08/28/2026
Sore itu, langit mulai berubah warna. Matahari perlahan turun di balik bangunan yang belum selesai. Di sebuah tempat pembangunan yang dipenuhi tanah, puing-puing, dan tumpukan sampah, seorang anak kecil bernama Alfiansyah berjalan sendirian.
Alfiansyah bukan sedang mencari mainan.
Ia hanya ingin mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar suara kecil dari balik tumpukan sampah.
“Meong… meong…” 🥺
Alfiansyah segera mendekat. Di antara tanah dan benda-benda bekas, ia melihat seekor anak kucing kecil yang tampak lemah dan ketakutan.
Alfiansyah terdiam.
Ia tahu dirinya juga tidak punya banyak makanan. Tetapi melihat anak kucing itu sendirian membuat hatinya terasa sedih.
Dengan hati-hati, Alfiansyah mengangkat anak kucing itu menggunakan selembar kain yang ditemukannya.
“Jangan takut… aku akan menolongmu,” bisiknya.
Anak kucing itu kemudian menempel di tubuh Alfiansyah.
Untuk sesaat, Alfiansyah tersenyum.
Padahal dirinya sendiri sedang kesulitan.
Padahal ia juga belum tahu apakah malam nanti bisa makan atau tidak.
Namun Alfiansyah tetap memilih untuk berbagi apa yang ia punya.
Ia mencari sedikit air, lalu memberikan kepada anak kucing tersebut. Setelah itu, ia duduk di pinggir tumpukan sampah sambil memeluknya erat.
Saat matahari semakin tenggelam, Alfiansyah memandang langit.
“Kalau aku belum punya rumah yang nyaman… setidaknya kamu jangan sendirian,” katanya pelan.
Anak kucing itu mengeong kecil seolah menjawab.
Air mata Alfiansyah akhirnya jatuh.
Bukan karena dirinya.
Tetapi karena untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa ada makhluk kecil yang benar-benar membutuhkan dirinya.
Malam itu, Alfiansyah tidak menyelamatkan dunia.
Ia hanya menyelamatkan seekor anak kucing.
Tetapi bagi anak kucing itu, Alfiansyah adalah seluruh dunianya. 💔🐱😭