Mysterious Things

Mysterious Things Menjelajahi sisi gelap manusia, misteri lama, tragedi terlupakan, dan hal-hal yang belum terpecahkan.

10/09/2023

Mie tektek khas bandung

01/09/2023

Masjid Istiqlal di pagi hari...

30/08/2023

Jalan-jalan ke monas

26/08/2023

Masjid Al Jabbar, bandung, jawa barat.

25/07/2023

SEJARAH TUGU KUJANG

Tugu Kujang adalah sebuah tugu yang merupakan ikon kota Bogor. Bentuknya menyerupai sebuah kujang, yakni senjata tradisional suku Sunda yang berasal dari Jawa Barat. Tugu Kujang dibangun pada 4 Mei 1982 pada masa pemerintahan walikota Achmad Sobana dengan biaya pembangunan mencapai 80 juta rupiah. Atau kalau kita cek dengan kalkulator inflasi, setara dengan -/+ 2 Milyar rupiah pada hari ini.

Tugu kujang kira-kira tingginya sekitar 25 meter dari permukaan tanah dengan seluas 26 meter x 23 meter.

Tugu Kujang terletak di simpang tiga jalan raya Padjajaran, Otto Iskandar, dan Baranangsiang.

Tugu Kujang ini didirikan sebagai bentuk penghormatan terhadap kerajaan Sunda yang pernah berdiri di masa lampau yang dulu ibu kotanya adalah kota Bogor sebagai Pakuan Pajajaran dengan rajanya yang terkena Prabu Siliwangi.

English:

Tugu Kujang is a monument that serves as an icon of the city of Bogor. Its shape resembles a "kujang," which is a traditional weapon of the Sundanese people originating from West Java. Tugu Kujang was built on May 4, 1982, during the tenure of Mayor Achmad Sobana, with a construction cost of 80 million rupiahs. Adjusted for inflation using a calculator, this amount would be approximately -/+ 2 billion rupiahs today.

The Tugu Kujang is approximately 25 meters high from the ground and has a dimension of 26 meters x 23 meters.

The monument was erected at the intersection of three roads: Padjajaran, Otto Iskandar, and Baranangsiang.

The Tugu Kujang was established as a form of tribute to the ancient Sunda kingdom, which once existed in the past, with Bogor as its capital known as Pakuan Pajajaran and ruled by the renowned King Prabu Siliwangi.

Dikirimin photo makam uwak di aceh, jadi pengen pesiar dan ziarah ke sana...
24/07/2023

Dikirimin photo makam uwak di aceh, jadi pengen pesiar dan ziarah ke sana...

AMBIENCE OF JOGJAMasih tentang Jogja...Pertama aku datang ke Jogja sekitar tahun 2003 waktu masih SMA. Bolos 3 hari dari...
19/07/2023

AMBIENCE OF JOGJA

Masih tentang Jogja...

Pertama aku datang ke Jogja sekitar tahun 2003 waktu masih SMA. Bolos 3 hari dari sekolah kabur ke Kota ini. Diajak kawanku yang asli Karangwaru Lor. "Main kerumahku yuk" katanya...

Sampai ke Jogja, setelah istirahat sebentar langsung ke Malioboro, dibonceng temenku kebut-kebutan naik motor butut.

Dulu suasananya agak semrawut, aroma kotoran kuda menyeruak di mana-mana, maklum banyak kereta kuda. Pedagang kelontong, pengamen, penjual asongan di mana-mana.

Sewaktu di rumah kawanku tadi dia bilang, mau ajak aku jalan-jalan ke Malioboro sekalian mau hapus tato.

Sampai di Malioboro kawan aku langsung melipir ke lapak tukang tato, dia bilang sama tukang tatonya kalau dia mau hapus tato.

Tukang tato sat set langsung cek bahu kawanku, gini percakapannya:

👨‍🦰: Mau dihapus mas e?
👱: Nggih mas.

👨‍🦰: Walah, apik lho iki, sayang kalau dihapus, tak warnain aja mending yo?
👱‍: Oh gitu mas?

👨‍🦰: Lah iyo...
👱‍: Boleh deh, warna merah bisa?

Itu cerita temenku. Agak aneh memang orangnya, dia orang kaya, anak dokter, lama gak jumpa, dengar-dengar sekarang dia jadi tukang sapu Prambanan 😝✌️

Bertahun setelahnya aku masih sering bolak-balik ke Jogja, tapi yang pertama itu selalu membekas di hati, pemerintah daerah Jogja mungkin senang daerahnya tertata rapi, tapi buat kami turis pendatang, kesemrawutannya, aroma kotoran kudanya, makanannya yang kalau manis ya manis banget kalau pedes ya pedes banget, pedagangnya dan kusirnya yang setengah memaksa, terotoar yang kacau balau oleh pedagang, itu semua yang bikin kami rindu kepingin balik dan balik lagi...

Jogja selalu di hati.

ENGLISH:

AMBIENCE OF JOGJA

Still about Jogja...

The first time I came to Jogja was around 2003 when I was still in high school. I skipped school for 3 days and escaped to this city. My friend from Karangwaru Lor invited me, saying, "Let's go to my place and hang out."

Upon arriving in Jogja, after a short rest, we went straight to Malioboro, riding recklessly on a beat-up motorcycle.

Back then, the atmosphere was a bit chaotic, with the smell of horse dung permeating everywhere due to the many horse-drawn carriages. There were street vendors, buskers, and hawkers all around.

While at my friend's house, he mentioned that he wanted to take me to Malioboro and get a tattoo removed.

Once we reached Malioboro, my friend went straight to the tattoo artist's stall and said to him that he wanted to remove his tattoo.

The tattoo artist immediately checked my friend's shoulder, and the conversation went like this:

👨‍🦰: "Do you want it removed, bro?"
👱: "Yes."

👨‍🦰: "Well, it looks good, you know. It's a shame to remove it. How about I add some colors instead?"
👱‍: "Oh, really?"

👨‍🦰: "Yes..."
👱‍: "Alright, can you make it red?"

That's my friend's story. He's a bit strange indeed. He comes from a wealthy family, his father is a doctor, and last I heard, he became a sweeper at Prambanan temple 😝✌️

Years later, I still often visit Jogja, but that first experience always remains in my heart. The local government might be happy with the city's organized development, but for us visiting tourists, it's the chaos, the smell of horse dung, the extremely sweet or spicy food, the pushy street vendors and carriage drivers, and the busy sidewalks filled with vendors that make us yearn to come back over and over again...

Jogja is always in my heart.

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mysterious Things posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share