07/06/2025
“Malam Minggu, 3 Tokoh, Satu Meja Membahas Nasib 4 Pulau”
(Sebuah Dialog Imaginer)
Takbir idul adha selepas ba’da salat isya baru saja berhenti bergema. B**g Hatta mengundang B**g Karno dan Wali Hasan Tiro untuk bersilaturahmi. Setelah selesai menyantap makan malam dengan menu rendang dan sayur lodeh, B**g Hatta menawarkan para tamunya minuman untuk menghangatkan diskusi yang menjadi agenda pokok disetiap silaturahmi.
*Hatta: B**g mau minum apa?
*Soekarno: Saya kopi tubruk saja seperti biasa.
*Hatta: Kalau wali? Saya punya teh talua, lezat dan nikmat rasanya. Apakah wali mau coba?
*Hasan Tiro: Terimakasih Uda, kalau tersedia saya mau Coca Cola saja.
*Soekarno: Aih! Wali ini bagaimana, kenapa s**a sekali dengan minuman produk kapitalis itu..!?
*Hatta: Sudah b**g, tidak usah diperpanjang. Kebetulan saya sudah siapkan Coca Cola karena tahu Wali akan kemari.
*Soekarno (mengeluarkan selembar peta yang sejak awal dibawanya, kemudian menatap peta yang telah dia bentangkan di meja):
Saudara-saudara! Saya ikuti polemik empat p**au yang berada di perairan Singkil. Walau persoalan ini masih berada dibawah NKRI, tapi sedikit saja salah pemerintah ambil kebijakan, persatuan Indonesia bisa kembali terkoyak. Bila Aceh merasa haknya dilucuti, maka luka sejarah akan kembali berdarah. Apakah kita ingin itu terjadi?
*Hatta (menarik napas pelan, menyesap teh talua):
B**g Karno, mari kita lihat secara hukum. Kalau administratifnya Aceh, dan masyarakat di sana merasa bagian dari Aceh—kenapa mesti diubah sepihak? Apakah ini tidak mencederai prinsip otonomi dan keadilan pemerintahan daerah?
*Hasan Tiro:
Terlambat, B**g Hatta. Dari dulu Aceh sudah merasa disayat-sayat oleh republik ini. Hari ini p**au, besok tanah adat, lusa entah apa lagi. Kami ini bukan en sämre spelare, bukan anak bawang. Kami punya sejarah sebagai bangsa merdeka. Ini bukan soal otonomi, ini soal identitas kami yang terus dihapus secara halus.
*Soekarno (berdiri, menunjuk peta):
Tetapi Wali, bukankah dahulu kita sepakat bahwa Indonesia adalah rumah besar tempat semua bangsa di Nusantara tinggal bersama? Janganlah Aceh menarik diri dari mimpi bersama itu!
*Hasan Tiro:
Aceh tidak pernah ikut mimpi Indonesia, B**g. Aceh punya realitas sendiri. Kalau rumah besar itu tiap kali menindas, mengatur, dan membagi warisan kami ses**anya, maka kami berhak menolak jadi penghuninya.
*Hatta:
Saya memahami emosi Wali. Tapi kalau kita ingin solusi, harus tetap dalam kerangka hukum. Mendagri tidak bisa asal menetapkan wilayah. Ada peta, sejarah, kesaksian rakyat, dan prinsip pemerintahan yang baik. Harus dibuka kembali, siapa yang dulu mengelola? Siapa yang membayar pajak? Siapa yang memilih kepala desa, dan rakyat disana saat pemilu masuk ke daerah pemilihan yang mana?
*Soekarno (menenangkan):
Tetapi jangan p**a kita biarkan persoalan ini memecah belah rakyat. Empat p**au ini harus menjadi simbol persatuan, bukan batu perpecahan. Seharusnya pemerintah pusat mengundang kedua provinsi, membuka dokumen sejarah, bahkan bertanya pada rakyat di Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek: siapa yang mereka anggap rumah? Rakyat disana jangan sampai op drift!
*Hatta:
Kalau begitu, mari kita mulai dari mendengar. Bukan memutuskan dari atas. Bukan mengatur dari meja kementerian. Tapi duduk di tanah, di p**au-p**au itu, dan bertanya: “Kamu ingin berada di bawah siapa?”
*Soekarno (menepuk meja):
Itu baru demokrasi! Demokrasi yang hidup dari bawah. Bukan dari peta yang digambar ulang oleh kekuasaan.
*Hasan Tiro (berdiri):
Jika republik ini sungguh mau mendengar, maka dengarlah dengan adil. Jangan pakai telinga kekuasaan birokrasi, tapi pakailah telinga nurani.
*Soekarno:
Lalu, kepada siapa Wali tugaskan untuk membela persoalan empat p**au itu?!
*Hasan Tiro:
Tentu saja kepada Muzakir. Kalau dia tak cakap, cukur habis saja jambangnya!!
*semuanya tertawa
(Bersamb**g)
Dikutip dari status Facebook M Fauzan Febriansyah