24/11/2025
Di dunia sepak bola, tidak ada pengkhianatan yang terasa lebih menusuk hati daripada melihat pemain terbaik tim Anda menyeberang ke rival terbesar.
Dan kalau bicara soal pengkhianatan paling kontroversial dalam sejarah, tidak ada yang bisa menandingi Luis Figo.
Musim panas tahun 2000. Figo adalah raja Catalan. Ia baru saja mengantar Barcelona meraih dua gelar La Liga, tampil gemilang di Euro 2000, bahkan nyaris menyabet Ballon d'Or. Ia pemain idola, wakil kapten, pemimpin ruang ganti, dan simbol kebanggaan Camp Nou.
Lalu Madrid datang. Florentino Pérez yang sedang membangun kerajaan Galacticos, membayar klausul pelepasan Figo senilai £37 juta, rekor dunia saat itu. Dalam sekejap, sang bintang Portugal berubah menjadi wajah baru Real Madrid… sekaligus musuh nomor satu Barcelona.
Di dalam skuad Barca, kepindahan itu seperti gempa. Pemain Barca, Jari Litmanen, yang baru setahun bergabung, masih ingat betul rasa tidak percaya itu.
“Pertama kali saya melihat Figo mengenakan seragam Madrid, rasanya tidak menyenangkan sama sekali,” kenangnya.
“Dia wakil kapten, idola, dicintai semua orang. Dia jarang absen, tidak pernah main buruk. Melihatnya pergi… terutama ke Madrid… sangat menyakitkan.”
Litmanen dan para pemain Barca hanya punya satu pertanyaan: kenapa?
Bagaimana mungkin pemain sebesar itu, sedekat itu dengan klub dan kota, memilih rival abadi?
Tapi drama tidak berhenti di sana.
Oktober 2001. Figo kembali ke Camp Nou untuk pertama kalinya sebagai pemain Real Madrid. Dan stadion itu… berubah menjadi badai kemarahan.
Setiap kali ia menyentuh bola, benda-benda dilemparkan dari tribun. Spanduk bertuliskan “Yudas”, “Sampah”, dan makian lainnya terpampang di seluruh sudut stadion. Figo, yang dulu dielu-elukan, kini dianggap pengkhianat terbesar klub.
Namun puncaknya terjadi pada kunjungan berikutnya. Saat itu, dari tribun Camp Nou, sebuah kepala babi tiba-tiba melayang dan jatuh tepat di dekat Figo ketika ia hendak mengambil sepak pojok.
Gambar itu menjadi salah satu simbol paling ikonik, paling gila, dan paling pahit dalam sejarah El Clásico.
Momen yang menegaskan satu hal:
Figo tidak hanya pindah klub. Ia mengubah wajah rivalitas Barcelona–Real Madrid selamanya.
Sampai hari ini, kisah itu tetap diceritakan sebagai pengkhianatan terbesar sepak bola. Kisah yang membuat darah para penggemar mendidih setiap kali El Clásico digelar.