30/12/2019
MELIHAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS atau KEBUTUHAN KHUSUS ANAK.
Diskusi senja bersama guru besar kala itu mengarah kepada sudut pandang yg unik tentang anak berkebutuhan khusus.
Kenapa lebel Autis yang muncul, kenapa tidak anak dengan bakat membaca pola.
Kenapa lebel tunarungu yg muncul, kenapa tidak anak dengan bakat/kehebatan membaca bibir.
Kenapa label tunanetra yang muncul, kenapa tidak anak dengan bakat/kelebihan mendengar yg luar biasa.
Kenapa lebel kehilangan kaki yg muncul, kenapa anak dengan kehebatan menggunakan tangan yg luar biasa.
Kenapa lebel kehilanga tangan yg muncul, kenapa tidak anak dengan keahlian kaki yg luar biasa.
Kenapa lebel kelemahan intelektual yg muncul, kenapa tidak anak dengan kemampuan fisik yg luar biasa.
Saya pribadi sadar akan mudah mendidik anak ketika saya mengarah pada kemampuan yg dimilikinya. Saya tidak akan fokus untuk mendidik anak dengan cara tidak tepat.
Saya akan sulit mengajarkan autis saat saya mengajar dengan cara yg tidak terpola, padahal saat oengajaran saya terpola akan lebih mudah di terima.
Saya akan sangat sulit mengajarkan anak tunarungu melalui pendengarannya, padahal akan sangat mudah saat saya menggunakan media visual.
Saya akan sangat sulit mengajarkan anak dengan kelemahan intelektual menganalisis, padahal tubuhnya sangat mudah untuk digerakan.
Namanya saja sudah hambatan kenapa saya mengajarkan melalui hambatannya. Kenapa tidak diawali dengan kemampauanya.
Apakah lebel yang ada membutakan saya?
Haruskah lebel autis diganti dengan AHLI POLA
haruskah lebel tunarungu diganti dengan AHLI VISUAL.
Haruskah lebel tunanetra diganti dengan AHLI AUDITORI
Haruskah lebel tunagrahita diganti dengan AHLI GERAK.
Haruskah lebel kehilangan kaki diganti dengan AHLI GERAK TANGAN.
Dan mulai mulai mencari kemampuan yang berbeda pada setiap individu anak.
Seperti saya yang lemah dalam matematika tapi sangat menyukai musik, kenapa guru saya tidak mengajarkan semuanya melalui musik? Sehingga bakat musiknya berkembang dan tidak terpendam.
Dan teman saya yang lemah dalam fisika tapi sangat bagus dalam melukis, kenapa gurunya tidak mengajarkan semua mata pelajaran melalui lukisan? Sehingga belajar memyenangkan dan bakat lukisnya berkembang.
Kenapa kita tidak berbicara tunalukis pada ahli fisika.
Kenapa kita tidak melebel tunahitung pada ahli bahasa.
Kenapa kita tidak bicara tunamusik pada ahli matematika.
Berapa banyak kemampuan yg terpendam karena ukuran pintar dan tidak pintar yg sempit.