07/04/2026
Beruntunglah orang yang tak membawa kedengkian sebagai teman. Ia berjalan dengan hati yang ringan, tidak dibebani oleh perbandingan yang melelahkan atau luka yang terus dihidupkan. Dalam dirinya ada kelapangan yang membuat hidup terasa lebih jernih, seolah setiap langkahnya dipenuhi udara segar yang menenangkan batin. Ia tidak sibuk mengukur kebahagiaan orang lain, karena ia telah berdamai dengan apa yang menjadi bagiannya.
Kedengkian sering datang diam-diam, menyusup lewat rasa kurang dan keinginan untuk memiliki apa yang bukan miliknya. Ia mengeraskan hati, menutup mata dari nikmat yang telah ada, dan perlahan menggerogoti kedamaian dari dalam. Orang yang memeliharanya mungkin tampak baik-baik saja di luar, tetapi batinnya dipenuhi kegelisahan yang tak pernah usai.
Sebaliknya, mereka yang mampu melepaskan kedengkian menemukan kebebasan yang sulit dijelaskan. Hatinya menjadi luas, mampu mendoakan tanpa syarat, dan menerima tanpa merasa kalah. Ia memahami bahwa setiap manusia berjalan pada garis takdirnya masing-masing, dengan waktu dan ujian yang berbeda.
Hidup menjadi lebih hangat ketika hati tidak dipenuhi oleh iri. Sebab pada akhirnya, yang menenangkan bukanlah apa yang kita miliki, melainkan hati yang bersih dari beban yang tak perlu. Dan di sanalah kebahagiaan yang paling sunyi, namun paling nyata, bersemayam.