Rindu Rosul:

Share