Gatra Tampaksiring

Gatra Tampaksiring Gatra Tampaksiring adalah ruang publik digital dan arsip kontemporer

TAMPAKSIRING — Suhu demokrasi di tingkat desa mulai menghangat. Tahapan krusial dalam Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa T...
24/08/2026

TAMPAKSIRING — Suhu demokrasi di tingkat desa mulai menghangat. Tahapan krusial dalam Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Tampaksiring untuk periode 2026–2034 telah sukses dilaksanakan dengan ditetapkannya nomor urut bagi keempat kandidat utama yang akan berlaga.

​Berdasarkan pengumuman resmi panitia dan visualisasi dari alat peraga sosialisasi, masyarakat Tampaksiring kini dapat mulai menimbang sosok dan gagasan dari masing-masing calon pemimpin desa mereka.

​Berikut adalah daftar keempat Calon Perbekel beserta nomor urut dan visi utama yang mereka tawarkan kepada masyarakat:

​Nomor Urut 1: Erman Rizky Dewa Suprapta, S.Pd., M.Pd.

Tampil dengan visi berani bertajuk "MACAN TAMPAKSIRING", yang merupakan komitmen untuk mewujudkan Desa Tampaksiring yang Maju, Aktif, Cekatan, Artistik, dan Nyata.

​Nomor Urut 2: Cokorda Gede Sari Semaradana.

Membawa visi untuk mewujudkan "Tampaksiring Bersinar" yang berfokus pada pembangunan desa yang Berbudaya, Bersih, Aman, Rukun, dan Sejahtera.

​Nomor Urut 3: I Nyoman Ariyawiguna, SH.

Menawarkan pendekatan tata kelola yang seimbang melalui visinya untuk menciptakan Tampaksiring yang Harmonis, Maju, Demokratis, dan Sejahtera.

​Nomor Urut 4: Ida Bagus Made Astika.

Mengedepankan semangat tata kelola pemerintahan yang bersih dengan visi mewujudkan Tampaksiring Era Baru yang Jujur, Adil, dan Transparan.

​Mengawal Pesta Demokrasi yang Sehat
​Panitia Pemilihan Perbekel secara aktif mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menyukseskan pesta demokrasi ini. Warga didorong untuk menggunakan hak pilih secara bijak, cerdas, dan bertanggung jawab. Mengenali rekam jejak calon serta membedah visi dan misi mereka secara kritis adalah langkah esensial sebelum menentukan pilihan sesuai hati nurani.

​Penting untuk diingat bahwa satu suara sangat berarti untuk menentukan masa depan Desa Tampaksiring. Mari bersama-sama kita wujudkan Pilkel Desa Tampaksiring Tahun 2026 yang aman, damai, tertib, jujur, dan demokratis.

TAMPAKSIRING — Hari yang cerah di Tampaksiring pada Minggu, 23 Agustus 2026, menjadi saksi bisu sebuah langkah awal menu...
23/08/2026

TAMPAKSIRING — Hari yang cerah di Tampaksiring pada Minggu, 23 Agustus 2026, menjadi saksi bisu sebuah langkah awal menuju perubahan. Dengan senyum yang tulus dan langkah yang tegap, Erman Rizky Dewa Suprapta, S.Pd., M.Pd., berjalan menuju Kantor Desa Tampaksiring. Ia tidak berjalan sendiri. Diiringi oleh Prajuru Desa Adat Mantring dan pendukung yang berjalan tertib, suasana hari itu terasa begitu hangat, seolah menyatukan asa warga akan hadirnya pemimpin yang membawa napas baru bagi desa.

​Hari ini adalah momen penting: pengundian nomor urut calon Perbekel Desa Tampaksiring. Kehadiran para pendukung tidak sekadar menjadi bentuk solidaritas, melainkan sebuah ruang transparansi agar masyarakat dapat melihat dan mengenal lebih dekat siapa saja putra-putra terbaik yang akan menakhodai desa ini ke depan. Dari empat kandidat yang bersaing dalam kontestasi damai ini, Erman mendapatkan Nomor Urut 1.

Bagi Erman, angka satu bukanlah sekadar nomor undian pembuka. Ia tersenyum takzim saat nomor tersebut dibentangkan, memancarkan aura kebijaksanaan yang tenang.

​"Nomor satu niki adalah amanah persatuan. Dalam filosofi kehidupan kita, angka satu bermakna Manunggal atau menyatu. Kita tidak akan bisa membangun desa jika warganya terpecah belah. Angka satu mengingatkan tiang pribadi, bahwa menjadi pemimpin itu bukan soal merasa paling hebat atau ingin dielu-elukan sebagai yang nomor satu. Justru, ini adalah pengingat untuk menjadi yang pertama turun tangan mendengar keluh kesah warga, pertama pasang badan saat ada masalah, dan menyatukan segala perbedaan menjadi satu tekad untuk memajukan Tampaksiring," ungkap Erman dengan nada lembut namun penuh ketegasan, menyapa warga yang hadir.

​Pernyataan yang sangat merakyat ini seolah menggemakan visi besar yang ia bawa, yakni MACAN Tampaksiring. Sebagai seorang pendidik yang kini terpanggil mengabdi untuk desanya, Erman memahami betul bahwa Tampaksiring membutuhkan sentuhan yang komprehensif, bukan sekadar janji di atas kertas.

​Gagasan "MACAN" merupakan napas perjuangannya yang dirancang untuk menyentuh seluruh lapisan masyarakat, yang terdiri dari:

​M – MAJU: Membangun SDM unggul melalui kemitraan perguruan tinggi, beasiswa pendidikan, dan program Tampaksiring Bebas Stunting.

​A – AKTIF: Menghidupkan peran pemuda (Yowana), mensinergikan 13 Banjar Dinas dan 8 Desa Adat, serta membuka ruang musyawarah yang inklusif.

​C – CEKATAN: Mewujudkan birokrasi digital yang cepat tanggap, bantuan sosial yang tervalidasi tepat sasaran, dan pos siaga keadaan mendesak.

​A – ARTISTIK: Merevitalisasi BUMDes untuk ekonomi kreatif dan melestarikan seni budaya leluhur melalui dukungan bagi Sekaa Seni dan Sanggar.

​N – NYATA: Transparansi APBDESA secara real-time, pengelolaan sampah terpadu (Tampaksiring Bersih), dan perbaikan infrastruktur serta situs sejarah secara berkala.

​Meski narasi perubahan mengalir kuat dari barisan pendukung MACAN, Erman tidak pernah mengesampingkan ketiga calon lainnya. Dalam pandangannya, kontestasi ini adalah pesemetonan (persaudaraan). Ia menyadari bahwa seluruh calon adalah putra-putra terbaik yang memiliki niat tulus untuk memajukan desa.

​"Ketiga saudara saya yang lain adalah tokoh-tokoh hebat. Kita di sini bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan sedang berlomba menawarkan gagasan terbaik untuk rumah kita bersama. Biarkan masyarakat yang menilai dengan hati. Tampaksiring butuh bukti nyata, mari bergerak bersama," tambahnya, menutup wawancara dengan senyum yang menyejukkan.

​Pemilihan Perbekel kali ini menjadi contoh kedewasaan berdemokrasi di tingkat akar rumput. Masyarakat kini diajak untuk cerdas memilih, membedah ide, dan melihat siapa yang paling siap menerjemahkan visi menjadi bukti nyata. Hari ini, dari halaman Kantor Desa Tampaksiring, sebuah harapan baru telah diundi, dan fondasi untuk Tampaksiring yang lebih baik mulai dibangun.

20/08/2026

GIANYAR — Kiprah pelestarian seni dan budaya di Bali kembali melahirkan sosok pemimpin muda yang inspiratif. Erman Rizky Dewa Suprapta, S.Pd., M.Pd., seorang seniman, akademisi, dan penggerak budaya,...

GIANYAR — Kiprah pelestarian seni dan budaya di Bali kembali melahirkan sosok pemimpin muda yang inspiratif. Erman Rizky...
19/08/2026

GIANYAR — Kiprah pelestarian seni dan budaya di Bali kembali melahirkan sosok pemimpin muda yang inspiratif. Erman Rizky Dewa Suprapta, S.Pd., M.Pd., seorang seniman, akademisi, dan penggerak budaya, kini melangkah ke ranah pengabdian yang lebih luas. Setelah mendedikasikan masa mudanya untuk merawat tradisi, ia kini resmi dicalonkan dan ditetapkan sebagai Calon Perbekel Desa Tampaksiring.

​Lahir di Tampaksiring pada 14 April 1994, pemuda asli dari Desa Adat Mantring yang kini menetap di Desa Adat Saraseda ini bukanlah nama asing di jagat seni pertunjukan dan pelestarian adat Bali.

Sebagai seorang pregina topeng, Erman telah ngaturang ayah di berbagai wilayah di Bali. Dedikasinya pada seni sakral ini bahkan melintasi batas p**au. Jejak langkahnya sebagai penari topeng tercatat hingga ke Pura Mandhara Giri Semeru Agung di Lumajang, Jawa Timur, serta Pura Sanatanagama UGM di Yogyakarta, membawa taksu Bali ke tengah masyarakat Nusantara.

Tidak hanya piawai menari, Erman memadukan laku spiritualnya dengan kapasitas intelektual sebagai seorang dosen. Dalam ranah pengabdian masyarakat, ia kerap membagikan wawasannya. Ia tercatat aktif menjadi narasumber dalam seminar topeng sakral yang diselenggarakan di Yayasan Taksu Tridatu, Nusa Penida, serta memberikan edukasi kebudayaan di Pura Luhur Dwijawarsa, Malang.

Pemahaman Erman yang mendalam tentang sastra dan sejarah lokal menjadikannya figur yang dipercaya sebagai pembaca prasasti di berbagai upacara adat. Di tingkat desa, perannya sangat krusial sebagai pendamping pemajuan kebudayaan desa dan konseptor seni.

​Salah satu sumbangsih terbesarnya bagi pelestarian warisan leluhur adalah inisiasinya sebagai penggagas rekonstruksi Tari Baris Dadap di Desa Adat Bukit, Tampaksiring. Melalui tangan dinginnya, tarian sakral yang sarat makna tersebut kembali direvitalisasi agar tidak lekang oleh zaman.

Berbekal rekam jejak panjang dalam merawat tradisi, memberdayakan masyarakat, dan mengabdi di jalur pendidikan, sosok multitalenta ini kini memantapkan langkahnya di bidang pemerintahan desa. Penetapan Erman Rizky Dewa Suprapta sebagai Calon Perbekel Desa Tampaksiring menjadi angin segar bagi masyarakat yang mendambakan sosok pemimpin muda, visioner, namun tetap membumi dan berakar kuat pada nilai-nilai kearifan lokal.

​Kombinasi antara semangat muda, kedalaman spiritual, dan kapasitas akademis menjadikan Erman representasi pemimpin era kini yang siap membawa Desa Tampaksiring menuju kemajuan yang harmonis dan berbudaya.

GIANYAR, 15 Juli 2026 – Pesta demokrasi di tingkat desa kembali menggeliat. Pada hari keenam pembukaan pendaftaran Calon...
15/07/2026

GIANYAR, 15 Juli 2026 – Pesta demokrasi di tingkat desa kembali menggeliat. Pada hari keenam pembukaan pendaftaran Calon Perbekel Desa Tampaksiring, Rabu (15/7/2026), dinamika politik lokal langsung diwarnai oleh nuansa khidmat dan spirit kebudayaan yang kental. Menjadi pendaftar pertama, seorang tokoh muda berusia 32 tahun resmi menyerahkan berkas pendaftarannya, membawa visi besar bertajuk "Macan Tampaksiring" (Terwujudnya Desa Tampaksiring yang Maju, Aktif, Cekatan, Artistik, dan Nyata berlandaskan Tri Hita Karana).

​Langkah pendaftaran ini tidak dilakukan secara sembarangan. Memilih momentum dewasa ayu (hari baik) pada Buda Pon Pujut, Penanggal apisan sasih karo, sang kandidat memposisikan pendaftaran ini bukan sekadar pemenuhan syarat birokrasi politik, melainkan sebuah panggilan jiwa dan mandat peradaban.

​Dalam keterangan resminya usai merampungkan tahapan pemberkasan, calon perbekel tersebut menyoroti pentingnya menjaga Tampaksiring sebagai entitas budaya, bukan hanya sekadar wilayah administratif. Berbekal tempaan pengalaman di ruang-ruang akademik serta dedikasi pada dunia kesenian, ia menyampaikan pandangan budayanya yang mendalam terkait masa depan desa.

​"Memimpin Tampaksiring adalah menjaga sebuah warisan peradaban. Desa ini bernapas melalui sejarahnya yang panjang, susastra Kawi yang mengakar, dan pelestarian budaya yang dijaga oleh tangan-tangan terampil krama desanya," ungkapnya.

​Pernyataan ini mencerminkan kedewasaan berpolitik yang mengakar pada kearifan lokal. Ia menyadari bahwa tantangan Tampaksiring ke depan adalah bagaimana menjaga harmoni antara kemajuan zaman dan kelestarian warisan leluhur.

​Pendaftaran perdana yang berjalan lancar ini, menurutnya, adalah fondasi awal dari niat yang bersih dan transparan. Sebagai seorang politisi muda yang lahir dari rahim kebudayaan desa, ia menegaskan esensi dari sebuah jabatan publik. Baginya, pemimpin sejatinya adalah pelayan bagi masyarakat.

​Lebih lanjut, ia menawarkan cetak biru pembangunan desa yang berfokus pada kolaborasi dan peningkatan kualitas manusia. Jika restu Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan kepercayaan krama (warga) Desa Tampaksiring diberikan kepadanya, ia berkomitmen untuk:

​Membangun SDM Unggul: Menciptakan generasi Tampaksiring yang adaptif dan berdaya saing tinggi.

​Melestarikan Keluhuran Adat: Memastikan setiap lompatan kemajuan desa tetap berpijak teguh pada nilai adat dan budaya warisan leluhur.

​Pelayanan Inklusif: Membuka ruang partisipasi masyarakat seluas-luasnya dengan semangat gotong royong.

​Di akhir prosesi pendaftarannya, sang kandidat menundukkan kepala, memohon doa restu serta dukungan moril dari seluruh keluarga, sahabat, dan krama Desa Tampaksiring. Slogan "Dari Tampaksiring, untuk Tampaksiring" bergema sebagai penutup, menandai dimulainya sebuah kontestasi politik yang sehat, berbudaya, dan berorientasi penuh pada pengabdian masyarakat.

​Astungkara, langkah awal ini menjadi pemantik bagi lahirnya gagasan-gagasan cerdas demi kemajuan Desa Tampaksiring ke depannya.

"Gema Peradaban di Lembah Pakerisan"​Pulau Bali menyimpan rekam jejak sejarah peradaban yang sangat cemerlang, di mana k...
13/07/2026

"Gema Peradaban di Lembah Pakerisan"

​Pulau Bali menyimpan rekam jejak sejarah peradaban yang sangat cemerlang, di mana kemegahannya masih dapat ditelusuri melalui berbagai artefak dan peninggalan berseni tinggi. Salah satu bukti nyata dari keagungan peradaban Masa Bali Kuno tersebut adalah bangunan suci berupa Candi Gunung Kawi yang terletak di wilayah Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Mahakarya berupa relief dan pahatan tebing yang membentang di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan ini bukanlah sekadar monumen mati atau hiasan estetika semata, melainkan sebuah teks terbuka yang merekam narasi kompleks kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Bali pada rentang abad ke-11.

​Pada dinding candi-candi yang dipahat megah di tebing ini, tersimpan jejak aksara yang menjadi kunci identitas sejarahnya, yakni aksara Kadiri Kuadrat. Di antara pahatan tersebut, terbaca inskripsi berbunyi “Haji Lumah ing Jalu” yang berarti "raja yang dicandikan di Jalu". Selain itu, terdapat p**a tulisan “Rwa nak ira” yang bermakna "dua putra beliau", yang menguatkan hipotesis bahwa kompleks ini merupakan tempat pendharmaan bagi Raja Udayana beserta keluarga kerajaan, termasuk putra-putranya, Marakata dan Anak Wungsu. Inskripsi bertuliskan “Rakryan” pada ambang pintu candi juga mengindikasikan bahwa situs ini tidak hanya menjadi makam raja, tetapi juga pusat mandala kadewaguruan atau tempat pelatihan spiritual bagi para pertapa.

​Secara filosofis, Candi Gunung Kawi merupakan perwujudan dari konsep Siwa-Buddha, sebuah strategi transformasi keagamaan yang menunjukkan betapa tingginya toleransi leluhur kita. Keberadaan candi Hindu yang berdampingan dengan wihara atau ceruk pertapaan Buddha menjadi bukti nyata bahwa masyarakat masa itu mampu merajut harmoni dalam perbedaan. Pahatan relief singa pada kaki candi, yang dalam tradisi Buddhis melambangkan Sakyasimha (Siddharta Gautama), berpadu selaras dengan elemen-elemen arsitektur Hindu, menciptakan sebuah ruang kontemplasi di mana teologi disatukan oleh kearifan lokal yang mendalam.

​Situs ini juga mengajarkan filosofi tentang penyucian diri dan penghormatan kepada leluhur. Keberadaan Candi Gunung Kawi yang diapit oleh pertemuan dua aliran sungai (campuhan) antara Sungai Pakerisan dan Sungai Bulan di sisi selatan merupakan simbol geografis yang sakral. Bagi masyarakat Bali, pertemuan arus air ini melambangkan proses pembersihan jiwa dan raga, yang selaras dengan fungsi candi sebagai tempat pemujaan roh suci raja-raja (pedharmaan). Hal ini mencerminkan pandangan dunia (worldview) masyarakat Bali Kuno bahwa pemimpin adalah manifestasi yang harus dihormati selaras dengan alam semesta.

​Pesan spiritual dan sistem sosial yang diwariskan dari relief-relief bersejarah ini tidak pernah terputus oleh waktu, melainkan memberikan implikasi mendalam bagi keberlanjutan tradisi dan tata kelola masyarakat Bali hingga hari ini. Konsep pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta pola interaksi yang guyub berakar kuat dari tatanan luhur kehidupan di mandala masa lalu tersebut. Kini, lembah Pakerisan tidak hanya berdiri sebagai destinasi pariwisata, tetapi sebagai monumen pengingat bahwa kejeniusan leluhur dalam merajut harmoni antara cipta karya seni, tatanan sosial, dan kedalaman teologi adalah napas peradaban yang membentuk ketahanan kebudayaan Bali yang abadi.

"Tirta, Lingga, dan Lango" Teks Kebudayaan di Jantung PulaganDi celah lanskap Tampaksiring yang sejuk dan dikepung oleh ...
12/07/2026

"Tirta, Lingga, dan Lango" Teks Kebudayaan di Jantung Pulagan

Di celah lanskap Tampaksiring yang sejuk dan dikepung oleh rimbunnya dedaunan, mengalir nadi kehidupan agraris yang telah berdenyut selama berabad-abad. Dari aliran air penyuci yang membasahi wilayah inilah, Subak Pulagan terlahir. Ia bukan sekadar hamparan sawah bertingkat yang memanjakan mata, melainkan sebuah teks kebudayaan agung yang dipahat langsung di atas bentang alam. Di wilayah ini, tanah, air, dan waktu berjalin kelindan menciptakan mahakarya yang bernapas, menarasikan bagaimana manusia Bali secara ontologis memaknai eksistensinya di tengah semesta raya.

​Membaca Subak Pulagan sejatinya adalah membaca filosofi Tri Hita Karana yang mewujud dalam praksis keseharian. Air yang dialirkan menuju parit-parit irigasi tidak pernah diposisikan semata sebagai komoditas, melainkan sebagai Tirta, rahmat suci yang menyusupi setiap jengkal tanah tanpa memandang hierarki. Di dalam jantung kelembagaan ini, ego individu meluruh ke dalam kesadaran kolektif. Setiap etape siklus pertanian dari mengairi sawah hingga memanen bulir padi digariskan oleh rentetan ritus yang sakral. Alam ditempatkan sebagai subjek agung, tempat para petani menjalankan tugas kosmisnya untuk merawat keseimbangan tata ruang semesta.

​Akar kesakralan ekologis dan agraris ini berpusat pada dimensi Parhyangan yang memancar kuat dari Pura Pulagan. Di situs suci ini, bersemayam peninggalan sebuah Lingga yang menyimpan memori spiritual peradaban masa lampau. Kehadiran Lingga ini bukanlah sekadar artefak batu yang bisu, melainkan manifestasi dari energi penciptaan, purusa, dan daya hidup pemelihara semesta. Penyatuan energi Lingga dengan bentang alam Pulagan dipercaya sebagai poros penganugerah kesuburan abadi, sebuah restu gaib yang membuat tanah ini terus bernapas dan melahirkan kehidupan melintasi pergantian zaman.

​Pancaran kesucian dari Pura Pulagan dan harmoni ekosistem yang dijaga ketat oleh krama subak menjadikan wilayah ini melampaui fungsinya sebagai lumbung pangan duniawi. Subak Pulagan adalah rahim ekologis yang menyediakan sarana ritual yang amat disakralkan. Hasil bumi dan biota dari perairan suci ini, mulai dari beras, kakul (siput air tawar), hingga lindung (belut) memiliki kedudukan spiritual yang istimewa. Ketiga elemen ini secara khusus difungsikan sebagai sarana pokok penyempurna dalam perhelatan upacara-upacara besar atau karya agung. Dalam kacamata filsafat kebudayaan Bali, biota ini bukan lagi sekadar material biologis, melainkan medium persembahan tertinggi (yadnya). Penggunaan hasil bumi Pulagan sebagai sarana upacara adalah simbol siklus timbal balik yang paripurna: alam memberikan kemurnian mutlaknya untuk menghidupi manusia, dan manusia menggunakan kemurnian tersebut untuk mengagungkan Sang Pencipta.

​Ketika senja perlahan turun di Tampaksiring dan memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan air sawahnya, terpantul p**a sebuah perenungan mendalam tentang daya lenting sebuah peradaban. Subak Pulagan membuktikan bahwa peradaban yang sejati adalah tatanan yang mampu memelihara denyut harmoni kehidupan tanpa harus terlepas dari akar spiritualitasnya. Ia adalah puisi tanpa kata yang mengajarkan kita untuk hidup merunduk layaknya bulir padi, menjaga harmoni purba melalui persembahan yang tulus, dan merawat kesucian relasi antara manusia, alam, dan Penciptanya dalam sebuah keabadian ekologis.

Bali tidak pernah kehabisan narasi tentang spiritualitas yang menyatu dengan keindahan alamnya. Namun, jika kita berbica...
12/07/2026

Bali tidak pernah kehabisan narasi tentang spiritualitas yang menyatu dengan keindahan alamnya. Namun, jika kita berbicara tentang pusat penyucian dan sumber kehidupan atau Amerta, pandangan kita patut tertuju pada sebuah kawasan suci di Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, yaitu Pura Mengening. Berdasarkan sumber literatur kuno Purana Pura Mengening, tempat ini bukanlah sekadar susunan batu dan parahyangan biasa, melainkan pusat kosmis tempat turunnya anugerah para dewata. Pura Mengening merupakan stana bagi Sang Hyang Maha Suci Nirmala, dewa yang membawa kejernihan dan pencerahan batin bagi alam semesta.

​Untuk memahami kedalaman filosofis Pura Mengening, kita dapat merunut kembali pada masa ketika para Bhatara turun di Besakih. Purana menyebutkan bahwa setelah penciptaan tatanan agama dan spiritualitas di Bali, Bhatara Hyang Indra membangun parahyangan di Tirta Empul, sementara Bhatara Hyang Maha Suci Nirmala berstana di Kamening, Tampaksiring. Keputusan inilah yang kemudian melahirkan Desa Saresidhi, sebuah desa suci yang setelah wafatnya Raja Maya Danawa lebih dikenal sebagai Desa Sareseda.

​Pura ini juga memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan era kepemimpinan Sri Dalem Masula-Masuli, raja kembar buncing yang memerintah Bali. Di bawah bimbingan para pendeta luhur nan suci seperti Empu Genijaya, Empu Kuturan, dan Empu Raja Kerta, sistem keagamaan (Gama), Dresti, dan Sila Krama ditata sedemikian rupa sehingga pembangunan Pura Tirta Empul dan Kamening (Mengening) menjadi prioritas utama demi kemakmuran dan kerahayuan masyarakat Bali.

​Menelisik Pura Mengening lebih jauh, kita akan menemukan sebuah mahakarya spiritual yang mengagumkan. Keagungan pura ini terletak pada kehadiran pancuran sucinya yang tidak hanya menyimbolkan kejernihan air secara fisik, namun juga sebagai sarana pembersihan mala (kotoran batin). Purana merinci adanya sebelas jenis Tirtha utama di Pura Mengening, yang masing-masing memiliki fungsi spesifik dan filosofi yang mendalam:

​Tirtha Kamening: Digunakan untuk penyucian paripurna dari segala bentuk rintangan dan penyakit suksma.

​Tirtha Keris: Khusus digunakan untuk menyucikan berbagai senjata sakti, terutama pada saat hari suci Tumpek Landep.

​Tirtha Maja Siwa Sampurna: Sumber air yang kemunculannya disesuaikan dengan kondisi tertentu, di mana airnya kadang muncul dan kadang tidak.

​Tirtha Telaga Waja/Jambangan: Disucikan untuk mengiringi jalannya berbagai upacara-upacara besar.

​Tirtha Keben: Dipercaya untuk membebaskan manusia dari Dasamala atau sepuluh perbuatan kotor.

​Tirtha Soko: Tirtha yang sering dipohonkan saat upacara pemelaspasan wadah (keben) atau alat-alat perdagangan untuk memohon kelancaran.

​Tirtha Melele, Dedari, Merta Sari, dan Sudamala: Rangkaian pancuran yang ditujukan untuk melengkapi pembersihan dan ritual yadnya manusia maupun alam.

​Tirtha Pengeleburan/Campuan: Merupakan pusat muara kesucian, digunakan sebagai pamutus segala karya luhur, pelebur gering (wabah), penganugerah kecerdasan (kewikanan), serta penjaga kesuburan sawah dan pencegah hama (merana).

​Narasi besar lain yang sangat menggetarkan hati dari Pura Mengening adalah posisinya sebagai Gedong Manik Suweta; tempat disimpannya Amerta bagi seluruh Jagat Bali. Purana Turuning Merta menyebutkan bahwa Pura ini dikenal sebagai "Pura tan pecantelan" (pura yang tidak berbatas pada hal duniawi semata), yang letaknya diapit oleh aliran sungai di sisi utara, selatan, timur, dan barat.

​Keunikan dan getaran kesucian Pura Mengening bahkan telah memikat hati para peneliti sejarah mancanegara. Tercatat bahwa peneliti dari Jepang dan sejarawan yang membawa literatur kuno dari Belanda mengakui kawasan ini sebagai Sucining Jagat Bali pingkalih sorganing jagat Bali jantung kesucian dan surganya p**au Bali, dan bahkan Indonesia. Mereka menitipkan pesan krusial agar kelestarian dan keajegan pura ini senantiasa dijaga karena perannya yang sangat vital sebagai pusar spiritual kosmis.

​"Kesucian Pura Mengening adalah cerminan dari kejernihan jiwa. Menjaganya berarti menjaga Amerta kehidupan, tidak hanya bagi tetumbuhan di persawahan, melainkan bagi kedamaian seluruh umat manusia."

​Bagi kita di masa kini, Pura Mengening tentu bukanlah sekadar artefak masa lalu. Keberadaan Pretima Gelung Panji, Arca Manik Kembar, serta tradisi luhur upacara Ngeluarang Amerta bersama Pura Melanting dan Pura Tirta Empul merupakan wujud sekala (nyata) yang menunjukkan bahwa denyut nadi kebudayaan ini masih terus hidup.

​Mari kita bersama-sama, khususnya para pewaris sah kebudayaan Nusantara, untuk tidak sekadar memandang Pura Mengening sebagai daya tarik pariwisata. Pura Mengening adalah pustaka kehidupan yang bernapas. Melalui pedoman Purana yang diwariskannya, kita senantiasa diajarkan tentang pentingnya merawat kelestarian alam, memurnikan pikiran dari noda, dan menjaga keharmonisan antara manusia, dewa, dan semesta raya. Menjaga dan mengagungkan Pura Mengening pada hakikatnya adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap martabat peradaban kita sendiri.

Demokrasi sejati tidak hanya bergaung di gedung-gedung dewan atau ibu kota, melainkan hidup dan berdenyut di jantung des...
11/07/2026

Demokrasi sejati tidak hanya bergaung di gedung-gedung dewan atau ibu kota, melainkan hidup dan berdenyut di jantung desa. Tahun ini, Desa Tampaksiring, sebuah wilayah yang kaya akan nilai sejarah dan warisan budaya tengah bersiap menyambut momentum pergantian kepemimpinan yang krusial.

​Pemilihan Kepala Desa (Perbekel) Desa Tampaksiring Tahun 2026 telah menabuh genderangnya. Pemilihan kali ini dihelat dengan mengusung spirit yang sangat mendalam: "Abhiseka Prabhu Kanaka". Ini bukan sekadar pesta pora lima tahunan, melainkan sebuah ritual suci demokrasi untuk memunculkan pemimpin emas yang didambakan rakyat.

​Ada pesan filosofis yang sangat kuat dan menggugah hati tertulis di bagian bawah poster: "Abhipraya Nayaka Dharma Rakshaka Desa". Slogan ini diterjemahkan sebagai sebuah tekad mulia untuk mencari sosok pemimpin yang mampu menjadi penjaga kebenaran, pelindung, sekaligus motor penggerak kemajuan Desa Tampaksiring.

​Di tengah pusaran tantangan zaman yang semakin kompleks, Tampaksiring tidak hanya membutuhkan seorang birokrat, melainkan seorang Dharma Rakshaka; ksatria yang mengedepankan kebenaran dan kebijaksanaan. Pertanyaannya, siapakah putra-putri terbaik desa yang berani mengambil tanggung jawab besar ini?

​Saat ini, gerbong demokrasi itu sudah mulai bergerak. Merujuk pada jadwal yang dirilis, kita tengah berada pada fase yang sangat menentukan, yakni Pendaftaran Bakal Calon Perbekel yang berlangsung sejak 10 hingga 18 Juli 2026. Ini adalah undangan terbuka bagi warga desa yang memenuhi syarat dan merasa memiliki panggilan jiwa untuk mengabdi.

​Sebagai masyarakat yang cerdas, tugas kita bukan hanya menunggu di ujung bilik suara, tetapi mengawal setiap prosesnya. Berikut adalah tonggak waktu penting yang harus kita perhatikan bersama:

​10 – 18 Juli 2026: Pendaftaran Bakal Calon Perbekel.

​16 – 17 Agustus 2026: Penetapan Calon Perbekel yang berhak maju bertarung.

​23 – 27 Agustus 2026: Pengundian Nomor Urut Calon.

​31 Agustus – 2 September 2026: Deklarasi Damai para kandidat, janji untuk menjaga keharmonisan desa.

​10 – 12 September 2026: Masa Kampanye. Inilah saatnya masyarakat menguji dan membedah visi, misi, serta program kerja para calon.

​Minggu, 20 September 2026: Hari Penentuan! Hari Pemungutan, Penghitungan Suara, dan Rapat Pleno.

​Kepada seluruh Krama Desa Tampaksiring, mari kita jadikan Pilkel 2026 ini sebagai teladan demokrasi yang bermartabat.

​Bagi Anda yang memiliki gagasan, integritas, dan kecintaan tulus pada Tampaksiring, waktu Anda untuk mendaftar dan mengabdi masih terbuka hingga 18 Juli 2026. Jangan biarkan desa ini kehilangan potensi pemimpin-pemimpin terbaiknya.

​Dan bagi seluruh masyarakat, mari bersiap. Sambutlah masa kampanye nanti dengan pikiran terbuka, jadilah pemilih yang rasional, dan yang terpenting, jaga semangat menyama braya (persaudaraan) agar tetap utuh tanpa terpecah belah oleh perbedaan pilihan.

​Mari melangkah bersama menuju tempat pemungutan suara pada Minggu, 20 September 2026. Masa depan Tampaksiring selama bertahun-tahun ke depan ditentukan oleh tinta di jari Anda hari itu. Mari kita wujudkan lahirnya pemimpin sejati demi Tampaksiring yang lebih bermartabat, aman, dan sejahtera!

GIANYAR — Menjelang perhelatan pemilihan Perbekel Tampaksiring, dinamika politik di tingkat desa mulai menghangat dengan...
11/07/2026

GIANYAR — Menjelang perhelatan pemilihan Perbekel Tampaksiring, dinamika politik di tingkat desa mulai menghangat dengan munculnya figur-figur potensial. Salah satu nama yang kini santer diperbincangkan di tengah masyarakat adalah tokoh muda asal Banjar Mantring, Erman Rizky Dewa Suprapta, S.Pd., M.Pd.

​Pria yang akrab disapa "Man Lebih" ini digadang-gadang sebagai calon kuat yang mampu membawa semangat kepemimpinan baru serta mewujudkan regenerasi kepemimpinan di Desa Tampaksiring.

​Lahir di Tampaksiring pada 14 April 1994, Erman bukanlah sosok yang asing di mata masyarakat. Dukungan terhadap dirinya mengalir deras, didorong oleh rekam jejaknya yang mumpuni di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, organisasi, hingga pelestarian seni budaya.

​Sebagai representasi generasi muda yang intelektual, Erman dibekali dengan fondasi pendidikan yang sangat kuat. Ia menamatkan pendidikan sarjananya pada Program Studi Pendidikan Seni Tari Keagamaan Hindu di Universitas Hindu Indonesia tahun 2017. Kehausannya akan ilmu pengetahuan kemudian mendorongnya untuk melanjutkan studi, hingga berhasil meraih gelar Magister Pendidikan Agama Hindu di Universitas I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar pada tahun 2022.

​Saat ini, ia aktif mentransfer ilmu dan pengalaman akademiknya sebagai tenaga pengajar di Fakultas Dharma Acarya, Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja.

​Erman dikenal tidak hanya berkutat di balik mimbar akademik, tetapi juga turun langsung sebagai praktisi. Jejak pengabdiannya di tengah masyarakat sangat terasa, khususnya dalam ranah sosial-keagamaan melalui pelestarian seni tari suci atau tari wali (wewalen).

​Lebih dari itu, Erman memiliki pengalaman strategis yang bersinggungan langsung dengan ranah pemerintahan dan birokrasi kebudayaan. Kapasitasnya diakui di tingkat nasional saat ia ditunjuk sebagai Pendamping Pemajuan Kebudayaan Desa. Program ini merupakan inisiatif langsung di bawah naungan Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI.

​Perpaduan langka antara seorang akademisi yang analitis dan seorang praktisi yang memahami persoalan akar rumput dinilai menjadi keunggulan utama Erman. Masyarakat meyakini bahwa modal sosial yang dimilikinya dapat menjadi katalisator kemajuan desa.

​Tiga pilar kekuatan utama yang dimiliki Erman yakni relasi di tingkat pemerintahan, jejaring luas di dunia akademik, dan penguasaan tatanan sosial keagamaan diharapkan mampu merubah wajah Desa Tampaksiring ke arah yang lebih progresif tanpa meninggalkan akar tradisinya.

​Kemunculan nama Man Lebih dalam bursa pemilihan Perbekel Tampaksiring bukan sekadar euforia sesaat, melainkan representasi nyata dari kebangkitan generasi muda yang siap mengabdi dan mengambil tanggung jawab untuk masa depan desanya.

Address

Tampaksiring
Gianyar
80552

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gatra Tampaksiring posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category