Gastronusa

Gastronusa Indonesia's Gastronomy Journal,
Bukan Passion Media

Bersyukur karena hari ini coto Daeng Tayang lebih enak dari biasanya ❤️ mau ngajak  makan bareng, tapi dia kejebak di Ba...
06/09/2026

Bersyukur karena hari ini coto Daeng Tayang lebih enak dari biasanya ❤️ mau ngajak makan bareng, tapi dia kejebak di Bali 😅

06/09/2026

“Suhu”-nya Carabikang!

Tadinya kami pikir carabikang ya begitu-begitu aja. Di Jakarta juga banyak. Sampai akhirnya kami mampir ke Malang dan nyobain carabikang KUE KUNO PENDAWI di Sawojajar, Malang!

Lihat reaksi pertama 3 tukang masak ronald prasanto, Phil, dan Jovan B. R. Koraag waktu pertama kali nyobain carabikang Pendawi.

Ternyata, carabikang pun punya “suhu”-nya.
Ini yang bikin kami selalu semangat jalan-jalan ke daerah.

Karena setiap daerah punya rasa, produk, dan tradisinya sendiri. Dan di balik produk-produk itu, selalu ada orang yang sudah bertahun-tahun menguasai ilmunya. Mereka lah “suhu”-nya!

3 Hari di Bali: Makan Apa Aja?Pada 4–6 September 2026, kami ke Bali untuk jadi juri kompetisi Gelato World Tour ASIAN Ge...
05/09/2026

3 Hari di Bali: Makan Apa Aja?

Pada 4–6 September 2026, kami ke Bali untuk jadi juri kompetisi Gelato World Tour ASIAN Gelatiere Individual Competition.

Kalau udah di Bali, kerjaan kami bukan cuma jadi juri. Selama 3 hari, kami keliling mencicipi makanan India, Italia, Jepang, China, sampai masakan Bali. Apa aja?

Hari pertama, kami langsung ke Udupi Bali karena lagi pengen makan India. Kebetulan lokasinya juga dekat hotel.

Malamnya lanjut ke porto, karena baru tahu kalo Chef Darwin, kawan lama kami di Jakarta, sekarang bekerja di sana. Kesegaran bahannya gila sih! Ditambah suasananya yang tenang dan menyenangkan.

Hari kedua kami fokus di kompetisi gelato. Nyobain 12 gelato dari 6 peserta! Masing-masing punya interpretasi rasa lokal dengan karakter aroma, tekstur, dan rasa yang berbeda.

Pemenangnya, Tan Alvin, akan mewakili Indonesia di kompetisi se-Asia pada November nanti.

Malamnya, kami ketemu Vivi Sofia Vivi Sofia di sebuah warung Jepang yang nggak mau kami sebutkan namanya.

Kenapa? Karena makanannya enak, harganya murah, tapi parkirnya agak susah. Kami sih nggak masalah, karena makanannya memang se-worth it itu, terutama lidah sapinya!

Tapi pengalaman sebelumnya membuat kami belajar: sesuatu yang menurut kita menarik, belum tentu semua orang bisa menerimanya. Daripada tempatnya jadi sasaran komplain di sosmed, biarlah ini tetap jadi rahasia warlok.

Hari terakhir, rencananya kami mau makan ke Warung Sri Guna di Ubud. Sayangnya tutup. Akhirnya kami dan ronald prasanto melipir ke Warung Pande Egi.

Sorenya, kami mengunjungi teman kami yang baru saja membuka restoran baru, Jigen Restaurant, di Nusa Dua. Kebetulan Chef Tius juga lagi di Bali.

Konsepnya menarik: masakan China kuno. Salah satunya adalah nasi yang dimasak dalam panci tanah liat sampai menghasilkan kerak di bagian bawah.

Kalau di Spanyol ada socarrat pada paella, di China ada fànjiāo.

Dari obrolan dengan sesama pelaku F&B, kami jadi tahu ternyata masih banyak banget tempat makan menarik di Bali yang belum kami kunjungi.

Jadi kalau ada yang bilang “gue bosen ke Bali”, mungkin masalahnya bukan Balinya. Mungkin cuma belum ketemu orang yang tahu tempat makan akamsi yang seru 😁

Target Kunjungan: Warung!Kalau ke luar kota, yang kami cari pertama biasanya bukan resto fine dining atau resto upscale....
04/09/2026

Target Kunjungan: Warung!

Kalau ke luar kota, yang kami cari pertama biasanya bukan resto fine dining atau resto upscale. Kami justru lebih s**a nyari tempat makan yang jadi langganan warga lokal.

Makanya jauh-jauh ke Ubud demi satu warung lawar plek. Sayangnya, pas sampe… tutup 😭

Akhirnya kami geser tujuan ke Warung Babi Guling Pande Egi. Memang sedikit lebih “touristy” karena kelihatan banyak bule juga, tapi tetap puas banget: rasanya enak, porsinya generous, suasananya asri di pinggir sawah, dan yang paling penting… harganya bersahabat banget!

Kalau di Bali, warung masakan Bali yang jadi andalan warlok/akamsi, apa rekomendasi kamu?

02/09/2026

Titik Balik: Nemu Cokelat Sumba di Paris!

Culinary Tales IV menghadirkan satu secret character: Aurelia Tirta, Pastry Chef muda yang sedang serius mengulik bahan-bahan lokal Indonesia.

Menariknya, ketertarikan itu justru bermula dari sebuah pengalaman di Paris.

Saat magang di Plénitude, restoran 3 Michelin Star sekaligus bagian dari World’s 50 Best Restaurants, Aurel menemukan bahwa mereka menggunakan cokelat asal Sumba, dari Nicolas Berger.

Buat Aurel, ini menjadi titik balik. Kalau bahan Indonesia bisa hadir di salah satu dapur terbaik dunia, mungkin yang perlu kita lakukan adalah mengenal kekayaan bahan kita sendiri lebih jauh.

Di Culinary Tales IV di The Shalimar Boutique Hotel, Aurel membawa eksplorasinya ke bahan-bahan khas Manado bareng Jovan B. R. Koraag dan henrico christianto m.p.

Hasilnya adalah sebuah dessert bernama Minahasa’s Ebony yang menggunakan cokelat Sulawesi dari Adore Cacao. Seperti apa kisah dan eksplorasi di balik dessert tersebut?

Hasil kompetisi cooking JBC 2026 All Stars
02/09/2026

Hasil kompetisi cooking JBC 2026 All Stars

Daging semuaaaaa! Jakarta Butchers' Challenge (JBC) All Stars 2026!
01/09/2026

Daging semuaaaaa! Jakarta Butchers' Challenge (JBC) All Stars 2026!

01/09/2026

Benteng Terluas di Dunia Ada di Buton!

Salah satu pengalaman paling unik selama perjalanan kami keliling Sulawesi Selatan & Tenggara bareng Chef Ragil Imam Wibowo dan tim Pusaka Rasa Nusantara adalah mengunjungi Benteng Keraton Buton.

Selain tercatat sebagai benteng terluas di dunia oleh MURI pada 2006, kami juga menemukan sesuatu yang nggak kalah menarik: masakan Buton punya karakter rasa yang sangat unik.

Ternyata, salah satu kuncinya adalah kelapa gongseng. Di sini, mereka menyebutnya kalukuholei, bahan sederhana yang memberikan aroma dan rasa khas pada berbagai masakan Buton.

31/08/2026

Kenapa Masak Seafood Pakai Kaldu Ayam?

Kalau ngomongin scallop dan clam, mungkin kaldu seafood terdengar lebih masuk akal. Tapi kali ini, Chef Hendry Ramaly justru menggunakan kaldu ayam. Alasannya berkaitan dengan satu konsep yang belakangan sedang menarik perhatiannya: KOKUMI.

Kokumi sering disebut-sebut sebagai “rasa ke-6” setelah umami. Tapi sebenarnya, apa itu kokumi? Apa bedanya dengan umami?

Untuk menjawab rasa penasarannya, Chef Hendry melakukan sebuah eksperimen sederhana. Ia memasak Scallops with Clam Velouté dalam dua versi. Versi pertama dibuat tanpa KALDOPLUS®️ . Versi kedua menggunakan KALDOPLUS®️. Dua hidangan yang sama, dengan perlakuan yang berbeda.

Menurut Chef Hendry, ada tiga alasan praktis menggunakan KALDOPLUS®️ dari Ajinomoto Professional Indonesia :

1. Menghemat waktu
Membuat kaldu ayam proper untuk menghasilkan rasa yang kaya dan kompleks bisa membutuhkan waktu sekitar 6–8 jam.

2. Menghemat cost
Proses pembuatan kaldu juga membutuhkan energi, bahan, dan tenaga kerja yang tidak sedikit.

3. Menghemat space
Kaldu handmade membutuhkan ruang penyimpanan, sementara KALDOPLUS®️ dapat disimpan pada suhu ruang.

Tapi, apakah perbedaan rasanya benar-benar terasa? Lalu, setelah melakukan eksperimen ini, apakah Chef Hendry benar-benar setuju kalau KOKUMI layak disebut sebagai rasa ke-6?

Tonton video ini sampai habis!

Masih belum bisa move on dari saus kluweknya Bryan di Lucy in The Sky, Spark 😭Konsepnya simpel sih: black pepper cream s...
31/08/2026

Masih belum bisa move on dari saus kluweknya Bryan di Lucy in The Sky, Spark 😭

Konsepnya simpel sih: black pepper cream sauce yang dikasih kluwek. Tapi ternyata kluwek ngasih aroma “manis” dan earthy yang khas banget, bikin sausnya jadi punya dimensi yang berbeda.

Terus dikombinasiin sama Asian chimichurri yang kontras, asam, fresh, dan “green”.

Rada nggak umum ya, gabungin 2 saus di veal steak. Tapi justru kontrasnya yang bikin seru.

Kadang, aturan memang untuk dilanggar 🤭

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gastronusa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share