21/01/2025
Moza melangkah pelan menuju kamar Papanya, untuk meminjam pakaian. Setelah mengetvk dan mendapat izin masuk, ia menjelaskan dengan sedikit tersenyum, “Pa, aku perlu pinjam pakaian… Diki tidak bawa ganti.”
Antares hanya mengangguk dan mengisyaratkan agar Moza memilih sendiri. “Ambil saja yang baru di lemari, banyak yang belum dipakai.”
“Terima kasih, Pa,” ucap Moza, segera memilih satu set pakaian yang terlihat nyaman dan cocok. Ia bergegas kembali ke kamarnya, membawa baju untuk Diki.
Sesampainya di kamar, matanya langsung tertumbuk pada sosok Diki yang baru saja keluar dari kam4r mandi. Rambutnya masih basah, tetesan air jatuh dari ujung rambut ke leher dan dad4 bidangnya yang pol0s. Mata Moza tak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan otot perut Diki yang tampak begitu jelas dan… mengg0da. Ia langsung tersadar, wajahnya memerah malu, dan cepat-cepat mengalihkan pandangan ke bawah.
Namun pandangan itu justru membuatnya tersenyum geli. Diki ternyata mengenakan h4nduk kecil berwarna pink yang ia tahu miliknya sendiri. Menahan tawa, Moza nyaris tersenyum lebar saat Diki menoleh ke arahnya, alisnya terangkat dengan ekspresi penuh tanya.
“Kenapa kamu menahan tawa?” tanya Diki, mengerutkan kening.
Moza cepat-cepat menutupi ekspresi geli di wajahnya dan menggeleng. “Tidak apa-apa cuma… ini pakaiannya.” Ia menyod0rkan baju yang ia bawa dari kamar ayahnya, berharap bisa segera menyudahi momen canggung ini.
Alih-alih menerima pakaian itu, Diki malah men4rik tangannya dengan tiba-tiba, membuat Moza terhuyung ke depan dan men4brak dadanya yang keras. Ia bisa merasakan kehangatan kulit Diki di bawah tangannya yang sekarang terhenti di dada pria itu.
P**i Moza semakin merah. Detak jantungnya semakin cepat, dan ia hanya bisa menunduk, tak berani menatap mata suaminya yang menatapnya intens.
Diki menatap wajah Moza dengan sorot mata yang intens, tak menyembunyikan kekagumannya. Wajah Moza memang terlalu cantik, pikirnya. Tidak heran Farhan dulu sempat terg0da dan sulit melupakan wanita ini. Pikirannya membuat dada Diki terasa sedikit sesak, sekaligus kesal. Segera ia tep*s pemikiran itu
Tatapan Diki yang begitu taj4m membuat Moza gelisah. Ia merasa salah tingkah, apalagi ketika Diki semakin mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Moza. Ia berusaha melepaskan diri, tapi genggaman Diki di lengannya kuat.
“Diki, lepaskan…,” bisik Moza, suaranya setengah berget4r. Ia mulai meront4, berusaha ker4s melepaskan diri dari gengg4man suaminya.
Namun Diki tidak menyer4h begitu saja, ia mengeratkan pegangannya, memandang Moza lebih dalam seolah ingin menembus setiap lap*s pertahanan yang ia bangun. “Kenapa? Kamu t4kut?” bisik Diki pelan, namun suaranya terdengar penuh arti.
Moza hanya bisa menunduk, semakin tidak nyaman dengan kedekatan ini. Tangannya masih berusaha melonggarkan genggaman Diki, dan ketika ia melihat keraguan di mata Moza, hati Diki akhirnya luluh. Dengan helaan napas berat, ia perlahan-lahan melepaskan genggamannya, membiarkan Moza menjauh.
Setelah mendapatkan kembali ruangnya, Moza segera menarik napas lega. Matanya menatap Diki dengan sedikit gugup, lalu ia berkata, “Aku… aku ingin bicara soal pernikahan kita.”
Diki mengangguk, menenangkan dirinya dan mengisyaratkan agar Moza melanjutkan. “Baiklah, apa yang mau kamu bicarakan?”
Moza berjalan ke sisi ranjang, membuka laci nakas dan mengeluarkan sebuah dokumen. Wajah Diki meneg4ng, sorot matanya berubah bingung melihat tindakan Moza.
Perlahan, Moza mengulurkan dokumen itu ke arah Diki, tangannya sedikit bergetar. Diki memandangnya, masih penuh tanda tanya, bertanya-tanya apa maksud Moza membawa dokumen ini di tengah percakapan serius tentang pernikahan mereka.
"Ini apa?" tanya Diki usai menerima sebuah dokumen dari istrinya.
"Bacalah," titah Moza.
"Aku malas baca."
Moza menghela napas berat. "Itu surat perjanjian pernikahan."
Jawaban Moza membuat raut wajah Diki berubah. Mata yang semula menatap istrinya dengan tenang, kini berubah taj4m.
"Untuk apa?!" tukas Diki raut wajahnya terlihat dingin membuat Moza merasa gugup.
"Kenapa kamu harus bertanya? Seharusnya kamu pun tahu jawabannya. Kita menikah bukan karena cinta. Kamupun terpaksa menerima tawaran papamu untuk menggantikan Alvian menikah denganku kan," terang Moza.
"Jadi, karena kamu masih mengharapkan Alvian?" tuntut Diki.
"Bukan!" Moza dengan cepat menjawab. "Sudah ku katakan karena kita terpaksa. Kita menikah bukan karena cinta. Aku tidak ingin mengikatmu dalam ikatan yang tak pasti bersamaku. Hidup bersama orang yang tidak diharapkan terlebih yang dibenci itu tidak akan membuatmu nyaman."
"Siapa yang benci?"
"Kamu." Moza menjawab dengan cepat membuat Diki menatapnya heran. "Kamu itu kan benci sama aku kan? Karena aku ini perempuan yang hampir merusak rumah tangga perempuan yang kamu cintai itu. Makanya aku menawarkan perjanjian ini karena aku tahu isi hati kamu. Ayolah, kamu hanya cukup tanda tangan," sambungnya mendes4k.
Diki menatap Moza dengan taj4m dan menusuk, sebelum kemudian menjawab, "aku tidak mau!"
Moza terkejut mendengarnya.
___
SILAHKAN BACA DI APLIKASI KBM APP
JUDUL : DILAMAR ADIKNYA, DINIKAHI KAKAKNYA
PENULIS: LENTERA JINGGA
Username penulis: Lentera_Jingga
Link cerita ⬇️
https://read.kbm.id/book/detail/f3ae0d32-774e-4b6a-827c-0db7526b591e?af=2c272f4d-0c7e-4c4e-b744-4a5a7ba84ffa