04/07/2026
Seorang Ibu Rela Jual Motor Demi Bisa Bawa Anaknya Berobat
“Saya terpaksa membawa Arva berjualan karena untuk pengobatan serta operasi pemasangan selang dikepala anak saya” tutur ibu mei
Arva (1 tahun 5 bulan), yang menderita epilepsi dan hidrosefalus. Dua selang tertanam di tubuh kecil Arva satu di kepala, satu lagi di hidung untuk susu. Setiap hari, Ibu Mei membawa dua anaknya berjualan kue dari pagi hingga sore. Bukan hanya untuk makan, tapi demi bisa membawa Arva berobat.
Namun suatu hari saat sedang jualan, Arva kembali k*j4ng hingga tak sadarkan diri di emperan toko. Uang hasil jualan hanya Rp30 ribu. Padahal obat kejang yang harus dibeli seharga Rp750 ribu.
“Kami bertiga tidur di emperan toko, karena rumah ke rumah sakit jaraknya bisa 8 jam,”cerita Ibu Mei lirih.
Sudah banyak yang dikorbankan: kendaraan, TV, barang berharga… semua habis untuk biaya pengobatan Arva kini hanya tersisa motor satu-satunya yang ia miliki dan sangat terpaksa harus ia jual demi melanjutkan pengobatan sang anak, rasa cinta seorang ibu tak pernah habis. Mereka hanya ingin anaknya sembuh.
Hati orang tua mana yang tak luluh melihat buah hatinya menangis kesakitan, kejang, bahkan kehilangan kesadaran? Jesika (6 tahun) baru saja selesai operasi pemasangan selang di kepalanya akibat hidrosefalus yang dideritanya sejak usia 6 bulan. Ia juga sering mengalami k*j*ng dan s*s4k napas.
Sang ibu, Ibu Siti, harus menempuh perjalanan jauh dari rumah ke rumah sakit dengan motor pinjaman yang sering mogok. Bahkan, tak jarang mereka tiba saat pendaftaran sudah ditutup.
“Jesika rewel banget, kepanasan, saya dorong motor sambil cari bantuan... suami jauh, saya nggak punya saudara di sini,” ujar Ibu Siti, menahan tangis.
Seluruh harta benda sudah dijual: kulkas, TV, HP, bahkan cincin pernikahan. Tapi kebutuhan kontrol rutin dan pengobatan Jesika terus berjalan. Saat motor mogok lagi-lagi di tengah jalan, Ibu Siti hanya bisa berdoa sambil menenangkan Jesika yang terus menangis.