13/01/2026
Di tenis, ada hari-hari ketika kamu pulang dari satu lapangan dengan hati jatuh tapi dari lapangan sebelah, kamu justru menemukan alasan untuk tetap tersenyum.
Itulah yang dialami Janice Tjen di WTA 250 Hobart. Selasa itu dibuka dengan pil pahit di sektor tunggal. Janice, petenis kelahiran Jakarta yang kini berjuang di level tertinggi, harus menghadapi unggulan ketiga yang sedang naik daun, Iva Jovic.
Hasilnya keras 0-6, 1-6 dalam 57 menit. Janice sempat mencatat ace lebih banyak, tapi servis dan agresivitas Jovic terlalu dominan. Hari itu, tunggal terasa seperti ombak besar yang belum bisa ia redam.
Tapi cerita Janice tidak berhenti di situ. Karena beberapa jam kemudian, ia kembali masuk lapangan, kali ini di sektor ganda, bersama partnernya dari Polandia, Katarzyna Piter. Dan di sinilah mental atlet diuji. Habis kalah telak, masih bisa bangkit atau tidak?
Jawabannya bisa. Dan caranya meyakinkan.
Janice/Piter sempat tertinggal lebih dulu. Set pertama lepas, 3-6. Namun mereka tidak panik. Mereka mengencangkan senjata paling sederhana tapi mematikan, servis.
Dengan servis pertama yang “jadi” (mereka meraih 79,1% poin dari first serve), ditambah dua ace, Janice/Piter membalikkan keadaan menang set kedua 6-4, lalu mengunci super tiebreak 10-5. Selesai dalam 1 jam 17 menit, bukan cuma menang, tapi menang dengan karakter.
Sekarang, mereka melaju ke perempat final dan akan bertemu pasangan Ukraina–Jepang Nadiia Kichenok/Makoto Ninomiya, yang sebelumnya menumbangkan unggulan kedua dengan straight set 7-5, 7-5. Ini jelas bukan undian mudah.
Tapi kalau ada modal paling mahal dalam turnamen, itu adalah momentum dan Janice baru saja menyalakannya.
Yang membuat kisah ini makin hangat, Janice bukan pemain yang asing dengan medali dan momen besar. Musim lalu ia menutup tur dengan manis, juara tunggal dan ganda di Chennai Open (bersama Aldila Sutjiadi).
Di SEA Games 2025 Thailand, ia juga menyumbang emas ganda putri bersama Aldila, perunggu tunggal, dan ikut mengantar emas beregu putri untuk Indonesia.
Jadi kalau hari ini tunggalnya terasa pahit, itu bukan tanda akhir. Itu hanya bagian dari perjalanan.
Karena di tenis, kadang kamu tidak menang di semua tempat. Tapi kamu selalu punya pilihan, tenggelam di kekalahan atau bangkit di kesempatan berikutnya.
Dan di Hobart, Janice memilih bangkit.