Jefrianus Hardi

Jefrianus Hardi Music
(4)

😹
08/08/2025

😹

12/07/2025

Sampai di Sini Saja - Lagu Pop Perpisahan Paling Menyentuh | Official Lyric Video

12/07/2025

Biarkan Ku Pergi - Lagu Pop Indonesia Sedih Tentang Melepaskan Cinta yang Tak Lagi Sama

Hantu HotelAmanda, dengan rambut cokelat ombré yang selalu tertata sempurna dan kacamata tebal trendinya yang membingkai...
10/07/2025

Hantu Hotel

Amanda, dengan rambut cokelat ombré yang selalu tertata sempurna dan kacamata tebal trendinya yang membingkai mata ekspresifnya, menghela napas. Sebagai seorang travel blogger dan food vlogger yang sedang naik daun, ia selalu mencari konten yang unik dan menarik. Kali ini, ia mendapatkan tawaran yang cukup menggiurkan: mengulas kembali Hotel Nirvana, sebuah hotel klasik di Bandung yang baru saja direnovasi setelah mangkrak bertahun-tahun. Desas-desus tentang masa lalunya yang kelam, terutama kisah-kisah seram, malah membuatnya makin tertantang.

"Hotel Nirvana Palace," bisik Amanda pada dirinya sendiri saat taksi mewahnya berhenti di depan gerbang besi tempa yang menjulang. Bangunan kolonial itu tampak megah di bawah remang senja, dengan arsitektur Art Deco yang klasik namun aura misterius yang tak bisa disembunyikan. Jendela-jendela tinggi dan beranda luas seolah menyimpan cerita-cerita lama. Walaupun lampu-lampu baru sudah terpasang terang, ada semacam aura beku yang menyelubungi hotel itu.

"Nggak salah, Mbak? Hotel ini baru buka lagi. Katanya sih… angker," supir taksi berbisik, wajahnya sedikit pucat.

Amanda tersenyum simpul. "Itulah yang kita cari, Pak. Sensasi!" Ia membayar tarif, lalu menarik koper rodanya masuk.

Lobi Hotel Nirvana Palace terasa dingin, bahkan di tengah musim kemarau. Lantai marmernya memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang mewah, namun keheningan yang mencekam terasa lebih dominan daripada bisikan AC. Resepsionis, seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal dan senyum yang terlalu lebar, menyambutnya.

"Selamat datang, Nona Amanda. Kami sudah menyiapkan kamar terbaik untuk Anda," katanya, menyerahkan kunci kartu bertuliskan: Room 303.

Amanda mengerutkan kening. "303? Bukannya kamar VIP ada di lantai atas ya?"

Resepsionis itu hanya tersenyum lebih lebar. "Oh, kamar ini istimewa, Nona. Pemandangannya langsung ke taman belakang, sangat damai."

Amanda merasa sedikit merinding, tapi dia mengabaikannya. Mungkin hanya perasaannya saja. Ia naik lift yang klasik, berdecit pelan, dan sesampainya di lantai tiga, hawa dingin semakin menusuk. Lorong itu panjang, dengan karpet tebal bermotif bunga kusut yang seolah menyerap semua suara. Lampu-lampu redup di dinding menciptakan bayangan-bayangan bergerak yang menipu.

Saat ia membuka pintu kamar 303, aroma melati yang pekat langsung menyeruak, bercampur dengan bau apak yang aneh. Kamar itu memang luas dan terawat, dengan ranjang berkanopi, perabotan kayu jati ukir, dan jendela besar menghadap taman belakang yang gelap gulita. Namun, terasa sekali bahwa kamar ini… hidup.

Amanda mengeluarkan ponselnya, merekam setiap sudut ruangan untuk vlognya. "Oke guys, ini dia Room 303 Hotel Nirvana Palace. Kesan pertama: klasik, mewah, tapi ada sentuhan misteri yang bikin bulu kuduk merinding. Wangi melati yang kuat banget, mungkin dari taman di bawah?" Ia mencoba bersikap ceria, tapi di dalam hati ia merasa tidak nyaman.

Malam pertama berlalu dengan aneh. Amanda terus-menerus merasa seperti ada yang mengawasinya. Sesekali, ia mendengar suara bisikan samar di dekat telinganya, seperti nyanyian sendu yang entah dari mana asalnya. Lampu di meja samping tempat tidur berkedip-kedip sebentar sebelum normal kembali. Ia mencoba membaca, tapi matanya terus melirik ke arah cermin rias yang antik di sudut kamar. Di sana, ia sesekali melihat bayangan sekilas, seperti kilatan kain putih yang melayang.

Amanda mencoba rasional: "Mungkin itu pantulan dari lorong," atau "Ah, AC-nya terlalu dingin." Tapi hatinya tahu, ada yang salah.

Malam kedua, kengerian itu semakin menjadi. Selesai mandi, Amanda melihat uap air di cermin kamar mandi membentuk tulisan: "PULANG." Jantungnya berdegup kencang. Ia mengusapnya dengan panik, tapi getaran ketakutan itu tak hilang.

Saat ia mencoba tidur, suara nyanyian itu semakin jelas. Kali ini, itu bukan bisikan, melainkan melodi lagu anak-anak yang dingin dan berulang-ulang, seolah-olah diputar dari gramofon tua. Lagu itu seperti "Nina Bobo", tapi dengan irama yang membuat perut Amanda mual.

Ia menutup telinganya, menggigil ketakutan di bawah selimut. Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari lemari pakaian antik di sudut ruangan. tok… tok… tok…

"Siapa di sana?" Amanda tanpa sadar bertanya, suaranya bergetar. Hening.

Ia memberanikan diri membuka mata, matanya mencari asal suara. Di antara celah tirai jendela, ia melihat siluet seorang wanita berdiri di taman belakang, membelakangi kamar 303. Wanita itu mengenakan kebaya putih panjang, rambutnya tergerai panjang hingga menyentuh pinggang. Ia tampak memandangi bulan sabit di langit. Amanda menahan napas. Ini bukan pantulan, ini bukan tipuan mata.

Wanita itu perlahan menoleh. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung dan hitam pekat, seperti dua lubang kosong. Senyumnya tipis, namun bukan senyum ramah, melainkan senyum kesedihan yang mengerikan. Wanita itu mengangkat tangannya yang kurus, menunjuk ke arah Amanda, ke arah kamar 303.

Amanda menjerit tertahan, ia terlempar dari ranjangnya. Kuncinya! Ia harus keluar! Dengan tangan gemetar, ia merogoh tasnya. Tetapi saat ia ingin meraih kunci, kunci kartu itu bergeser sendiri, bergerak menjauh dari jangkauannya, seolah ditarik oleh tangan tak terlihat.

Kemudian, suara tawa lembut namun mengerikan memenuhi kamar. Tawa itu datang dari setiap sudut, mengelilinginya, membuat Amanda merasa tercekik. Aroma melati semakin menyengat, membuat kepalanya pusing. Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang menusuk tepat di belakangnya. Bulu kuduknya merinding, seperti ada hembusan napas dingin di tengkuknya.

Ia memberanikan diri menoleh perlahan. Di samping ranjang, berdiri sosok wanita berkebaya putih itu, persis seperti yang ia lihat di luar jendela. Wajahnya kini sangat dekat, mata hitamnya menatap lurus ke dalam jiwa Amanda. Wanita itu tidak tersenyum lagi. Ada tetesan air mata darah di p**inya yang pucat.

"Kau… mengambil kamarku…" bisik suara wanita itu, serak dan penuh kesedihan, namun juga kemarahan. "Dia… meninggalkanku di sini… di malam pernikahan kami… di kamar ini…"

Amanda tak bisa bergerak, tak bisa berteriak. Wajahnya pucat pasi, air mata mengalir dari matanya. Sosok itu perlahan mengulurkan tangannya yang dingin, pucat, dan kuku-kukunya tampak panjang. Tangannya menyentuh p**i Amanda. Sensasi dingin yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh Amanda, membuatnya menggigil tak terkendali.

"Jangan… jangan sentuh aku…" lirih Amanda, suaranya hampir tak terdengar.

Sosok itu tertawa lagi, kali ini lebih keras, lebih pilu. "Aku akan menemanimu… di kamar ini… selamanya…"

Amanda merasakan sesuatu menariknya ke arah ranjang, seolah-olah ada tangan kuat yang tak terlihat mendorongnya. Ia terjatuh di atas ranjang, matanya terbelalak melihat langit-langit berkanopi. Wanita berkebaya putih itu melayang di atasnya, wajahnya semakin dekat, semakin dekat, hingga Amanda bisa melihat pembuluh darah di matanya yang merah.

"Kamar ini… adalah duniaku…" bisik sang hantu.

Esok paginya, Amanda ditemukan oleh staf hotel, tergeletak di koridor depan kamar 303, memeluk lututnya, gemetar tak karuan. Matanya merah dan bengkak, wajahnya pucat pasi, dan ia terus-menerus berbisik, "Dia di sana… dia di sana…"

Resepsionis paruh baya itu hanya menghela napas, menatap Amanda dengan tatapan kasihan yang teramat sangat. "Sudah saya bilang, Nona. Kamar 303 itu istimewa. Itu adalah kamar pengantin dari seorang calon mempelai wanita yang bunuh diri di malam pernikahannya, setelah calon suaminya tidak datang. Arwahnya masih bergentayangan di sana, menanti cinta yang tak pernah tiba…"

Amanda tidak pernah lagi mengulas hotel manapun yang berbau sejarah atau yang baru direnovasi dari bangunan lama. Dia berhenti dari profesinya sebagai travel blogger dan tidak pernah lagi bepergian jauh sendirian. Setiap kali ia melihat sebuah hotel klasik, terutama jika ada kamar dengan nomor 303, bayangan wanita berkebaya putih dengan mata cekung dan senyum pilu itu akan menghantuinya, membisikkan lagu Nina Bobo yang menyeramkan, dan mengingatkannya pada malam paling mengerikan dalam hidupnya di Hotel Nirvana Palace.

Kamar 303 di Hotel Nirvana Palace memang istimewa. Sangat istimewa. Dan arwah pengantin wanita yang patah hati itu akan memastikan, siapa pun yang berani mengusik tidur abadinya, akan ikut terperangkap dalam kesedihan abadi di dalam kamar itu.

Anya adalah seorang pustakawan. Hidupnya sederhana, penuh dengan ketenangan antara rak-rak buku dan aroma kertas tua yan...
10/07/2025

Anya adalah seorang pustakawan. Hidupnya sederhana, penuh dengan ketenangan antara rak-rak buku dan aroma kertas tua yang menenangkan. Gajinya pas-pasan, cukup untuk membayar sewa apartemen kecilnya dan kebutuhan sehari-hari. Namun, Anya tidak pernah merasa kekurangan, apalagi sejak ia menikah dengan Arjun.

Arjun adalah segalanya bagi Anya. Pria itu tampan, tenang, dan sangat menyayangi Anya. Dia bekerja sebagai "manajer" di sebuah perusahaan "konsultan kecil", setidaknya itu yang Anya tahu. Arjun selalu pulang tepat waktu, membantu Anya mengerjakan pekerjaan rumah, dan sering menghabiskan malam minggu mereka dengan menonton film murah di sofa sambil berbagi sekotak pizza. Anya menyelamatkan nyawa mereka. Mereka memang tidak mewah, namun kebahagiaan mereka terasa begitu nyata.

Sesekali, Anya akan melihat Arjun menerima telepon di larut malam, dengan suara yang lebih serius dan formal dari biasanya. Kadang-kadang, Arjun juga menghilang di akhir pekan untuk "pertemuan mendadak di luar kota," namun selalu kembali dengan senyum tulus dan oleh-oleh kecil untuk Anya. Anya tidak pernah curiga. Ia percaya sepenuhnya pada suaminya.

Suatu hari, Arjun pulang dengan sebuah undangan di tangannya. "Sayang, ada acara makan malam amal dari klien lamaku. Kau mau menemaniku?" tanyanya lembut.

Anya menyambut undangan itu dengan antusiasme campur aduk. Ia senang bisa menemani Arjun, tapi ia tahu acara semacam itu pasti sangat formal. "Tentu saja! Tapi apa aku punya gaun yang pantas?"

Arjun tersenyum. "Kau akan terlihat cantik dengan apa pun, Anya. Jangan khawatir soal itu."

Malam acara tiba. Anya mengenakan gaun sederhana berwarna biru tua yang ia pinjam dari temannya. Arjun, seperti biasa, tampak sangat menawan dalam pengaturan jas gelapnya. Saat mereka tiba di lokasi acara—sebuah ballroom mewah di salah satu hotel bintang lima paling bergengsi di Jakarta—Anya merasa sedikit kikuk. Lampu kristal berkilauan, lantai marmer memantulkan siluet tamu-tamu yang mengenakan pakaian desainer, dan alunan musik klasik mengalun lembut.

“Wah, ini benar-benar megah,” bisik Anya pada Arjun, sedikit merasa tidak nyaman.

“Nikmati saja, sayang,” balas Arjun sambil menggenggam tangannya erat-erat, seolah tahu kegugupan Anya.

Mereka berjalan masuk, dan Anya terkejut melihat betapa banyak orang yang menyapa Arjun. Bukan hanya sapaan biasa, tapi sapaan penuh hormat, dengan senyum ramah dan anggukan kepala. "Selamat malam, Bapak Arjun," "Senang Anda bisa datang, Bapak Direktur," "Bagaimana kabar proyek Sinergi, Bapak Arjun?"

Anya mengerutkan kening. Bapak Direktur? Klien lama Arjun sepertinya punya karyawan yang sangat sopan.

Kemudian, mereka sampai di area tengah ballroom, di mana sebuah panggung kecil telah disiapkan. Seorang pembawa acara wanita yang elegan naik ke panggung.

"Selamat malam hadirin sekalian," terdengar menggema di seluruh ruangan. "Merupakan suatu kehormatan bagi kita semua karena malam ini, kita kedatangan tokoh-tokoh penting yang peduli terhadap kemanusiaan. Dan, tentu saja, acara ini tidak akan terlaksana tanpa dukungan penuh dari Bapak Arjun Pratama, CEO dari Pratama Group, yang juga merupakan donatur utama kita malam ini!"

Napas Anya tercekat. Jantungnya berdebar kencang. Ia menoleh ke arah Arjun dengan mata melebar. Arjun hanya tersenyum tipis padanya, senyum yang Anya kenali sebagai tanda bahwa dia akan menjelaskan semuanya nanti.

Saat tepuk tangan meriah memenuhi ruangan, Arjun dengan tenang melepaskan genggaman tangan Anya dan melangkah maju menuju panggung. Pembawa acara itu menyerahkan mikrofon kepadanya.

Anya berdiri mematung. Dunia Anya seakan runtuh dan terbangun kembali dalam sekejap. Arjun Pratama. CEO Pratama Grup? Grup konglomerat yang sering ia baca di majalah bisnis? Perusahaan raksasa yang bergerak di bidang properti, teknologi, dan investasi? Suaminya?

Orang-orang kini mengelilingi Arjun, berusaha menyalami dan mengucapkan selamat. Beberapa di antaranya melirik Anya dengan rasa ingin tahu, barangkali bertanya-tanya siapa wanita di samping CEO yang tiba-tiba muncul.

Anya merasa membayangkan. Tiba-tiba, percakapan telepon larut malam, pertemuan mendadak, dan wajah serius Arjun saat membahas "bisnis" semuanya masuk akal. Arjun bukan hanya seorang manajer di perusahaan kecil. Dia adalah CEO. Dia adalah seorang konglomerat. Dan ia menyembunyikan semuanya darinya.

Setelah acara selesai, mereka kembali ke apartemen. Suasana di mobil hening, tegang. Anya hanya membuka jendela, mencoba memproses semuanya.

Begitu pintu apartemen tertutup, Anya berbalik menghadap Arjun. "Arjun, jelaskan padaku," suaranya bergetar. "Apa ini semua? Kau... kau seorang CEO? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"

Arjun menatap Anya dengan lembut, namun penuh penyesalan. Ia mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Anya, tapi Anya menariknya.

"Aku tahu ini mengejutkanmu, Anya," kata Arjun perlahan. "Aku minta maaf karena merahasiakannya. Tapi aku punya alasan."

"Alasan apa? Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Anya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Arjun menghela napas. "Bukan begitu, sayang. Justru sebaliknya. Aku sangat menyayangimu. Sebelum bertemu denganmu, aku selalu dikelilingi oleh wanita-wanita yang hanya tertarik pada status dan hartaku. Mereka melihat Pratama Group, bukan diriku sebagai Arjun. Aku lelah dengan itu."

Ia mendekat pada Anya, meraih kedua tangannya dengan lembut. "Ketika aku bertemu denganmu, kau melihatku sebagai Arjun, pria biasa yang mencintai buku dan ketenangan. Kau tidak pernah peduli dengan uangku, kau mencintai kesederhanaan. Itu yang aku inginkan, Anya. Seseorang yang mencintaiku apa adanya, bukan karena 'CEO Pratama Group'."

Anya menatap mata Arjun, mencari ringkasan, tapi yang ia temukan hanyalah ketulusan dan cinta. Air matanya menetes. "Tapi kau menipuku, Arjun. Kau membuatku merasa bodoh."

"Aku tidak bermaksud begitu, sayang. Aku hanya ingin membangun fondasi pernikahan kita di atas cinta yang tulus, bukan di atas kemewahan palsu," jelas Arjun. "Aku ingin memastikan bahwa jika suatu hari kau mengetahui kebenarannya, kau tidak akan curiga bahwa aku mencoba membelimu dengan uangku."

Anya diam-diam. Kata-kata Arjun memang masuk akal. Ia memang selalu ingin hidup sederhana dan tulus. Ia selalu menceritakan kebahagiaan kecil bersama Arjun, tanpa pernah memikirkan uang atau status. Arjun telah memberinya itu.

"Jadi, manajer di perusahaan konsultan kecil itu...?" Anya bertanya sambil mengusap air matanya.

Arjun tersenyum tipis. "Itu aku yang menyamar. Aku punya banyak nama perusahaan di bawah Pratama Group, dan aku menguji beberapa proyek kecil di sana."

Anya tertawa kecil, meski masih ada sedikit rasa kesal dalam dirinya. "Jadi, selama ini kau pura-pura tidak tahu cara memperbaiki keran bocor agar aku memanggil tukang, padahal kau bisa saja membeli seluruh perusahaan keran?"

Arjun terkekeh. "Itu karena aku ingin kau mengurus rumah, dan aku hanya ingin menjadi suamimu, bukan bosmu."

Anya akhirnya memeluknya erat. "Aku tidak tahu harus merasa apa. Kaget, marah, tapi di sisi lain... aku mengerti."

"Anya, aku mencintaimu lebih dari segalanya. Aku harap kau bisa memaafkanku," bisik Arjun, membenamkan wajahnya di rambut Anya.

Hari-hari berikutnya terasa aneh bagi Anya. Ia masih bekerja sebagai pustakawan, pulang ke apartemen mereka yang sederhana, dan menjalani rutinitas seperti biasa. Namun, kini ia tahu bahwa suaminya adalah seorang CEO. Kadang-kadang, ia akan melihat majalah bisnis di meja kopi mereka dengan foto Arjun di sampulnya, atau mendengar nama "Pratama Group" disebut di berita. Dunia mereka terasa seperti dua kutub yang sangat berbeda.

Namun, Arjun tetaplah Arjun yang ia cintai. Ia masih s**a makan pizza di sofa, masih membantu mencuci piring, dan masih mencium keningnya setiap pagi. Apa pun statusnya, bagi Anya, Arjun tetaplah suaminya, pria yang ia nikahi karena cinta dan kesederhanaan.

Anya menyadari bahwa uang memang bisa membeli banyak hal, tapi tidak bisa membeli kebahagiaan tulus yang telah mereka miliki selama ini. Dan ia bersyukur, suami yang kini terungkap sebagai CEO, memilih untuk memberikan kebahagiaan kepadanya, alih-alih kemewahan yang kosong.

Ternyata suamiku seorang CEO. Sebuah fakta yang mengubah segalanya, namun juga mengukuhkan satu hal: cinta mereka adalah yang paling nyata di antara semua kemewahan yang ada.

29/08/2024

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Jefrianus Hardi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category