Genius Fakta

Genius Fakta Asupan Informasi Setiap Hari Yang Bikin pengetahuanmu Nambah 🩷

Ketika menemukan tikus di rumah, garasi, atau gudang, penggunaan racun tikus sering dianggap sebagai cara yang praktis u...
10/09/2026

Ketika menemukan tikus di rumah, garasi, atau gudang, penggunaan racun tikus sering dianggap sebagai cara yang praktis untuk mengatasinya.

Namun, dampaknya tidak selalu hanya dirasakan oleh tikus.

Setelah mengonsumsi umpan beracun, tikus dapat menjadi lemah dan keluar dari tempat persembunyiannya sehingga lebih mudah ditangkap atau dimangsa oleh burung hantu, elang, ular, rubah, maupun predator lainnya.

Kondisi tersebut dikenal sebagai keracunan sekunder. Predator tidak harus mengonsumsi racun secara langsung untuk mengalami paparan.

Mereka dapat terpengaruh ketika memangsa tikus yang sebelumnya telah memakan rodentisida.

Beberapa jenis bahan aktif dapat menghambat proses pembekuan darah dan memicu perdarahan internal, sedangkan jenis lainnya dapat memengaruhi organ atau sistem tubuh tertentu.

Besarnya risiko dipengaruhi oleh jenis bahan aktif, jumlah racun yang dikonsumsi tikus, serta frekuensi predator memangsa hewan yang telah terpapar.

Dampaknya pun dapat meluas hingga memengaruhi keseimbangan ekosistem.

Burung pemangsa dan predator lainnya memiliki peran penting dalam mengendalikan pop**asi tikus secara alami.

Apabila predator mengalami penurunan akibat paparan r4cun, keseimbangan pop**asi tersebut dapat terganggu.

Oleh sebab itu, pengendalian tikus sebaiknya tidak hanya mengandalkan upaya membvnvh tikus, tetapi juga dilakukan dengan mencegah tikus masuk dan mendapatkan sumber makanan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menutup celah yang menjadi akses masuk, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, membersihkan sisa makanan dan sampah, serta menggunakan perangkap mekanis jika diperlukan.

Sumber: U.S. Environmental Protection Agency (EPA) dan National Wildlife Federation (NWF) mengenai risiko rodentisida terhadap satwa liar dan keracunan sekunder.

Menikah dengan pohon, kendi, patung, atau benda mati lainnya mungkin terdengar tidak masuk akal dan seperti hanya ada da...
09/09/2026

Menikah dengan pohon, kendi, patung, atau benda mati lainnya mungkin terdengar tidak masuk akal dan seperti hanya ada dalam cerita fiksi.

Namun, praktik semacam ini benar-benar masih ditemukan di India.

Tradisi tersebut berkaitan dengan kepercayaan astrologi Hindu kuno yang dikenal sebagai Manglik Dosh.

Kepercayaan ini didasarkan pada posisi planet Mars ketika seseorang dilahirkan.

Penentuannya bukan hanya berdasarkan tanggal atau bulan kelahiran, tetapi juga mempertimbangkan waktu lahir secara rinci serta posisi Mars dalam bagan astrologi.

Karena itu, perhitungannya biasanya dilakukan oleh seorang pandit melalui analisis horoskop kelahiran.

Seseorang yang memiliki posisi Mars tertentu dalam horoskopnya dapat dikategorikan sebagai Manglik dan dipercaya mempunyai energi yang bersifat "panas".

Dalam kepercayaan tersebut, kondisi ini dianggap berpotensi menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan pernikahan, mulai dari konflik dan perpisahan hingga musibah yang lebih serius terhadap pasangan.

Perempuan yang berstatus Manglik bahkan kerap mendapat stigma lebih besar karena dipercaya dapat membawa nasib buruk bagi calon suaminya.

Untuk menghindari hal yang diyakini sebagai dampak buruk tersebut, dikenal sebuah ritual bernama Kumbh Vivah.

Dalam ritual ini, perempuan yang dianggap Manglik terlebih dahulu menjalani prosesi pernikahan simbolis dengan sesuatu yang bukan manusia, seperti pohon pisang, patung dewa, kendi suci, atau benda tertentu lainnya.

Setelah ritual tersebut dilakukan, barulah ia dianggap dapat menikah dengan pria yang menjadi pilihannya.

Menurut kepercayaan yang mendasarinya, pernikahan simbolis tersebut bertujuan untuk mengalihkan atau "menyerap" energi negatif yang dianggap berasal dari posisi Mars kepada benda yang dinikahi.

Dengan demikian, ketika perempuan tersebut nantinya menikah dengan manusia, pasangan sebenarnya dipercaya tidak lagi terkena dampak buruk dari Manglik Dosh.

Menariknya, kepercayaan semacam ini masih bertahan di tengah perkembangan India sebagai negara yang maju dalam bidang teknologi dan sains.

Bahkan, pengaruhnya disebut masih dapat ditemukan di kalangan masyarakat berpendidikan.

Sekitar 40 hingga 50 persen profil pada layanan pencarian jodoh daring di India disebut masih mencantumkan status Manglik sebagai informasi penting sebelum seseorang menentukan pasangan hidup.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan tidak selalu menghapus kepercayaan tradisional.

Keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi, termasuk ketakutan terhadap hal-hal yang tidak terlihat, masih dapat memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan masyarakat dan bahkan ikut menentukan pilihan seseorang dalam urusan pernikahan.

Sumber: Kumparan, Liputan6

Bayangkan jika sejak lahir seseorang sudah mendapatkan cap yang sulit dihapus, dianggap sebagai “sampah” dan keberadaann...
09/09/2026

Bayangkan jika sejak lahir seseorang sudah mendapatkan cap yang sulit dihapus, dianggap sebagai “sampah” dan keberadaannya dipandang dapat mencemari orang lain.

Inilah kenyataan yang selama berabad-abad dialami oleh jutaan orang yang lahir sebagai Kaum Dalit, kelompok yang ditempatkan pada lapisan paling bawah dalam sistem kasta di India dan dahulu dikenal dengan sebutan “Yang Tak Boleh Disentuh”.

Bagi masyarakat Dalit, diskriminasi bukan hanya berupa ucapan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mereka pernah dilarang memasuki tempat tertentu, menyentuh barang milik kasta yang lebih tinggi, bahkan menggunakan sumber air yang sama.

Di sejumlah tempat, seorang Dalit yang melewati rumah warga dari kasta atas bahkan diwajibkan melepas alas kaki dan menundukkan diri karena kehadirannya dianggap dapat mencemari lingkungan.

Dalam sejarahnya, terdapat p**a perlakuan yang sangat merendahkan, seperti kewajiban membawa kendi di leher agar air liur mereka tidak jatuh ke tanah yang dianggap suci oleh kasta lain.

Diskriminasi tersebut turut membuat banyak masyarakat Dalit terperangkap dalam kemiskinan.

Mereka sering diarahkan pada pekerjaan yang dianggap rendah, termasuk pekerjaan membersihkan kotoran manusia secara manual dengan kondisi kerja yang tidak layak.

Padahal, sejak 1950, pemerintah India telah menetapkan aturan yang melarang diskriminasi berdasarkan kasta.

Namun, tradisi dan pola pikir yang telah mengakar selama berabad-abad masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan kesetaraan secara nyata.

Tidak sedikit anak-anak Dalit yang memiliki kemampuan dan cita-cita tinggi, tetapi akhirnya kehilangan kesempatan karena sejak kecil terus mendapat perlakuan yang membuat mereka merasa tidak pantas untuk bermimpi.

Kisah masyarakat Dalit mengingatkan kita bahwa sesuatu yang bagi sebagian orang terasa sederhana, seperti diperlakukan dan diakui sebagai manusia yang setara, justru merupakan hak yang masih diperjuangkan oleh jutaan orang.

Setiap manusia seharusnya memiliki kesempatan untuk hidup tanpa dinilai berdasarkan asal kelahirannya dan tanpa harus menjalani batasan yang ditentukan orang lain sebelum ia sendiri memiliki kesempatan untuk memilih.

Sumber: DetikEdu

Pada musim semi dan musim panas, ratusan hingga ribuan kelelawar betina dapat berkumpul membentuk koloni untuk melahirka...
09/09/2026

Pada musim semi dan musim panas, ratusan hingga ribuan kelelawar betina dapat berkumpul membentuk koloni untuk melahirkan dan merawat anak-anak mereka.

Koloni ini biasanya berada di tempat yang aman dan minim gangguan, seperti gua, rongga pohon, loteng, atau ruang gelap lainnya dengan suhu yang relatif stabil.

Di dalam koloni, induk kelelawar melahirkan, menyusui, serta merawat anaknya bersama-sama. Kepadatan kelompok juga dapat membantu menjaga anak kelelawar tetap hangat.

Ukuran koloni berbeda-beda tergantung spesiesnya. Beberapa koloni bahkan dapat mencapai ribuan hingga jutaan ekor kelelawar.

Anak-anak kelelawar akan tetap berada bersama induknya sampai mereka cukup kuat untuk terbang dan mampu bertahan hidup secara mandiri.

Referensi:

• Bat Conservation International — informasi mengenai perilaku induk dan anak kelelawar serta koloni tempat mereka dibesarkan.

Selama puluhan tahun, para ilmuwan dan pengamat alam dibuat penasaran oleh perilaku unik berbagai spesies burung di duni...
09/09/2026

Selama puluhan tahun, para ilmuwan dan pengamat alam dibuat penasaran oleh perilaku unik berbagai spesies burung di dunia.

Burung-burung tersebut sengaja mencari kulit ular yang telah terkelupas, kemudian membawanya ke sarang dan menempatkannya di dalam sarang.

Padahal, kulit ular yang kering dan keras jelas bukan material yang ideal untuk membuat sarang menjadi lebih hangat atau nyaman bagi telur maupun anak burung.

Misteri ini akhirnya mulai terjawab melalui penelitian terbaru yang dipimpin Vanya Rohwer, kurator di Cornell University Museum of Vertebrates.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kulit ular bukan sekadar bahan sarang, melainkan berfungsi sebagai bentuk perlindungan terhadap predator.

Burung yang membuat sarang di dalam rongga pohon atau tempat tertutup ternyata menggunakan kulit ular jauh lebih sering, hingga 6,5 kali lebih banyak, dibandingkan burung yang membangun sarang terbuka berbentuk cangkir.

Berdasarkan penelusuran terhadap arsip catatan telur burung dari abad ke-19 hingga awal abad ke-20, serta eksperimen menggunakan 147 sarang buatan, para peneliti menemukan bahwa kulit ular dapat menjadi sinyal peringatan yang efektif bagi predator tertentu.

Pada sarang yang berada di dalam rongga, penggunaan kulit ular bahkan mampu meningkatkan keberhasilan telur menetas dari sekitar 38 persen menjadi hampir 75 persen.

Perbedaan ini berkaitan dengan jenis predator yang dapat mencapai sarang.

Kamera pemantau menunjukkan bahwa sarang terbuka kerap menjadi sasaran berbagai predator, seperti gagak dan jay biru, yang tidak terpengaruh oleh keberadaan kulit ular.

Sementara itu, sarang berongga yang memiliki akses sempit lebih sering didatangi predator berukuran kecil, seperti tupai terbang dan tupai merah.

Karena hewan-hewan tersebut secara alami menghadapi ancaman dari ular, mereka cenderung menghindari sarang ketika menemukan tanda-tanda keberadaan ular, bahkan ketika yang tersisa hanyalah kulitnya.

Dengan demikian, penggunaan kulit ular merupakan strategi pertahanan alami yang dikembangkan burung untuk meningkatkan keselamatan telur dan anak-anaknya.

Penemuan ini juga memiliki potensi dalam bidang konservasi, karena menambahkan potongan kulit ular ke dalam kotak sarang buatan dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu meningkatkan peluang telur burung berhasil menetas.

Sumber: Mongabay Indonesia

Sosok pria berjanggut dengan rambut gimbal yang berjalan tanpa alas kaki di berbagai wilayah Pakistan sempat menarik per...
02/09/2026

Sosok pria berjanggut dengan rambut gimbal yang berjalan tanpa alas kaki di berbagai wilayah Pakistan sempat menarik perhatian masyarakat. Penampilannya yang sederhana, membawa tongkat dan berjalan seorang diri dari satu tempat ke tempat lain, membuat banyak orang penasaran. Namun, siapa sangka pria tersebut ternyata adalah Axel Pons, mantan pembalap Moto2 asal Spanyol yang sebelumnya pernah hidup di tengah dunia balap internasional yang penuh kecepatan, ketenaran, dan kemewahan.

Axel Pons bukanlah sosok biasa dalam dunia otomotif. Ia merupakan putra dari Sito Pons, legenda balap motor asal Spanyol yang pernah meraih gelar juara dunia. Mengikuti jejak sang ayah, Axel juga meniti karier sebagai pembalap dan pernah berkompetisi di ajang Moto2, salah satu kejuaraan balap motor paling bergengsi di dunia. Dalam kehidupannya saat itu, ia mengenal dunia kompetisi, sorotan media, pop**aritas, serta berbagai fasilitas yang mungkin menjadi impian banyak orang.

Namun, kehidupan yang terlihat sempurna dari luar ternyata tidak sepenuhnya memberikan kebahagiaan dan ketenangan yang ia cari. Setelah mengakhiri karier balapnya pada tahun 2017, Axel sempat menjalani kehidupan di dunia modeling. Meski telah memiliki pengalaman, pop**aritas, dan kehidupan yang relatif nyaman, ia mulai merasa bahwa semua hal tersebut belum mampu memberikan jawaban atas pertanyaan yang selama ini ada dalam dirinya.

Pada akhirnya, Axel mengambil keputusan besar untuk meninggalkan kehidupan lamanya. Ia memilih menjauh dari dunia yang selama bertahun-tahun membesarkan namanya dan memulai perjalanan yang sama sekali berbeda. Pada 2023, Axel memulai perjalanan spiritual dengan berjalan kaki dari Spanyol menuju Asia.

Berbeda dengan perjalanan wisata biasa, Axel memilih melakukannya dengan cara yang sangat sederhana. Ia berjalan tanpa alas kaki, hanya membawa barang-barang seperlunya, serta sebuah tongkat yang menjadi salah satu teman perjalanannya. Selama kurang lebih 15 bulan, ia dikabarkan melintasi sekitar 10 negara dan menempuh perjalanan hampir 6.500 kilometer hingga akhirnya tiba di Pakistan.

Perjalanan panjang tersebut bukan dilakukan untuk memecahkan rekor, mencari sensasi, atau kembali mendapatkan perhatian publik. Bagi Axel, perjalanan itu memiliki tujuan yang jauh lebih pribadi. Ia ingin mencari Tuhan, memahami arti kehidupan, serta menemukan ketenangan batin yang selama ini belum ia dapatkan dari kehidupan penuh kecepatan dan gemerlap dunia hiburan maupun olahraga.

Dalam menjalani perjalanannya, Axel juga memilih untuk menjauh dari kehidupan digital. Ia tidak lagi menjalani keseharian yang bergantung pada media sosial atau smartphone. Sebaliknya, ia memilih menikmati setiap langkah perjalanan, merasakan kehidupan secara langsung, serta berinteraksi dengan orang-orang yang ditemuinya di berbagai negara.

Setelah mencapai Pakistan, perjalanan Axel sebenarnya dikabarkan belum berakhir. Ia disebut masih memiliki tujuan untuk melanjutkan perjalanan menuju India. Namun, rencana tersebut menghadapi kendala, terutama terkait persoalan visa. Karena itu, belum ada kepastian apakah Axel berhasil memasuki India sesuai dengan rencana awalnya. Ia bahkan sempat mempertimbangkan kemungkinan mengambil rute lain, termasuk melalui China, untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya.

Hingga tahun 2026, belum terdapat informasi kuat dari sumber terpercaya yang dapat memastikan bahwa Axel telah berhasil menyelesaikan perjalanan spiritualnya atau benar-benar telah mencapai India. Keberadaannya pun tidak banyak diketahui publik, karena ia memang sengaja memilih hidup jauh dari sorotan media dan dunia digital.

Meski demikian, ayahnya, Sito Pons, pernah memberikan kabar bahwa putranya berada dalam kondisi baik-baik saja. Pernyataan tersebut sekaligus membantah berbagai rumor yang sempat beredar mengenai kondisi Axel, termasuk kabar yang menyebut dirinya mengalami masalah atau bahkan ditangkap.

Kisah Axel Pons menjadi gambaran tentang perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Dari seorang pembalap Moto2 yang terbiasa hidup di tengah kecepatan, persaingan, dan sorotan publik, ia memilih meninggalkan semuanya untuk menjalani kehidupan yang jauh lebih sederhana. Dengan berjalan ribuan kilometer tanpa alas kaki, Axel tampaknya memilih mencari sesuatu yang tidak bisa ia temukan di lintasan balap: ketenangan, makna kehidupan, dan kedamaian dalam perjalanan spiritualnya.

Pada tahun 2018, seorang ayah bernama Matt Cox dari Ohio menjadi sorotan publik setelah memberikan hukuman yang tidak bi...
01/09/2026

Pada tahun 2018, seorang ayah bernama Matt Cox dari Ohio menjadi sorotan publik setelah memberikan hukuman yang tidak biasa kepada putrinya yang saat itu berusia 10 tahun. Cox mengetahui bahwa putrinya kembali melakukan perundungan terhadap siswa lain dan, akibat perbuatannya tersebut, untuk kedua kalinya ia diskors dari layanan bus sekolah.

Sebagai bentuk hukuman sekaligus pelajaran, Matt Cox meminta putrinya berjalan kaki menuju sekolah dengan jarak sekitar lima mil atau lebih dari delapan kilometer. Perjalanan tersebut dilakukan selama tiga hari. Meski membiarkan putrinya berjalan kaki, Cox tetap mengikuti dari belakang menggunakan mobil untuk memastikan anaknya tetap aman, terutama karena saat itu cuaca sangat dingin dan mendekati titik beku.

Cox menjelaskan bahwa tindakan tersebut bukan semata-mata untuk menghukum putrinya, melainkan agar sang anak memahami bahwa menggunakan bus sebagai sarana transportasi ke sekolah merupakan sebuah hak istimewa, bukan sesuatu yang bisa dianggap sebagai hak tanpa konsekuensi. Ia juga ingin putrinya menyadari bahwa setiap tindakan, terutama perundungan terhadap orang lain, dapat menimbulkan akibat nyata.

Namun, cara Cox mendisiplinkan putrinya kemudian memicu perdebatan luas di media sosial. Sebagian warganet memuji tindakannya karena dianggap tegas dan mampu mengajarkan tanggung jawab serta konsekuensi atas perilaku buruk. Di sisi lain, ada p**a yang menilai hukuman tersebut terlalu keras, terutama karena perjalanan sang anak direkam dan kemudian dibagikan kepada publik, sehingga dianggap berpotensi mempermalukan putrinya.

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, kisah Matt Cox dan putrinya menjadi perbincangan luas sebagai contoh tentang perbedaan pandangan masyarakat dalam mendidik anak, khususnya mengenai batas antara memberikan konsekuensi atas kesalahan dan hukuman yang dianggap terlalu berat.

Pada Juli 2025, Amber Perren mengalami kejadian mengerikan saat berada di perairan dangkal Sungai St. Lucie, Stuart, Flo...
01/09/2026

Pada Juli 2025, Amber Perren mengalami kejadian mengerikan saat berada di perairan dangkal Sungai St. Lucie, Stuart, Florida. Seekor buaya sepanjang sekitar 2,5 meter tiba-tiba menyerangnya dan mencengkeram lengan kanannya dengan gigitan kuat.

Melihat sang istri dalam bahaya, Kelby Perren segera bertindak. Suami Amber itu langsung melompat untuk menolong dan berusaha melepaskan istrinya dari rahang buaya. Dalam situasi yang menegangkan, Kelby berjuang sekuat tenaga untuk menarik Amber menjauh dari serangan hewan buas tersebut.

Upayanya akhirnya berhasil. Amber berhasil diselamatkan dari gigitan buaya, meskipun ia mengalami luka serius pada lengannya. Berkat keberanian dan tindakan cepatnya, Kelby kemudian mendapat pengakuan atas aksi heroiknya.

Peristiwa tersebut menjadi gambaran nyata tentang keberanian seseorang yang rela menghadapi bahaya besar demi menyelamatkan orang yang dicintainya.

Pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Kalteng yang menolak meliburkan sekolah di tengah pekatnya kabut asap menuai kritik d...
30/08/2026

Pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Kalteng yang menolak meliburkan sekolah di tengah pekatnya kabut asap menuai kritik dari masyarakat. Alasan bahwa sekolah harus tetap berjalan demi menjaga operasional Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kantin, ditambah kekhawatiran siswa akan pergi ke kafe jika diliburkan, dinilai menunjukkan persoalan dalam menentukan skala prioritas kebijakan.

Ancaman kabut asap terhadap kesehatan, terutama risiko gangguan pernapasan dan dampaknya bagi paru-paru anak, seharusnya menjadi perhatian utama. Ironisnya, program MBG yang bertujuan mendukung kesehatan dan gizi siswa justru dijadikan salah satu alasan agar sekolah tetap beroperasi ketika kualitas udara membahayakan.

Persoalannya sebenarnya tidak harus dipilih antara sekolah tetap buka atau dapur MBG berhenti beroperasi. Ada pilihan lain yang lebih aman dan adaptif. Ketika kualitas udara berada pada level berbahaya, kegiatan belajar dapat dialihkan sementara ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sementara distribusi makanan MBG tetap dilakukan dengan mekanisme yang disesuaikan, misalnya mengantarkan makanan langsung kepada siswa di rumah.

Kebijakan pendidikan dan kesehatan semestinya menempatkan keselamatan anak sebagai prioritas utama. Jangan sampai kepentingan operasional program justru mengalahkan perlindungan terhadap kesehatan dan keselamatan siswa.

Menurut Anda, bagaimana seharusnya pemerintah mengambil kebijakan ketika kabut asap sudah membahayakan kesehatan anak?

Tulis pendapat Anda di kolom komentar.

WANITA INI KIRIM 1 TON BAWANG KE MANTAN PACARNYA AGAR DIA MENANGISDi Shandong, China, sebuah kisah putus cinta pernah me...
30/08/2026

WANITA INI KIRIM 1 TON BAWANG KE MANTAN PACARNYA AGAR DIA MENANGIS

Di Shandong, China, sebuah kisah putus cinta pernah menjadi perhatian publik karena cara seorang wanita melampiaskan sakit hatinya terbilang tidak biasa.

Wanita itu dikenal dengan nama Zhao.

Hubungan Zhao dengan kekasihnya berakhir setelah ia mengetahui bahwa sang pacar telah berselingkuh. Bagi Zhao, perpisahan itu bukan sesuatu yang mudah diterima.

Ia mengaku sangat terpukul.

Selama tiga hari, Zhao hanya bisa menangis di rumah. Ia merasa begitu sakit hati karena hubungan yang selama ini ia jalani ternyata berakhir dengan perselingkuhan.

Namun, ada satu hal yang membuat emosinya semakin memuncak.

Zhao mendengar dari teman-temannya bahwa mantan kekasihnya justru terlihat baik-baik saja setelah mereka berpisah.

Tidak menangis.

Tidak terlihat sedih.

Seolah-olah hubungan mereka tidak pernah berarti.

Bagi Zhao, hal itu terasa sangat menyakitkan.

Ia kemudian mendapatkan sebuah ide yang tidak biasa.

Kalau dirinya sudah menangis selama tiga hari karena sang mantan, maka sekarang giliran mantannya yang menangis.

Tetapi bagaimana caranya?

Zhao akhirnya memilih sesuatu yang sederhana, tetapi dalam jumlah yang luar biasa banyak.

Bawang.

Ia memesan sekitar 1 ton bawang merah dan meminta agar semuanya dikirimkan langsung ke rumah mantan kekasihnya.

Bukan satu atau dua karung.

Bukan beberapa kilogram.

Tetapi satu ton.

Ketika truk pengangkut tiba di depan rumah sang mantan, para pekerja mulai menurunkan bawang dalam jumlah besar tersebut.

Menurut laporan yang beredar saat itu, proses memindahkan seluruh bawang tersebut bahkan membutuhkan waktu sekitar empat jam.

Zhao juga memberikan instruksi sederhana kepada pihak pengiriman:

Letakkan saja bawang-bawang itu di depan rumahnya.

Bersama kiriman tersebut, Zhao menyampaikan sebuah pesan yang menjadi inti dari aksi tersebut:

«"Aku sudah menangis selama tiga hari. Sekarang giliranmu."»

Bagi Zhao, bawang bukan sekadar barang yang dikirim.

Bawang dipilih karena aromanya dapat membuat mata terasa pedih dan mengeluarkan air mata.

Ia berharap mantan kekasihnya merasakan sedikit saja rasa "perih" yang sebelumnya ia rasakan.

Ketika berita tentang pengiriman satu ton bawang itu menyebar, kisah tersebut menjadi viral di media sosial China.

Foto dan video yang memperlihatkan banyaknya bawang di sekitar rumah sang pria juga beredar di Weibo.

Tetapi cerita ini ternyata belum selesai.

Mantan kekasih Zhao memberikan versinya sendiri.

Menurut pria tersebut, Zhao dianggap terlalu dramatis karena mempermasalahkan dirinya yang tidak menangis setelah hubungan mereka berakhir.

Ia bahkan mengatakan bahwa alasan hubungan itu berakhir berkaitan dengan sikap Zhao yang menurutnya terlalu dramatis.

Dengan kata lain, bagi Zhao, tidak adanya air mata dari sang mantan merupakan bukti bahwa pria itu tidak peduli.

Sementara bagi sang pria, tidak menangis bukan berarti dirinya tidak memiliki perasaan.

Yang jelas, satu ton bawang akhirnya menjadi simbol dari hubungan mereka yang berakhir.

Tidak diketahui secara pasti apakah sang mantan benar-benar menangis karena bawang tersebut.

Namun, seorang tetangga dilaporkan mengeluhkan bahwa bau bawang sudah menyebar ke sekitar lingkungan rumah.

Jadi, kalau tujuan Zhao adalah membuat mantannya "menangis", setidaknya ia berhasil menciptakan situasi yang membuat seluruh lingkungan merasakan dampaknya.

Kisah tersebut kemudian dikenang bukan hanya karena jumlah bawangnya yang fantastis, tetapi karena sebuah pesan sederhana di baliknya:

Ketika seseorang patah hati, cara setiap orang untuk melampiaskan perasaannya bisa sangat berbeda.

Ada yang memilih diam.

Ada yang menangis.

Ada yang mencoba melupakan.

Dan Zhao?

Ia memilih mengirim satu ton bawang kepada mantannya.

Sebuah cara yang tidak biasa untuk mengatakan:

"Aku sudah menangis karena kamu. Sekarang, rasakan sedikit saja apa yang kurasakan."

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Genius Fakta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share