Catatan Kisahku

Catatan Kisahku Buat Yg Sudah Follow, Like, Dan Komen, Semoga Rezekinya Lancar & Sehat selalu.
(1)

BAB 61"Menyenangkan hati bagaimana maksud anda pak Marco?" tanya Ivana bingung."Nona telpon beliau dan katakan sesuatu p...
17/01/2026

BAB 61

"Menyenangkan hati bagaimana maksud anda pak Marco?" tanya Ivana bingung.

"Nona telpon beliau dan katakan sesuatu padanya nona! Saya mohon!" kata Marco setengah berbisik pada bu Presdirnya itu. Ia percaya bahwa saat ini Ivana lah yang bisa menyelamatkannya dan semua orang.

"Jelaskan padaku ada masalah apa sebenarnya? Mengapa aku harus melakukan itu? Aku kan sedang marah padanya," ucap Ivana kesal. Ia bahkan tidak mengangkat panggilan telpon dari Edgar ataupun membalas pesannya. Sebab, ia masih kesal pada lelaki itu dan sekarang Marco memintanya bicara dengan Edgar. Tentu saja Ivana tidak mau.

Kini Marco tau alasannya mengapa Edgar bisa seperti ini, jadi ia melampiaskan rasa kesalnya pada semua karyawan petinggi perusahaan. Termasuk kepada dirinya juga. Parahnya lagi berakhir dengan pemecatan mereka!

"Nyonya Presdir saya mohon, kalau saya dipecat... bagaimana nasib ibu saya yang sedang sakit? Bagaimana nasib istri dan anak saya?"mohon seorang pria pada Ivana.

"Iya nyonya, lalu bagaimana dengan nasib anak-anak saya? Saya seorang single parent yang hanya bisa mengandalkan perusahaan ini, untuk bekerja di usia saya yang sudah memasuki 50 han!"

"Saya punya 5 adik yang masih harus saya nafkahi nyonya. Belum lagi istri dan anak-anak saya!"

Ivana mendengar semua keluhan-keluhan dari para karyawan itu, mereka merengek dan membuat hati Ivana tidak tega.

Namun, ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Kan bos mereka itu adalah Edgar, bukan dirinya. Lantas mengapa mereka memohon padanya? Bukan pada orang yang seharusnya.

"Nona, anda sudah mendengar apa yang dikatakan oleh mereka kan? Ayolah nona bantu kami." Marco berusaha membujuk
Ivana agar membantunya dan para karyawan lain yang terancam pensiun dini.

"Bantu apa? Bukankah kalian harusnya memohon pada pria itu. Kenapa jadi kepadaku? Aneh."

"Karena hanya nona yang bisa membolak-balikan hati pak presdir semudah membalikkan telapak tangan!" kata Marco meyakinkan.

"Ck, ya sudah. Aku harus apa?" tanya Ivana akhirnya.

Senyuman terbit di bibir Marco, "Tolong katakan sesuatu pada pak Presdir. Saya yakin hanya nona yang bisa membujuknya!" ucap Marco dengan cepat. Para karyawan lainnya pun mengangguk setuju.

"Haah...baiklah." Ivana menghela nafas pelan. "Berikan telpon pak Marco padanya. Aku akan bicara dengannya," ucap Ivana lagi.

Dengan senang hati Marco langsung masuk ke dalam ruangan Presdir dimana Edgar sedang memeriksa dokumen si manager keuangan. Pria didepan Edgar terlihat tegang, ia melirik ke arah Marco seolah meminta bantuan. Marco hanya menganggukkan kepala, lalu mendekati ke samping Edgar sambil memegang ponselnya yang masih terhubung dengan Ivana.

"Ada apa? Apa kau mau dipecat juga?" tanya Edgar dengan sinisnya dan mengancam Marco.

"Maaf Pak, saya tidak mau dipecat. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu," jawab Marco.

"Apa ini penting sampai kau harus masuk tanpa permisi, hah?" sentak Edgar emosi. Dan semua ucapannya terdengar oleh Ivana disebrang sana.

"Astaga dia benar-benar mau mematahkan rezeki orang ya?" gumam Ivana pelan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar suara Edgar yang marah-marah disebrang sana.

"Pak, tapi ini sangat penting. Nona muda menelpon!" kata Marco dengan cepat. Seketika Edgar pun terdiam sejenak, ia menatap wajah sekretarisnya itu dengan tajam. Marco menangkap ada rasa kecemburuan di mata Edgar padanya.

"Pak Presdir jangan salah paham, nona menelpon karena-" sebelum Marco menyelesaikan ucapannya, Edgar sudah lebih dulu mengambil ponsel Marco lalu meletakkan ponsel itu ketelinganya.

"Ada apa sweetheart? Kenapa kau baru menghubungiku? Apa-"

["Aku ingin waffle, susu murni dan ku ingin kau yang membelikannya! Satu lagi, aku juga mau kau harus segera pulang."] Ivana langsung menyela ucapan Edgar yang lembut itu.

"Baiklah sweetheart, aku akan segera pulang sekarang!" kata Edgar sambil tersenyum, ia merasa bahwa Ivana akan segera memaafkannya.

Melihat raut wajah Edgar yang garang berubah jadi lembut, membuat si manager keuangan terheran-heran. Sedangkan Marco senyum-senyum, karena rencananya meminta bantuan Ivana tidak sia-sia. Mood Edgar langsung berubah cepat. Telpon dari sang istri sudah mengubah hatinya.

"Terimakasih Nona muda, kami berhutang nyawa padamu' kata Marco dalam hatinya, berterimakasih pada Ivana.

[Hem, aku tunggu]

Setelah itu Ivana memutuskan telponnya begitu saja. Namun Edgar tidak marah, malah tersenyum. Kemudian ia buru-buru beranjak dari tempat duduknya.

"Pak, bagaimana dengan laporan saya?" tanya si manager keuangan.

"Revisi. Besok siang- berkasnya sudah harus ada di mejaku!" ujar Edgar kembali ke mode, datarnya.

"Ja-jadi saya tidak di-"

Marco langsung mengisyaratkan pada si manager keuangan untuk diam. Ia pun langsung diam seketika. Akan jadi masalah bila si manager keuangan bicara tentang pemecatan. Bisa-bisa ia dipecat sungguhan.

"Beritahu pada yang lain untuk merevisi laporan mereka dan mengumpulkannya besok!" titah Edgar pada Marco dan mendapatkan jawaban anggukan kepala darinya.

Setelah itu Edgar bergegas pergi meninggalkan perusahaan seorang diri. Ia tak sabar ingin mencarikan waffle dan susu murni untuk Ivana. Marco dan para karyawan lainnya melihat kepergian presdir mereka dengan perasaan lega.

"Syukurlah! Aku tidak jadi pensiun dini!"

"Aku juga Mr. Bradley kita selamat!" kelima karyawan dengan jabatan tinggi di kantor itu bersorak bahagia karena mereka tidak jadi dipecat.

"Terimakasih pak Marco!" kata mereka semua pada Marco yang juga tersenyum melihat kebahagiaan mereka.

"Tidak tidak. Jangan berterimakasih kepada saya tuan-tuan. Berterimakasih lah pada nona muda. Beliaulah yang sudah menolong saya dan tuan-tuan semua!" kata Marco dengan senyuman bahagia dibibirnya.

"Tentu saja. Kita harus berterimakasih pada nona Presdir kalau kita bertemu nanti. Dia sudah menyelamatkan nyawa kita," ucap seorang karyawan setuju dan dibenarkan oleh karyawan setuju yang lain.

Benar, orang yang harus mereka ucapkan terimakasih adalah nyonya Presdir yang bisa membuat seorang es kutub seperti Edgar mencair. Tidak ada pawang yang bisa seperti Ivana.

****

Di mansion Denvier malam itu.

Julia terlihat seperti sedang menyeduh sesuatu di dapur dan Nora melihatnya la memperhatikan Julia yang berada di sana.

Cukup lama ia memperhatikan Julia, akhirnya Nora menghampiri wanita itu.

"Hey Agatha? Kau belum tidur?" tanya Julia sambil tersenyum ramah pada Nora, tidak seperti biasanya.

"Nama saya Nora, nona."

"Oh maaf, aku sering lupa. Jadi kau Nora ya?" tanya Julia dan Nora menganggukkan kepalanya.

"Nona sedang buat apa?" Nora penasaran dengan yang dibuat Julia di dapur.

"Oh ini, aku sedang membuatkan susu untuk ibu mertuaku. Sepertinya dia belum meminum susunya," jelas Julia dengan ramah dan hal ini membuat Nora mencurigai ada sesuatu.

'Tumben sekali, tadi siang dia dan nona Ivana masih bertengkar. Kenapa sekarang tiba-tiba sikapnya seperti itu?' Nora menaruh rasa curiga pada Julia yang tiba-tiba baik.

****

BERSAMBUNG BAB 62

BAB 60"Keluar dari ruanganku sebelum aku memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu keluar dari sini!" titah Edgar deng...
16/01/2026

BAB 60

"Keluar dari ruanganku sebelum aku memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu keluar dari sini!" titah Edgar dengan suara meninggi, jari telunjuknya mengarah pada pintu ruangan itu. Edgar tidak habis pikir, mengapa Vanessa bisa masuk ke dalam ruangannya dan Marco juga tidak ada ditempat. Otomatis lelaki itu akan mendapatkan masalah nantinya.

Apalagi Edgar sedang berada dalam mode emosi dan galau.

"Edgar, aku tidak akan pergi sebelum kau mau bicara padaku." Vanessa keras kepala, ia tetap tidak mau pergi dari sana sebelum Edgar bicara dengannya.

Lelaki itu berdecak dan akhirnya ia tidak punya pilihan lain, selain menyeret wanita itu dengan kedua tangannya sendiri agar ia cepat pergi dari sana.

Lengan Edgar menarik kasar tangan Vanessa, menyeretnya ke depan pintu ruangan dan mendorongnya kasar sampai wanita itu terjatuh ke dekat meja.

"Edgar, kau kasar sekali!" tukas Vanessa protes dengan tindakan kasar Edgar.

"Jangan pernah menemuiku lagi! Kalau kau memang mau menemui Rick, cari saja dia sendiri. Tak perlu kau bicara padaku," ucap Edgar sinis. Kemudian ia pun membanting pintu tepat dihadapan wajah Vanessa.

"Dia sudah banyak berubah. Apa dia seperti ini karena aku sudah mengkhianatinya dulu?" gumam Vanessa merasa bersalah atas kesalahannya pada Edgar dulu. Disaat Edgar sedang merasakan cinta yang menggebu-gebu pada Vanessa, wanita itu malah membuatnya meminum obat perangsang dan berakhir dengan kehamilan Vanessa.

Kemudian mereka menikah, tapi setelah menikah, Vanessa tidak bisa menerima kenyataan bahwa Edgar tidak kaya dan Amber ibu mertuanya juga tidak menyukai dirinya. Akhirnya Vanessa memilih pergi bersama pria lain dan meninggalkan putranya yang saat itu masih berusia 1 tahun. Ketika ia akan kembali lagi, Edgar
melarang dirinya masuk ke negeri ini.

Namun, berkat bantuan dari seseorang Vanessa Akhirnya bisa masuk lagi ke kota Paris.

Tak berselang lama kemudian dua orang petugas keamanan datang ke depan ruangan presdir, mereka langsung menyeret Vanessa pergi dari sana. Setelah Vanessa pergi, Marco yang baru saja kembali dari makan siangnya, segera masuk ke dalam ruangan Edgar. Lelaki itu terlihat marah, sorot matanya tajam kepada Marco.

"Pak, saya mohon maaf... saya tidak tahu kalau-"

"Tidak ada bonus untukmu bulan ini. Kau juga harus lembur selama 7 hari," pungkas Edgar dingin. Sontak saja kedua bola mata Marco terbelalak mendengarnya. Marco takut kalau istrinya akan marah, atau sampai membuatnya tidur di luar rumah. Jika wanita itu tau kalau bonus bulanannya ditiadakan, dan ia diperintahkan untuk lembur selama 7 hari.

"Pak! Saya mohon maaf! Tolong jangan-"

"Marco, kau tahu aku tidak akan bicara dua kali. Jangan membantah dan lakukan saja tugasmu dengan baik. Jangan membuatku kesal lagi!" Edgar menyela Marco lagi dan wajahnya terlihat dingin. Marco bisa melihat tingkat emosi Edgar yang berbeda dari biasanya dan sepertinya ini bukan hanya soal masalah Vanessa yang masuk ke dalam ruangannya saja. Pasti ada sesuatu yang lain.

Hari berganti menjadi malam, Edgar yang sedang emosi itu tiba-tiba saja mengadakan rapat darurat semua petinggi di kantor itu. Rapat itu berakhir berakhir dengan mengaudit semua orang dan mengevaluasinya. Sedikit saja kesalahan, maka mereka terkena imbas kemarahan Edgar.

"Laporan macam apa ini? Bahkan monyet di kebun binatang pun bisa membuat laporan seperti ini!" Entah ke berapa kalinya Edgar memarahi para bawahannya. Semua laporan yang dibawa oleh mereka ditolak, bahkan berakhir dengan pemecatan.

"Sepertinya, tidak ada gunanya lagi kau bekerja di perusahaan ini! Lebih baik kau pergi, kau ku pecat!" ujar Edgar tanpa mau mendengarkan kata maaf terlebih dahulu.

Lelaki paruh baya yang sedang berdiri di hadapan yaitu terlihat sangat kaget dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi. " Tolong pak! Jangan pecat saya, saya sudah bekerja lama di sini pak. Kalau saya dipecat anak dan istri saya mau makan apa nanti. Saya mohon jangan pak!"

Namun Edgar sama sekali tidak mau mendengar kata apapun. Hingga akhirnya pria paruh baya yang malang itu keluar dari ruangan dengan kaki yang lemas dan lesu.

"Apa kau dipecat Mr. Bradley?" tanya seorang karyawan yang juga sedang antri didepan ruangan Edgar untuk menyerahkan laporan.

"Iya... bagaimana ini? Kenapa pak presdir tiba-tiba seperti ini?" gumam lelaki itu sambil menangis.

"Pak Marco, apa yang sebenarnya membuat Pak Presiden tiba-tiba seperti ini? Tidak biasanya beliau marah-marah, mencari kesalahan orang dan tiba-tiba saja memecat orang?"

"Tolong pak Marco, hentikan semua ini! Setelah manager keuangan, saya yang akan masuk berikutnya."

Para karyawan petinggi perusahaan itu sangat ketakutan dan merasa heran dengan Edgar hari ini. Sehingga mereka menanyakan kepada Marco, orang yang paling dekat dengan presidennya itu. Pasti Marco sedikit tau, dengan apa yang terjadi kepada Edgar.

Marco terdiam dan sedikit berpikir, ia harus menyelamatkan orang-orang ini dan ia tidak punya cara lain. "Aku ada cara yang bisa membuat Presdir berhenti! Aku hanya bisa bertaruh akan hal ini."

"Cara apa?"

"Aku akan langsung menghubungi pawangnya."

"Pawang?" para karyawan itu menatap heran pada Marco.

Marco langsung mengambil ponsel yang ada di dalam saku bajunya dan menghubungi nomor Ivana. Tak berselang lama kemudian, Ivana mengangkat telponnya.

"Ada apa pak Marco? Tumben bapak menelpon ku?" tanya Ivana ramah.

"Nona, Maaf bila telepon saya mengganggu nona. Saya ingin meminta bantuan nona."

"Bantuan apa?" Ivana yang sedang berada di sofa ruang tengah bersama ibu mertuanya, merasa terheran-heran sebab tiba-tiba saja Marco meneleponnya untuk meminta bantuan.

"Nona, hanya nona yang bisa membantu kami nona!" kata Marco dengan suara tegang yang membuat Ivana khawatir.

"Katakan ada apa?"

"Nona, seharian ini pak presiden terus marah-marah dan kami tidak tahu apa penyebabnya. Beliau bahkan memecat beberapa karyawan yang sudah lama bekerja di perusahaan ini," jelas Marco.

"Lalu aku harus berbuat apa?" tanya Ivana bingung.

"Nona, mungkin jika Nona bisa menyenangkan hatinya walau sedikit..."

****

BERSAMBUNG BAB 61

BAB 16Juragan, membentangkan Blazer panjang yang tadi melekat di badannya, kini berada di depan wajah Aruna."Pakai ini."...
16/01/2026

BAB 16

Juragan, membentangkan Blazer panjang yang tadi melekat di badannya, kini berada di depan wajah Aruna.

"Pakai ini."

Belum usai Runa membelalakkan mata, pemuda itu telah menyampirkan Blazer panjang di atas pundaknya. Tristan bergerak pergi, meninggalkan Runa yang belum berkedip ketika Blazer itu berada di pundaknya.

Sebenarnya, seorang Tristan itu perhatian. Hanya saja, ia tak pandai dalam memperlihatkannya. Mengingat hal itu, Runa tersenyum sendiri dan memakai Blazer panjang itu, agar kondisinya tak dilihat orang-orang berkumpul di sana.

Runa akhirnya berani berjalan menyusul Tristan yang sudah lebih dahulu masuk ke toko. Seingatnya, hanya beberapa kali saja ia pernah ke toko ini. Karena jarak yang memang cukup jauh, juga tak ada uang untuk kesana.

Melihat Tristan yang sudah berjalan mengelilingi rak dagangan di sana, ia pun menyusul. Mengekor saja kemana pemuda itu bergerak dengan membawa keranjangnya.

"Ambil keperluanmu," Ucap Tristan.

Sebenarnya Runa ingin bertanya, memastikan yang didengarnya itu tidak. salah. Namun urung, Tristan tidak s**a dengan orang macam itu. Sekali diperintah, harus langsung dilaksanakan, tidak boleh bertanya lagi.

Ia yang memang tak memiliki apapun, segera mengambil apa yang diperlukan. Tak perlu banyak, cukup satu kemasan saja. Runa bukanlah gadis yang gemar memanfaatkan situasi. Ia sadar diri, bukanlah siapa-siapa bagi pemuda kaya itu.

"Aku ke toko setiap tiga bulan sekali. Jadi ambilah yang banyak sekalian," Suara Tristan lagi, seperti dapat membaca keraguan di wajah Runa.

Ia mengangguk tanpa berani bertanya lagi, segera mengambil seperti yang diminta si juragan muda. Baiklah, kesempatan ini tidak boleh disia-siakan, batinnya menghibur diri.

Setengah jam kemudian, keduanya keluar dari toko. Runa memandangi sekeliling, nampaknya daerah ini semakin malam akan bertambah ramai.

Apalagi oleh gerombolan pemuda kampung yang s**a nongkrong itu.

Pandangan Runa tertuju pada pedagang martabak. la teringat bagaimana waktu kecil, makanan itu menjadi keinginan terbesarnya. Namun, Bapak harus memeras keringat dulu untuk bisa mewujudkan keinginannya.

Entah berapa kali ia pernah mencicipi makanan lezat itu, rasanya pun telah lupa.

"Ayo, pulang." Tristan sebenarnya melihat arah mata Aruna, ia acuh dan melewati gadis itu begitu saja menuju tempat parkir.

"Terimakasih untuk hari ini, Juragan," Ungkap Runa, ketika mereka telah berasa di dalam mobil yang sedang melaju.

"Ingat. Jangan menganggap ini berlebihan. Aku melakukannya karena kasihan, bukan karena alasan lain."

Kalimat terpanjang yang keluar dari mulut Tristan semenjak hidup seatap dengan Aruna.

Gadis itu tersenyum getir, sakit hatinya kembali terasa. Ia merasa seperti ditelanjangi, dan diarak melewati gerombolan orang-orang di pasar malam tadi.

Hidup ini memang tidak adil. Dunia ini hanya untuk orang-orang yang punya kuasa dan uang saja. Sementara orang miskin dan lemah, hanya bisa menurut pasrah. Runa membatin, tanpa terasa sebutir air meluncur dari pelupuk mata.

Sebelum yang lain menyusul, ia menghapusnya dengan cepat. Pandangannya masih tertuju ke arah luar melewati kaca jendela.

**

Hampir dua bulan, Aruna bertahan dengan rasa bosan. Menjalani hari-hari monoton dan tak ada aktifitas apapun yang bisa dilakukan.

la pikir, setelah kejadian waktu itu, ketika Tristan membawanya ke pasar malam, sikapnya akan berubah. Ternyata tidak, persis seperti pengakuannya. Pemuda itu hanya kasihan padanya, tidak lebih.

Sore tiba, ia yang sejak tadi berada di depan TV dikagetkan oleh kedatangan simbok.

"Mbak. Sudah sore, simbok pulang dulu, ya," Wanita itu berucap, wajahnya tersenyum penuh arti.

"Iya, mbok."

"Makan malam sudah siap semua, Mbak. Nanti tinggal dipanaskan kalo Juragan muda sudah datang," Pesan simbok lagi, setiap kali wanita itu akan berpamitan, selalu saja berpesan hal yang sama.

"Iya, mbok. Tenang saja."

"Ya sudah. Simbok pulang, ya. Ini simbok bawa sayur dikit buat keluarga si rumah," Ucap simbok lagi.

Hal seperti itu memang beberapa kali ia lakukan, jika persediaan bahan dapur di rumah telah habis. Runa yang melihat ada benda menggantung di ujung tangan simbok, tersenyum sambil mengangguk.

Ia menganggap, kejadian itu sudah biasa dilakukan. Serta Juragan muda pun tak akan mempermasalahkannya.

Selepas simbok pergi, mobil pun datang. Runa bersiap menyambut suaminya yang tinggal sebulan lagi akan memulangkannya.

"Saya langsung pulang ya, bos."

Terdengar suara seorang lelaki, Runa yakin itu suara Edwin. Sekretaris pribadi Tristan yang tak kalah tampan itu.

Tristan sudah duduk pada salah satu sofa dengan menyandarkan badan, wajahnya menengadah dengan keadaan yang tak lebih baik dari biasanya. Runa mendekati, tetapi tak berani bertanya.

"Juragan, saya siapkan air hangatnya, ya," Runa bersuara pelan. Namun, yang diajak bicara hanya melirik sekilas.

Pemuda itu memijiti kening seperti orang banyak pikiran, lantas mengibaskan tangan. Meminta Runa agar segera pergi saja.

"Iya, Juragan."

Beberapa minggu tinggal bersama pria dingin, membuatnya hafal dengan aktifitas sehari-hari. Juga bahasa irit yang tiap hari digunakan untuk memerintah ses**a hati.

Ia memilih untuk segera pergi ke dapur, merebus air untuk juragan mandi. Kini, jika simbok sudah pulang dan Tristan pulang sore, menyediakan air hangat menjadi tugasnya.

Ia semakin merasa berguna, ketika Tristan tak melarangnya. Dan itulah yang membuat runa bisa bertahan di rumah itu, meski rasa bosan selalu mengganggu. Ia ingin segera kembali ke rumah kecilnya di ujung jalan sana.

Air telah siap, ia bawa ke kamar Tristan. Pemuda itu malah berbaring di tempat tidur dengan berselimut.

"Juragan, airnya sudah siap," Ucap Runa memberanikan diri untuk membangunkan Tristan. Nampaknya pemuda itu cukup lelah setelah bekerja seharian.

Bukannya segera bangun, ia malah menutup sebagian wajah menggunakan selimut dengan bergumam tak jelas.

"Adel, kamu pulang, ya. Kita segera nikah," Suara samar terdengar dari mulut Tristan, membuat runa mengernyit.

Seperti ada hal ganjil dari pria itu, ia mendekatinya. Memberanikan diri menyentuh kening yang ternyata sangat panas, pantas saja berceloteh tak jelas seperti tadi. Ia demam, batin Runa mulai bingung.

Sekali lagi ia meraba kening sosok berbaring itu, tetapi dengan cepat di tepis oleh tangan besar dan kuat.

"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Tristan geram, posisinya sudah duduk dengan selimut tersibak hampir jatuh ke lantai.

Runa gugup, ia mundur beberapa langkah.

"Maaf, Juragan. Tapi, saya hanya memastikan kondisi Juragan sedang baik-baik saja atau tidak," Jawab Runa tergagap. Ia berharap ada pemakluman dari Kelancangannya tadi.

"Aku baik-baik saja. Dan kenapa kamu lancang sekali menyentuhku?"

Gertaknya, entah sadar atau tidak.
Bahkan sepatu dan dasi masih melekat di badannya.

"Tapi, Juragan sedang demam," Runa menyahut.

"Nanti juga hilang. Keluar sana. Aku mau mandi!" Dilepasnya sepatu dan dasi itu dengan melemparkan ke sembarang arah.

Pemuda itu langsung masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower. Hingga beberapa menit lamanya. Hingga runa bosan menunggu dan akhirnya memilih keluar saja ke dapur. Menghangatkan makanan.

Namun, sampai jam delapan malam begini, si Juragan itu belum juga keluar kamar. Padahal biasanya ia tak akan makan melebihi jam tujuh malam.

Apa yang terjadi padanya, Runa berniat membawakan makanan ke dalam kamar. Mungkin saja demamnya semakin parah dan Tristan tak sanggup keluar kamar.

Tok tok tok!

"Juragan, makan malamnya sudah siap," Ucap Runa dengan suara diperkeras. Ia menempelkan p**i di daun pintu kamar. milik Tristan. Tak ada sahutan sama sekali dari dalam sana.

Ia memberanikan diri, masuk dan mendapati Tristan berbaring, wajahnya terlihat memerah.

"Juragan! Juragan makin parah!" Pekiknya hingga membuat Tristan membuka mata, ia berdecak kesal.

"Jangan sentuh!" Gertaknya ketika tangan kecil itu kembali mendekati dengan lancang.

"Demam juragan makin parah."

"Ambilkan ponselku!" Tunjuk Tristan pada benda p**ih di atas meja. Runa menurut, mengambil gawai itu dan memberikan pada juragan muda.

Tristan mengutak-atik layar gawai dan menempelkannya di depan telinga. Ia menelpon seseorang.

"Edwin. Kemari sekarang juga!"

***

( Pernikahan 90 Hari ) - Bersambung BAB 17

BAB 59Tepat saat tangan Grace akan mendarat di p**i Ivana, tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh seseorang. Grace meli...
15/01/2026

BAB 59

Tepat saat tangan Grace akan mendarat di p**i Ivana, tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh seseorang. Grace melihat ke arah orang itu dan tatapannya langsung melembut seketika.

"Berani sekali kau melayangkan tanganmu kepada menantuku!" ujar Amber dengan tatapan tajam pada Grace.

Ivana hanya diam saja dan menonton apa yang akan terjadi. Sekarang ia mempunyai Amber, wanita yang semula memusuhinya, kini jadi dekat padanya bagikan seorang ibu. Ivana merasa senang karena ada yang membelanya.

"Nenek, itu semua karena Ivana yang berbicara dan berkata tidak sopan pada Mommy. Mommy hanya ingin memberinya pelajaran saja." Julia berusaha menjelaskan agar Amber tidak salah paham pada Grace.

Amber terdiam sejenak, namun matanya menelisik Grace dan Julia saat ini. Ia jadi berpikir, apakah ucapan Edgar sebelumnya tentang Ivana memang benar? Bahwa wanita itu kerap kali mendapatkan kekerasan dan perlakuan buruk dari ibu dan adik tirinya. Sekarang Amber jadi berpikir itu memang benar.

"Apa ibumu memang selalu mengajari dengan tangan? Atau menyelesaikan masalah dengan kekerasan?" tanya Amber tajam.

Julia dan Grace tercekat mendengar pertanyaan Amber kepada mereka. Namun Grace dengan cepat tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa. "Mana mungkin Nyonya. Ini terjadi hanya sekali saja. Maafkan Mommy yang tidak sabar ya Ivana," ucap Grace lembut, seraya mengusap rambut Ivana. Dengan cepat wanita itu menghindar dari sentuhan Grace.

"Ini peringat pertama dan terakhir untuk kalian berdua. Jangan pernah menganggu Ivana lagi. Dan kau Julia, kau masih menjadi menantu dirumah ini.

Bersikaplah selayaknya seorang menantu, meskipun Ivana adalah kakak tirimu', tapi dia adalah ibu mertuamu dan kedudukannya di rumah ini lebih tinggi darimu. Kau harus menghormatinya, bersikap sopan padanya."

"Dan untuk anda nyonya Grace Harison. Anda hanya tamu dan orang luar disini, jangan bersikap berlebihan," ucap Amber tegas dan menusuk kedua wanita menyebalkan itu.

Teguran keras dari Amber, kontan saja membuat Julia dan Grace terdiam. Mereka mengepalkan tangan, menahan amarah didalam diri mereka untuk Ivana. Mereka tak bisa marah didepan Amber. Disisi lain, Ivana merasa terharu karena Amber membela dirinya, maju di garda depan untuk melindunginya. Ivana merasa bersyukur memiliki ibu mertua seperti Amber, walau pada awalnya hubungan mereka tak sedekat itu. Bahkan papanya sendiri tak pernah membelanya sampai seperti ini.

"Ivana, ikut Mami ke kamar Mami ya!" ajak Amber pada menantunya itu.

"Iya Mami," sahut Ivana sambil tersenyum. Lantas ia pun mengikuti ibu mertuanya untuk pergi ke kamarnya yang ada dilantai atas. Sementara Grace dan Julia menatap punggung mertua-menantu itu dengan kesal. Julia mencak-mencak sendiri, melihat Amber yang biasanya baik padanya, sekarang malah sangat menyayangi Ivana.

"Mom, kau lihat itu? Si Ivana itu jadi makin sombong kan? Dia benar-benar rubah yang menyebalkan, Mom! Kau harus melakukan sesuatu!" gerutu Julia kesal.

Grace menggertakan giginya, ia juga merasakan kekesalan yang sama pada Ivana yang dinilainya semakin sombong. Dengan dukungan Amber, posisi Ivana semakin kuat di rumah ini. Tidak, Amber tidak pernah mau kalau anaknya kalah dari Ivana, anak dari istri pertama suaminya.

"Tidak ada cara lain, kau harus meluluhkan hatinya dulu Julia. Jika kau baik padanya dan Edgar, maka Rick juga tidak akan menceraikanmu!". hanya cara inilah yang terpikirkan oleh Grace untuk menyelamatkan pernikahan putrinya.

"Maksud mommy apa?" tanya Julia. Kemudian Grace pun membisikkan sesuatu pada Julia, gadis itu hanyalah mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia kurang setuju dengan ide Grace, karena ia harus bisa bersabar. Namun ia akan mencobanya, daripada ia harus bercerai dari Rick.

***

Didalam kamar Amber.

Ivana dan Amber sedang duduk diatas ranjang, Amber baru saja mengambil sebuah kotak kayu yang tampak sudah usang dan berwarna coklat. Ivana bingung, untuk apa ibu mertuanya membuka kotak tersebut.

Mata Ivana terpana melihat isi kotak tua itu, ia melihat satu set perhiasan yang indah, tapi modelnya sangat tua.

Perhiasan berlian murni dan sepertinya sangat mahal.

"Mami, kenapa Mami menunjukkan ini padaku?" tanya Ivana heran.

"Ivana, ini semua untukmu sayang. Ini menjadi milikmu sekarang," ucap Amber seraya membelai p**i Ivana dan menatapnya dengan lembut.

"Hah? Ini milik siapa Mami? Bagaimana bisa ini menjadi milikku?" tanya Ivana bingung. Mana mungkin perhiasan langka ini adalah miliknya.

"Karena kau adalah menantuku dan bagian dari keluarga ini. Maka kau harus mengambilnya Ivana. Perhiasan ini adalah perhiasan turun menurun keluarga mendiang suamiku, keluarga Denvier. Dan setiap menantu akan mendapatkan perhiasan seperti ini, mereka mendapatkannya secara turun-temurun. Sekarang, Mami akan menyerahkannya pada menantu dan orang yang tepat.

Kaulah orangnya Ivana!"

Deg!

Ivana terperangah mendengar penjelasan dari ibu mertuanya tentang perhiasan ini. Perhiasan yang sangat berharga dan warisan turun temurun keluarga Bagaimana bisa Ivana menerima benda yang berharga seperti ini?

"Mami..."

"Mami tau, kau pasti akan menolaknya. Tapi sayang, Mami mohon jangan menolaknya ya. Edgar juga pasti akan senang bila kau menyimpannya. Terima dan jagalah! Karena aku yakin kalau kau akan menjadi pelabuhan terakhir Edgar, putraku."

"Ivana, Mami akan segera kembali ke Amerika. Disana Mami masih memiliki suami dan juga seorang anak yang harus Mami jaga. Maka dari itu, Mami mohon jagalah perhiasan turun temurun ini dan jagalah Edgar baik-baik, Mami sangat percaya kepadamu."

Bagaimana bisa Ivana menolak kalau Amber sudah memohon seperti ini?

Bahkan ia sendiri masih belum percaya, bahwa dirinya akan selamanya bersama Edgar. Tidak yang tau masa depan akan seperti apa.

***

Ruangan Presdir.

Edgar kembali kesana tanpa makan siang lebih dulu, hatinya sudah kacau melihat Ivana marah dan menangis tadi. Ia menyesal sudah membuat gadis yang sedang mengandung dua anaknya itu menangis.

Begitu ia sampai diruangannya, Edgar kaget saat melihat keberadaan Vanessa di sana. Vanessa langsung berdiri menyambut Edgar.

"Kenapa kau ada disini? Siapa yang mengizinkanmu masuk?!" ucap Edgar dengan suara meninggi dan tatapan tajamnya.

"Aku ingin bicara denganmu Edgar!" seru Vanessa dengan sorot mata sendunya, tak peduli meskipun Edgar menatapnya tajam saat ini.

***

BERSAMBUNG BAB 60

14/01/2026

Guru Honorer Yang Malang

, , , , , , , , , , ,

BAB 15 "Jangan terlalu percaya diri. Itu bukan berarti aku berubah pikiran." Pemuda itu menyahut dengan suara dingin, wa...
14/01/2026

BAB 15

"Jangan terlalu percaya diri. Itu bukan berarti aku berubah pikiran." Pemuda itu menyahut dengan suara dingin, wajahnya pun tetap datar.

Tanpa melihat ke arah lawan bicara. Kadang, Aruna heran, mengapa pria itu bisa betah dengan sikapnya yang seperti itu. Bagaimana ia bisa bersosialisasi, jika dengan orang lain saja sikapnya cuek dan angkuh begitu. Seperti tak membutuhkan orang lain saja.

"Juragan tidak perlu khawatir, saya tetap sadar diri. Tidak mungkin berharap lebih dari ini, juragan," Ucap Runa, memang sengaja menjawab demikian.

Lama-lama berada di rumah mewah ini terasa menjengkelkan juga, terlebih, saat ini ia baru saja datang bulan.
Amarahnya sering tak bisa terkontrol.

"Siapkan air untuk aku mandi. Setelah itu, kamu siap-siap. Kita cari makan di luar," Titah Tristan lagi.

Baru kali ini ia makan di luar rumah, hanya ketika melihat di rumah tidak ada makanan sedikitpun.

"Baik, Juragan." Aruna bangkit dari tempat duduknya.

Tristan mengernyit, tanpa sengaja melihat pakaian yang dikenakan gadis itu. Bagian belakang agak bawah terdapat bercak merah. Apa yang terjadi? Pikirnya mendadak khawatir.

Namun, setelah gadis itu menghilang dari pintu ruang tamu, ia menepuk jidat. Baru menyadari, setiap perempuan akan mengalaminya.

"Dasar gadis desa. Merepotkan saja!" Gerutunya sambil berjalan menuju kamar.

Padahal dalam hati ia masih memikirkan kesalahannya. Sejak awal tidak pernah memberikan uang pada Aruna, ia lupa bahwa gadis itu pasti memerlukan kebutuhan pribadi. Seperti pakaian, alat mandi, kosmetik, dan satu lagi. Seperti yang ia lihat tadi.

Baru beberapa saat, ia duduk di dalam kamar, pintu telah di ketuk.

"Masuk!" Suaranya diperkeras, supaya orang yang ada diluar mendengar.

Pintu terbuka, gadis datang membawa ember dan masuk ke kamar mandi milik Tristan. Lagi-lagi ia melihat bercak merah pada pakaian runa itu belum hilang, malah bertambah jelas dan agak banyak.

"Setelah ini kita berangkat. Bersiaplah." Tristan masuk ke kamar mandi, bahkan ketika Aruna belum sempat menjawabnya.

"Kebiasaan!" Gerutu gadis itu dengan suara pelan..

Namun, mengingat perintah si juragan muda tadi, ia segera berlalu dari kamar itu. Menuju kamarnya sendiri yang jaraknya cukup jauh, di lantai bawah paling pojok.

"Jangan-jangan Juragan tadi tau apa yang terjadi padaku," Gumamnya, ketika ia telah selesai mandi dan memakai baju.

Rasanya sangat malu, bagaimana jika si juragan benar-benar melihatnya. Kini ia ketahuan miskin, untuk membeli pembalut saja tak ada uang.

"Aduh. Gimana ini, mati aku." Berkali-kali gadis itu memukuli keningnya.

Hingga terdengar ketukan dari luar pintu, membuatnya benar-benar terperangah. Seketika menggeleng, rasanya masih malu jika harus kembali bertemu dengan juragan muda.

Apalagi jika akan diajak keluar, kondisinya tidak memungkinkan.

"Buka pintunya!" Satu teriakan berhasil membuatnya terkesiap, ia cepat-cepat membuka pintu.

Bertemu dengan Juragan muda, wajahnya tertunduk dan memerah.

"Maaf, Juragan. Apa kita jadi makan di luar?" Tanyanya terbata.

"Iya. Ayo berangkat!"

"Tapi, Juragan. Saya tidak mungkin keluar..."

"Kenapa?" Tristan dari tadi sama sekali tak menatap gadis itu. Ia bicara dengan bersedekap tangan.

"Saya, saya. Kepala saya mendadak pusing, biar saya di rumah saja," Jawab Runa mencari alasan.

Membuat Tristan mengernyit, ia menatap tajam pada gadis yang terus menunduk itu. Hatinya yakin, Runa sedang berbohong.

"Jangan berbohong. Aku tidak s**a dibantah. Ngerti, kamu?" Bentaknya. Kini ia yakin, alasan gadis itu menolak karena tak memakai pembalut.

Runa pasti malu jika nanti ada kejadian seperti tadi dan dilihat banyak orang. Padahal Tristan juga akan mengajaknya sekalian ke toko, mencari keperluan pribadinya.

"Ayo cepat!" Tristan kembali bersuara, dan runa tak kuasa menolaknya.

Gadis itu mengangguk patuh, tanpa berfikir untuk mengganti pakaian terlebih dahulu. Padahal yang dipakai kali ini, celana panjang berwarna keabuan dengan kaos pendek senada.

Sebagai gadis desa, Aruna tak memiliki gaun ataupun dress indah layaknya para artis Ibu kota. Yang bisa dibilang pantas, jika pergi keluar bersama seseorang. Lagipula, ia bukanlah gadis yang s**a mengumbar lekuk tubuh.

Siapapun, tak ada yang tau, bahwa gadis desa sepertinya, memiliki lekuk tubuh indah, dambaan setiap lelaki. Sejak kecil, ia telah terbiasa mengenakan pakaian longgar dan panjang. Sehingga bisa menutup tubuh indahnya itu.

Selama diperjalanan, tak ada percakapan apapun. Tristan tetap fokus pada jalan di depannya, dan Aruna memilih untuk menatap pemandangan melalui kaca jendela. Sesekali ia menggeser posisi duduknya yang mulai terasa tak nyaman.

"Ada apa? Mau mabok lagi?" Tanya Tristan tiba-tiba, membuat Runa terhenyak. Bingung sendiri mau menjawab apa.

Sementara pemuda yang tadi bersuara tak menoleh sama sekali, arah matanya tetap pada jalanan gelap karena minimnya penerangan jalan.

"Ah, e, tidak Juragan," Suara Runa terbata. Semakin membuat Tristan yakin, gadis itu pasti sudah tidak nyaman. Miris sekali hidupnya.

Apa sebelumnya juga seperti itu, sesederhana itu? Pikiran Tristan berkelana sendiri.

Keduanya tiba di pusat desa yang lebih ramai dari tempat lainnya. Ada toko cukup besar, ada beberapa warung makan, juga penjaja makanan malam, seperti roti bakar, martabak dan lainnya.

Tristan turun tanpa mengajak temannya, ia masuk pada salah satu warung makan yang terlihat banyak pengunjung di sana. Pria itu kembali tak peduli dengan gadis yang bersamanya sejak dari rumah.

Karena tak ingin kena marah lagi, Runa terpaksa turun. Ia melangkah ragu, pikirannya ada pada celana panjang yang dikenakan. Bagaimana nasibnya nanti, jika ada bercak merah lagi dan semua orang melihatnya.

la kebingungan mencari Tristan yang ternyata telah duduk di pojok ruangan.

Runa berjalan perlahan, melewati beberapa pengunjung yang menatapnya dengan sorot mata penuh tanya.

"Lama sekali!" Ketus Tristan, ketika Runa menyusul duduk di depannya.

Ia tak berani lagi menatap orang-orang tadi, Runa hanya menundukkan wajahnya. Hingga pelayan warung datang, dan menyodorkan dua piring sate madura. Persis seperti tulisan yang dipasang dengan spanduk berukuran besar di luar tadi.

Nasi putih menggunung, juga beberapa tusuk sate kambing yang selama ini ia tak begitu s**a. Runa memperhatikan sekeliling, mereka semua kembali asyik dengan piring masing-masing.

Pun dengan Tristan, pemuda itu jika sedang makan tak bisa di ganggu gugat.

Meski awalnya ia akan bicara, bahwa tidak s**a daging kambing, akhirnya dibatalkan.

Daripada membuat si Juragan itu melontarkan kata-kata pedas di tempat ramai begini, lebih baik ia memakan apa adanya.

Hanya dua tusuk saja yang masuk ke dalam perut, selebihnya, menjadi sasaran tatapan tajam dari Tristan.

"Kenapa disisakan?" Tanyanya.

Sebelum menjawab, Runa menoleh ke kanan dan kiri. Beberapa orang terdekat menoleh kearahnya, mungkin terusik dengan pasangan yang sejak tadi saling membisu. Sekali bicara seperti orang berdebat.

"Sudah kenyang, Juragan."

"Kenyang, katamu? Tadi sudah makan apa?" Tanya Tristan lagi, gadis itu menggeleng pasrah.

"Habiskan. Jangan s**a membuang makanan!" Titahnya lagi. Aruna mendelik tak percaya.

"Tapi, saya tidak s**a daging kambing, Juragan."

"Kenapa tadi diam saja!"

"Juragan tidak tanya."

Tristan mendengus, ia beranjak begitu saja menuju penjual sate dan membayarnya, lalu keluar warung.

Runa yang melihatnya kembali kesal, ia melangkah cepat menyusul Tristan di luar warung. Sebenarnya ingin sekali ia berkata-kata, tapi ketika melihat semua orang mengarahkan pandangan padanya, disertai bisik-bisik aneh, ia hanya bisa menahannya.

"Ke toko." Tristan menunjuk ke arah toko di seberang jalan, Runa membelalak, untuk sampai di sana harus melewati kerumunan orang-orang itu. Ia mengeleng.

"Saya tunggu di mobil saja, Juragan," Jawab runa terdengar parau, wajahnya pun terlihat memerah.

Ia menatap nanar kumpulan orang-orang yang menatap aneh kepadanya itu. Ketika hendak menjelaskan alasannya pada si juragan, ia kembali ternganga.

Juragan, membentangkan Blazer panjang yang tadi melekat di badannya, kini berada di depan wajah Aruna.

"Pakai ini."

*

( Pernikahan 90 Hari ) - Bersambung - BAB 16

Address

Jalan Utan Kayu No 6
East Jakarta
42276

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Catatan Kisahku posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category