17/01/2026
BAB 61
"Menyenangkan hati bagaimana maksud anda pak Marco?" tanya Ivana bingung.
"Nona telpon beliau dan katakan sesuatu padanya nona! Saya mohon!" kata Marco setengah berbisik pada bu Presdirnya itu. Ia percaya bahwa saat ini Ivana lah yang bisa menyelamatkannya dan semua orang.
"Jelaskan padaku ada masalah apa sebenarnya? Mengapa aku harus melakukan itu? Aku kan sedang marah padanya," ucap Ivana kesal. Ia bahkan tidak mengangkat panggilan telpon dari Edgar ataupun membalas pesannya. Sebab, ia masih kesal pada lelaki itu dan sekarang Marco memintanya bicara dengan Edgar. Tentu saja Ivana tidak mau.
Kini Marco tau alasannya mengapa Edgar bisa seperti ini, jadi ia melampiaskan rasa kesalnya pada semua karyawan petinggi perusahaan. Termasuk kepada dirinya juga. Parahnya lagi berakhir dengan pemecatan mereka!
"Nyonya Presdir saya mohon, kalau saya dipecat... bagaimana nasib ibu saya yang sedang sakit? Bagaimana nasib istri dan anak saya?"mohon seorang pria pada Ivana.
"Iya nyonya, lalu bagaimana dengan nasib anak-anak saya? Saya seorang single parent yang hanya bisa mengandalkan perusahaan ini, untuk bekerja di usia saya yang sudah memasuki 50 han!"
"Saya punya 5 adik yang masih harus saya nafkahi nyonya. Belum lagi istri dan anak-anak saya!"
Ivana mendengar semua keluhan-keluhan dari para karyawan itu, mereka merengek dan membuat hati Ivana tidak tega.
Namun, ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Kan bos mereka itu adalah Edgar, bukan dirinya. Lantas mengapa mereka memohon padanya? Bukan pada orang yang seharusnya.
"Nona, anda sudah mendengar apa yang dikatakan oleh mereka kan? Ayolah nona bantu kami." Marco berusaha membujuk
Ivana agar membantunya dan para karyawan lain yang terancam pensiun dini.
"Bantu apa? Bukankah kalian harusnya memohon pada pria itu. Kenapa jadi kepadaku? Aneh."
"Karena hanya nona yang bisa membolak-balikan hati pak presdir semudah membalikkan telapak tangan!" kata Marco meyakinkan.
"Ck, ya sudah. Aku harus apa?" tanya Ivana akhirnya.
Senyuman terbit di bibir Marco, "Tolong katakan sesuatu pada pak Presdir. Saya yakin hanya nona yang bisa membujuknya!" ucap Marco dengan cepat. Para karyawan lainnya pun mengangguk setuju.
"Haah...baiklah." Ivana menghela nafas pelan. "Berikan telpon pak Marco padanya. Aku akan bicara dengannya," ucap Ivana lagi.
Dengan senang hati Marco langsung masuk ke dalam ruangan Presdir dimana Edgar sedang memeriksa dokumen si manager keuangan. Pria didepan Edgar terlihat tegang, ia melirik ke arah Marco seolah meminta bantuan. Marco hanya menganggukkan kepala, lalu mendekati ke samping Edgar sambil memegang ponselnya yang masih terhubung dengan Ivana.
"Ada apa? Apa kau mau dipecat juga?" tanya Edgar dengan sinisnya dan mengancam Marco.
"Maaf Pak, saya tidak mau dipecat. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu," jawab Marco.
"Apa ini penting sampai kau harus masuk tanpa permisi, hah?" sentak Edgar emosi. Dan semua ucapannya terdengar oleh Ivana disebrang sana.
"Astaga dia benar-benar mau mematahkan rezeki orang ya?" gumam Ivana pelan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar suara Edgar yang marah-marah disebrang sana.
"Pak, tapi ini sangat penting. Nona muda menelpon!" kata Marco dengan cepat. Seketika Edgar pun terdiam sejenak, ia menatap wajah sekretarisnya itu dengan tajam. Marco menangkap ada rasa kecemburuan di mata Edgar padanya.
"Pak Presdir jangan salah paham, nona menelpon karena-" sebelum Marco menyelesaikan ucapannya, Edgar sudah lebih dulu mengambil ponsel Marco lalu meletakkan ponsel itu ketelinganya.
"Ada apa sweetheart? Kenapa kau baru menghubungiku? Apa-"
["Aku ingin waffle, susu murni dan ku ingin kau yang membelikannya! Satu lagi, aku juga mau kau harus segera pulang."] Ivana langsung menyela ucapan Edgar yang lembut itu.
"Baiklah sweetheart, aku akan segera pulang sekarang!" kata Edgar sambil tersenyum, ia merasa bahwa Ivana akan segera memaafkannya.
Melihat raut wajah Edgar yang garang berubah jadi lembut, membuat si manager keuangan terheran-heran. Sedangkan Marco senyum-senyum, karena rencananya meminta bantuan Ivana tidak sia-sia. Mood Edgar langsung berubah cepat. Telpon dari sang istri sudah mengubah hatinya.
"Terimakasih Nona muda, kami berhutang nyawa padamu' kata Marco dalam hatinya, berterimakasih pada Ivana.
[Hem, aku tunggu]
Setelah itu Ivana memutuskan telponnya begitu saja. Namun Edgar tidak marah, malah tersenyum. Kemudian ia buru-buru beranjak dari tempat duduknya.
"Pak, bagaimana dengan laporan saya?" tanya si manager keuangan.
"Revisi. Besok siang- berkasnya sudah harus ada di mejaku!" ujar Edgar kembali ke mode, datarnya.
"Ja-jadi saya tidak di-"
Marco langsung mengisyaratkan pada si manager keuangan untuk diam. Ia pun langsung diam seketika. Akan jadi masalah bila si manager keuangan bicara tentang pemecatan. Bisa-bisa ia dipecat sungguhan.
"Beritahu pada yang lain untuk merevisi laporan mereka dan mengumpulkannya besok!" titah Edgar pada Marco dan mendapatkan jawaban anggukan kepala darinya.
Setelah itu Edgar bergegas pergi meninggalkan perusahaan seorang diri. Ia tak sabar ingin mencarikan waffle dan susu murni untuk Ivana. Marco dan para karyawan lainnya melihat kepergian presdir mereka dengan perasaan lega.
"Syukurlah! Aku tidak jadi pensiun dini!"
"Aku juga Mr. Bradley kita selamat!" kelima karyawan dengan jabatan tinggi di kantor itu bersorak bahagia karena mereka tidak jadi dipecat.
"Terimakasih pak Marco!" kata mereka semua pada Marco yang juga tersenyum melihat kebahagiaan mereka.
"Tidak tidak. Jangan berterimakasih kepada saya tuan-tuan. Berterimakasih lah pada nona muda. Beliaulah yang sudah menolong saya dan tuan-tuan semua!" kata Marco dengan senyuman bahagia dibibirnya.
"Tentu saja. Kita harus berterimakasih pada nona Presdir kalau kita bertemu nanti. Dia sudah menyelamatkan nyawa kita," ucap seorang karyawan setuju dan dibenarkan oleh karyawan setuju yang lain.
Benar, orang yang harus mereka ucapkan terimakasih adalah nyonya Presdir yang bisa membuat seorang es kutub seperti Edgar mencair. Tidak ada pawang yang bisa seperti Ivana.
****
Di mansion Denvier malam itu.
Julia terlihat seperti sedang menyeduh sesuatu di dapur dan Nora melihatnya la memperhatikan Julia yang berada di sana.
Cukup lama ia memperhatikan Julia, akhirnya Nora menghampiri wanita itu.
"Hey Agatha? Kau belum tidur?" tanya Julia sambil tersenyum ramah pada Nora, tidak seperti biasanya.
"Nama saya Nora, nona."
"Oh maaf, aku sering lupa. Jadi kau Nora ya?" tanya Julia dan Nora menganggukkan kepalanya.
"Nona sedang buat apa?" Nora penasaran dengan yang dibuat Julia di dapur.
"Oh ini, aku sedang membuatkan susu untuk ibu mertuaku. Sepertinya dia belum meminum susunya," jelas Julia dengan ramah dan hal ini membuat Nora mencurigai ada sesuatu.
'Tumben sekali, tadi siang dia dan nona Ivana masih bertengkar. Kenapa sekarang tiba-tiba sikapnya seperti itu?' Nora menaruh rasa curiga pada Julia yang tiba-tiba baik.
****
BERSAMBUNG BAB 62