07/04/2026
Salah satu catatan sejarah "Otentik" sebagai bukti adanya "Invisible Hand" atau cengkeraman terselubung Amerika Serikat terhadap kepemimpinan Presiden Soekarno adalah :
"Tertangkapnya ALLEN LAWRENCE POPPE, Pilot Pesawat Pembom B-26 INVANDER, sebuah maskapai samaran bernama Civil Air Transport (CAT) milik CIA".
Minggu pagi, 18 Mei 1958, di Ambon Kapten Udara Ignatius Dewanto dengan pesawat Mustang P-15 memuntahkan rentetan peluru menghatam mesin Pesawat Poppe yang mengharuskannya terpaksa terjun payung menyelamatkan diri.
Namun, Allen Poppe mendarat tragis dengan kaki patah karena menghantam bagian ekor pesawatnya sendiri, dan tersangkut diatas pohon kelapa.
Awalnya Amerika melalui Menteri Luar Negeri, John Foster Dulles, tidak mengakui terlibat dengan aktivitas Allan Poppe.
Tetapi pihak Tentara Indonesia menemukan bukti Kartu Anggo CIA atas nama Poppe, identitas militer Amerika / kartu anggota Club Perwira Amerika , dan buku log penerbangan melakukan misi tempur di wilayah Indonesia.
Dokumen itu jadi bukti bahwa Poppe adalah seorang tentara Amerika yang bertugas sebagai ujung tombak dalam sebuah operasi dengan sandi "OPERATION HAIK".
Berdasarkan dokumen rahasia CIA yang kini telah dideklasifikasi seperti yang tercatat dalam seri Foreign Relations of the United States), Operasi Haik disetujui pada akhir 1957 sebagai operasi militer spesifik memberikan dukungan udara, senjata, dan logistik kepada pemberontakan PRRI di Sumatera dan Permesta di Sulawesi.
CIA memandang Soekarno sebagai ancaman karena sikap Non-Bloknya. Strategi mereka adalah "destabilisasi terkendali".
Jika Soekarno tidak bisa digulingkan, maka Indonesia harus dipecah. Dengan mendukung pemberontakan di daerah kaya sumber daya seperti Sumatera dan Sulawesi.
Amerika dalam tindakan ini kerap memakai narasi sebagai gerakan anti-komunis atau Perang Dingin.
Greg Poulgrain, peneliti sejarah, menyebut Allen Dulles, Direktur CIA saat itu, ikut terlibat dalam konspirasi ini.
Sebelum memimpin intelijen, Dulles adalah pengacara korporat yang sangat memahami peta kekayaan alam dunia.
Ada indikasi kuat bahwa Operasi Haik dan dukungan terhadap Permesta berkaitan erat dengan upaya penguasaan sumber daya mineral di Sumatera yaitu instalasi minyak Caltex.
Sementara itu, di wilayah Timur Indonesia terdapat "rahasia besar" penemuan cadangan emas dan tembaga raksasa di Ertsberg, Papua, sekarang konsesi tambang Freeport.
Konspirasi ini melibatkan pengusaha besar Amerika yang ingin memastikan bahwa kekayaan alam Nusantara tetap berada dalam orbit kapitalisme Barat, bukan dinasionalisasi oleh kebijakan radikal Soekarno.
Bagi Dulles dan kelompoknya, Soekarno adalah penghalang besar bagi eksploitasi mineral di bumi Indonesia.
Peristiwa 1958 ini membuktikan bahwa teori konspirasi tentang intervensi asing di Indonesia bukanlah sekadar khayalan, melainkan fakta sejarah yang tertulis dalam dokumen deklasifikasi CIA.
SC Daud Ginting