31/12/2025
Cerita Sinopsis Di Max Novel, Dengan Judul Supir Angkot Titisan Prabu Siliwangi
Angkot hijau trayek Cicaheum–Ledeng melaju stabil menembus pagi Kota Bandung. Mesin tuanya meraung setia, seolah menyatu dengan tangan sang pengemudi yang menggenggamnya dengan mantap.
Namanya Jaka Wiratmaja. Usianya baru dua puluh satu tahun, namun sorot matanya menyimpan ketenangan yang tak lazim bagi pemuda seusianya. Wajahnya tegas, rahang kokoh, alis hitam pekat menaungi mata tajam yang selalu awas. Banyak penumpang perempuan diam-diam memperhatikannya dari balik punggung kursi.
Di atas kaca depan angkot, terpasang kaca kecil persegi—cermin tambahan yang biasa digunakan supir untuk mengawasi penumpang. Pagi itu, supir angkot yang ganteng berusia dua puluh satu tahun, menangkap pantulan seorang mahasiswi UPI Bandung. Wajahnya ayu, kulitnya cerah, dengan mata bening yang menyimpan kecemasan samar. Usianya sekitar sembilan belas tahun. Ia duduk di bangku tengah, memeluk tas ransel cokelatnya erat-erat.
Tiba-tiba, Jaka melihat sesuatu yang membuat urat lehernya menegang. Sebuah tangan asing, kasar dan cekatan, menyusup ke dalam tas mahasiswi itu. Mata Jaka menyipit, memperhatikan penumpangnya yang mencurigakan. Bukan hanya satu orang, tetapi ada empat pria dengan gelagat mencurigakan. Duduk berpencar, saling memberi isyarat halus. Gerakan mereka terlatih, karena mereka bukan pencopet amatiran.
Darah Jaka berdesir. Ada sesuatu di dadanya yang bergetar. Sebuah naluri kuno di dalam jiwanya seakan bangkit dari tidur panjang.
Tanpa ragu sedetik pun. Jaka menginjak rem sekaligus.
Ciiittt...! Angkot berhenti mendadak di pinggir jalan. Penumpang terhuyung, sebagian berteriak kaget. Namun Jaka sudah membuka pintu dan meloncat turun. Lalu melesat cepat kearah pintu samping kiri angkotnya.
“Turun kalian,” ucapnya dingin, suaranya berat.
Empat pencopet itu saling pandang. Salah satu dari mereka terkekeh meremehkan.
"Supir sok jago. Kau sendirian, apa kau ingin jadi pahlawan?" Kata seorang copet bertanya dengan nada geram.
Jaka menatap keempat copet dengan tatapan tajam menusuk hati mereka.
“Aku memang sendirian. Tapi kalian salah sasaran."
Pencopet pertama turun dari angkot, disusul oleh ketiga kawannya. Satu orang menyerang lebih dulu.
Jaka menghindar setengah langkah, lalu menghantam ulu hati lawannya dengan telapak tangan. Pria itu terjengkang, napasnya terputus.
Dua lainnya maju bersamaan. Gerakan Jaka cepat, hanya bayangan siluet putih kebiruan yang terlihat. Sikut menghantam rahang, tendangan menyapu kaki. Dua tubuh roboh ke aspal dalam hitungan detik.
Pencopet terakhir mencoba kabur. Namun Jaka melesat cepat menghadangnya. Satu tarikan, satu bantingan keras ke kap mobil angkotnya.
Keempatnya tergeletak di hadapannya tak berdaya. Penumpang lainnya terdiam, terpana melihat kejadian di hadapan mereka.
Dari dalam angkot, mahasiswi itu menatap Jaka dengan mata membesar. Ia menatapnya antara takut, kagum, dan lega. Tangannya gemetar saat memeriksa tasnya.