Suara Sport

Suara Sport Kabar dunia olahraga terbaru dan terlengkap

13/01/2026

Man United bangun stadion baru 2M terinspirasi desain awal Wembley ("tenda sirkus") oleh Foster + Partners. Desain futuristik ini panen energi.

13/01/2026

Maximilian Ibrahimovic (19) pinjam dari AC Milan ke Jong Ajax. Pelatih Weijs puas, siap latih bareng tim utama. Fokus ke potensi pemain, bukan masa lalu.

13/01/2026

Fenerbahce incar N'Golo Kante dari Al Ittihad. Kontraknya habis, transfer bisa di Januari 2026. Ini penting untuk kans Kante ke Timnas Prancis.

13/01/2026

Klopp kaget Madrid pecat Alonso. Ia bantah rumor ganti kursi, sebut ekspektasi Madrid terlalu besar & tak ada kesabaran. Klopp tak tertarik melatih.

13/01/2026

Darren Bent nilai bek muda Arsenal, Myles Lewis-Skelly, "rentan" defensif jelang lawan Chelsea. Ia kalah saing musim ini, namun Arteta berpeluang mainkan dia.

13/01/2026

PSSI tunjuk John Herdman pelatih baru Timnas. Media Korsel soroti target jangka pendek (AFF 2026) & panjang (Piala Asia 2027). Herdman pahlawan Kanada.

13/01/2026

Carrick jadi manajer interim MU, bawa Holland, Woodgate, Evans, Binnion. Debut lawan City. Gantikan Amorim.

Di tenis, ada hari-hari ketika kamu pulang dari satu lapangan dengan hati jatuh tapi dari lapangan sebelah, kamu justru ...
13/01/2026

Di tenis, ada hari-hari ketika kamu pulang dari satu lapangan dengan hati jatuh tapi dari lapangan sebelah, kamu justru menemukan alasan untuk tetap tersenyum.

Itulah yang dialami Janice Tjen di WTA 250 Hobart. Selasa itu dibuka dengan pil pahit di sektor tunggal. Janice, petenis kelahiran Jakarta yang kini berjuang di level tertinggi, harus menghadapi unggulan ketiga yang sedang naik daun, Iva Jovic.

Hasilnya keras 0-6, 1-6 dalam 57 menit. Janice sempat mencatat ace lebih banyak, tapi servis dan agresivitas Jovic terlalu dominan. Hari itu, tunggal terasa seperti ombak besar yang belum bisa ia redam.

Tapi cerita Janice tidak berhenti di situ. Karena beberapa jam kemudian, ia kembali masuk lapangan, kali ini di sektor ganda, bersama partnernya dari Polandia, Katarzyna Piter. Dan di sinilah mental atlet diuji. Habis kalah telak, masih bisa bangkit atau tidak?

Jawabannya bisa. Dan caranya meyakinkan.

Janice/Piter sempat tertinggal lebih dulu. Set pertama lepas, 3-6. Namun mereka tidak panik. Mereka mengencangkan senjata paling sederhana tapi mematikan, servis.

Dengan servis pertama yang “jadi” (mereka meraih 79,1% poin dari first serve), ditambah dua ace, Janice/Piter membalikkan keadaan menang set kedua 6-4, lalu mengunci super tiebreak 10-5. Selesai dalam 1 jam 17 menit, bukan cuma menang, tapi menang dengan karakter.

Sekarang, mereka melaju ke perempat final dan akan bertemu pasangan Ukraina–Jepang Nadiia Kichenok/Makoto Ninomiya, yang sebelumnya menumbangkan unggulan kedua dengan straight set 7-5, 7-5. Ini jelas bukan undian mudah.

Tapi kalau ada modal paling mahal dalam turnamen, itu adalah momentum dan Janice baru saja menyalakannya.

Yang membuat kisah ini makin hangat, Janice bukan pemain yang asing dengan medali dan momen besar. Musim lalu ia menutup tur dengan manis, juara tunggal dan ganda di Chennai Open (bersama Aldila Sutjiadi).

Di SEA Games 2025 Thailand, ia juga menyumbang emas ganda putri bersama Aldila, perunggu tunggal, dan ikut mengantar emas beregu putri untuk Indonesia.

Jadi kalau hari ini tunggalnya terasa pahit, itu bukan tanda akhir. Itu hanya bagian dari perjalanan.

Karena di tenis, kadang kamu tidak menang di semua tempat. Tapi kamu selalu punya pilihan, tenggelam di kekalahan atau bangkit di kesempatan berikutnya.

Dan di Hobart, Janice memilih bangkit.

Ada kabar yang rasanya “sunyi” di dunia olahraga. Bukan tentang kalah-menang, tapi tentang tubuh yang meminta berhenti.G...
13/01/2026

Ada kabar yang rasanya “sunyi” di dunia olahraga. Bukan tentang kalah-menang, tapi tentang tubuh yang meminta berhenti.

Ganda campuran Indonesia Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri Pranata dipastikan absen dari dua turnamen penting awal musim, Indonesia Masters 2026 (Super 500) dan Thailand Masters 2026 (Super 300).

Bukan karena strategi rotasi. Bukan karena masalah teknis. Tapi karena sesuatu yang jauh lebih serius. Mata kanan Marwan Faza bermasalah.

Semua bermula setelah mereka tampil di Malaysia Open 2026 pekan lalu. Seusai turnamen itu, Faza mengeluhkan penglihatannya berubah, mata kanan terasa buram dan kabur.

Pelatih ganda campuran, Rionny Mainaky, langsung mengambil keputusan yang kadang paling berat bagi atlet yaitu mundur untuk pemulihan.

“Setelah Malaysia Open, penglihatan mata kanan Faza buram dan kabur. Kami memutuskan menarik dia dari dua turnamen untuk pemulihan,” ujarnya.

Yang membuat situasinya makin mengkhawatirkan, dokter PBSI dr. Hasna HM menjelaskan gangguan itu mulai terasa saat Faza masih bertanding di Malaysia.

Bayangkan jadi pemain bulu tangkis, olahraga yang bola kecilnya melesat cepat, lalu kamu merasakan satu mata seperti tidak bisa “mengunci” arah shuttlecock.

Faza bahkan mengeluhkan sampai tidak bisa melihat jika hanya menggunakan satu mata.

Setelah kembali ke Indonesia, tim medis PBSI melakukan pemeriksaan lanjutan. Hasilnya bukan hal sepele. Ditemukan peradangan pada saraf mata kanan, dan tekanan bola mata mencapai 38, padahal normalnya di bawah 20.

Dengan kondisi itu, indikasinya mengarah ke glaukoma, sehingga rekomendasi dokter jelas. Istirahat dulu sampai penglihatan kembali normal.

Di titik ini, PBSI menegaskan fokus utama bukan mengejar turnamen, tapi menjaga masa depan karier. Belum ada kepastian kapan Marwan/Aisyah akan kembali tampil di ajang internasional. Yang pasti, pemulihan Faza jadi prioritas.

Dan memang, kehilangan mereka terasa di sektor ganda campuran. Marwan/Aisyah sedang dipersiapkan untuk menambah jam terbang dan membangun konsistensi di rangkaian awal musim 2026.

Pekan lalu saja, meski tersingkir di babak pertama Malaysia Open dari pasangan Prancis Julien Maio/Lea Palermo (21-9, 16-21, 16-21), mereka tetap dianggap bagian dari proses panjang.

Tapi olahraga selalu mengajarkan satu hal yang sering kita lupa, kadang, kemenangan terbesar adalah berani berhenti tepat waktu.

Semoga pemulihan Marwan Faza berjalan lancar karena tidak ada turnamen yang lebih penting daripada satu hal ini: bisa melihat dunia dengan jelas lagi.

13/01/2026

Gallagher dikabarkan lebih memilih melanjutkan karier sepak bolanya di London Utara, meningkatkan peluang transfer tersebut.

13/01/2026

Dua predator Super League, Ciro Alves dan David da Silva urus naturalisasi jadi WNI. Bakal dipanggil John Herdman?

Di New Delhi, kemenangan hari itu tidak datang dari pukulan paling keras. Ia datang dari kesabaran dan dari mata yang di...
13/01/2026

Di New Delhi, kemenangan hari itu tidak datang dari pukulan paling keras. Ia datang dari kesabaran dan dari mata yang dipaksa tetap fokus saat bola terlihat “samar”.

Selasa, 13 Januari 2026 di Indira Gandhi Indoor Stadium, Putri Kusuma Wardani membuka langkahnya di India Open 2026 dengan cara yang bikin napas penonton ikut naik-turun.

Lawannya bukan nama sembarangan, Michelle Li (Kanada). Dan ujian pertama bukan cuma dari seberang net tapi juga dari alam di dalam arena.

Lapangan terasa dingin, cukup berangin, bahkan Putri menyebut ada kabut atau asap yang membuat bola seperti menghilang sesaat sebelum tiba.

Buat pemain tunggal putri, itu mimpi buruk kecil. Timing bisa meleset, insting bisa ragu, dan satu kesalahan kecil bisa jadi rangkaian panjang.

Tapi Putri menuntaskan laga itu dengan “manis” meski jalannya tidak lurus. Skornya 21-12, 20-22, 21-15. Gim pertama, Putri tampil meyakinkan. Ritme rapi, kontrol jalan. Seolah ia berkata, “Aku siap.”

Namun gim kedua, cerita berubah. Putri mengaku sempat kehilangan kendali terutama di area net. Michelle Li bermain agresif dari depan, memegang kendali permainan. Saat Putri mengangkat bola, Li mendapat panggung untuk menyerang.

Ditambah lagi, Putri merasa terlalu banyak melakukan kesalahan sendiri dan kurang sabar ketika rally dipanjang-panjangkan.

Dan di momen seperti itu, pertandingan biasanya punya dua akhir yaitu panik atau belajar cepat. Putri memilih yang kedua.

Masuk gim ketiga, ia mengubah cara berpikir. Lebih safe, lebih disiplin, dan yang paling penting, membatasi bola, bola atas yang bisa membuat Michelle Li nyaman membangun tekanan. Pelan-pelan, Putri menutup pintu yang sempat terbuka lebar di gim kedua. Li tak lagi leluasa memancing pola lambung. Putri kembali memegang kendali.

Di akhir laga, Putri tidak cuma merayakan skor. Ia merayakan hal yang bagi atlet jauh lebih penting.

“Pertama bersyukur tidak ada cedera apa pun,” ujar Putri.

Kemenangan ini juga terasa spesial karena jadi kemenangan keduanya atas Michelle Li, sebuah nama yang pernah menembus 10 besar dunia (di masa Putri masih junior). Bukan sekadar menang, tapi semacam pengingat bahwa Putri KW terus bertumbuh, terus naik kelas.

Langkah berikutnya sudah menunggu di babak 16 besar: Line Højmark Kjaersfeldt dari Denmark. Kalau babak pertama adalah ujian cuaca, kabut, dan kesabaran babak berikutnya adalah ujian level Eropa.

Tapi satu hal sudah jelas dari New Delhi, di hari ketika bola saja susah terlihat, Putri KW tetap menemukan jalannya.

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Suara Sport posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Suara Sport:

Share