Mohammad Alfiansyah

Mohammad Alfiansyah Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Mohammad Alfiansyah, Digital creator, New York, NY.

Sore itu, langit mulai berubah warna. Matahari perlahan turun di balik bangunan yang belum selesai. Di sebuah tempat pem...
08/28/2026

Sore itu, langit mulai berubah warna. Matahari perlahan turun di balik bangunan yang belum selesai. Di sebuah tempat pembangunan yang dipenuhi tanah, puing-puing, dan tumpukan sampah, seorang anak kecil bernama Alfiansyah berjalan sendirian.
Alfiansyah bukan sedang mencari mainan.
Ia hanya ingin mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar suara kecil dari balik tumpukan sampah.
“Meong… meong…” 🥺
Alfiansyah segera mendekat. Di antara tanah dan benda-benda bekas, ia melihat seekor anak kucing kecil yang tampak lemah dan ketakutan.
Alfiansyah terdiam.
Ia tahu dirinya juga tidak punya banyak makanan. Tetapi melihat anak kucing itu sendirian membuat hatinya terasa sedih.
Dengan hati-hati, Alfiansyah mengangkat anak kucing itu menggunakan selembar kain yang ditemukannya.
“Jangan takut… aku akan menolongmu,” bisiknya.
Anak kucing itu kemudian menempel di tubuh Alfiansyah.
Untuk sesaat, Alfiansyah tersenyum.
Padahal dirinya sendiri sedang kesulitan.
Padahal ia juga belum tahu apakah malam nanti bisa makan atau tidak.
Namun Alfiansyah tetap memilih untuk berbagi apa yang ia punya.
Ia mencari sedikit air, lalu memberikan kepada anak kucing tersebut. Setelah itu, ia duduk di pinggir tumpukan sampah sambil memeluknya erat.
Saat matahari semakin tenggelam, Alfiansyah memandang langit.
“Kalau aku belum punya rumah yang nyaman… setidaknya kamu jangan sendirian,” katanya pelan.
Anak kucing itu mengeong kecil seolah menjawab.
Air mata Alfiansyah akhirnya jatuh.
Bukan karena dirinya.
Tetapi karena untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa ada makhluk kecil yang benar-benar membutuhkan dirinya.
Malam itu, Alfiansyah tidak menyelamatkan dunia.
Ia hanya menyelamatkan seekor anak kucing.
Tetapi bagi anak kucing itu, Alfiansyah adalah seluruh dunianya. 💔🐱😭

08/27/2026

Alfiansyah Lagi serius nonton guys 😂🤣

Sore itu, hujan baru saja berhenti. Di depan sebuah rumah makan yang ramai, seorang anak kecil berdiri sendirian sambil ...
08/27/2026

Sore itu, hujan baru saja berhenti. Di depan sebuah rumah makan yang ramai, seorang anak kecil berdiri sendirian sambil memeluk seekor kucing jalanan yang tubuhnya kecil dan basah.
Anak itu tidak meminta makanan kepada siapa pun. Ia hanya duduk di pinggir jalan, memeluk kucing itu erat-erat.
“Jangan takut… aku di sini,” bisiknya pelan.
Dari dalam rumah makan, terdengar suara orang-orang sedang makan dan tertawa. Aroma makanan yang hangat keluar dari pintu. Anak itu menatap ke dalam sebentar, lalu menundukkan kepala.
Perutnya sebenarnya lapar.
Namun ketika melihat kucing kecil di pelukannya menggigil, ia justru mengusap kepalanya.
“Kamu lapar, ya? Maaf… aku juga belum punya makanan.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
Tak lama kemudian, seorang pelayan keluar membawa sisa makanan. Ia melihat anak kecil itu masih memeluk kucing tersebut.
“Kamu belum makan?”
Anak itu tersenyum kecil dan menggeleng.
“Tidak apa-apa, Pak. Kasih saja kucingnya dulu. Dia lebih lapar daripada aku.”
Pelayan itu terdiam.
Anak sekecil itu rela menahan lapar demi seekor kucing yang bahkan bukan miliknya.
Malam semakin gelap. Lampu rumah makan mulai menyala terang, sementara anak itu tetap duduk di luar, memeluk kucingnya.
Kucing itu akhirnya tertidur di dadanya.
Anak itu tersenyum sambil berbisik,
“Tidurlah… malam ini kita sama-sama tidak punya apa-apa. Tapi setidaknya kamu tidak sendirian… aku juga tidak.”
😭💔 Kadang, hati yang paling tulus justru datang dari mereka yang hidupnya paling sederhana.

Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam dan langit berubah menjadi keemasan, seorang anak kecil bernama Alfiansyah dud...
08/25/2026

Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam dan langit berubah menjadi keemasan, seorang anak kecil bernama Alfiansyah duduk sendirian di tepi jalan.
Di pangkuannya ada seekor kucing kecil yang terlihat lemah dan ketakutan. Tubuhnya kotor, dan ia hanya diam seolah sudah terlalu lelah untuk mencari pertolongan.
Alfiansyah memeluknya perlahan.
"Jangan takut... kamu tidak sendirian. Ada aku di sini." 😭💔
Padahal Alfiansyah sendiri tidak memiliki banyak makanan. Namun ketika melihat kucing itu kelaparan, ia memilih berbagi apa yang ia punya.
Ia mengusap kepala kucing kecil itu sambil menahan air mata.
"Kalau semua orang meninggalkanmu, aku tidak akan meninggalkanmu..." 😭
Jalanan mulai sepi. Kendaraan sesekali melewati mereka, sementara cahaya matahari semakin redup.
Alfiansyah hanya duduk memeluk kucing itu, berharap ada seseorang yang mau membantu.
Malam pun perlahan datang.
Tidak ada yang tahu bahwa di tepi jalan itu, seorang anak kecil sedang mengajarkan sesuatu yang sangat besar kepada dunia:
Kita tidak harus memiliki banyak harta untuk berbuat baik. Kadang, sedikit makanan, sebuah pelukan, dan rasa peduli sudah cukup untuk menyelamatkan hati makhluk yang sedang kesepian. 🥺🐈❤️
Semoga kebaikan kecil Alfiansyah menjadi jalan datangnya rezeki dan kebahagiaan untuknya.
Karena kebaikan yang dilakukan dengan tulus, sekecil apa pun, tidak pernah sia-sia. 🤲😭❤️

Sore itu, langit tiba-tiba berubah menjadi gelap. Awan hitam berkumpul dan tidak lama kemudian hujan turun dengan sangat...
08/18/2026

Sore itu, langit tiba-tiba berubah menjadi gelap. Awan hitam berkumpul dan tidak lama kemudian hujan turun dengan sangat deras. Jalanan yang biasanya ramai berubah menjadi basah dan penuh genangan air.
Di pinggir jalan, terlihat seorang anak kecil bernama Alfiansya duduk sendirian. Tubuhnya basah kuyup. Rambutnya menempel di dahi, bajunya penuh air, dan kedua kakinya yang tidak memakai alas kaki terlihat kotor terkena lumpur.
Namun Alfiansya tidak sendirian.
Di pangkuannya ada seekor kucing kecil yang juga menggigil kedinginan. Bulunya basah dan kusut karena terkena hujan. Alfiansya memeluk kucing itu erat-erat, berusaha melindunginya dari dinginnya air hujan.
“Jangan takut… aku masih di sini,” bisik Alfiansya sambil mengusap kepala kucingnya.
Sesekali Alfiansya melihat ke arah jalan. Banyak kendaraan lewat dengan cepat. Ada orang-orang yang memakai payung, ada yang berlari mencari tempat berteduh, dan ada p**a yang berada di dalam mobil yang hangat.
Alfiansya hanya bisa memandang mereka dari kejauhan.
Perutnya terasa lapar sejak siang. Ia belum mendapatkan makanan yang cukup. Namun ketika melihat kucing kecil itu menggigil, Alfiansya justru lebih khawatir kepadanya.
Ia membuka sedikit kain yang ada di tangannya, lalu mencoba menutupi tubuh kucing itu.
“Kalau kamu kedinginan, pakai ini saja,” katanya pelan.
Hujan semakin deras.
Air mulai mengalir di sepanjang pinggir jalan. Alfiansya menggeser tubuhnya sedikit agar kucingnya tidak terkena aliran air. Ia sendiri rela terkena hujan lebih banyak, asalkan kucing kecil itu bisa tetap berada di tempat yang lebih aman.
Kucing itu kemudian mendekat dan menyandarkan kepalanya ke tubuh Alfiansya.
Alfiansya tersenyum kecil meskipun matanya terlihat sedih.
“Setidaknya kita masih bersama…”
Waktu terus berjalan. Hari semakin gelap, tetapi tidak ada seorang pun yang menghampiri mereka.
Alfiansya kemudian memeluk kucingnya lebih erat. Ia menahan rasa lapar dan dingin sambil berharap hujan segera berhenti.
Dalam hati kecilnya, ia hanya punya satu harapan:
Semoga malam ini ada seseorang yang melihat mereka, memberikan sedikit makanan, dan mengajak mereka berteduh.
Karena bagi Alfiansya, kucing kecil itu bukan sekadar hewan peliharaan. Kucing itu adalah teman yang selalu menemaninya ketika ia merasa sendirian.
Di tengah jalan yang ramai, di bawah derasnya hujan, dua makhluk kecil itu hanya saling menguatkan.
Alfiansya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah hujan berhenti.
Tetapi malam itu, ia tetap memeluk kucingnya sambil berbisik,
“Selama kamu masih bersamaku, aku tidak akan meninggalkanmu.”
Dan hujan terus turun, membasahi jalanan… sementara Alfiansya dan kucing kecilnya tetap bertahan bersama. 🌧️🐱😭💔

Malam itu, Alfiansyah duduk diam di sebuah bangku kecil di depan restoran. Di dalam, orang-orang tertawa dan menikmati m...
08/13/2026

Malam itu, Alfiansyah duduk diam di sebuah bangku kecil di depan restoran. Di dalam, orang-orang tertawa dan menikmati makanan bersama keluarga mereka. Aroma makanan yang hangat sesekali keluar melalui pintu restoran, membuat perut kecil Alfiansyah semakin terasa lapar.
Di pangkuannya, ada seekor kucing hitam putih bernama Tasbih. Kucing itu adalah satu-satunya teman yang selalu menemani Alfiansyah.
Alfiansyah hanya bisa memandang dari balik kaca. Ia melihat piring-piring penuh makanan di atas meja, sementara dirinya tidak memiliki apa-apa untuk dimakan.
Ia kemudian mengelus kepala Tasbih sambil berbisik,
"Tasbih... kalau kita punya makanan, kita makan berdua ya. Aku tidak akan meninggalkanmu." 😭💔
Tasbih hanya menatap wajah Alfiansyah seolah mengerti kesedihan sahabat kecilnya.
Malam semakin gelap. Orang-orang di dalam restoran mulai p**ang bersama keluarganya. Alfiansyah masih tetap duduk di sana, memeluk Tasbih erat-erat.
Bagi orang lain, mungkin itu hanya seorang anak kecil yang duduk di depan restoran.
Tetapi bagi Alfiansyah, malam itu adalah perjuangan untuk menahan lapar dan tetap tersenyum demi sahabat kecilnya.
Kadang, yang paling menyedihkan bukanlah tidak punya makanan... tetapi ketika tidak ada seorang pun yang bertanya, “Kamu sudah makan belum?” 😭💔

Sore itu, Alfiansyah berjalan melewati tempat pembuangan sampah di pinggir kampung. Bau sampah begitu menyengat, tetapi ...
08/07/2026

Sore itu, Alfiansyah berjalan melewati tempat pembuangan sampah di pinggir kampung. Bau sampah begitu menyengat, tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar suara kecil dari balik tumpukan sampah.
“Meong… meong…” 🐈‍⬛😭
Alfiansyah mencari sumber suara itu. Ternyata ada beberapa ekor kucing yang terlihat kurus dan lemas. Mereka mengais-ngais sampah, berharap menemukan sedikit makanan untuk mengganjal perut yang sudah lama lapar.
Hati Alfiansyah terasa sedih. 💔
Ia lalu duduk di tanah dan berkata pelan,
“Kalian pasti lapar, ya? Jangan takut… aku akan berbagi makanan dengan kalian.” 😭
Alfiansyah mengambil makanan yang masih layak dimakan, lalu memberikannya kepada kucing-kucing itu. Mereka langsung mendekat dan makan dengan lahap.
Alfiansyah hanya tersenyum sambil melihat mereka makan. Meski dirinya tidak punya banyak, ia tetap ingin berbagi.
Dalam hatinya ia berdoa,
“Ya Allah, jangan biarkan mereka kelaparan lagi. Berikan mereka tempat yang aman dan makanan yang cukup. Kalau aku tidak bisa membantu banyak, semoga kebaikan kecil ini Engkau terima.” 🤲😭🐈
Hari itu Alfiansyah belajar satu hal: kebaikan tidak harus menunggu kita menjadi kaya. Bahkan sedikit makanan yang diberikan dengan ikhlas bisa menjadi kebahagiaan besar bagi makhluk yang sedang kelaparan. ❤️
Kadang, orang yang paling sedikit memiliki justru menjadi orang yang paling banyak memberi. 😭💔🐈

Di pinggir jalan yang ramai, duduklah seorang anak kecil bernama Alfiansyah. Pakaiannya lusuh, kakinya tanpa alas, dan w...
07/29/2026

Di pinggir jalan yang ramai, duduklah seorang anak kecil bernama Alfiansyah. Pakaiannya lusuh, kakinya tanpa alas, dan wajahnya dipenuhi air mata. Sejak pagi, perutnya belum terisi makanan. Namun, di pelukannya ada seekor anak kucing kecil yang setia menemaninya.
Alfiansyah mengelus kepala kucing itu dengan lembut sambil berbisik, "Tasbih... maaf ya, hari ini kita belum dapat makan."
Anak kucing itu tidak pergi. Ia tetap meringkuk di pelukan Alfiansyah, seolah mengerti kesedihan sahabat kecilnya. Walaupun mereka sama-sama lapar, mereka tidak pernah meninggalkan satu sama lain.
Setiap orang berlalu-lalang dengan kesibukannya. Ada yang melihat sekilas, ada yang terus berjalan. Di tengah keramaian itu, Alfiansyah hanya berharap ada seseorang yang berhenti, tersenyum, dan berkata, "Nak, ayo makan bersama."
Bagi Alfiansyah, harta yang paling berharga bukanlah uang atau mainan, melainkan seekor kucing kecil yang selalu menemaninya saat dunia terasa begitu sepi.
Semoga tidak ada lagi anak yang harus menahan lapar sendirian, dan semoga setiap kebaikan sekecil apa pun dapat menjadi harapan bagi mereka yang sedang membutuhkan. ❤️

Di sebuah lorong kecil yang sunyi, Alfiansyah melihat sebuah kotak usang di tepi jalan. Saat dihampiri, terdengar suara ...
07/26/2026

Di sebuah lorong kecil yang sunyi, Alfiansyah melihat sebuah kotak usang di tepi jalan. Saat dihampiri, terdengar suara anak-anak kucing yang mengeong lemah. Tubuh mereka basah, menggigil, dan kelaparan. Mereka baru saja dibuang oleh orang yang pernah mereka anggap sebagai pemilik.
Alfiansyah yang masih kecil tidak sanggup berpaling. Dengan tangan mungilnya, dia mengusap kepala seekor anak kucing sambil berkata, "Jangan takut ya... sekarang kalian tidak sendirian lagi."
Dia membuka bekal makanannya sendiri. Walaupun perutnya juga lapar, dia memilih memberikan makanan itu kepada anak-anak kucing yang lebih membutuhkan. Air matanya jatuh satu demi satu ketika melihat mereka makan dengan lahap.
Sambil memeluk seekor anak kucing, Alfiansyah berdoa dengan suara yang lirih,
"Ya Allah... kalau aku belum mampu memberi mereka rumah yang indah, tolonglah Engkau kirimkan orang baik yang akan menyayangi mereka. Jangan biarkan mereka mati sendirian di jalan." 🤲
Orang-orang yang lewat hanya melihat sekilas, lalu pergi. Namun Alfiansyah tetap duduk menemani mereka hingga senja. Baginya, kasih sayang tidak diukur dari usia, tetapi dari hati yang mampu merasakan penderitaan makhluk lain.
Malam itu angin bertiup semakin dingin. Alfiansyah memeluk anak-anak kucing itu erat agar mereka tetap hangat. Air matanya terus mengalir, bukan kerana dirinya, tetapi kerana dia tidak sanggup melihat makhluk kecil yang tidak berdosa menderita.
Semoga setiap orang yang menyayangi dan memberi makan kucing yang kelaparan, Allah melapangkan rezekinya, menjaga keluarganya, mengangkat segala kesulitannya, dan membalas setiap kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin. 🤲🐈💖

Di sebuah jalan yang ramai, hiduplah seorang anak kecil bernama Alfiansyah. Walaupun pakaiannya sederhana dan wajahnya p...
07/23/2026

Di sebuah jalan yang ramai, hiduplah seorang anak kecil bernama Alfiansyah. Walaupun pakaiannya sederhana dan wajahnya penuh debu, hatinya begitu bersih dan penuh kasih sayang.
Setiap sore, Alfiansyah selalu menyisihkan sedikit makanan yang ia miliki. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kucing-kucing jalanan yang kelaparan. Satu per satu kucing itu datang menghampiri, seolah tahu bahwa ada seorang anak kecil yang tidak akan mengusir mereka.
Dengan tangan mungilnya, Alfiansyah membagikan makanan ke setiap piring kecil. Ia bahkan menggendong seekor anak kucing yang lemah sambil mengusap kepalanya dengan lembut. Meski perutnya sendiri belum tentu kenyang, ia tetap memilih berbagi.
Orang-orang yang melihatnya mulai terharu. Mereka sadar bahwa kebaikan tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar hati untuk peduli kepada makhluk yang membutuhkan.
Hari itu, bukan hanya perut kucing-kucing jalanan yang terisi, tetapi juga hati banyak orang yang menyaksikan kebaikan Alfiansyah. Semoga kelak, setiap kebaikan yang ia tanam menjadi jalan menuju kebahagiaan dan keberkahan dalam hidupnya. ❤️🐾

Address

New York, NY

Telephone

+60134799420

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mohammad Alfiansyah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share