11/08/2026
Guru SD di Tapsel Cubit Murid Sebanyak 80 Kali Gegara Tak Bisa Hapal Pelajaran
Guru SD Garoga, Batangtoru, Tapsel, Desi Sihombing didatangi puluhan orang tua siswa. Para orang tua tidak terima anaknya dicubit sebanyak 80 kali gegara tidak hapal pelajaran sekolah.
Desi merupakan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Desi Sihombing menyuruh siswa lain untuk mencubit murid yang tak hapal pelajar di kelas. Atas kejadian itu, Desi Sihombing disidang oleh puluhan orang tua siswa, Selasa (11/8/2026).
Dari mediasi ini terungkap bahwa perlakuan Desi Sihombing kepada siswa SD di Garoga yang menghukum siswa dengan cubitan sampai 80 kali. Makruf Siregar, orang tua siswa SD Garoga terkejut ketika pertama kali menemukan bekas cubitan di sekujar tubuh anaknya.
Ia menceritakan, bekas luka cubitan di tubuh anaknya terbongkar pagi hari hendak berangkat ke sekolah, Kamis (6/8/2026) pekan lalu.
Makruf kemudian pergi ke sekolah untuk mempertanyakan kejadian luka bekas cubitan ke para guru. Di sana ia bertemu Kepala Sekolah SD Garoga Sinar Masari Siregar yang tercengang ketika baju siswa itu dibuka melihat banyak luka bekas cubitan.
"Jawabannya atas nama kepala sekolah, saya minta maaf. Kemudian dibeli balsem lalu dioleskan ke badan anak saya. Saya curiga ada korban yang lain dan ternyata betul, bukan anak saya saja yang menjadi korban," ungkapnya.
Sebanyak 27 Anak Dicubit 80 Kali
Anak Makruf merupakan siswa kelas 5 SD Garoga. Ada sebanyak 28 siswa di kelas ini, dan yang bisa mendapat hapalan pelajaran hanya satu murid.
"Ternyata kawan-kawan anak saya di kelas juga menjadi korban cubitan oleh guru ini. Berarti ada 27 korban di kelas anak saya," jelasnya.
Ika Sandria Situmorang juga mengaku anaknya menjadi korban cubitan dari guru SD Garoga Desi Sihombing. "Saya tanya anak, apaka ada dicubit guru, tapi dia diam. Lalu saya buka bajunya, ternyata sudah banyak bekas luka cubitan. Saya rasanya begitu melihatnya," ungkapnya.
Ika mengaku apa yang sudah diperbuat guru Desi Sihombing terhadap siswa SD di Garoga sudah masuk kategori pembullyan massal. "Ini namanya pembullyan massal. Saya akui anak saya tak pintar, tapi kalau sudah dihukum sampai kondisi begini, sakit hati