26/07/2026
Malam itu, asap kemenyan sisa acara tahlilan almarhumah Ibuku bahkan belum sepenuhnya hilang dari udara. Namun di meja makan, Bapak, Mbah Putri, dan Lisaβanak tiri yang paling dimanjaβsudah sibuk menghitung lembaran uang di atas kalkulator.
"Hasil bersih jual rumah tua Ibuk dapat berapa, Pak?" desak Mbah Putri dengan mata berbinar serakah. "Bagian buat bayar utang aku sama beli mobil baru Lisa udah dipisahin?"
"Tenang, Mbah. Nanti begitu Arya sama Bimo pulang bawa sisa uangnya, langsung kita bagi tiga," jawab Bapak dengan senyum puas tanpa sedikit pun rasa duka atas meninggalnya Ibu.
Pintu depan mendadak terbuka kasar. Aku (Arya) dan adiku (Bimo) melangkah masuk dengan pakaian serba hitam. Suasana ruangan mendadak menjadi sangat dingin.
"Gimana? Mana tas uangnya?" serbu Bapak cepat, berdiri dari kursi makan. "Sudah kalian ambil semua sisa pembayaran dari pembeli?"
Bimo tidak menjawab. Dengan wajah datar tanpa ekspresi, ia melangkah maju dan meletakkan sebuah peti kayu hitam berdebu yang dililit rantai kuningan di tengah meja makan.
Mbah Putri mengernyit heran. "Opo iki? Mana uang cash-nya? Kenapa malah bawa kotak kayu loakan begini?!"
"Uang sisa penjualan rumah... nggak ada," ucapku tenang sambil menatap lurus ke mata Bapak.
"Apa?!" bentak Bapak, mukanya seketika merah padam. "Jangan main-main kamu Arya! Rumah itu laku dua miliar! Ke mana sisa uangnya?!"
"Tanya ke diri Bapak sendiri," sahut Bimo sinis. "Bapak 'kan yang diam-diam memalsukan tanda tangan Ibuk sebelum Ibuk meninggal, lalu menjual rumah itu murah ke rentenir demi melunasi utang judi dan belanjaan Lisa?"
Lisa terperanjat dari kursinya. "Mas Bimo! Jangan asal tuduh ya! Aku nggak pernah pakai uang itu!"
"Diam kamu!" gertak Bimo hingga Lisa kaku ketakutan.
Bapak yang mulai panik berusaha merebut peti kayu di meja. "Sudah! Kalau uangnya nggak ada, peti ini pasti isinya perhiasan Ibuk! Ini hak aku sebagai suaminya!"
Saat Bapak memaksa mematahkan gembok peti kayu itu, bau busuk minyak duyung dan tanah kuburan langsung menyeruak hebat memenuhi seluruh ruangan. Di dalam peti, bukan emas yang tergeletak... melainkan sebuah gulungan kertas lontar tua bertinta darah kering dari tahun 1985.
Bapak menarik kertas itu dan membaca kalimat demi kalimat tulisan Jawa kuno di dalamnya. Hanya dalam tiga detik, tubuh Bapak gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi bagai mayat, dan kertas di tangannya jatuh melayang ke lantai.
"I... ini... Perjanjian Leluhur...?" bisik Bapak dengan suara yang hampir habis.
Bimo mengambil kertas itu dan membacakannya dengan suara lantang di depan Mbah Putri dan Lisa:
'Rumah dan tanah ini adalah punden keramat. Barangsiapa dari garis keturunan yang berani memalsukan surat dan menjual tanah ini karena keserakahan... maka darah pertama yang akan diperas sebagai pengganti tumbal adalah darah orang yang menandatangani kwitansi penjualan.'
Seketika lampu gantung di atas meja makan berkedip kencang lalu padam.
Dari balik kulkas, muncul bayangan hitam tinggi besar dengan mata merah menyala. Sebelum ada yang sempat berteriak, kulit di kedua tangan Bapak yang digunakan memalsukan surat tadi... mendadak membiru dan mengeluarkan darah segar dari celah pori-porinya!
Mbah Putri dan Lisa menjerit histeris ketakutan saat menyadari karma maut baru saja dimulai.
Siapa kira-kira anggota keluarga benalu ini yang bakal jadi korban pertumpahan darah malam ini? Ketik "LANJUT PART 2" di kolom komentar ya! Kalau ramai, besok langsung aku upload part selanjutnya! ππ₯