Karya Eeng Chan

Karya Eeng Chan Karya Orisinil Eeng Chan
Penulis Novel

Moza melangkah pelan menuju kamar Papanya, untuk meminjam pakaian. Setelah mengetvk dan mendapat izin masuk, ia menjelas...
21/01/2025

Moza melangkah pelan menuju kamar Papanya, untuk meminjam pakaian. Setelah mengetvk dan mendapat izin masuk, ia menjelaskan dengan sedikit tersenyum, “Pa, aku perlu pinjam pakaian… Diki tidak bawa ganti.”

Antares hanya mengangguk dan mengisyaratkan agar Moza memilih sendiri. “Ambil saja yang baru di lemari, banyak yang belum dipakai.”

“Terima kasih, Pa,” ucap Moza, segera memilih satu set pakaian yang terlihat nyaman dan cocok. Ia bergegas kembali ke kamarnya, membawa baju untuk Diki.

Sesampainya di kamar, matanya langsung tertumbuk pada sosok Diki yang baru saja keluar dari kam4r mandi. Rambutnya masih basah, tetesan air jatuh dari ujung rambut ke leher dan dad4 bidangnya yang pol0s. Mata Moza tak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan otot perut Diki yang tampak begitu jelas dan… mengg0da. Ia langsung tersadar, wajahnya memerah malu, dan cepat-cepat mengalihkan pandangan ke bawah.

Namun pandangan itu justru membuatnya tersenyum geli. Diki ternyata mengenakan h4nduk kecil berwarna pink yang ia tahu miliknya sendiri. Menahan tawa, Moza nyaris tersenyum lebar saat Diki menoleh ke arahnya, alisnya terangkat dengan ekspresi penuh tanya.

“Kenapa kamu menahan tawa?” tanya Diki, mengerutkan kening.

Moza cepat-cepat menutupi ekspresi geli di wajahnya dan menggeleng. “Tidak apa-apa cuma… ini pakaiannya.” Ia menyod0rkan baju yang ia bawa dari kamar ayahnya, berharap bisa segera menyudahi momen canggung ini.

Alih-alih menerima pakaian itu, Diki malah men4rik tangannya dengan tiba-tiba, membuat Moza terhuyung ke depan dan men4brak dadanya yang keras. Ia bisa merasakan kehangatan kulit Diki di bawah tangannya yang sekarang terhenti di dada pria itu.

P**i Moza semakin merah. Detak jantungnya semakin cepat, dan ia hanya bisa menunduk, tak berani menatap mata suaminya yang menatapnya intens.

Diki menatap wajah Moza dengan sorot mata yang intens, tak menyembunyikan kekagumannya. Wajah Moza memang terlalu cantik, pikirnya. Tidak heran Farhan dulu sempat terg0da dan sulit melupakan wanita ini. Pikirannya membuat dada Diki terasa sedikit sesak, sekaligus kesal. Segera ia tep*s pemikiran itu

Tatapan Diki yang begitu taj4m membuat Moza gelisah. Ia merasa salah tingkah, apalagi ketika Diki semakin mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Moza. Ia berusaha melepaskan diri, tapi genggaman Diki di lengannya kuat.

“Diki, lepaskan…,” bisik Moza, suaranya setengah berget4r. Ia mulai meront4, berusaha ker4s melepaskan diri dari gengg4man suaminya.

Namun Diki tidak menyer4h begitu saja, ia mengeratkan pegangannya, memandang Moza lebih dalam seolah ingin menembus setiap lap*s pertahanan yang ia bangun. “Kenapa? Kamu t4kut?” bisik Diki pelan, namun suaranya terdengar penuh arti.

Moza hanya bisa menunduk, semakin tidak nyaman dengan kedekatan ini. Tangannya masih berusaha melonggarkan genggaman Diki, dan ketika ia melihat keraguan di mata Moza, hati Diki akhirnya luluh. Dengan helaan napas berat, ia perlahan-lahan melepaskan genggamannya, membiarkan Moza menjauh.

Setelah mendapatkan kembali ruangnya, Moza segera menarik napas lega. Matanya menatap Diki dengan sedikit gugup, lalu ia berkata, “Aku… aku ingin bicara soal pernikahan kita.”

Diki mengangguk, menenangkan dirinya dan mengisyaratkan agar Moza melanjutkan. “Baiklah, apa yang mau kamu bicarakan?”

Moza berjalan ke sisi ranjang, membuka laci nakas dan mengeluarkan sebuah dokumen. Wajah Diki meneg4ng, sorot matanya berubah bingung melihat tindakan Moza.

Perlahan, Moza mengulurkan dokumen itu ke arah Diki, tangannya sedikit bergetar. Diki memandangnya, masih penuh tanda tanya, bertanya-tanya apa maksud Moza membawa dokumen ini di tengah percakapan serius tentang pernikahan mereka.

"Ini apa?" tanya Diki usai menerima sebuah dokumen dari istrinya.

"Bacalah," titah Moza.

"Aku malas baca."

Moza menghela napas berat. "Itu surat perjanjian pernikahan."

Jawaban Moza membuat raut wajah Diki berubah. Mata yang semula menatap istrinya dengan tenang, kini berubah taj4m.

"Untuk apa?!" tukas Diki raut wajahnya terlihat dingin membuat Moza merasa gugup.

"Kenapa kamu harus bertanya? Seharusnya kamu pun tahu jawabannya. Kita menikah bukan karena cinta. Kamupun terpaksa menerima tawaran papamu untuk menggantikan Alvian menikah denganku kan," terang Moza.

"Jadi, karena kamu masih mengharapkan Alvian?" tuntut Diki.

"Bukan!" Moza dengan cepat menjawab. "Sudah ku katakan karena kita terpaksa. Kita menikah bukan karena cinta. Aku tidak ingin mengikatmu dalam ikatan yang tak pasti bersamaku. Hidup bersama orang yang tidak diharapkan terlebih yang dibenci itu tidak akan membuatmu nyaman."

"Siapa yang benci?"

"Kamu." Moza menjawab dengan cepat membuat Diki menatapnya heran. "Kamu itu kan benci sama aku kan? Karena aku ini perempuan yang hampir merusak rumah tangga perempuan yang kamu cintai itu. Makanya aku menawarkan perjanjian ini karena aku tahu isi hati kamu. Ayolah, kamu hanya cukup tanda tangan," sambungnya mendes4k.

Diki menatap Moza dengan taj4m dan menusuk, sebelum kemudian menjawab, "aku tidak mau!"

Moza terkejut mendengarnya.

___

SILAHKAN BACA DI APLIKASI KBM APP

JUDUL : DILAMAR ADIKNYA, DINIKAHI KAKAKNYA

PENULIS: LENTERA JINGGA

Username penulis: Lentera_Jingga

Link cerita ⬇️
https://read.kbm.id/book/detail/f3ae0d32-774e-4b6a-827c-0db7526b591e?af=2c272f4d-0c7e-4c4e-b744-4a5a7ba84ffa

DIAM-DIAM KUH4NCURKAN USAHA SUAMIKU YANG SUPER P3LIT - 6PENULIS : VANESSA NESA LTF“Mas, tepung sagunya nggak bisa diadon...
20/01/2025

DIAM-DIAM KUH4NCURKAN USAHA SUAMIKU YANG SUPER P3LIT - 6

PENULIS : VANESSA NESA LTF

“Mas, tepung sagunya nggak bisa diadon! Selain menggumpal, tepungnya juga mengeluarkan bau busuk! Bagaimana ini Mas?”

Aku yang sedang menyuapi Amanda di teras samping rumah mendengar Cucun salah seorang karyawan Mas Farhan mengadukan kendala yang terjadi saat proses pembuatan kerupuk. Tangan lelaki itu terlihat putih karena belepotan tepung sagu.

“Ada masalah apa lagi sih, Cun? Kalau tepung sagunya nggak bisa dipakai, ya, ambil yang di karung lainnya. Mungkin tepung yang sudah terlanjur kamu pakai itu sudah kadaluarsa. Biar nanti aku komplain sama Ko Aseng, soal tepung yang kadaluarsa itu.” Mas Farhan yang sedang asyik menikmati kopi tanpa gula, karena alasan kesehatan, terlihat kaget dan kesal dengan kedatangan Cucun yang tiba-tiba. Kulirik sekilas lelaki itu mengernyitkan dahinya saat menatap Cucun berjalan menghampirinya.

Aku pun ikut-ikutan kaget.

“Maaf, Mas … kalau itu sih sudah saya lakukan.” Cucun menyeka keringat yang mengucur deras di sela anak rambutnya.

“Lalu ada apa lagi, Cun? Masa sih, persoalan sepele seperti itu kamu nggak bisa nangani? Percuma kamu karyawanku yang paling lama kalau menghadapi tepung sagu yang nggak bisa diadon saja sudah panik.” Mas Farhan terlihat geleng-geleng kepala saat mengatakan itu pada Cucun.

“Heemm, tapi ternyata sama saja Mas!"

“Sama saja bagaimana, maksud kamu, Cun?” Kini Mas Farhan meninggikan nada suaranya sambil bangkit dari tempat duduknya.

Aku terus menyimak percakapan keduanya, sambil terus menyuapi Amanda.

“Semua tepung-tepung yang ada di dalam gudang ternyata semuanya sama dengan tepung yang ada di karung pertama. Semuanya nggak bisa diadon dan berbau busuk. Uweeekkk! Saya dan teman-teman yang lainnya sampai mau muntah mencium baunya.” Cucun tampak bersemangat sekali memberi penjelasan pada Mas Farhan.

Kulirik raut muka suamiku yang menampilkan ekspresi campur aduk. Yang pasti otaknya langsung memperhitungkan nominal kerugian yang dialaminya saat ini.

“Kebangkrutanmu sudah dekat Mas!” desisku sambil tersenyum tip*s, setip*s kesabarannya ku saat ini menerima perlakukannya padaku.

“Cun, kamu jangan mengada-ada! Tepung-tepung itu baru beberapa hari kubeli di toko sembako Ko Aseng. Dengan kamu kan aku belinya, jadi mana mungkin bisa rusak seperti itu?” Dalam kekalutannya, lelaki yang selalu membuatku sakit hati ini berusaha tak mempercayai keterangan yang disampaikan oleh karyawannya tersebut. Tapi, rasa ketakutan tak dapat disembunyikan dari wajahnya yang menurutku lumayan tampan itu.

“Akh, kasihan deh kamu Mas!” ejekku dalam hati, sambil tertawa diam-diam.

“Saya tidak mengada-ngada Mas. Mana berani saya berbohong, Mas. Kalau Mas tidak percaya ayo ikut saya untuk melihat tepung-tepung itu!” Tak terima dituduh berbohong, Cucun akhirnya mengajak Mas Farhan ke gudang untuk melihat tepung-tepung yang dimaksud.

Tanpa menjawab, Mas Farhan pun menerima ajakkan karyawannya tersebut.

“Ada untungnya juga dia tak mau memasang CCTV, jadi dia tak dapat mengetahui siapa yang telah menyebabkan tepung-tepung itu rusak dan tidak dapat diolah menjadi kerupuk! Haaa … haaa … haaa … makanya jadi suami jangan kikir sama istri dan anak! Kapok kan! Hitung saja kerugian-kerugianmu Mas!” Puas rasanya bisa membuat suamiku panik dan membuatnya kembali merugi.

Jahatkah aku? Aku rasa tidak, karena suami seperti dia memang pantas mendapatkan ganjaran yang belum seberapa ini.

Tak lama kemudian …

“Ayo, Cun, sekarang juga temani aku ke toko sembakonya Ko Aseng! Aku mau minta ganti rugi padanya karena telah menjual tepung sagu yang sudah tak layak konsumsi. Enak saja dia mau mengambil keuntungan dengan cara curang seperti ini! Bawa satu karung tepung sagu itu, biar sebagai bukti. Selebihnya video kan saja!” Mas Farhan kulihat keluar dari pintu samping. Dengan berapi-api dia mengenakan jaketnya, dan di belakangnya ada Cucun yang mengekornya dengan tangan yang masih belepotan tepung sagu.

“Okey, Mas!” ucap Cucun siaga

“Kamu mau kemana, Nak?” Tiba-tiba muncul mertuaku mengejar langkah putra kebanggaannya itu dengan sikapnya yang tak kalah panik.

“Ke toko Ko Aseng, Bu. Tepung-tepung yang dijualnya padaku sudah tak layak konsumsi. Tepungnya menggumpal dan bau busuk. Ko Aseng sudah menipuku. Aku harus minta ganti rugi padanya. Banyak kerugian yang sudah kutunggu karena ulahnya. Yang pasti rugi materi dan waktu. Seharusnya karyawanku sudah bisa memulai produksi kerupuk untuk hari ini, tapi terpaksa tertunda gara-gara kelicikannya!” Mas Farhan menghentikan langkahnya dan menjelaskan pada sang ibu apa yang terjadi.

“Loh, kok, bisa?” tanya perempuan tua itu. Dahinya terlihat berkerut dan alis saling bertautan.

“Itulah yang aku heran, Bu!”

Beberapa menit kemudian, Mas Farhan dan Cucun pun pergi menuju ke Toko Ko Aseng, toko langganan Mas Farhan berbelanja tepung dan bahan lainnya untuk membuat kerupuk.

“Pasti ini ada yang tak beres! Mustahil Ko Aseng melakukan kecurangan seperti itu. Karena selama ini dia tak pernah melakukan hal seperti itu. Aku harus cari tahu siapa yang telah melakukan ini!” kecam mertuaku sepeninggal Mas Farhan dan Cucun.

Dia tak melihat keberadaanku yang saat ini berada di halaman samping bersama Amanda yang sudah terlelap di pangkuanku.

“Aku harus lebih berhati-hati lagi melakukan aksi ku selanjutnya, sebelum aksi puncak, yaitu menutup semua akses bisnisnya! Mas tunggu aksi selanjutnya dari istrimu yang selama ini kau anggap bodoh dan seenaknya saja kau tindas!” Aku tersenyum sinis mengarahkan pandangan pada mertuaku yang terlihat hendak masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.

***

“Apa kata Ko Aseng?”

“Ko Aseng berkeras mengatakan bahwa tepung-tepung yang diberikannya padaku beberapa hari lalu semuanya dalam kondisi bagus.”

“Huuuhh, enak saja dia! Lalu kamu percaya begitu saja dengan omongan dia?”

Aku yang sedang menjemur pakaian tak sengaja mendengar pembicaraan ibu dan anak itu.

“Ya, mau bagaimana lagi, Bu. Karena Ko Aseng akhirnya mengancam akan melaporkan aku ke pihak yang berwajib kalau terus terusan menuduhnya telah menjual tepung yang sudah tak layak konsumsi. Katanya aku akan dilaporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik.”

“Rasain kamu Mas! Untung banyak kan aku, Mas!” batinku. Tanganku semakin gesit melakukan pekerjaanku, aku ingin pekerjaan ini segera selesai, karena ada misi baru yang akan kulakukan.

“Kupastikan misi ketigaku ini akan membuatmu jantungan Mas.”

Bersambung ...

Next kilat langsung ke KBM App yahttps://kbm.id/book/detail/67c32430-416a-41e2-93ce-87a0eef46f52

Siapa wanita itu, apa dia akan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga ku, seperti yang ku baca dalam novel?****Alvaro m...
20/01/2025

Siapa wanita itu, apa dia akan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga ku, seperti yang ku baca dalam novel?

****

Alvaro memang sedikit terkejut menyaksikan Bunga masuk seperti orang ketakutan. “Ada apa? Kamu terlihat seperti sedang dikejar harimau.” Alvaro berdiri dari kursi kerjanya.

“Mereka datang, tapi tidak bersedia diantar ke ruang meeting, Pak,” ungkap Bunga. Bunga tahu kalau informasi yang dibawanya mungkin akan berisiko dimarahi Alvaro. Bunga tahu dari Leo kalau Alvaro tidak s**a ada orang lain mengacaukan jadwalnya.

‘Mereka menolak? Sombong sekali,’ batin Alvaro. Saat itu juga sebenarnya Alvaro ingin membatalkan kerjasama dengan agensi model yang sudah membuat perjanjian dengannya kemarin. Tapi rasanya itu akan merugikan perusahaan. Di perjanjian kemarin jelas tertulis kalau ada pembatalan, maka tidak akan ada pengembalian pembayaran, dan Alvaro kemarin sudah setuju.

“Apa yang sebenarnya mereka inginkan?” tanya Alvaro.

“Jadi, apakah aku harus membujuk mereka ke ruang meeting atau membiarkan mereka masuk, Pak?” tanya Bunga.

“Panggil mereka, kemudian kamu kembali kesini, dan pegang buku catatanmu. Aku ingin kamu mendengarkan dan membuat notulen semua pembicaraan mereka denganku,” ujar Alvaro.

Dengan tangkas Bunga berbalik menuju ke pintu. Dia mempersilahkan kedua orang perempuan yang sedang menanti itu untuk masuk ke dalam ruangan Alvaro. Bunga juga menyambar buku catatannya yang ada di atas meja, lengkap dengan alat tulis. Bunga kembali tergopoh membukakan pintu untuk kedua tamu tersebut.

Perempuan paruh baya bernama Sarah dan Alexa, sang model yang telah resmi menjadi ambassador itu langsung melenggang masuk, melewati pintu yang dibukakan Bunga.

Bunga baru saja menutup pintu ketika dia menatap Alvaro yang berdiri mematung melihat kedua perempuan itu. Lebih tepatnya pada Sarah. Ada perasaan dalam diri Alvaro kalau dia pernah bertemu perempuan itu, namun Alvaro tidak bisa mengingatnya.

“Dengan Tuan Alvaro Lorenz? Saya Sarah Harsana.” Perempuan paruh baya nan elegan itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alvaro.

“Benar, saya Alvaro Lorenz.” Alvaro seperti kehilangan kata-katanya ketika perempuan itu menyalaminya sambil tersenyum lebar. Senyuman itu pun terasa dikenalnya.

“Aku komisaris di Starship Agency yang bekerja sama dengan perusahaan ini,” ucap Sarah. Alvaro langsung mempersilahkan perempuan itu untuk duduk di sofa yang ada pada ruang kerjanya. Dia sama sekali tidak melirik pada Alexa, model cantik yang juga mengajak Alvaro berjabat tangan.

“Kemarin Bapak mungkin sudah bertemu dengan Ferdy, wakil dari perusahaan kami,” ucap perempuan itu. Alvaro mengangguk pelan, rasa penasaran mengenai siapa wanita itu dan kepentingannya datang masih berputar-putar di kepala Alvaro.

“Apakah ada masalah dengan itu?” tanya Alvaro. Dia juga sudah mempersiapkan draft kontrak kerja yang sudah ditandatangani kemarin.

“Tidak, tidak ada permasalahan khusus. Maksud kedatangan saya kemari hanya untuk memastikan, kalau sebenarnya ada tambahan biaya akomodasi untuk model kami yang sedang dipekerjakan.” Sarah mulai memberi tahu kepentingannya datang menemui Alvaro secara langsung. Sarah lalu menyampaikan kalau dia menginginkan rumah dan juga mobil yang menjadi fasilitas untuk model dari perusahaan milik Alvaro.

“Tidak mungkin, kami sudah membayar semua biaya yang termasuk di dalam pembayaran kontrak kerjasama,” ujar Alvaro. Dia membaca kembali kontrak yang ditandatanganinya kemarin.

“Ini hanya sekedar fasilitas, Pak. Hanya untuk model kami selama menjadi ambassador di perusahaan milik Bapak.” Mata perempuan itu tampak tajam. Cara berbicaranya juga terdengar lugas.

Sejenak Bunga yakin kalau Alvaro tidak akan menerima tawaran itu. Tidak mungkin Alvaro bersedia dengan perjanjian yang terkesan seperti sedang mengakali perusahaannya.

“Baiklah, tidak masalah,” jawab Alvaro. Bunga terkejut di dalam hati. Namun, dia menahan segala reaksinya. Ini tentu saja tidak sesuai dengan apa yang dikatakan Leo padanya. Leo selalu mengatakan kalau Alvaro tidak akan semudah itu menuruti segala keinginan orang lain, apalagi kalau tidak sesuai dengan perjanjian yang dibuat dengannya.

Bunga ingin sekali mempertanyakan hal itu pada Alvaro. Juga mempertanyakan pandangan mata Alvaro yang terasa berbeda pada perempuan itu. Tapi, Bunga merasa tidak mungkin siang ini, terlebih ketika sedang berada di kantor. Alvaro pasti tidak akan menganggap Bunga, untuk apa sekretarisnya bertanya hal seperti itu.

Setelah kedua perempuan itu pergi, Alvaro terdiam. “Siapkan apa yang mereka minta tadi,” pintanya pada Bunga. Bunga mengangguk, dia hanya memperhatikan alvaro. Alvaro tidak berkata apapun padanya, melainkan berbalik dan menatap ke jendela yang ada di ruangannya.

Alvaro berjalan menuju jendela tersebut, dia menatap ke bawah, ke area parkir. Alvaro masih tertarik pada perempuan yang baru saja dilihatnya. Ada perasaan misterius yang sangat tidak asing terasa di dalam batinnya pada perempuan paruh baya bernama Sarah itu.

“A-apa Bapak baik-baik saja?” tanya Bunga. Alvaro bahkan tidak menjawab pertanyaan Bunga dengan segera. Dia masih mengamati kedua perempuan itu naik ke atas mobil.

Judul : Terpaksa Menikahi Boss Sendiri
Penulis : Lala (Khaira04)
KBMapp

Diki melangkah keluar dari rumah sakit, malam semakin larut, dan pikirannya berkecamuk. Pernikahan yang baru saja terjad...
20/01/2025

Diki melangkah keluar dari rumah sakit, malam semakin larut, dan pikirannya berkecamuk. Pernikahan yang baru saja terjadi terasa janggal baginya. Ia yang terbiasa apa-apa semaunya, kini merasa situasi ini begitu berbeda. Dalam keraguannya sejenak, ia memutuskan kembali ke hotel tempat resepsi berlangsung. Mungkin Moza masih di sana.

Setibanya di hotel, ia berjalan ke meja resepsionis.

"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis, tampak terkejut dengan kehadirannya lagi.

"Apakah istri saya masih di sini? Namanya Moza Wijaya." Suaranya datar, tanpa menunjukkan rasa khawatir.

Resepsionis itu tersenyum tip*s. "Nona Moza pulang setelah acara selesai, Pak."

Diki hanya mengangguk kecil, lalu melangkah keluar tanpa menanggapi lebih lanjut. Hatinya terasa semakin berat, ia merasa semua yang terjadi begitu mengejutkan dirinya. Bagaimana mungkin dalam sekejap ia tiba-tiba statusnya berubah menjadi seorang suami.

Dan ia menikahi seorang perempuan yang merupakan calon adik iparnya. Lebih mengejutkannya lagi perempuan itu adalah perempuan yang pernah mempor4k-por4ndakan rumah tangga sahabat kecilnya. Bagaimana ia harus mengambil sikap?

Mengenyahkan pikirannya, ia lebih memilih kembali masuk ke mobil, dan mengarahkannya ke rumah Moza.

Sesampainya di rumah, penjaga membuka pintu dengan hormat. Diki melangkah masuk dengan langkah tenang.

"Assalamualaikum, Om." Diki menyapa Papa mertuanya yang saat itu masih terjaga di ruang tamu.

"Walaikumsalam... Oh Diki." Antares menyambutnya dengan hangat. "Moza sudah di kamarnya, Diki. Lantai dua belok kanan ys," sambungnya kemudian.

Diki mengangguk sopan, lalu tanpa berkata-kata, ia naik ke lantai dua. Saat tiba di depan kamar Moza, ia membuka pintu dengan perlahan. Kegelapan memenuhi ruangan, hanya terdengar hembusan napas Moza yang teratur.

Namun, ketika kakinya menggesek lantai, suara kecil itu membangunkan Moza. Refleks, Moza mel0mpat dari tempat tidur dan menyer4ng tanpa berpikir.

Bugh! Bugh! Bugh!

"Siapa kamu?! Mau m4ling, ya?!"

Sebelum Diki bisa menjelaskan, pukvlan bertubi-tubi mendarat di tubuhnya. Dia tidak bergerak, hanya mengangkat tangan untuk menahan beberapa pukvlan.

"Moza, ini aku... Diki," katanya dengan tenang, meski sedikit menahan rasa s4kit.

Moza terdiam, lalu buru-buru menyalakan lampu. Wajahnya berubah mer4h saat menyadari kesal4hannya. "Ya ampun... maaf, aku kira kamu pencvri."

Diki menatapnya dingin, lalu menggelengkan kepalanya heran. "Dasar aneh. Rumahmu ini dikelilingi penjaga. Mana ada m4ling!" omelnya.

Moza tertunduk malu, merasa bersalah. "Maaf, aku lupa."

Diki tidak merespon permintaan maaf itu secara langsung. Ia hanya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang saat ini sudah terang. "Kenapa lampunya dim4tikan?"

Moza mengangkat bahu ringan. "Aku lebih s**a gelap. Lebih tenang."

Diki memandangnya sejenak, lalu tanpa peringatan, matanya tertuju pada bekas air mata yang masih mengering di wajah Moza. "Kamu habis menangis?" tanyanya ingin tahu. "Nangisin Alvian?" sambungnya kemudian setengah mencibir.

Moza men99igit bibirnya, matanya berkilat dengan kemarahan yang tertahan. "Bisakah kamu tidak menyebut nama pria itu?" suaranya ketus, tatapannya taj4m menembus Diki.

Diki tidak bereaksi. Hanya sebuah anggukan kecil. "Oke," ucapnya datar. "Aku tadi sempat mencarimu di hotel, tapi ternyata kau sudah pergi," sambungnya kemudian.

Moza mende s4h. "Kenapa tidak telepon saja?"

"Aku tidak memiliki nomor ponselmu," ucapnya.

"Oh iya aku lupa." Moza memilih memundurkan kakinya dan kembali duduk di pinggir ranj4ng. Ia menunduk, wajahnya sedikit memer4h.

Diki mengus4p tengkuknya, tiba-tiba terasa canggung. "Aku baru pulang kerja. Sebenarnya ingin membersihkan diri, tapi aku tidak memiliki pakaian ganti."

Moza yang mendengarnya langsung mengangkat wajahnya menatap sang suami. "Kalau kamu mau aku bisa carikan pakaian Papa."

Diki mengangguk pelan, tampak berpikir sejenak. "Boleh."

"Tunggu di sini." Moza beranjak hendak keluar, namun sebelum ia sempat mencapai pintu, Diki dengan cepat meraih pergelangan tangannya. Sentuh4nnya lembut, tapi tegas.

"Moza," panggilnya membuat langkah Moza terhenti dengan rasa terkejut. "Kamu mau keluar dengan pakaian seperti itu?"

Moza menunduk, baru menyadari bahwa ia hanya mengenakan g4un tidur ti p*s. Ia mengangkat bahu, merasa biasa saja. "Tidak apa-apa."

Diki menatapnya taj4m, tanpa sepatah kata, ia mengambil kimono yang tergantung di kursi. Dengan gerakan perlahan, ia menyampirkannya di bahu Moza, gerakannya begitu hati-hati namun pasti. Sentuhannya dingin tapi penuh perhatian.

"Jangan keluar seperti ini. Sekarang kau istriku," ucapnya, suaranya tegas namun tenang, seolah ia sudah membuat aturan yang tak bisa diganggu gugat.

Tatapan mereka bertemu dalam keheningan yang mendalam, masing-masing menangkap kerlip hang4t di mata satu sama lain.

P**i Moza bersemu, dan ia sejenak menahan napas. Jarak yang dekat membuatnya merasa gugup, tetapi ia tetap berdiri di tempat, terpaku dalam momen yang begitu int1m dan asing baginya. "Sekarang, kamu bisa keluar," katanya pelan.

Moza menel4n lvdah, perasaannya campur aduk, namun ia hanya mengangguk kecil, masih tersipu malu.

Begitu menutup pintu Moza berkali-kali menarik napasnya berusaha mengontrol perasaannya yang semula terasa gugup. "Kok begini ya? Ah sudahlah..."

____

SILAHKAN BACA DI APLIKASI KBM APP
JUDUL: DILAMAR ADIKNYA, DINIKAHI KAKAKNYA
PENULIS: LENTERA JINGGA

Link cerita ⬇️
https://read.kbm.id/book/detail/f3ae0d32-774e-4b6a-827c-0db7526b591e?af=2c272f4d-0c7e-4c4e-b744-4a5a7ba84ffa

DIAM-DIAM KUH4NCURKAN USAHA SUAMIKU YANG SUPER PELIT - 4Penulis: Vanessa Nesa LTFDi sebuah ruangan yang sangat sederhana...
19/01/2025

DIAM-DIAM KUH4NCURKAN USAHA SUAMIKU YANG SUPER PELIT - 4

Penulis: Vanessa Nesa LTF

Di sebuah ruangan yang sangat sederhana ...

“Ini uang hasil penjualan tanah warisan Bapak!” Mas Dirman menyerahkan amplop besar yang isinya uang hasil penjualan tanah warisan almarhum bapak di atas meja rotan yang ada di hadapan kami.

“Bagi saja sesuai hukum agama kita, Le!” ucap ibu pada putra sulungnya itu.

“Baik lah, Bu. Soal ini aku sudah tanyakan pada Ustadz Abu. Dan uangnya tinggal kita hitung sama-sama. Aku sudah buat catatan untuk memudahkan kita menghitungnya.” Kakakku yang sangat bijaksana ini menatap kami satu persatu, mulai dari ibu, aku dan Mas Seno, kakakku yang nomor dua.

“Ya, sudah kalau gitu, kalian saja yang menghitungnya. Ibu mau ke belakang dulu. Ibu kangen sama cucu-cucu ibu.” Dengan gerakan lambat ibu bangkit dari kursi tempatnya duduk, kemudian berlalu menuju ke ruang belakang rumah, yang merupakan rumah miliknya bersama bapak, rumah dimana aku bersama kedua saudaraku dibesarkan, yang selama ini ditempati oleh Mas Dirman bersama istri dan kelima anak-anaknya.

Sepeninggal ibu, kami pun mulai menghitung uang tersebut.

Pembagian cukup adil sesuai syariat islam. Jadi, tak ada yang merasa dirugikan.

Tanah warisan kedua orang tua kami yang cukup luas membuat kami masing-masing mendapat bagian yang cukup besar.

"Mas ingin membeli mobil yang akan Mas jadikan ladang rezeki. Mobil itu akan Mas buat angkutan travel yang akan mengantarkan orang-orang yang ingin ke kota." Mas Dirman mengutarakan niatnya atas uang warisan tersebut.

"Aku mau membeli tanah di tepi jalan, untuk membuka usaha bengkel dan cucian motor dan mobil." Mas Seno tak mau ketinggalan.

Aku bahagia sekali mendengar niat baik mereka tersebut, sebab selama ini kedua saudara laki-lakiku itu tak punya pekerjaan tetap yang membuat hidup mereka sangat memprihatinkan dan sering menjadi bahan olok-olokan suamiku dan keluarga besarnya.

"Semoga apa yang Mas Dirman dan Mas Seno cita-citakan bisa berjalan lancar dan terwujud dengan baik!" doaku untuk keduanya.

Keesokan harinya …

“Mbak Nah, Mas Pono mana?”

“Eh, kamu toh, Mida. Udah lama banget kamu ndak pulang kampung, sekalinya pulang kok, kurus dan wajahmu kelihatan lebih tua dari usiamu, Da? Heemm, maaf loh, kalau kamu tersinggung.” Mbak Minah yang merupakan tetangga kami itu memang terkenal dengan mulut embernya. Jadi, aku maklum saja dan tak sakit hati dengan ocehannya barusan. Apa lagi aku baru saja menerima uang warisan dalam jumlah yang cukup besar, jadi mana mungkin hatiku tersakiti hanya karena mulut perempuan ini.

“Ya ndak masalah Mbak. Santai aja! Aku kesini pengen ketemu Mas Pono,” ucapku tenang.

“Oh, Mas Pono ada di dalam, Da. Ayo masuk! Eh, ibumu apa kabarnya?”

Sambil berjalan masuk ke dalam rumah Mbak Minah kami sempat terlibat obrolan ringan.

Sesampainya di dalam, aku langsung bertemu dengan Mas Pono yang tak lain adalah suami Mbak Minah.

“Jadi, sekarang Mas lagi nganggur?”

“Iya, Da. Belum dapet borongan lagi. Udah hampir sebulan Mas nganggur.” Wajah lelaki yang usianya tak jauh beda dengan Mas Dirman ini terlihat sedih saat menjawab pertanyaanku.

“Mas mu ini mancing ikan di sungai sembari nunggu dapet borongan, Da. Lumayan lah untuk lauk makan.” Mbak Minah ikut menimpali.

Aku jadi ikut sedih mendengar ucapan Mbak Minah barusan. Sebagai orang yang dulunya pernah dekat dengan kedua orang ini membuatku tak bisa mengelak untuk tak merasakan kesulitan yang sedang mereka rasakan. Tapi, sejujurnya inilah yang aku tunggu. Loh? Inilah yang kutunggu.

“Mbak, Mas, aku kesini mau ngajakin kalian ikut bekerja denganku. Bagaimana, apa Mbak dan Mas mau?” Tanpa berlama-lama, aku langsung mengutarakan maksudku pada pasangan suami istri tersebut.

“Kerja? Memangnya kerja apa, Da?” Mata Mas Pono yang semula redup, kini mulai terlihat berbinar-binar. Aku senang melihatnya seperti itu.

Pelan-pelan ku jelaskan pada pasangan suami istri itu pekerjaan yang bakal kuberikan pada mereka.

Setelah mendengar penjelasan dariku, mereka pun langsung mengiyakan tawaranku itu dengan penuh semangat.

“Ini uang untuk ongkos ke daerah tempat tinggalku. Kalau kalian sudah sampai di sana langsung hubungi nomorku, ya. Rumah dan segala sesuatunya akan kusiapkan. Pokoknya Mbak dan Mas tahu beres saja.” Kuserahkan uang untuk ongkos keduanya menuju ke daerah tempat tinggalku. Mereka yang hanya memiliki dua orang anak, dimana keduanya sudah dewasa, membuat mereka tak sulit memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan dari ku dan permintaanku agar mereka tinggal di daerah di sekitar tempat tinggalku.

“Terima kasih, Da.” Mbak Minah menerima uang itu dengan mata berkaca-kaca, karena tak menyangka kalau kedatanganku ini membawa berita bahagia untuk mereka yang selama ini bergantung dari upah bekerja Mas Pono sebagai buruh bangunan.

“Sama-sama Mbak. Ya sudah kalau gitu aku pamit dulu, karena hari ini juga aku mau pulang Mbak.”

“Loh, kok, terburu-buru amat, sih, Da?'’ tanya Mbak Minah keheranan, karena setahunya baru kemarin aku menjejakkan kaki di kampung ini, tapi hari ini sudah mau pulang saja.

“Ya, Mbak … di sana banyak urusan yang harus diselesaikan secepatnya.” Setelah basa basi sebentar aku pun pamit.

Dan, sore harinya aku langsung mengajak ibu dan dua anakku pulang. Sebelum sampai di rumah aku mengajak mereka ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli perhiasan emas dan baju baru. Sengaja aku melakukan hal itu agar saat tiba di rumah nanti, penampilan kami benar-benar berubah, tak lagi menjadi bahan olok-olokan suami dan keluarganya.

Langsung kuminta pada ketiganya untuk menukar baju yang mereka pakai dengan baju yang baru kubeli, aku pun melakukan hal yang sama. Tak lupa, kukenakan perhiasan emas yang juga baru kubeli yang kuberikan juga pada ibu untuk dikenakannya.

Setelah itu barulah aku kembali mengajak ketiganya melanjutkan perjalanan agar bisa segera sampai di rumah. Aku tak ingin membuang waktu sedikitpun agar dapat segera menjalankan rencanaku yang sudah bulat ingin membuat usaha suami kikirku hancur. Tentunya dengan cara yang rapi dan apik.

***

“Loh, kok, kamu sudah pulang, Da? Pasti kalian kelaparan di sana kan?” Sesampainya di rumah, aku langsung di sambut oleh Mas Farhan dengan ocehannya yang menurutku sangat receh dan sangat memuakkan. Dia mengejekku dan ibu, tanpa menatap kami. Tadi dia hanya melihat kami dari kejauhan saat melangkah masuk di halaman rumah sesaat turun dari angkot.

“Ayaaahhh, lihat aku dan adik pakai baju baru! Baju kami yang jelek udah dibuang ibu ke comberan tadi.”

“Hhuuffftt, dasar bocah. Tapi patenlah, jadi aku tak perlu susah payah memulai promosi tentang penampilan baru kami itu yang kuyakin sangat memukau, pada lekaki kikir itu,” bisikku, sambil tertawa geli dalam hati melihat kepolosan putra sulungku yang baru berusia tujuh tahun itu. Mataku menatap tajam pada lekaki tersebut, ingin tahu reaksinya saat melihat penampilan baru kami ini.

"Loh kok?"

Bersambung ...
Next kilat langsung ke KBM app ya kaka-kaka 🙏😍😘🥰

L ink ada di kolom komentar👇👇👇https://kbm.id/book/detail/67c32430-416a-41e2-93ce-87a0eef46f52

Kabar Max mendatangi rumah Jesslyn dan mendapatkan penganiayaan dari pemilik rumah, telah sampai ke telinga tuan besar Y...
21/04/2024

Kabar Max mendatangi rumah Jesslyn dan mendapatkan penganiayaan dari pemilik rumah, telah sampai ke telinga tuan besar Yan.

Jackson memaklumi apa yang Ron lakukan. Sebagai seorang ayah, wajar jika Ron ingin memberi pelajaran kepada pria yang telah menyakiti hati putri kesayangan.

Akan tetapi sikap Xavier yang membela Max lah yang membuat tuan besar Yan geram. Putranya itu tidak pantas dibela dan mendapat dukungan, setelah apa yang sudah dilakukannya. Mempermalukan keluarga dan menyakiti Jesslyn.

Tak ingin Xavier terus berlanjut mendukung Max. Jackson pun mengambil tindakan. Ia harus segera memperingati Xavier untuk menjauhi Max.

Jackson meraih ponsel di dalam saku jas. Lekas, menghubungi Xavier. Sayang sekali panggilan pertama belum mendapatkan jawaban. Begitu juga dengan panggilan kedua, ketiga dan seterusnya.

“F*ck!” maki Jackson kesal. “Berani sekali dia mengabaikan panggilanku.”

Dengan emosi Jackson mencampakan ponselnya ke atas meja kerja. Kemudian menelpon bawahannya menggunakan telepon jaringan lokal yang ada di meja.

“Daniel, cari tahu rumah sakit tempat Max dirawat,” titahnya tanpa basa-basi.

“Baik, Tuan.”

Panggilan terputus.

Jackson berniat memperingati Xavier secara langsung di depan Max. Guna menunjukkan sebesar apa kekuatannya kepada Max.

Tidak sampai satu jam, orang suruhan Jackson telah mengetahui rumah sakit tempat Max di rawat.

Lekas pria yang dipanggil Daniel menemui Jackson di kantornya untuk memberi tahu secara langsung.

“Permisi, Tuan,” sapa Daniel memasuki kantor Jackson.

“Kemarilah.”

Daniel menghampiri, lalu berdiri di samping meja kerja Jackson. “Saya sudah mendapatkan kabar mengenai rumah sakit tempat tuan muda dirawat, Tuan.”

“Dimana?”

“Rumah Sakit Emperor, tak jauh dari rumah pak Ron.”

“Bersama siapa dia di sana?” tanya Jackson hanya ingin memastikan saja.

“Tuan muda ditemani tuan Xavier dan nyonya Arianna.”

Mata yang semula fokus pada layar komputer, seketika melirik Daniel tajam. “Arianna juga di sana?”

“Iya, Tuan. Saya melihatnya sendiri.”

Jackson mendengus kesal. Merasa telah dikhianati sang adik. Namun, ia berusaha untuk tetap bersikap tenang fi hadapan Daniel.

“Pergilah,” titah Jackson. Daniel langsung mematuhinya.

Dengan kasar pria tampan yang sudah tidak muda lagi itu menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi. Jackson bertambah frustasi, sebab melawan Max saja sudah menguras banyak energi. Dan sekarang ditambah Xavier juga Arinna. Harus berapa banyak energi lagi yang terkuras?

Namun Jackson mana bisa menyerah. Harga dirinya sebagai seorang sahabat Ron dan ayah akan semakin tercoreng. Akan tetapi melawan dan memusuhi Max bukanlah hal yang mudah.

***

Malam hari setelah usai menyelesaikan jadwal harian yang begitu padat. Jackson baru memiliki waktu untuk menemui Max, Xavier dan Arinna.

Sang tuan besar datang seorang diri. Ron yang biasanya selalu mendampingi kemanapun, kini tidak ada. Sebab, sejak gagalnya pernikahan Max dan Jesslyn, Ron meminta izin cuti entah sampai kapan. Jadilah Jackson cukup kelabakan tanpa asisten pribadinya itu.

Jarak antara perusahaan dengan rumah sakit tidak terlalu jauh. Hanya butuh berkendara selama dua puluh lima menit saja, Jackson telah sampai.

Tak perlu lagi bertanya kepada resepsionis rumah sakit dimana kamar Max. Jackson telah memiliki informasi yang lengkap. Kaki panjangnya terus melangkah, melewati meja resepsionis dan terus berjalan menuju lift.

Sangat mudah bagi Jackson menemui kamar rawat putranya.

Tepat di depan ruang rawat yang tertempel nomor 808 Jackson berdiri. Samar, ia mendengar suara Arianna dan Xavier.

Segera Jackson membuka pintu tanpa mengetuknya lagi. Seisi ruangan terkejut, menoleh ke arah pintu menatap siapa yang datang dengan cara tidak sopan.

“Kakak,” ucap Arinna pelan. Tubuhnya dan tubuh Xavier juga Max membeku.

“Ternyata ada reuni keluarga di sini.” Jackson melangkah masuk sambil tersenyum mengejek.

Dengan cepat Arrina beranjak, berdiri di ujung bangsal menutupi Max. Wanita itu takut, sang kakak akan melukai keponakannya.
“Mau apa Kakak kesini?”

“Apa seorang ayah tidak boleh melihat putranya yang terluka?”

“Tidak ada yang serius dengan luka Max. Aku dan Xavier yang akan merawatnya. Jadi Kakak bisa pergi dari sini.” Arianna melirik Xavier. Memberikan isyarat lewat gerakan mata, meminta Xavier membawa Jackson keluar.

“Sayang sekali, padahal aku berharap lukanya lebih serius.”

“Kak, pergilah. Max butuh istirahat.” Xavier yang sudah tak tahan, sedikit mengiring Jackson keluar.

Bug! Jackson menghantam rahang Xavier dengan sekuat tenaga. Tubuh Xavier sampai terhuyung kemudian tersungkur.

“Sayang!”
“Paman!”

Arianna dan Max berteriak bersamaan. Lantas, Arianna maju menghampiri Jackson. Kedua tangan mendorong tubuh Jackson.

“Dasar gila! kamu memang tak pernah berubah!” Cepat-cepat Arianna menghampiri Xavier.

“Pengkhianat seperti kalian memang pantas mendapatkannya.”

“Pengkhianat?” ulang Arianna seraya memegangi kedua bahu suaminya.

Telunjuk Jackson menuding Max yang duduk bersandar di bangsal pasien. “Pria itu sudah menjadi musuh keluarga, Yan. Kalian membelanya sama saja kalian berkhianat!”

Dengan penuh amarah Arianna maju. Dadanya membusung menantang sang kakak.

“Memangnya apa yang keponakanku lakukan sampai menjadi musuh keluarganya sendiri?!”

“Kamu masih bertanya padahal kamu menyaksikannya sendiri, Ann?” Tangan Jackson mengepal sembari menahan diri, agar tak bersikap kasar kepada adik kandungnya sendiri.

“Heh.” Arianna tersenyum jijik. “Dia baru melakukan satu kali kesalahan sudah dijadikan musuh. Lalu bagaimana dengan kamu yang menghancurkan rumah tanggaku kemudian menghancurkan rumah tanggamu sendiri.”

“Anna!” Tangan Jackson melayang hendak menampar.

“Cukup, Dad!” teriak Max dengan seluruh tenaga yang tersisa. Meskipun perut dan wajahnya sakit ketika berteriak Max mengabaikannya.

Tangan Jackson menggantung di udara. Seketika berhenti karena tersadar oleh teriakan Max.

“Sekali saja Daddy melukai aunty. Aku tidak akan tinggal diam,” berang Max.

“Ck! Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?” Jackson melangkah menghampiri bangsal Max.

“Aku bisa melawanmu!”

“Hahahaha!” Gelak tawa Jackson menggelar di setiap sudut ruangan. “Ingin melawanku pakai apa?”

Max menatap tajam. Tangan kiri yang dipenuhi luka terangkat perlahan, lalu telunjuk mengetuk-ngetuk pelip*s. Menjawab pertanyaan daddynya dengan isyarat yang penuh dengan makna.

Seketika rahang Jackson mengeras. Ia tahu betul kepandaian dan kemampuan putranya yang mengagumkan. Mulut terkunci, tak bisa berkata-kata untuk membalas.

“Dan satu lagi, Dad.” Mata yang lebam dan terluka tak membuat Max kesulitan untuk menatap tajam, mencoba mengintimidasi lawan.

“Aku memang salah telah salah paman dan tak mempercayai Jessy sepenuhnya, tapi aku tidak akan sepertimu. Aku tidak akan membuat wanitaku pergi. Tidak akan membuat wanitaku menikah dengan pria lain.”

“Kau!” geram Jackson menunjuk wajah Max.

“Ada apa, Dad? Aku bahkan belum selesai. Aku belum mengingatkanmu tentang aku yang anak kandungmu ini. Lahir menggunakan nama keluarga lain,” sambung Max semakin membuat Jackson geram.

Dikuliti habis-habisan tentang masa lalu kelam oleh putra sendiri membuat Jackson marah sekaligus malu. Tangan kanan bergerak cepat mencengkram kerah baju rumah sakit yang Max kenakan. Napas Jackson memburu, siap menerkam pemuda di depannya.

Xavier dan Arianna hendak menghampiri untuk menolong Max. Namun, urung karena Max memberi isyarat agar keduanya berhenti.

“Aku menunggu perlawanan, Max,” desis Jackson.

“Aku tidak ingin melawanmu, Dad. Tapi ini jalan satu-satunya untuk mendapatkan Jessy dan keluargaku kembali.”

“Tidak perlu banyak bicara, cepat tunjukan.”

Tbc.

Address

Jl Bb
East Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Karya Eeng Chan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share