02/09/2026
Sosok pria berjanggut dengan rambut gimbal yang berjalan tanpa alas kaki di berbagai wilayah Pakistan sempat menarik perhatian masyarakat. Penampilannya yang sederhana, membawa tongkat dan berjalan seorang diri dari satu tempat ke tempat lain, membuat banyak orang penasaran. Namun, siapa sangka pria tersebut ternyata adalah Axel Pons, mantan pembalap Moto2 asal Spanyol yang sebelumnya pernah hidup di tengah dunia balap internasional yang penuh kecepatan, ketenaran, dan kemewahan.
Axel Pons bukanlah sosok biasa dalam dunia otomotif. Ia merupakan putra dari Sito Pons, legenda balap motor asal Spanyol yang pernah meraih gelar juara dunia. Mengikuti jejak sang ayah, Axel juga meniti karier sebagai pembalap dan pernah berkompetisi di ajang Moto2, salah satu kejuaraan balap motor paling bergengsi di dunia. Dalam kehidupannya saat itu, ia mengenal dunia kompetisi, sorotan media, pop**aritas, serta berbagai fasilitas yang mungkin menjadi impian banyak orang.
Namun, kehidupan yang terlihat sempurna dari luar ternyata tidak sepenuhnya memberikan kebahagiaan dan ketenangan yang ia cari. Setelah mengakhiri karier balapnya pada tahun 2017, Axel sempat menjalani kehidupan di dunia modeling. Meski telah memiliki pengalaman, pop**aritas, dan kehidupan yang relatif nyaman, ia mulai merasa bahwa semua hal tersebut belum mampu memberikan jawaban atas pertanyaan yang selama ini ada dalam dirinya.
Pada akhirnya, Axel mengambil keputusan besar untuk meninggalkan kehidupan lamanya. Ia memilih menjauh dari dunia yang selama bertahun-tahun membesarkan namanya dan memulai perjalanan yang sama sekali berbeda. Pada 2023, Axel memulai perjalanan spiritual dengan berjalan kaki dari Spanyol menuju Asia.
Berbeda dengan perjalanan wisata biasa, Axel memilih melakukannya dengan cara yang sangat sederhana. Ia berjalan tanpa alas kaki, hanya membawa barang-barang seperlunya, serta sebuah tongkat yang menjadi salah satu teman perjalanannya. Selama kurang lebih 15 bulan, ia dikabarkan melintasi sekitar 10 negara dan menempuh perjalanan hampir 6.500 kilometer hingga akhirnya tiba di Pakistan.
Perjalanan panjang tersebut bukan dilakukan untuk memecahkan rekor, mencari sensasi, atau kembali mendapatkan perhatian publik. Bagi Axel, perjalanan itu memiliki tujuan yang jauh lebih pribadi. Ia ingin mencari Tuhan, memahami arti kehidupan, serta menemukan ketenangan batin yang selama ini belum ia dapatkan dari kehidupan penuh kecepatan dan gemerlap dunia hiburan maupun olahraga.
Dalam menjalani perjalanannya, Axel juga memilih untuk menjauh dari kehidupan digital. Ia tidak lagi menjalani keseharian yang bergantung pada media sosial atau smartphone. Sebaliknya, ia memilih menikmati setiap langkah perjalanan, merasakan kehidupan secara langsung, serta berinteraksi dengan orang-orang yang ditemuinya di berbagai negara.
Setelah mencapai Pakistan, perjalanan Axel sebenarnya dikabarkan belum berakhir. Ia disebut masih memiliki tujuan untuk melanjutkan perjalanan menuju India. Namun, rencana tersebut menghadapi kendala, terutama terkait persoalan visa. Karena itu, belum ada kepastian apakah Axel berhasil memasuki India sesuai dengan rencana awalnya. Ia bahkan sempat mempertimbangkan kemungkinan mengambil rute lain, termasuk melalui China, untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya.
Hingga tahun 2026, belum terdapat informasi kuat dari sumber terpercaya yang dapat memastikan bahwa Axel telah berhasil menyelesaikan perjalanan spiritualnya atau benar-benar telah mencapai India. Keberadaannya pun tidak banyak diketahui publik, karena ia memang sengaja memilih hidup jauh dari sorotan media dan dunia digital.
Meski demikian, ayahnya, Sito Pons, pernah memberikan kabar bahwa putranya berada dalam kondisi baik-baik saja. Pernyataan tersebut sekaligus membantah berbagai rumor yang sempat beredar mengenai kondisi Axel, termasuk kabar yang menyebut dirinya mengalami masalah atau bahkan ditangkap.
Kisah Axel Pons menjadi gambaran tentang perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Dari seorang pembalap Moto2 yang terbiasa hidup di tengah kecepatan, persaingan, dan sorotan publik, ia memilih meninggalkan semuanya untuk menjalani kehidupan yang jauh lebih sederhana. Dengan berjalan ribuan kilometer tanpa alas kaki, Axel tampaknya memilih mencari sesuatu yang tidak bisa ia temukan di lintasan balap: ketenangan, makna kehidupan, dan kedamaian dalam perjalanan spiritualnya.