16/11/2025
Penipuan “Bakery Sehat” yang Menyembunyikan Bahaya: Kisah Bake & Grind
Jakarta — Sebuah toko roti online bernama Bake & Grind tengah menjadi sorotan tajam setelah tuduhan penipuan dengan janji produk “sehat” yang ternyata hanya ilusi. Klaim bebas gluten, bebas susu (dairy-free), bebas gula (sugar-free), dan vegan yang dijanjikan Bake & Grind rupanya berbanding terbalik dengan kenyataan pahit di balik kemasannya.
Dari Kepercayaan ke Kecemasan: Perjalanan Seorang Ibu
Kisah bermula dari curahan hati Felicia Elizabeth, seorang ibu yang telah menjadi pelanggan setia Bake & Grind sejak September 2024. Felicia memilih toko roti ini karena produknya dijual dengan klaim sangat sehat — cocok untuk sang anak berusia 17 bulan yang memiliki riwayat eksim dan sensitif terhadap alergen.
Namun, drama kesehatan nyata dimulai ketika Felicia memberi anaknya sepotong roti dari Bake & Grind pada 11 Agustus 2025. Hanya dalam beberapa jam, tubuh sang anak meledak dengan reaksi alergi serius: ruam merah di seluruh tubuh, pembengkakan di wajah, dan rasa panas yang menyiksa.
Felicia sempat ragu dari mana asal penyebabnya. Tapi setelah menelusuri foto-foto produk, sebuah fakta mengejutkan muncul: desain roti di Instagram Bake & Grind sangat mirip dengan produk dari toko roti lain yang sudah terkenal.
Uji Laboratorium: Fakta Terungkap
Karena curiga, Felicia mengirim sampel produk roti ke laboratorium. Hasilnya mengungkap kebenaran buruk — roti yang diklaim “bebas gluten” itu mengandung gluten.
Tak hanya itu, ternyata roti-roti tersebut bukan diproduksi sendiri oleh Bake & Grind. Bukti menunjukkan bahwa toko ini melakukan repackaging (mengemas ulang) roti dari toko lain dan menjual kembali ke konsumen dengan harga jauh lebih tinggi — sementara klaim sehat hanyalah bualan marketing.
Dampak terhadap Kesehatan dan Kepercayaan
Korban bukan hanya Felicia. Seiring kisahnya viral, banyak konsumen lain bermunculan, menyatakan mereka juga merasa tertipu. Beberapa bahkan mengaku mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi produk yang konon “super sehat” itu.
Mengingat bahaya terhadap konsumen yang sensitif terhadap gluten dan alergen lain, anggota DPR Komisi IX, Arzeti Bilbina, mendesak BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) untuk segera turun tangan dan menindak Bake & Grind.
Tindakan Hukum
Pada 17 Oktober 2025, laporan resmi dilayangkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penipuan. Dalam laporan, korban menyertakan bukti seperti hasil uji lab, rekam medis anak, tangkapan layar Instagram Bake & Grind, dan bukti pembayaran.
Pihak kepolisian menyatakan kemungkinan dakwaan meliputi Pasal 378 KUHP (penipuan), UU Perlindungan Konsumen, UU Pangan, bahkan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), dengan ancaman hukuman maksimal yang cukup berat.
Reaksi dari Bake & Grind
Bake & Grind akhirnya angkat suara setelah tuduhan makin panas. Mereka menyatakan akun Instagram utama mereka sedang dibatasi dan mereka menonaktifkan operasional sementara. Mereka menjanjikan refund kepada pelanggan yang dirugikan, dengan jangka waktu proses diklaim paling lambat 18–20 Oktober 2025.
Namun, klarifikasi resmi yang lebih lengkap belum muncul karena keterbatasan akses ke akun media sosial mereka.
Kontroversi yang Lebih Luas
Kasus ini memantik keprihatinan publik yang lebih luas. Banyak orang menyoroti bahwa klaim “sehat” atau “bebas alergen” pada produk makanan harus diawasi dengan ketat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan legal.
Sementara itu, Felicia bertekad untuk menuntut keadilan — bukan hanya untuk anaknya, tetapi agar tidak ada orang tua lain yang menjadi korban akibat kepercayaan yang disalahgunakan oleh label “sehat”.
Source : viralinstagramgosip