10/02/2026
Matahari Jakarta tepat berada di atas kepala, memancarkan panas yang menyengat aspal perumahan elit di Tebet. Namun, panas itu tak sebanding dengan api yang membakar wajah Alisa saat ia mendengar suara bel pagar berbunyi sekali lagi, memotong teriakan mertuanya yang masih menggema di ruang tengah.
"Alisa! Ada tamu! Buka gerbangnya! Jangan lelet kayak siput!" seru Ibu Rahma dari dalam, suaranya kini berubah panik, mungkin mengira teman-teman sosialitanya datang lebih awal.
Alisa menyeka air matanya dengan ujung lengan gamis. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menormalkan ekspresi wajahnya yang sembap. Dengan langkah gontai, ia berjalan keluar melintasi halaman kecil yang rumputnya baru saja ia rapikan kemarin sore.
Ia membuka pintu gerbang besi hitam yang berat itu.
Namun, yang berdiri di sana bukanlah rombongan ibu-ibu dengan tas branded dan kacamata hitam, melainkan seorang pria jangkung dengan kemeja linen putih yang digulung hingga siku. Pria itu menatap Alisa dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara kaget, iba, dan… marah?
Itu dr. Faris Ardiansyah. Dokter anak yang sempat memberinya plester luka di pasar tempo hari.
"Dokter Faris?" suara Alisa tercekat, serak karena habis menangis. Ia refleks membenarkan letak jilbab instannya yang sedikit berantakan. Malu. Ia sangat malu terlihat sekacau ini oleh orang asing.
Faris tidak langsung menjawab. Matanya sekilas menangkap jejak air mata di p**i Alisa dan tangan wanita itu yang gemetar memegang gagang pintu pagar. Ia mendengar teriakan "parasit" tadi dengan sangat jelas. Rahangnya mengeras sejenak sebelum ia menyodorkan sebuah benda kecil berwarna cokelat kusam.
"Maaf mengganggu siang-siang, Bu Alisa. Dompet Ibu tertinggal di lapak daging pasar tadi. Penjualnya bingung mau mengembalikan ke mana karena tidak ada KTP di dalamnya, tapi saya ingat Ibu tadi berdiri di sana," ucap Faris, suaranya tenang dan dalam, kontras dengan kekacauan di dalam rumah Alisa.
Alisa terperangah. Ia meraba saku gamisnya. Kosong. Ya Allah, saking paniknya disuruh Ibu Rahma mencari buntut sapi, ia sampai tidak sadar dompetnya jatuh.
"Astaghfirullah... terima kasih banyak, Dok. Saya... saya ceroboh sekali," Alisa menerima dompet itu dengan kedua tangan.
Dompet itu adalah dompet kulit sintetis murah yang sudah mengelupas di bagian ujungnya. Isinya pun Alisa tahu persis: hanya tersisa uang receh kembalian seribu dua ribu rupiah, struk belanja, dan selembar foto almarhumah ibunya. Tidak ada kartu kredit, tidak ada kartu debit platinum. Kartu identitasnya pun dipegang Reno dengan alasan "biar aman".
Faris menatap dompet lusuh di tangan wanita yang ia tahu cerdas itu. Ia melihat tangan Alisa—tangan seorang sarjana lulusan terbaik yang kini kasar dan ada bekas luka bakar minyak di punggung tangannya.
"Lain kali hati-hati, Bu. Di Jakarta, kehilangan identitas itu merepotkan," ujar Faris lembut. Kalimatnya terdengar memiliki makna ganda. Kehilangan identitas.
"Siapa itu, Alisa?! Tukang paket? Atau tukang kredit?"
Suara Ibu Rahma melengking dari teras. Wanita paruh baya itu muncul dengan wajah masam, kipas tangan di tangan kanannya berkibas cepat.
Alisa menunduk takut. "Bukan, Bu. Ini Dokter Faris, beliau mengembalikan dompet Alisa yang jatuh..."
Ibu Rahma menatap Faris dari ujung kaki ke ujung kepala, menilai merek sepatu dan jam tangan yang dikenakan pria itu. Naluri materialistisnya langsung bekerja. Jam tangan Swiss made, sepatu kulit asli. Ini bukan orang sembarangan.
Wajah Ibu Rahma berubah 180 derajat. Senyum manis yang dipaksakan langsung terukir.
"Oh, Dokter? Masya Allah, maaf ya Dok, saya kira tukang paket. Maklum, menantu saya ini memang ceroboh sekali. Untung Dokter orang baik. Mari masuk dulu, Dok? Minum teh?" tawar Ibu Rahma dengan nada yang dibuat semanis madu.
Faris tersenyum tipis, sangat tipis. "Terima kasih tawarannya, Bu. Tapi saya harus kembali ke rumah sakit. Ada pasien yang menunggu."
Ia menatap Alisa sekali lagi, tatapan yang seolah ingin mengatakan 'Are you okay?', tapi tertahan oleh norma kesopanan.
"Saya permisi. Assalamu’alaikum," pamit Faris.
"Wa’alaikumsalam," jawab Alisa pelan.
Begitu mobil sedan hitam Faris melaju pergi, senyum Ibu Rahma lenyap seketika. Ia menyambar lengan Alisa, mencubitnya pelan namun menyakitkan.
"Kamu tuh ya! Bikin malu aja! Dompet butut kayak gitu sampai diantar dokter ganteng. Nanti dikira saya nggak ngasih kamu uang jajan yang layak! Cepat masuk! Teman-teman saya sebentar lagi sampai!"
Alisa meringis menahan perih di lengannya, tapi perih di hatinya jauh lebih menyiksa. Ia diseret masuk kembali ke dalam "penjara" itu.
Pukul 13.00 WIB.
Tiga mobil mewah merapat di depan rumah. Rombongan teman arisan Ibu Rahma turun dengan segala keglamorannya. Aroma parfum mahal seketika memenuhi ruang tamu yang sempit itu. Gelak tawa renyah terdengar, membicarakan liburan ke Eropa dan koleksi tas terbaru.
Di dapur, Alisa sedang berjuang.
"Alisa!" desis Ibu Rahma yang muncul sebentar di pintu dapur. "Ingat instruksi saya. Kamu siapkan kue-kue di nampan, letakkan di meja tamu, lalu langsung masuk ke kamar belakang. Jangan keluar-keluar! Jangan sampai teman saya lihat kamu pakai baju gembel begitu. Nanti kalau ada yang tanya, bilang aja kamu lagi sibuk ngerjain laporan kantor Reno."
"Tapi Bu, Alisa belum ganti baju dari pasar..."
"Makanya jangan keluar! Dasar bebal!"
Alisa menelan ludah. Ia menata kue sus, lemper, dan risoles di atas piring kristal. Dengan tangan gemetar, ia membawa nampan itu ke ruang tamu. Ia berjalan menunduk, berusaha menjadi tak kasat mata.
"Wah, Jeng Rahma... ini siapa? Pembantu baru ya? Rajin banget kelihatannya," celetuk seorang wanita bertubuh tambun dengan kalung mutiara besar—Bu Sinta.
Langkah Alisa terhenti. Jantungnya berhenti berdetak.
Ibu Rahma tertawa renyah, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca di telinga Alisa. "Ah, iya Jeng. Ini... si Mbak yang biasa bantu-bantu kalau lagi ada acara. Maklum, pembantu utama lagi pulang kampung. Yang ini agak pemalu, jadi s**a menunduk terus."
Mbak yang bantu-bantu.
Status Alisa resmi diturunkan dari istri menjadi pembantu harian di depan orang banyak. Alisa meletakkan nampan itu dengan tangan gemetar hebat. Gelas teh di nampan berdenting pelan.
"Hati-hati d**g, Mbak! Itu kristal mahal lho!" tegur Bu Sinta.
"Ma-maaf, Nyonya," cicit Alisa. Lidahnya terasa kelu. Ia ingin berteriak, 'Saya menantunya! Saya istri sah Reno!' tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Tatapan tajam Ibu Rahma seolah mengancam akan membunuhnya jika ia berani membuka mulut.
"Sudah, sana ke belakang. Cuci piring yang numpuk," perintah Ibu Rahma, mengibaskan tangan seolah mengusir lalat.
Alisa berbalik badan, air matanya tumpah. Ia berlari kecil menuju dapur, lalu terus ke kamar belakang—gudang yang disulap jadi kamar setrika. Ia mengunci pintu, merosot di balik pintu, dan membekap mulutnya sendiri agar isak tangisnya tidak terdengar keluar.
Dari balik pintu tipis itu, ia masih bisa mendengar percakapan mereka.
"Ngomong-ngomong, Jeng Rahma... menantumu yang katanya lulusan IPB itu mana? Kok nggak pernah kelihatan?" tanya suara lain.
"Oh, Alisa?" suara Ibu Rahma terdengar lantang dan bangga. "Dia lagi sibuk banget, Jeng. Biasalah, wanita karier. Sekarang lagi meeting sama investor asing lewat Zoom di kamar atas. Reno kan manajer, istrinya juga harus selevel d**g. Nggak mungkin cuma di dapur."
"Wah, hebat ya! Mantu idaman banget. Nggak kayak mantu saya, cuma bisa ngabisin duit suami buat skincare."
"Iya d**g, siapa dulu mertuanya," timpal Ibu Rahma diiringi tawa bangga teman-temannya.
Alisa memeluk lututnya di lantai gudang yang dingin. Di sekelilingnya, tumpukan baju kotor Reno dan Ibu Rahma menanti untuk dicuci.
Wanita karier. Meeting dengan investor.
Kebohongan itu begitu sempurna dirangkai di atas penderitaannya. Alisa menatap tangannya yang kasar. Inikah tangan wanita karier yang dibanggakan mertuanya? Tangan yang barusan memotong buntut sapi dan membersihkan kerak kompor?
Ting!
Ponsel Alisa di saku gamis berbunyi. Pesan dari Reno.
Mas Reno: Bun, Ibu bilang teman-temannya mau datang. Awas jangan bikin malu. Uang belanja yang tadi pagi masih ada sisa kan? Belikan martabak manis keju spesial buat oleh-oleh mereka pulang nanti. Pakai uang itu, jangan minta lagi. Aku nggak mau dengar alasan kurang.
Alisa menatap layar ponsel itu dengan pandangan kabur. Uang seratus ribu tadi pagi sudah habis untuk beli daging tambahan. Uang lima puluh ribu dari Ibu Rahma pas-pasan untuk bumbu. Dompetnya? Kosong melompong, hanya ada recehan.
Harga martabak manis spesial di Jakarta sekarang minimal enam puluh ribu rupiah per loyang. Ibu Rahma ada lima orang teman. Butuh tiga loyang. Seratus delapan puluh ribu rupiah.
Dari mana Alisa harus mencari uang itu dalam waktu satu jam?
Ia menatap celengan ayam plastik di sudut gudang. Celengan itu berisi uang receh sisa belanja yang ia kumpulkan selama dua tahun untuk membeli laptop bekas—agar ia bisa mulai menulis atau bekerja freelance diam-diam. Mimpinya. Harapannya.
Alisa mengambil palu kecil dari kotak perkakas. Tangannya gemetar.
Prang!
Celengan ayam itu pecah. Uang koin lima ratusan dan seribuan berhamburan di lantai. Alisa memunguti mimpi-mimpinya yang berserakan itu sambil menangis sesenggukan.
"Maafkan aku, Mimpi..." bisiknya pilu. "Hari ini kalian harus jadi martabak demi gengsi suamiku."
Alisa mengumpulkan recehan itu ke dalam kantong kresek hitam. Berat. Sangat berat. Bukan karena jumlahnya, tapi karena beban kepedihan yang menyertainya.
Ia harus keluar lewat pintu samping, berjalan kaki ke penjual martabak di ujung jalan, dan membayar dengan uang receh ini. Ia sudah membayangkan tatapan menghina dari penjual martabak nanti.
Tapi itu lebih baik daripada diamuk Reno dan Ibu Rahma.
Saat Alisa menyelinap keluar lewat pintu samping, ia tidak menyadari bahwa mobil sedan hitam dr. Faris ternyata belum benar-benar pergi. Mobil itu parkir di seberang jalan, di bawah pohon rindang.
Faris duduk di balik kemudi, matanya menatap nanar ke arah gerbang samping rumah itu. Ia melihat Alisa keluar dengan mata bengkak, menenteng kresek hitam yang bergemerincing bunyi uang logam, berjalan tertatih menembus panas terik.
"Ya Tuhan..." desis Faris, mencengkeram setir mobilnya kuat-kuat. "Apa yang sebenarnya terjadi di rumah neraka itu?"
Faris menyalakan mesin mobilnya. Ia tidak bisa membiarkan wanita itu berjalan sendirian dengan kondisi seperti itu. Hati nuraninya sebagai dokter—dan sebagai laki-laki—terusik hebat.
Tapi Alisa tidak menoleh. Ia terus berjalan, menunduk, menghitung keping demi keping uang logam di tangannya, menghitung sisa harga dirinya yang kian menipis.
𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐬𝐞𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢 𝐚𝐩𝐥𝐢𝐤𝐚𝐬𝐢 𝐊𝐁𝐌
𝐉𝐮𝐝𝐮𝐥 : 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐠𝐠𝐚𝐩 𝐀𝐤𝐮 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮
𝐏𝐞𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬 : 𝐕𝐢𝐨𝐥𝐞𝐭𝐞