07/12/2025
AZAN TERAKHIR:
Panggilan Cinta Dari Timbunan Duka
Empat hari lamanya, di tengah puing, lumpur, dan bising alat berat, Muhajirin tidak pernah lelah berdiri. Setiap angin subuh dan senja, ia mengangkat tangan, memecah kesunyian dengan lantunan Azan.
Ia tidak memanggil nama istrinya, Fitriani. Ia memilih kalimat paling suci, Panggilan Pulang, karena ia takut… “Kalau aku berhenti memanggil, dia tidak mendengar aku.”
Inilah definisi sesungguhnya dari janji pernikahan. Ia pernah berjanji mencintainya sampai mati, “Tapi aku tidak pernah janji berhenti mencintainya setelah itu.”
💔 Akhir yang Merobek Jiwa:
Ketika Fitriani akhirnya ditemukan—terbaring diam di tengah puing—Muhajirin tidak berteriak. Ia hanya duduk, memeluk udara yang hampa, lalu untuk terakhir kalinya, ia mengumandangkan Azan. Bukan untuk memanggil, tapi untuk melepas.
Ada cinta yang tidak butuh akhir bahagia.
Ada cinta yang tidak menuntut saling memiliki.
Ada cinta yang, bahkan setelah dipisahkan oleh tanah dan nasib, masih terus hidup dalam suara lirih Azan seorang suami.
Semoga Muhajirin diberikan ketabahan dan semoga Fitriani tenang di sisi-Nya. Kisah ini adalah bukti bahwa kesetiaan adalah ibadah yang tak kenal batas.