05/09/2026
3 Hari di Bali: Makan Apa Aja?
Pada 4–6 September 2026, kami ke Bali untuk jadi juri kompetisi Gelato World Tour ASIAN Gelatiere Individual Competition.
Kalau udah di Bali, kerjaan kami bukan cuma jadi juri. Selama 3 hari, kami keliling mencicipi makanan India, Italia, Jepang, China, sampai masakan Bali. Apa aja?
Hari pertama, kami langsung ke Udupi Bali karena lagi pengen makan India. Kebetulan lokasinya juga dekat hotel.
Malamnya lanjut ke porto, karena baru tahu kalo Chef Darwin, kawan lama kami di Jakarta, sekarang bekerja di sana. Kesegaran bahannya gila sih! Ditambah suasananya yang tenang dan menyenangkan.
Hari kedua kami fokus di kompetisi gelato. Nyobain 12 gelato dari 6 peserta! Masing-masing punya interpretasi rasa lokal dengan karakter aroma, tekstur, dan rasa yang berbeda.
Pemenangnya, Tan Alvin, akan mewakili Indonesia di kompetisi se-Asia pada November nanti.
Malamnya, kami ketemu Vivi Sofia Vivi Sofia di sebuah warung Jepang yang nggak mau kami sebutkan namanya.
Kenapa? Karena makanannya enak, harganya murah, tapi parkirnya agak susah. Kami sih nggak masalah, karena makanannya memang se-worth it itu, terutama lidah sapinya!
Tapi pengalaman sebelumnya membuat kami belajar: sesuatu yang menurut kita menarik, belum tentu semua orang bisa menerimanya. Daripada tempatnya jadi sasaran komplain di sosmed, biarlah ini tetap jadi rahasia warlok.
Hari terakhir, rencananya kami mau makan ke Warung Sri Guna di Ubud. Sayangnya tutup. Akhirnya kami dan ronald prasanto melipir ke Warung Pande Egi.
Sorenya, kami mengunjungi teman kami yang baru saja membuka restoran baru, Jigen Restaurant, di Nusa Dua. Kebetulan Chef Tius juga lagi di Bali.
Konsepnya menarik: masakan China kuno. Salah satunya adalah nasi yang dimasak dalam panci tanah liat sampai menghasilkan kerak di bagian bawah.
Kalau di Spanyol ada socarrat pada paella, di China ada fànjiāo.
Dari obrolan dengan sesama pelaku F&B, kami jadi tahu ternyata masih banyak banget tempat makan menarik di Bali yang belum kami kunjungi.
Jadi kalau ada yang bilang “gue bosen ke Bali”, mungkin masalahnya bukan Balinya. Mungkin cuma belum ketemu orang yang tahu tempat makan akamsi yang seru 😁