11/12/2017
saya pun bangga
dan merasa banyak tanya bagaimana para nenek moyang kita memperoleh kemerdekaan ?
3aku bangga hidup di gorontalo
ABAD BESAR GORONTALO YANG HILANG?
Saya yg ngotot agar perhitungan selesai malam itu.
Sofyan Uli—ahli matematika yg saya minta membuat persamaan rumit pertumbuhan penduduk Gorontalo ratusan tahun sebelumnya—sudah tak sabar ingin membuka tabir yg benar-benar bikin penasaran. Benarkah sudah ada peradaban di Gorontalo sebelum abad ke-16 atau sekitar tahun 1400-an?
Sepintas... memang ada yg aneh. Betapa sebuah bangsa yg punya peradaban masa lampau yg besar, penduduknya sampai hari ini baru satu juta lebih sedikit. Peradaban macam apa yg bisa dibuat oleh populasi manusia yg terbilang kecil itu?
***
Sofyan terus mengutak-ngatik data penduduk tiga tahun terakhir ke dalam model matematika untuk menemukan rumus umum pertumbuhan populasi Gorontalo. Prinsipnya sederhana: bahwa laju pertumbuhan populasi harus berbanding lurus dgn jumlah populasi saat itu.
“Puuuyyeeengg...” Sofyan menggerutu.
Tapi, apa boleh buat. Hanya itu satu-satunya cara. Setelah tahu rumusan umumnya, kita bisa menebak kira-kira ada berapa orang yang hidup pada rentang 1400-an sampai 1600-an.
“Tom... Coba ente lia ini!” Sofyan memecah suasana.
Saya terkejut. Secara teoritis, jumlah orang Gorontalo di abad 17 tak lebih dari 1000 orang. Pada abad 16 dan 15 hanya puluhan orang. Abad-abad sebelumnya nyaris nol. Tak berpenghuni!
“Tak mungkin... pasti ada yang salah, Yan,” saya benar-benar tak percaya.
Pikiran saya campur aduk. Antara percaya-tak percaya. Jika benar ada peradaban sebelum abad 16, maka peradaban macam apa yg bisa dibuat oleh masyarakat yg hanya puluhan orang itu? Orang-orang macam apa mereka sehingga mampu membuat peradaban?
Ataukah telah terjadi peristiwa luar biasa selama 400 tahun yg mampu memusnahkan manusia dalam jumlah besar seperti perang besar, penyakit menular, atau bencana alam?
Lama kami terdiam. Kertas-kertas perhitungan—yg mungkin telah keliru itu—berserakan di sana-sini.
“Jangan-jangan...,” pikir kami, “memang tak ada peradaban pada rentang waktu itu?” Yg ada hanyalah peristiwa-peristiwa kultural biasa yg dilakukan oleh manusia-manusia pengelana. Yang datang, lalu pergi.
Tapi, pendapat itu tertolak kalau disandingkan dgn tulisan-tulisan ilmiah, semisal Dr. Haga. Ataukah Doktor Belanda itu hanya menulis kisah-kisah biasa yg tak cukup digolongkan sebagai peradaban? Bukankah peristiwa-peristiwa semacam itu bisa ditemukan di semua Bangsa Melayu?
Semua masih jadi misteri. Tertutup rapat. Saya dan Sofyan masih belum menemukan penjelasan yg utuh.
“Atau kami memang telah benar-benar salah berhitung?”
Setidaknya, ada jawaban yg bisa dirumuskan sementara. Bahwa bisa jadi dataran Gorontalo pada abad 14, 15, dan 16 adalah tempat persinggahan. Tujuan migrasi manusia yg datang dari peradaban-peradaban besar. Mereka bercampur jadi satu, lalu tiba-tiba pergi lagi.
Entahlah.