09/11/2020
Kindness gift (Hadiah Kebaikan)
Dikisahkan, ketika musim dingin di Australia, seorang wanita kaya paro baya berdiri di tepi jalan akibat mobil mewahnya mogok dan tak bisa dihidupkan kembali.
Berulang kali ia mencoba memberi tanda dengan tangannya untuk menghentikan mobil yang lewat. Namun tak ada yang berkenan untuk menyinggahinya.
Waktu terus berjalan, ditengah cuaca dingin menusuk tulang, rintik hujanpun mulai menetes jatuh. Hatinya pun semakin cemas,
karena gelap malam mulai turun berarak.
Hingga tiba-tiba saja, sebuah mobil tua yang payah berhenti. Tepat di sisi sang Nyonya nan kaya itu. Di belakang kemudi, tampaklah sesosok pemuda berkulit gelap. Wanita itu menatapnya, dan menatap mobil tuanya.
Wanita itu ragu, sungguh ragu, apakah ia ikut menumpang, atau tetap menunggu di tepi jalan yang mulai gelap itu?
Nyonya kaya itu bimbang dan ragu, pasalnya ia mengira segenap manusia mengetahui kekayaan dan harta bendanya...
Tapi akhirnya, ia putuskan untuk menaiki mobil tua itu, dan menumpanginya.
Dalam perjalanan itu, Sang Nyonya kaya itu menanyakan nama dan pekerjaan anak muda itu.
Anak muda yang tampak payah dalam kemiskinannya, sambil tersenyum menjawab, Namaku Abdul, dan pekerjaanku adalah sopir taksi”.
Wanita itu sedikit lebih tenang sekarang.
Dalam hatinya, ia sedikit mengutuk diri,
dan menyesali buruk sangkanya seawal tadi.
Sekarang tampak padanya, betapa anak muda itu penuh adab dan sangat sopan, bahkan tak melirik sedikit pun padanya.
Singkat cerita, mereka pun tiba di kota.
Dalam hatinya, Sang Nyonya kaya itupun telah berniat akan memberikan seberapa besar pun ongkos yang diminta pemuda itu.
Sang Nyonya pun meminta sopir taksi itu berhenti.
Taksi itupun berhenti. Lalu sang Nyonya bertanya, “Berapa ongkosnya, Anak muda?”*
“Tidak ada, Nyonya... Tidak ada??!"Jawab pemuda itu.
"Mana mungkin? Engkau telah menolongku, dan mengantarku dengan selamat...” sergah sang Nyonya.
Si anak muda itu tersenyum saja. Lalu berkata “Ongkosku adalah berjanjilah untuk melakukan kebaikan kepada siapa saja yang Nyonya temui...”
Si anak muda, sopir taksi itupun berlalu,
meninggalkan Sang Nyonya dalam kebisuannya.
Dalam keterkejutan jiwanya, Sang Nyonya kaya itu melangkahkan kakinya ke sebuah kafe kecil didepannya. Langkahnya terhenti, lalu ia masuk ke dalam, dan kepada seorang pelayan wanita
ia memesan secangkir kopi hangat...
Sang pelayan pun sejurus kemudian datang menyajikan secawan kopi panas untuk Sang Nyonya itu.
Sang Nyonya memandang pelayan wanita itu. Ia tampak lelah dan payah sekali wajahnya, dan perutnya tampak besar dan buncit.
“Anda tampak sangat lelah. Kenapa?” tanya sang Nyonya itu.
Pelayan itu tersenyum susah-payah, lalu menjawab “Waktu persalinan sudah menjelang, Nyonya...”
“Mengapa tidak rehat dan cuti saja?” saran sang Nyonya. “Saya harus menabung untuk biaya persalinan bayiku, Nyonya...” jawab pelayan itu. Sang Nyonya itu mengangguk pelan tanda mengerti.
Secawan kopi panas itupun selesai diminumnya. Sang Nyonya membayar kopinya, dan si pelayan membawa uang itu ke kasir untuk mengambilkan kembaliannya, karena uang besar itu setara dengan 20 cawan kopi.
Tapi kursi Nyonya kaya itu telah kosong saat si Pelayan itu ingin menyerahkan kembaliannya.
Matanya mengedar ke segenap penjuru, tapi Nyonya itu benar-benar telah pergi.
Lalu di meja itu, ia menemukan secarik kertas:
“Kembalian kopiku itu kuhadiahkan untukmu!!!...”
Betapa gembira hati Pelayan itu! Ia membalik kertas itu untuk kembali menemukan
sebaris kalimat lain, “Dan di bawah meja ini,
saya juga menitipkan hadiah untuk calon bayimu...”
Hampir saja ia berterik histeris, karena yang di bawah meja itu adalah sejumlah uang yang setara dengan gajinya selama setahun! Dan tentu lebih dari cukup untuk membiayai persalinanya.
Air matanya tak mungkin lagi dibendung.
Ia bergegas pergi. Meminta izin dari kerjanya.
Ia pergi mendahului angin yang bertiup kencang.
Suaminya harus tahu kegembiraan ini, sebab suaminya galau sepanjang hari memikirkan kelahiran bayinya...
Ia masuk menerobos pintu rumahnya. Memanggil-manggil suaminya yang terkejut
dan terheran atas kep**angannya di waktu tak biasa. “Apakah sudah waktunya melahirkan?”
Tanya suaminya.
Tapi istrinya terus memeluknya erat. Suaranya berbaur bahagia dan haru. “Bersyukurlah, suamiku... Akhirnya Allah memberikan jalan keluarNya!”
Ternyata sang suami itu adalah Abdul, si supir taksi budiman itu yang terdiam tanpa kata mendengar tutur kisah sang istri, dan melihat “hadiah kebaikan” yang dibawanya.
Sahabat...
Jangan pernah melupakan bahwa "Kebaikan itu pasti akan kembali kepada kita, suatu waktu nanti!"
Berbuat baiklah, dan selalu ingat, “Tidak ada balasan untuk kebaikan kecuali kebaikan itu sendiri.”
Sabda Nabi, "Orang yang menunjuki kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala layaknya pahalanya orang yang melakukan kebaikan itu." (HR. Muslim).
Lalu, kebaikan apa yang telah kita perbuat hari ini? Semoga bermanfaat.
Have very good morning all
Make your day
Life is so beautiful