30/12/2025
Viral Ibu PAUD di Kampar Nangis Usai Unggah Paket MBG, BGN Tegaskan Isu Anak Dikeluarkan Tidak Benar
Sebuah video pengakuan ibu PAUD di Kabupaten Kampar, Riau, viral setelah ia mengaku mendapat tekanan usai mengunggah paket Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anaknya. Ibu bernama Nurul Oriana, warga Desa Ranah Baru, Kecamatan Kampar, sebelumnya memposting menu MBG berupa susu kotak, roti/kue, kacang goreng/kacang tanah, dan buah dengan narasi “rapelan MBG untuk 5 hari”.
Dalam unggahannya, Nurul mengaku anaknya AIRA di PAUD Melati/PAUD Melati disebut-sebut diminta mencari tempat belajar lain melalui grup WhatsApp sekolah. Ia menuliskan pesan emosional tanpa menyebut merek atau nama tertentu:
“Untuk anak ku AIRA, gpp kita gx sklh dulu ya nak… maafkan bunda imbas nya ke kamu. Bunda pun gtw kesalahan bunda entah dimana? toh tidak pernah menyenggol nama/menyebut merek. Bunda kena ancaman dan kamu di keluarkan disekolah. Doakan mereka yg telah menzholimi kita. Love you syg bunda zunaira alessia afrina,” tulis Nurul, dikutip pada Senin, 29 Desember 2025.
Nurul juga mengaku menerima ancaman via panggilan WhatsApp yang sempat terputus:
“Begitulah awal cerita nya,” katanya.
Dalam video lain, Nurul menangis sambil meminta bantuan Presiden Prabowo:
“Pak Probowo, Pak Dedi Mulyadi tolong. Saya pribadi dapat ancaman,” katanya.
Ia juga menyampaikan permohonan agar aturan publikasi MBG diperjelas jika memang dilarang.
“Kepada Presiden Prabowo, kalau memang MBG itu tidak boleh diposting, tolong buat aturannya Pak, agar kami yang tidak memposting dan menjadi korban,” katanya dalam bahasa Kampar sambil mengusap air mata.
Menanggapi viralnya kabar tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan tidak ada pelanggaran hak anak dan tidak ada intimidasi:
“Program MBG tidak boleh menimbulkan dampak negatif terhadap hak anak, khususnya hak memperoleh pendidikan,” ujar Dadan dalam keterangannya, Senin 29 Desember 2025.
“Setelah dilakukan klarifikasi, dapat dipastikan tidak ada anak yang dikeluarkan dari sekolah,” lanjutnya.
Dadan juga menegaskan bahwa program MBG justru terbuka terhadap kritik dan aspirasi orang tua:
“Setiap masukan dari masyarakat adalah bagian penting dari perbaikan layanan. Program ini hadir untuk melindungi anak-anak, bukan untuk membatasi ruang aspirasi orang tua,” kata Dadan.
Isu tersebut kemudian diklarifikasi dan dimediasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar. Pertemuan dihadiri orang tua murid, Dinas Pendidikan Kampar, pengelola MBG, Polres Kampar, Polsek Kampar, dan pihak lain. AKP Gian Wiatma Jonimandala dari Polres Kampar menyatakan masalah hanya salah paham dan emosi sesaat:
“Miskomunikasi saja. Sama-sama emosi. Tadi kita sudah lakukan pertemuan bersama, alhamdulillah sudah diselesaikan. Berakhir damai,” kata Gian.
Kapolsek Kampar AKP Asdisyah Mursyid juga menegaskan tidak ada unsur kesengajaan mengeluarkan anak dari PAUD:
“Tidak ditemukan adanya unsur kesengajaan maupun tindakan mengeluarkan anak dari sekolah,” tegasnya.
Dinas Pendidikan Kampar memastikan kabar anak diberhentikan tidak benar, dan PAUD terkait menyatakan tidak pernah mengeluarkan siswa secara administratif.
Pengelola MBG Kampar menjelaskan mekanisme distribusi untuk PAUD dilakukan 3 kali seminggu. Pada pekan kejadian, MBG hanya dihitung 3 hari (Selasa, Rabu, Jumat) karena 2 hari libur, sementara Senin tetap diberikan menu basah. Nurul menerima 3 paket makanan kering berisi 1 susu kotak kecil, 1 kue/roti, 1 bungkus kacang, dan buah berbeda tiap paket. Nurul mengira itu rapelan 5 hari, padahal hanya untuk 3 hari:
Nurul mengakui kekeliruan dan telah melakukan klarifikasi di media sosial.
Anggaran MBG PAUD di Kampar adalah Rp 8.000 per anak per hari. Pengelola memastikan jika dana tidak habis, sisa tetap tersimpan di rekening virtual dapur MBG dan tidak disalahgunakan. Pihak pengelola mengakui sosialisasi program masih kurang, menyampaikan permohonan maaf, dan berkomitmen memperbaiki komunikasi ke masyarakat.
BGN mengingatkan seluruh mitra pelaksana MBG di daerah agar mengedepankan komunikasi terbuka, persuasif, dan humanis agar polemik serupa tidak kembali terjadi. BGN juga berharap masyarakat tetap kritis dengan dialog sehat demi keberlanjutan program gizi nasional.