22/10/2025
“Bayangan di Jendela Waktu”
Di relung senja yang mulai membiru,
Kugenggam erat helai waktu yang lalu.
Wajahmu hadir, samar namun nyata,
Di kanvas hati yang tak lekang dimakan usia.
Ini rindu, bukan pinta untuk kembali,
Hanya desir sepi yang tak kunjung henti.
Kita adalah kisah yang pernah tercipta,
Namun takdir menuliskan alur yang berbeda.
Jalan kita bercabang, di persimpangan sunyi,
Kau dengan bahagiamu, aku dengan hari-hari.
Dinding-dinding kini berdiri kokoh memisah,
Dinding sumpah dan janji yang tak boleh musnah.
Bukan tiada ingin mendekap erat kembali,
Namun ada hati lain yang harus dijaga dari perih.
Mencintai dalam diam adalah pilihan yang bijak,
Agar tak ada air mata yang tumpah dan retak.
Karena memiliki kini berarti menghancurkan,
Sebuah harga yang terlalu mahal untuk dipertaruhkan.
Maka, biarlah rindu ini jadi rahasia abadi,
Terukir manis di pojok memori sepi.
Kusimpan rapat, sebagai bekal menguatkan diri,
Sebab kita tak mungkin bersama lagi di bumi ini.
Namun, di keheningan malam yang dalam,
Sebuah harapan kecil kurengkuh tanpa ragam.
Semoga di semesta yang lain, di waktu yang tak terjamah,
Ada 'kita' yang tak pernah berpisah.
Semoga ada versi lain dari kita yang bebas,
Menari riang dalam pelukan tanpa batas.
Biarlah kerinduan ini menjadi jembatan doa,
Menuju universe di mana kita, selamanya, bersama.