10/07/2025
Hantu Hotel
Amanda, dengan rambut cokelat ombré yang selalu tertata sempurna dan kacamata tebal trendinya yang membingkai mata ekspresifnya, menghela napas. Sebagai seorang travel blogger dan food vlogger yang sedang naik daun, ia selalu mencari konten yang unik dan menarik. Kali ini, ia mendapatkan tawaran yang cukup menggiurkan: mengulas kembali Hotel Nirvana, sebuah hotel klasik di Bandung yang baru saja direnovasi setelah mangkrak bertahun-tahun. Desas-desus tentang masa lalunya yang kelam, terutama kisah-kisah seram, malah membuatnya makin tertantang.
"Hotel Nirvana Palace," bisik Amanda pada dirinya sendiri saat taksi mewahnya berhenti di depan gerbang besi tempa yang menjulang. Bangunan kolonial itu tampak megah di bawah remang senja, dengan arsitektur Art Deco yang klasik namun aura misterius yang tak bisa disembunyikan. Jendela-jendela tinggi dan beranda luas seolah menyimpan cerita-cerita lama. Walaupun lampu-lampu baru sudah terpasang terang, ada semacam aura beku yang menyelubungi hotel itu.
"Nggak salah, Mbak? Hotel ini baru buka lagi. Katanya sih… angker," supir taksi berbisik, wajahnya sedikit pucat.
Amanda tersenyum simpul. "Itulah yang kita cari, Pak. Sensasi!" Ia membayar tarif, lalu menarik koper rodanya masuk.
Lobi Hotel Nirvana Palace terasa dingin, bahkan di tengah musim kemarau. Lantai marmernya memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang mewah, namun keheningan yang mencekam terasa lebih dominan daripada bisikan AC. Resepsionis, seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal dan senyum yang terlalu lebar, menyambutnya.
"Selamat datang, Nona Amanda. Kami sudah menyiapkan kamar terbaik untuk Anda," katanya, menyerahkan kunci kartu bertuliskan: Room 303.
Amanda mengerutkan kening. "303? Bukannya kamar VIP ada di lantai atas ya?"
Resepsionis itu hanya tersenyum lebih lebar. "Oh, kamar ini istimewa, Nona. Pemandangannya langsung ke taman belakang, sangat damai."
Amanda merasa sedikit merinding, tapi dia mengabaikannya. Mungkin hanya perasaannya saja. Ia naik lift yang klasik, berdecit pelan, dan sesampainya di lantai tiga, hawa dingin semakin menusuk. Lorong itu panjang, dengan karpet tebal bermotif bunga kusut yang seolah menyerap semua suara. Lampu-lampu redup di dinding menciptakan bayangan-bayangan bergerak yang menipu.
Saat ia membuka pintu kamar 303, aroma melati yang pekat langsung menyeruak, bercampur dengan bau apak yang aneh. Kamar itu memang luas dan terawat, dengan ranjang berkanopi, perabotan kayu jati ukir, dan jendela besar menghadap taman belakang yang gelap gulita. Namun, terasa sekali bahwa kamar ini… hidup.
Amanda mengeluarkan ponselnya, merekam setiap sudut ruangan untuk vlognya. "Oke guys, ini dia Room 303 Hotel Nirvana Palace. Kesan pertama: klasik, mewah, tapi ada sentuhan misteri yang bikin bulu kuduk merinding. Wangi melati yang kuat banget, mungkin dari taman di bawah?" Ia mencoba bersikap ceria, tapi di dalam hati ia merasa tidak nyaman.
Malam pertama berlalu dengan aneh. Amanda terus-menerus merasa seperti ada yang mengawasinya. Sesekali, ia mendengar suara bisikan samar di dekat telinganya, seperti nyanyian sendu yang entah dari mana asalnya. Lampu di meja samping tempat tidur berkedip-kedip sebentar sebelum normal kembali. Ia mencoba membaca, tapi matanya terus melirik ke arah cermin rias yang antik di sudut kamar. Di sana, ia sesekali melihat bayangan sekilas, seperti kilatan kain putih yang melayang.
Amanda mencoba rasional: "Mungkin itu pantulan dari lorong," atau "Ah, AC-nya terlalu dingin." Tapi hatinya tahu, ada yang salah.
Malam kedua, kengerian itu semakin menjadi. Selesai mandi, Amanda melihat uap air di cermin kamar mandi membentuk tulisan: "PULANG." Jantungnya berdegup kencang. Ia mengusapnya dengan panik, tapi getaran ketakutan itu tak hilang.
Saat ia mencoba tidur, suara nyanyian itu semakin jelas. Kali ini, itu bukan bisikan, melainkan melodi lagu anak-anak yang dingin dan berulang-ulang, seolah-olah diputar dari gramofon tua. Lagu itu seperti "Nina Bobo", tapi dengan irama yang membuat perut Amanda mual.
Ia menutup telinganya, menggigil ketakutan di bawah selimut. Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari lemari pakaian antik di sudut ruangan. tok… tok… tok…
"Siapa di sana?" Amanda tanpa sadar bertanya, suaranya bergetar. Hening.
Ia memberanikan diri membuka mata, matanya mencari asal suara. Di antara celah tirai jendela, ia melihat siluet seorang wanita berdiri di taman belakang, membelakangi kamar 303. Wanita itu mengenakan kebaya putih panjang, rambutnya tergerai panjang hingga menyentuh pinggang. Ia tampak memandangi bulan sabit di langit. Amanda menahan napas. Ini bukan pantulan, ini bukan tipuan mata.
Wanita itu perlahan menoleh. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung dan hitam pekat, seperti dua lubang kosong. Senyumnya tipis, namun bukan senyum ramah, melainkan senyum kesedihan yang mengerikan. Wanita itu mengangkat tangannya yang kurus, menunjuk ke arah Amanda, ke arah kamar 303.
Amanda menjerit tertahan, ia terlempar dari ranjangnya. Kuncinya! Ia harus keluar! Dengan tangan gemetar, ia merogoh tasnya. Tetapi saat ia ingin meraih kunci, kunci kartu itu bergeser sendiri, bergerak menjauh dari jangkauannya, seolah ditarik oleh tangan tak terlihat.
Kemudian, suara tawa lembut namun mengerikan memenuhi kamar. Tawa itu datang dari setiap sudut, mengelilinginya, membuat Amanda merasa tercekik. Aroma melati semakin menyengat, membuat kepalanya pusing. Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang menusuk tepat di belakangnya. Bulu kuduknya merinding, seperti ada hembusan napas dingin di tengkuknya.
Ia memberanikan diri menoleh perlahan. Di samping ranjang, berdiri sosok wanita berkebaya putih itu, persis seperti yang ia lihat di luar jendela. Wajahnya kini sangat dekat, mata hitamnya menatap lurus ke dalam jiwa Amanda. Wanita itu tidak tersenyum lagi. Ada tetesan air mata darah di p**inya yang pucat.
"Kau… mengambil kamarku…" bisik suara wanita itu, serak dan penuh kesedihan, namun juga kemarahan. "Dia… meninggalkanku di sini… di malam pernikahan kami… di kamar ini…"
Amanda tak bisa bergerak, tak bisa berteriak. Wajahnya pucat pasi, air mata mengalir dari matanya. Sosok itu perlahan mengulurkan tangannya yang dingin, pucat, dan kuku-kukunya tampak panjang. Tangannya menyentuh p**i Amanda. Sensasi dingin yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh Amanda, membuatnya menggigil tak terkendali.
"Jangan… jangan sentuh aku…" lirih Amanda, suaranya hampir tak terdengar.
Sosok itu tertawa lagi, kali ini lebih keras, lebih pilu. "Aku akan menemanimu… di kamar ini… selamanya…"
Amanda merasakan sesuatu menariknya ke arah ranjang, seolah-olah ada tangan kuat yang tak terlihat mendorongnya. Ia terjatuh di atas ranjang, matanya terbelalak melihat langit-langit berkanopi. Wanita berkebaya putih itu melayang di atasnya, wajahnya semakin dekat, semakin dekat, hingga Amanda bisa melihat pembuluh darah di matanya yang merah.
"Kamar ini… adalah duniaku…" bisik sang hantu.
Esok paginya, Amanda ditemukan oleh staf hotel, tergeletak di koridor depan kamar 303, memeluk lututnya, gemetar tak karuan. Matanya merah dan bengkak, wajahnya pucat pasi, dan ia terus-menerus berbisik, "Dia di sana… dia di sana…"
Resepsionis paruh baya itu hanya menghela napas, menatap Amanda dengan tatapan kasihan yang teramat sangat. "Sudah saya bilang, Nona. Kamar 303 itu istimewa. Itu adalah kamar pengantin dari seorang calon mempelai wanita yang bunuh diri di malam pernikahannya, setelah calon suaminya tidak datang. Arwahnya masih bergentayangan di sana, menanti cinta yang tak pernah tiba…"
Amanda tidak pernah lagi mengulas hotel manapun yang berbau sejarah atau yang baru direnovasi dari bangunan lama. Dia berhenti dari profesinya sebagai travel blogger dan tidak pernah lagi bepergian jauh sendirian. Setiap kali ia melihat sebuah hotel klasik, terutama jika ada kamar dengan nomor 303, bayangan wanita berkebaya putih dengan mata cekung dan senyum pilu itu akan menghantuinya, membisikkan lagu Nina Bobo yang menyeramkan, dan mengingatkannya pada malam paling mengerikan dalam hidupnya di Hotel Nirvana Palace.
Kamar 303 di Hotel Nirvana Palace memang istimewa. Sangat istimewa. Dan arwah pengantin wanita yang patah hati itu akan memastikan, siapa pun yang berani mengusik tidur abadinya, akan ikut terperangkap dalam kesedihan abadi di dalam kamar itu.