17/12/2025
“Hemm.”
Aroma wangi sabun bayi dari pakaian kecil yang baru selesai disetrika Shanum masih memenuhi ruang tengah. Rumah keluarga Shanum itu selalu membuatnya merasa aman, seolah dinding-dinding megahnya menjaga diri dan janin yang sudah delapan bulan menendang lembut di perut.
Namun, kenyamanan seperti itu tidak selalu bertahan lama, terutama sejak ia menikah.
“Num, kamu nggak capek? Udah istirahat dulu sana.” Suara Langit, suaminya, muncul dari arah dapur.
Nada bicara pria itu terdengar lelah, tetapi matanya sudah lama tidak benar-benar menatap istrinya.
“Aku cuma mau nyelesain, sedikit lagi,” jawab Shanum sambil melipat baju bayi terakhir. “Lagipula aku nggak bisa tidur kalau pekerjaanku belum seleai.”
"Lagian ada Bibi, kenapa lebay banget sih, ngerjain semuanya sendiri!"
"Aku ingin mengurus dan memastikan apa yang dipakai anakku bersih sendiri. Apa itu salah?"
Langit tidak menjawab. Ia hanya berdiri memandangi istrinya selama beberapa detik, lalu masuk ke kamar sambil menggeser pintu. Begitulah sikap Langit dua bulan terakhir, sering meninggikan suara, cepat tersinggung, cepat dingin. Shanum benar-benar tidak mengerti alasannya.
Perlahan ia mengusap perut besarnya, lalu memperbaiki posisi duduk agar lebih nyaman daripada sebelumnya. “Nak, sabar ya … sebentar lagi kita tidak akan mengalami ini," gumamnya lirih.
Di bagian belakang rumah, ayah dan adiknya, Arya, sedang menunaikan salat Magrib di mushola. Biasanya suasana rumah terasa hangat, namun sejak sore tadi Shanum merasa seperti ada awan gelap menggantung di atas kepala.
Baru saja ia hendak bangkit ketika ponselnya bergetar pelan di atas meja. Notifikasi WhatsApp muncul, dan nama pengirimnya membuat jantungnya langsung berdegup tidak karuan. Ibu Mertua. Bahkan sebelum membuka pesan apa pun, rasa mual dan panas di tenggorokan muncul begitu saja. Hanya melihat namanya sudah cukup membuatnya ingin marah.
Beberapa bulan sebelumnya, sejak usia kandungannya menginjak enam bulan, Shanum sebenarnya sudah memblokir seluruh keluarga suaminya. Bukan hanya sang mertua, tetapi juga para saudara ipar yang selalu mengikuti dan menyudutkannya. Namun Langit memaksanya membuka blokir itu, meski ia mengizinkan Shanum keluar dari grup keluarga yang penuh sindiran. Katanya, agar Shanum tidak stres selama hamil. Katanya, ia harus menjaga hubungan baik.
Tetap saja, hidupnya tidak pernah damai.
Pesan itu hanya dua baris.
[Jangan besar kepala karena sudah hamil anak Langit. Meski melahirkan anaknya, kalau dia tahu bobrokmu, pasti dia akan tetap meninggalkanmu.]
[Kamu terus membangkang kami, tapi dengan tidak tahu malunya menghabiskan uang anakku!]
Bibir Shanum bergetar. “Ya Allah …,” bisiknya. Air matanya langsung jatuh, cepat dan tanpa bisa ia tahan. Baru saja ia berusaha belajar menjadi wanita kuat, rupanya Allah masih harus menempanya lebih dulu.
Padahal, sejak sebelum menikah, Shanum tidak pernah bergantung pada Langit. Ia membiayai dirinya sendiri, bahkan sebagian besar biaya pernikahan ditanggung oleh keluarganya. Kini mereka tinggal di rumah keluarga Shanum dan ia tak pernah meminta apa pun. Namun di mata mertuanya, selalu salah.
“Num?” Suara Langit terdengar dari kamar. “Kamu nangis lagi?”
Shanum buru-buru menyeka pipinya. “Nggak … debu.”
Langit keluar dari kamar. Ekspresinya kesal, seperti biasa. “Mama pesan apa lagi? Kamu bikin masalah apa lagi sama Mama?”
“Aku bikin masalah apa? Heh.” Suara Shanum pecah. “Aku cuma … baca pesan tadi ….”
“Ya udah, hapus! Jangan dibaca kalau bikin nangis!” bentak Langit.
“Aku nggak bisa hapus gitu aja pesan orang tuamu, Mas. Kamu pikir setelah kuhapus, otomatis rasa sakitku ilang?”
“Lah kamu dulu ngeblokir semuanya? Kukira itu memuaskanmu!” Nada suaranya naik. “Kamu tuh istri, seorang menantu, harusnya ngerti posisi. Mama cuma butuh perhatian!”
Shanum mengusap dadanya, menahan sakit hati. “Mas, kamu tahu sendiri gimana mamamu kalau kamu nggak ada. Kamu tahu, tapi kamu ….”
“Jangan bawa-bawa Mama!” Langit menahan kepalanya dengan tangan, seolah ucapannya menyakitinya. “Mama cuma pengen kamu hormat.”
Shanum hanya menarik napas panjang. “Aku capek, Mas. Aku lagi hamil besar. Aku cuma pengen ketenangan.”
“Tinggal bilang kamu nggak s**a keluargaku!” bentak Langit, sebelum menghentak pintu kamar dan masuk lagi.
Keheningan setelah suara pintu tertutup itu membuat Shanum merasa seperti ditinggalkan sendirian di tengah badai.
Pukul sembilan malam, barulah ia bisa duduk tenang setelah ayah dan Arya naik ke lantai dua. Karena usia kandungannya yang sudah besar, ia memilih tinggal bersama keluarganya dulu. Agar ada teman saat Langit bekerja, juga agar terhindar dari tekanan mertua. Ia takut stres berlebihan membuatnya melahirkan sebelum waktunya.
Langit masih duduk di ruang tengah, berkutat dengan laptop, mengetik cepat seperti dikejar sesuatu.
“Kerjaan kantor?” tanya Shanum pelan.
“Hmm.”
Shanum mencoba tersenyum, mencoba mengalah dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. Membahasnya hanya akan memperkeruh keadaan.
“Mau aku bikinin teh hangat?”
“Nggak usah.”
Sikap dingin itu perlahan menguras hati Shanum. Namun ia tetap mencoba memahami, mungkin Langit stres menanggung kebutuhan orang tuanya yang tidak bekerja, juga adiknya. Padahal Shanum sudah bilang, ambil saja uangnya untuk keperluan pribadi. Rumah dan kebutuhan sehari-hari akan ia tanggung. Ia punya gaji tetap dari saham perusahaan ayahnya. Ayahnya juga terlalu kaya untuk membiarkannya kesulitan.
Tetap saja, itu tidak pernah cukup bagi Langit. Ia ingin posisi besar di perusahaan ayah Shanu lebih tinggi, atau setidaknya setara dengan Arya. Namun semua itu berada di tangan sang ayah. Hanya beliau yang bisa menilai siapa yang punya value atau tidak.
Beberapa menit kemudian, Langit bangkit menuju dapur. Shanum sempat melihat ponselnya menyala di meja. Layarnya menampilkan notifikasi baru … dari ibunya.
Ia tidak bermaksud membaca, tetapi teksnya terlihat jelas.
[Bang, Mama kangen.]
Shanum terdiam. Kata-kata itu terasa aneh, lebih seperti pesan dari seorang perempuan lain yang bersikap terlalu manja.
Lalu pesan kedua muncul.
[Bagaimana proposal kemarin? Kamu ACC. Kalau sudah Mama akan laporkan segera.]
Alis Shanum berkerut. Proposal apa? Suaminya tidak bekerja di posisi yang memiliki wewenang meng-ACC sebuah proposal. Apa itu kode? Kenapa rasanya begitu tidak enak?
Dan Langit, yang dari dapur melirik tajam karena melihat Shanum sempat menatap ponselnya, membuat dada Shanum semakin dingin.
Bersambung ….
Next baca selengkapnya di KBM App
Judul: Manipulasi Melahirkan dalam Penjara
Penulis: wafafarha93
Ling cerita ada di komentar yaa