18/07/2020
//Yuk jaga lisan kita//
Ada salah satu hadis dalam Shahih Bukhari yang artinya
“Dari Abu Syuraih al-Adawi, beliau berkata: “Saya telah mendengar dengan kedua telingaku dan melihat dengan kedua mataku ketika Rasul SAW mengucapkan sabdanya: ‘Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya, dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya’, dia bertanya: ‘Apa yang di maksud dengan menjamunya wahai Rasul?’ beliau menjawab, ‘yaitu pada siang dan malam hari, dan beramu itu tiga hari, jika lebih dari itu, maka sedekah baginya.’ Dan beliau bersabda, ‘Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata dengan baik atau diam.” (HR. Bukhori)
Dalam Syarh Fathul Bari li Ibni Hajar, Imam Nawawi berkata bahwa maksud dari hadis diatas adalah anjuran untuk menjaga lisan, maka dianjurkan kepada setiap orang untuk berfikir sebelum berucap. Jika ucapannya mengandung manfaat maka ucapkanlah, namun jika tidak bahkan dapat menyakiti orang lain maka diamlah.
Dalam syarah tersebut juga disebutkan bahwa, jika ia tidak mengetahui apakah ucapannya akan mengandung makna yang baik atau tidak, maka dianjurkan untuk diam. Sebab, jika ternyata perkataan tersebut dapat menyakiti orang lain, maka ia akan berdosa.
Seperti yang kita tau, kebanyakan pertengkaranpun berawal dari perkataan yang tidak baik, yang kemudian saling mencaci, hingga berujung pada kekerasan. Jika sudah begitu, maka dimana letak sisi kasih sayang yang dimiliki oleh manusia? Wal iyadzu billah.
Cukuplah kejadian kekerasan, pertengakaran, dan permusuhan yang telah terjadi menjadi peringatan bagi kita untuk selalu menjaga lisan, dan berbuat baik kepada orang lain. Mari kita teladani sifat-sifat yang telah diajarkan Rasul kepada para sahabatnya, dan agar terhindar dari itu semua, pilihannya hanya dua, berkata baik atau diam. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam bisshowab.
Sumber: Artikel majalahnabawi.com
Penulis: