19/02/2026
Part 2 Kitab Birrul Walidain
حرمة الوالدين في الإسلام
اهتمّ الإسلام بأمر الوالدين اهتمامًا تامًا، فأوجب طاعتهما وجعل برّهما من أجلّ الطاعات وأعظم القربات، ونهى عن عقوقهما وشدّد في ذلك، وجعله من أكبر الكبائر وأفحش الجرائم.
وقد بلغ من عناية الله بحقوق الوالدين أن قرن برّهما والإحسان إليهما بعبادته وتوحيده، فقال تعالى:
﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾ [النساء: 36]
وقال: ﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾ [الإسراء: 23]
وفي الآية لطيفة لا يتفطن لها إلا من تدبرها، وهي أنه تعالى أبى أن لا يُعبد غيره، ثم ذكر برّ الوالدين بتقديم ذكرهما على قوله «إحسانًا» اعتناءً بحقهما، وتنبيهًا على أن برّهما يَلي عبادة الله تعالى، وما ذاك إلا لعِظم منزلتهما والمكانة العظيمة.
ولذا ذكر الرسول صلوات الله وسلامه عليه أن من أكبر الكبائر الشرك بالله، ثم أردفه بعقوق الوالدين، وقدّمه على جميع الكبائر، فقال:
«ألا أنبئكم بأكبر الكبائر؟ الإشراك بالله، وعقوق الوالدين».
وقرن الله عز وجل أيضًا شكرهما بشكره في قوله سبحانه:
﴿أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ﴾ [لقمان: 14]
ولعل السرّ في ذلك من حيث إنه تعالى هو الموجد للولد حقيقةً، وهما الوالدان واسطةٌ في إنشائه.
---
Terjemahan Bahasa Indonesia
Kedudukan (Kemuliaan) Orang Tua dalam Islam
Islam sangat memperhatikan urusan kedua orang tua dengan perhatian yang sempurna. Islam mewajibkan taat kepada keduanya, menjadikan berbakti kepada mereka sebagai salah satu ketaatan yang paling mulia dan ibadah yang paling agung, serta melarang durhaka kepada mereka dengan larangan yang sangat keras. Bahkan, durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar dan kejahatan yang sangat buruk.
Begitu besar perhatian Allah terhadap hak-hak kedua orang tua sehingga Allah menggandengkan perintah berbuat baik kepada keduanya dengan perintah beribadah dan mentauhidkan-Nya. Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)
Dan firman-Nya:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23)
Dalam ayat tersebut terdapat isyarat halus yang hanya dipahami oleh orang yang merenungkannya, yaitu bahwa Allah menegaskan agar tidak menyembah selain Dia, kemudian menyebutkan kewajiban berbakti kepada orang tua dengan mendahulukan penyebutan mereka sebelum kata “berbuat baik”, sebagai bentuk perhatian terhadap hak keduanya, serta sebagai penegasan bahwa berbakti kepada orang tua berada setelah ibadah kepada Allah. Hal itu menunjukkan betapa tinggi kedudukan dan agungnya martabat mereka.
Karena itu, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa di antara dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, kemudian beliau menyusulkannya dengan durhaka kepada orang tua, bahkan mendahulukannya di antara dosa-dosa besar lainnya. Beliau bersabda:
“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa yang paling besar? Yaitu mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”
Allah juga menggandengkan perintah bersyukur kepada keduanya dengan bersyukur kepada-Nya dalam firman-Nya:
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)
Barangkali rahasia dari hal itu adalah karena Allah-lah yang menciptakan anak secara hakiki, sedangkan kedua orang tua menjadi perantara dalam proses kelahirannya.