Lika Liku Rumah Tangga

Lika Liku Rumah Tangga Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Lika Liku Rumah Tangga, Media/News Company, Jakarta, Jakarta.

28/08/2026

Saat Keluarga Membahas Rumah Peninggalan Kakek, Mereka Mengira Farhan Tak Akan Mendapat Apa-Apa—Sampai Satu Amplop Dibuka dan Nama Anak Itu Tercantum di Dalamnya
Bagian 1

“Farhan tidak perlu ikut pembicaraan ini.”

Kalimat itu diucapkan Om Dedi bahkan sebelum aku sempat duduk.

Farhan yang berdiri di samping Maya langsung berhenti.

Anak sembilan tahun itu tidak mengerti kenapa beberapa orang dewasa di ruang tamu mendadak menatapnya.

Aku melihat Maya menggenggam bahu anaknya.

“Farhan memang tidak akan ikut bicara,” katanya. “Dia cuma ikut saya.”

Om Dedi mendengus.

“Justru itu. Ini urusan keluarga.”

Ruangan langsung terasa berbeda.

Pak Hadi baru meninggal dua minggu sebelumnya.

Serangan jantung.

Begitu cepat sampai beberapa hari sebelumnya dia masih sempat mengantar Raka dan Farhan membeli layang-layang.

Hari itu keluarga berkumpul di rumah lama Pak Hadi di Semarang untuk membicarakan barang-barang peninggalannya.

Bukan pembagian warisan resmi.

Setidaknya begitu yang dikatakan Ardi kepadaku.

Hanya pembicaraan awal.

Tetapi sejak pagi aku sudah merasa beberapa orang datang bukan untuk mengenang Pak Hadi.

Mereka datang untuk menghitung.

Ada rumah yang kami tempati saat itu.

Sebidang tanah kecil di Ungaran.

Tabungan.

Motor tua.

Dan sebuah kios kecil yang selama bertahun-tahun disewakan.

Aku tidak tahu nilai pastinya.

Aku juga tidak ingin tahu.

Namun Om Dedi tampaknya tahu hampir semuanya.

Dia adalah adik kandung Pak Hadi.

Dan sejak Farhan diterima sebagai bagian keluarga, sikapnya berubah.

Awalnya dia hanya membuat komentar kecil.

“Sekarang anggota keluarga tambah banyak.”

Lalu menjadi:

“Nanti urusan harta jangan sampai ribut.”

Sampai akhirnya hari itu dia terang-terangan mengatakan Farhan tidak perlu berada di sana.

Ardi berdiri.

“Om, Farhan anak saya.”

“Tidak ada yang bilang bukan.”

“Tadi Om bilang dia bukan keluarga.”

“Saya bilang ini pembicaraan keluarga inti.”

Maya langsung menarik Farhan.

“Kita p**ang saja.”

Aku hampir ikut berdiri.

Tetapi Bu Ratna yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata,

“Jangan.”

Semua orang menoleh kepadanya.

Sejak Pak Hadi meninggal, Bu Ratna berubah.

Dia lebih pendiam.

Rasa bersalahnya terhadap Farhan belum hilang.

Justru setelah suaminya meninggal, rasa bersalah itu terlihat semakin berat.

“Farhan boleh tetap di sini,” katanya.

Om Dedi tertawa kecil.

“Mbak Ratna, jangan karena merasa bersalah lalu semua aturan keluarga berubah.”

Wajah Bu Ratna menegang.

“Dedi.”

“Saya cuma bicara kenyataan.”

Farhan menarik tangan ibunya.

“Ma, kita p**ang saja.”

Kalimat anak itu membuatku merasa malu.

Bukan kepadanya.

Kepada kami semua.

Pak Hadi baru beberapa bulan mendapatkan kesempatan mengenal cucunya.

Sekarang dia meninggal, dan hal pertama yang dilakukan orang dewasa adalah membuat anak itu merasa kehadirannya mengganggu pembagian harta.

Ardi mendekati Farhan.

“Kamu main sama Raka di kamar belakang dulu, ya.”

Farhan mengangguk.

Raka ikut dengannya.

Setelah kedua anak pergi, Om Dedi mulai bicara lagi.

Menurutnya, rumah di Semarang seharusnya tetap untuk Bu Ratna.

Tidak ada yang membantah.

Tanah di Ungaran, katanya, harus diperiksa lagi karena dulu dibeli menggunakan uang keluarga besar.

Ardi langsung bertanya,

“Uang keluarga besar yang mana?”

Om Dedi mengeluarkan beberapa fotokopi.

Aku langsung mengenali salah satunya.

Dokumen yang pernah dimasukkan diam-diam ke tas Farhan.

Jadi benar.

Om Dedi pelakunya.

Dia mengaku.

Katanya waktu itu dia sengaja memberikan petunjuk kepada Maya karena tidak ingin suatu hari keluarga terkejut.

“Terkejut soal apa?”

“Pak Hadi tidak pernah cerita semuanya kepada kalian.”

Menurut Om Dedi, puluhan tahun lalu ayah mereka menjual sebagian tanah keluarga.

Uang tersebut digunakan membantu Pak Hadi membeli rumah pertamanya.

Karena itu Dedi merasa beberapa aset Pak Hadi sebenarnya tidak bisa diperlakukan seolah seluruhnya hasil kerja Pak Hadi sendiri.

Ardi mulai kesal.

“Kalau memang ada masalah kepemilikan, kita cek dokumennya. Jangan bawa-bawa Farhan.”

Dedi menatapnya.

“Justru Farhan yang akan membuat semuanya rumit.”

Maya berdiri.

“Cukup.”

Aku pikir dia akan marah.

Ternyata tidak.

Dia mengambil tasnya.

“Anak saya tidak pernah datang meminta rumah ini.”

Dedi diam.

“Tidak pernah meminta tanah.”

Maya menatap semua orang.

“Tidak pernah meminta uang.”

Suaranya mulai bergetar.

“Bahkan waktu tahu siapa ayah biologisnya, yang pertama dia tanyakan adalah apakah dia masih boleh menganggap almarhum Reza sebagai ayahnya.”

Ardi menunduk.

Maya melanjutkan,

“Kalau kalian takut harta kalian diambil anak sembilan tahun, saya bisa pergi sekarang.”

Dia hendak berjalan menuju kamar belakang.

Namun terdengar suara seseorang dari pintu.

“Bu Maya, sebentar.”

Seorang pria sekitar lima puluhan berdiri di sana membawa tas dokumen hitam.

Bu Ratna langsung mengenalinya.

“Pak Surya?”

Aku pernah mendengar nama itu.

Pak Surya adalah notaris yang beberapa kali membantu Pak Hadi mengurus dokumen tanah dan perjanjian sewa.

Dia meminta maaf karena terlambat.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah map.

“Sebelum meninggal, Pak Hadi menitipkan beberapa dokumen.”

Om Dedi langsung bertanya,

“Dokumen apa?”

Pak Surya tidak menjawabnya.

Dia menatap Bu Ratna.

“Pak Hadi meminta dokumen tertentu disampaikan kepada keluarga jika beliau meninggal sebelum sempat menjelaskannya sendiri.”

Aku melihat Bu Ratna mulai menangis.

Pak Surya membuka map pertama.

Ada dokumen mengenai kios.

Beberapa catatan pembayaran.

Lalu dokumen tanah Ungaran.

Pembicaraan berlangsung hampir satu jam.

Tidak ada kejutan besar.

Beberapa hal bahkan ternyata lebih sederhana daripada dugaan Om Dedi.

Sebagian aset memang atas nama Pak Hadi.

Sebagian perlu diperiksa riwayat dokumennya lebih lanjut.

Tidak ada yang tiba-tiba menjadi kaya.

Tidak ada rumah puluhan miliar.

Kemudian Pak Surya mengeluarkan sebuah amplop cokelat.

Di sudutnya ada tulisan tangan Pak Hadi.

Untuk Farhan.

Aku melihat Maya membeku.

Ardi menatap amplop itu.

Om Dedi langsung berdiri.

“Kenapa nama anak itu ada di sana?”

Pak Surya menjawab tenang,

“Karena Pak Hadi yang menulisnya.”

Farhan dipanggil dari kamar.

Dia datang sambil membawa mobil kayu tua pemberian kakeknya.

Ketika melihat namanya di amplop, dia justru menatap ibunya.

“Ini apa, Ma?”

Maya menggeleng.

“Mama juga belum tahu.”

Pak Surya menyerahkan amplop itu kepada Maya karena Farhan masih anak-anak.

Tangannya gemetar ketika membukanya.

Di dalamnya bukan sertifikat rumah.

Bukan cek.

Bukan p**a uang tunai.

Ada surat tulisan tangan Pak Hadi.

Dan satu dokumen lain.

Maya membaca baris pertama.

Air matanya langsung jatuh.

Ardi mendekat.

“Apa isinya?”

Maya menyerahkan surat tersebut.

Ardi membacanya.

Kemudian dia menatap ayahnya yang sudah tidak mungkin lagi menjelaskan keputusan itu sendiri.

Pak Hadi ternyata sudah membuat keputusan beberapa minggu sebelum meninggal.

Sebuah bagian dari aset yang memang berada dalam kewenangannya telah dia atur secara khusus.

Bukan untuk Ardi.

Bukan untuk kakak Ardi.

Bukan juga untuk Bu Ratna.

Tetapi untuk Farhan.

Om Dedi langsung berkata,

“Tidak mungkin.”

Pak Surya menatapnya.

“Dokumennya ada.”

“Pak Hadi baru mengenal anak itu beberapa bulan!”

Pak Surya menutup map.

“Benar.”

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat semua orang diam.

“Dan justru itu alasan Pak Hadi menuliskan surat ini.”

Ardi melanjutkan membaca.

Tulisan tangan ayahnya tidak rapi.

Tetapi kalimatnya jelas.

Farhan tidak membutuhkan ganti rugi karena lahir dalam keadaan yang tidak dia pilih.

Aku menahan napas.

Baris berikutnya lebih menyakitkan.

Yang berutang waktu kepadanya adalah keluarga kita.

📖 Ini baru sebagian dari kisahnya. Kelanjutan cerita dan akhir yang paling menegangkan serta dramatis sudah saya letakkan di tautan pada kolom komentar. 👇🔥
Jika belum terlihat, pilih “Semua Komentar” agar komentar yang berisi tautan tersebut muncul. 🔗✨

28/08/2026

Tanpa Diduga, Sang Kakek Menerima Anak Itu ke Dalam Keluarga

Pak Hadi tidak mengatakan apa-apa ketika melihat Farhan berdiri di depan pintu rumahnya.

Laki-laki berusia 67 tahun itu hanya memandangi cucu yang baru beberapa minggu lalu dia ketahui keberadaannya.

Di samping Farhan berdiri Maya.

Aku, Ardi, dan Raka berada beberapa langkah di belakang mereka.

Bu Ratna tidak ikut.

Bukan karena tidak mau.

Pak Hadi sendiri yang melarangnya datang.

“Kalau kamu ikut,” katanya kepada istrinya malam sebelumnya, “anak itu tidak akan tahu siapa yang benar-benar ingin bertemu dengannya dan siapa yang hanya merasa bersalah.”

Kalimat itu membuat Bu Ratna menangis.

Selama ini aku mengenal Pak Hadi sebagai orang yang paling sulit dibaca dalam keluarga Ardi.

Dia jarang ikut campur urusan anak-anaknya. Setelah pensiun dari sebuah perusahaan distribusi bahan bangunan di Semarang, hidupnya sederhana: mengurus tanaman, memperbaiki barang-barang kecil di rumah, dan sesekali pergi memancing bersama teman lamanya.

Ketika Ardi memberitahunya bahwa hasil tes DNA menunjukkan Farhan adalah anak biologisnya, Pak Hadi hanya bertanya satu hal.

“Anaknya sudah tahu?”

“Sudah, Pak.”

“Dia bagaimana?”

“Masih bingung.”

Pak Hadi mengangguk.

Tidak bertanya siapa yang salah.

Tidak bertanya kenapa Maya baru muncul.

Tidak juga menyalahkan Bu Ratna.

Karena itulah kami tidak tahu apa yang akan dia lakukan ketika akhirnya bertemu Farhan.

Farhan sendiri tampak gugup.

Tangannya terus memainkan ujung kaus.

Pak Hadi membuka pintu lebih lebar.

“Namamu Farhan?”

“Iya, Pak.”

Pak Hadi mengernyit.

“Pak?”

Farhan langsung melihat Maya, takut salah bicara.

Pak Hadi kemudian menunjuk dirinya sendiri.

“Kalau yang lain benar, harusnya kamu panggil saya apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Farhan menatap Ardi.

Kemudian kepadaku.

Akhirnya dia berkata pelan,

“Kakek?”

Pak Hadi tersenyum tipis.

“Ya sudah. Masuk.”

Hanya itu.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada tangisan dramatis.

Tetapi aku melihat bahu Ardi turun seperti baru saja melepaskan beban yang dipikulnya sejak hasil tes keluar.

Kami masuk.

Di meja makan sudah tersedia teh, pisang goreng, dan beberapa makanan ringan.

Yang membuatku berhenti justru ada dua kotak susu cokelat di sana.

Satu untuk Raka.

Satu lagi untuk Farhan.

Hal kecil.

Tetapi jelas Pak Hadi sudah mempersiapkannya.

Farhan duduk kaku di sofa.

Pak Hadi duduk di kursi seberangnya.

“Kelas berapa?”

“Kelas tiga.”

“Suka apa?”

“Futsal.”

“Pelajaran?”

Farhan berpikir.

“IPA.”

Pak Hadi mengangguk.

“Matematika?”

Farhan meringis.

Semua orang tertawa kecil.

Ketegangan mulai berkurang.

Kemudian Farhan melihat sebuah mobil-mobilan kayu di rak.

“Ini punya siapa?”

“Punya ayahmu dulu.”

Ardi langsung tertawa.

“Bapak masih simpan?”

“Barang bagus kenapa dibuang?”

Pak Hadi mengambil mobil kayu itu.

Catnya sudah terkelupas.

Salah satu rodanya berbeda warna karena pernah diganti.

Dia menyerahkannya kepada Farhan.

“Buat kamu.”

Farhan tidak langsung mengambilnya.

“Kenapa buat saya?”

Pak Hadi terdiam beberapa detik.

Kemudian jawabannya membuat Maya menundukkan kepala.

“Karena waktu ayahmu seusiamu, Kakek membuat itu untuk dia.”

Dia mendorong mobil kecil tersebut sedikit lebih dekat.

“Sekarang Kakek sudah terlalu tua untuk bikin satu lagi dari awal.”

Farhan akhirnya mengambilnya.

“Terima kasih, Kek.”

Aku melihat mata Pak Hadi berkaca-kaca.

Namun dia segera berdiri dan berpura-pura sibuk mengambil teh.

Pertemuan pertama itu seharusnya menjadi awal yang tenang.

Tetapi ketika kami hendak p**ang, Pak Hadi memanggil Maya.

“Maya.”

Maya berhenti.

“Ada satu hal.”

Wajah Maya langsung tegang.

Pak Hadi masuk ke kamar.

Beberapa menit kemudian dia kembali membawa sebuah map plastik cokelat.

Dia meletakkannya di meja.

Ardi menatap ayahnya.

“Apa itu?”

Pak Hadi tidak menjawab pertanyaan Ardi.

Dia justru melihat Farhan.

“Nak, kamu main dulu sama Raka di teras.”

Farhan menurut.

Setelah kedua anak keluar, Pak Hadi membuka map.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar fotokopi lama.

Salah satunya adalah bukti transfer bank.

Tanggalnya hampir sembilan tahun lalu.

Penerimanya: Maya Prameswari.

Jumlahnya Rp3.500.000.

Aku menatap Maya.

Wajahnya berubah.

“Ini apa?”

Pak Hadi menjawab pelan.

“Uang dari saya.”

Ardi langsung berdiri.

“Bapak pernah tahu soal Maya?”

“Duduk dulu.”

“Bapak tahu dia hamil?”

Pak Hadi menggeleng.

“Tidak.”

Lalu dia mengatakan sesuatu yang mengubah lagi cerita yang selama ini kami pikir sudah kami pahami.

Hampir sembilan tahun lalu, Bu Ratna pernah meminta uang kepadanya.

Katanya untuk membantu seorang kerabat jauh yang sedang kesulitan biaya persalinan.

Pak Hadi memberikan uang tanpa banyak bertanya.

Bu Ratna meminta dia mentransfer langsung ke rekening yang dikirim lewat SMS.

Nama pemilik rekening itu adalah Maya Prameswari.

Pak Hadi baru mengingat transaksi tersebut setelah Ardi menceritakan semuanya.

“Aku kira Ibu benar-benar memutus hubungan dengan Maya,” kata Ardi.

Pak Hadi menatap anaknya.

“Sepertinya tidak.”

Maya mulai menangis.

“Saya tidak pernah tahu uang itu dari Bapak.”

“Kamu menerima?”

Maya mengangguk.

“Bu Ratna bilang itu uang supaya saya tidak menghubungi Ardi lagi.”

Ruangan kembali sunyi.

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

Jadi selama bertahun-tahun, Bu Ratna tidak sekadar menyembunyikan kemungkinan bahwa Maya sedang mengandung anak Ardi.

Dia pernah memberikan uang kepada Maya.

Dan Pak Hadi tanpa sadar adalah orang yang menyediakan uang tersebut.

Ardi mengepalkan tangan.

“Kenapa Maya menerima?”

Aku langsung menatapnya.

“Mas.”

Maya menghapus air matanya.

“Karena waktu itu saya butuh uang.”

Jawabannya sederhana.

Tidak heroik.

Tidak juga indah.

“Saya sedang hamil. Saya berhenti kerja. Reza belum punya penghasilan tetap. Ibumu bilang kalau saya benar-benar ingin membesarkan bayi saya dengan tenang, saya harus berhenti mengganggu hidupmu.”

Ardi tidak mampu menjawab.

Pak Hadi menarik napas panjang.

“Ayah tidak menunjukkan ini untuk mencari siapa yang paling salah.”

Dia menunjuk ke arah teras.

Farhan dan Raka terlihat sedang memainkan mobil kayu bersama.

“Ayah menunjukkan ini karena mulai hari ini tidak boleh ada lagi rahasia yang menyangkut anak itu.”

Maya mengangguk.

Lalu Pak Hadi mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kami duga.

“Farhan bagian dari keluarga ini.”

Ardi menatap ayahnya.

“Pak…”

“Tapi dengarkan sampai selesai.”

Nada Pak Hadi berubah tegas.

“Menerima dia sebagai cucu bukan berarti kita boleh merebut dia dari Maya.”

Maya mengangkat wajah.

“Dia dibesarkan oleh ibunya. Dia juga punya ayah yang sudah membesarkannya sebelum meninggal.”

Pak Hadi menatap Ardi.

“Kamu ayah biologisnya. Itu fakta.”

Kemudian dia menunjuk mobil kayu di tangan Farhan.

“Tapi jangan mentang-mentang ada hasil laboratorium, kamu datang sembilan tahun terlambat lalu merasa punya hak sembilan tahun sekaligus.”

Aku tidak pernah melihat Ardi menerima teguran sekeras itu tanpa membantah.

Pak Hadi kemudian memanggil Farhan masuk.

Anak itu membawa mobil kayu tersebut.

Pak Hadi mengambil sebuah foto keluarga dari rak.

Foto lama.

Ada Pak Hadi, Bu Ratna, Ardi, kakaknya, aku, dan Raka.

Dia menatap foto itu beberapa detik.

Kemudian bertanya kepada Farhan,

“Minggu depan kita foto keluarga lagi. Kamu mau ikut?”

Farhan memandang Maya.

Maya membiarkan anaknya menjawab sendiri.

“Mau.”

Pak Hadi mengangguk.

“Ya sudah.”

Farhan tersenyum.

Namun Pak Hadi belum selesai.

Dia mengambil ponselnya dan membuka grup WhatsApp keluarga besar.

Ardi mencoba menghentikannya.

“Pak, jangan diumumkan dulu.”

“Ayah tidak akan menceritakan tes DNA.”

Dia mengetik cukup lama.

Kemudian memperlihatkan pesannya kepada Maya sebelum mengirim.
📖 Ini baru sebagian dari kisahnya. Kelanjutan cerita dan akhir yang paling menegangkan serta dramatis sudah saya letakkan di tautan pada kolom komentar. 👇🔥
Jika belum terlihat, pilih “Semua Komentar” agar komentar yang berisi tautan tersebut muncul. 🔗✨

27/08/2026

Ibu Mertua Memaksa Tes DNA Karena Yakin Putraku Bukan Darah Daging Suamiku, Tapi Saat Amplop Hasilnya Dibuka, Justru Satu Nama Lama Membuat Semua Orang Menatapnya
Bagian 1

“Kalau kamu memang tidak punya sesuatu yang disembunyikan, kenapa takut tes DNA?”

Kalimat itu keluar dari mulut ibu mertuaku di meja makan, tepat ketika putraku, Raka, sedang meniup lilin ulang tahunnya yang keenam.

Aku masih memegang pisau plastik untuk memotong kue.

Suamiku, Ardi, duduk di sebelahku. Tangannya yang tadi berada di bahuku perlahan turun.

Di sekeliling meja ada kakak Ardi, dua sepupunya, tante yang datang dari Solo, dan beberapa kerabat yang sengaja kami undang ke rumah kontrakan kami di Semarang.

Tidak ada yang tertawa lagi.

Raka menatapku.

“Tes apa, Ma?”

Aku belum sempat menjawab ketika Bu Ratna, ibu mertuaku, mengeluarkan ponselnya.

“Tes supaya semua jelas.”

Aku meletakkan pisau.

“Bu, ini ulang tahun Raka.”

“Justru karena Raka sudah besar.”

Ardi akhirnya bicara.

“Bu, cukup.”

Namun Bu Ratna malah membuka galeri ponselnya dan menunjukkan beberapa foto Raka ketika bayi.

“Lihat hidungnya. Lihat bentuk matanya. Dari kecil Ibu sudah merasa ada yang aneh.”

Dadaku seperti ditindih sesuatu.

Selama tujuh tahun menikah, aku sudah terbiasa dengan komentar Bu Ratna. Masakanku terlalu asin. Gajiku sebagai staf administrasi klinik terlalu kecil. Aku dianggap terlalu sering menitipkan Raka kepada tetangga ketika harus lembur.

Tetapi hari itu berbeda.

Dia tidak sedang mengkritikku sebagai menantu.

Dia sedang menuduhku sebagai istri.

“Bu mau bilang apa?” tanyaku.

Bu Ratna menatap Ardi.

“Waktu kamu kerja proyek di Balikpapan dulu, hampir empat bulan kamu jarang p**ang. Tidak lama setelah itu, Sari hamil.”

Aku menatap Ardi.

Aku menunggu dia tertawa dan mengatakan ibunya salah menghitung.

Ardi justru mengalihkan pandangan.

Itulah saat pertama aku merasa ada sesuatu yang jauh lebih buruk daripada tuduhan Bu Ratna.

“Mas?”

“Aku sudah bilang sama Ibu jangan bahas sekarang,” katanya pelan.

Bukan, Ibu salah.

Bukan, Raka anakku.

Dia hanya mengatakan jangan membahasnya sekarang.

Malam itu ulang tahun Raka berakhir dua jam lebih cepat.

Setelah semua tamu p**ang, aku menemukan Ardi duduk di teras.

“Sejak kapan kamu meragukan Raka?”

Ardi mengusap wajahnya.

“Aku tidak meragukan dia.”

“Lalu kenapa tadi kamu diam?”

“Ibu sudah membicarakan ini beberapa bulan.”

Aku merasa tenggorokanku mengering.

“Beberapa bulan?”

Ardi akhirnya mengaku.

Bu Ratna sudah mengirim foto-foto Raka ke grup WhatsApp keluarga. Dia membandingkan wajah Raka dengan Ardi kecil. Bahkan ada tante yang ikut mengatakan bentuk telinga mereka berbeda.

Awalnya Ardi marah.

Lalu Bu Ratna menunjukkan sesuatu.

Sebuah foto lama dari Facebook.

Foto itu memperlihatkan aku bersama Dimas, mantan rekan kerjaku, di acara perpisahan kantor tujuh tahun lalu.

Dimas berdiri di sebelahku.

Tangannya berada di belakang kursiku.

Tanggal foto itu hanya beberapa minggu sebelum aku memberi tahu Ardi bahwa aku hamil.

“Jadi karena satu foto kamu mulai menghitung-hitung tanggal kehamilanku?”

“Aku cuma bingung, Sar.”

Aku hampir tidak mengenali laki-laki di depanku.

“Dimas sudah menikah waktu itu. Istrinya bahkan ada di acara yang sama. Kamu tahu itu.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

Ardi tidak menjawab.

Aku masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Dua hari kemudian Bu Ratna datang membawa brosur laboratorium.

Dia bahkan sudah mencari biaya tes DNA.

Katanya dia bersedia membayar.

Aku menolak.

Bukan karena takut pada hasilnya.

Aku menolak karena aku tidak mau tubuh anakku dijadikan alat untuk memuaskan kecurigaan orang dewasa.

Namun penolakanku justru dipakai sebagai bukti.

Di grup WhatsApp keluarga, Bu Ratna menulis:

Kalau memang yakin, seharusnya tidak perlu takut.

Kakak iparku tidak terang-terangan membelanya, tetapi menulis:

Lebih baik diperiksa supaya rumah tangga tidak terus begini.

Yang paling menyakitkan adalah Ardi.

Dia membaca semuanya.

Tidak membela aku.

Tiga minggu kemudian aku menyerah.

Bukan kepada Bu Ratna.

Kepada keadaan.

Aku mengatakan satu syarat: pemeriksaan dilakukan di laboratorium yang kami pilih bersama dan hasilnya diambil langsung oleh aku dan Ardi.

Tidak ada foto hasil tes yang dikirim ke grup keluarga.

Tidak ada unggahan media sosial.

Dan Raka tidak boleh diberi tahu alasan sebenarnya.

Bu Ratna setuju terlalu cepat.

Sampel diambil pada Sabtu pagi.

Sepanjang perjalanan p**ang, Ardi mencoba memegang tanganku.

Aku menariknya.

“Kalau hasilnya menyatakan Raka anakmu, apa yang berubah?”

Ardi terdiam.

“Semua selesai.”

Aku menggeleng.

“Tidak, Mas. Tesnya mungkin selesai. Tapi sesuatu di antara kita sudah berubah.”

Hari-hari menunggu hasil terasa lebih panjang daripada enam tahun membesarkan Raka.

Namun selama menunggu itu, terjadi sesuatu yang aneh.

Bu Ratna mulai sering datang.

Bukan untuk bertanya soal hasil.

Dia justru mulai bertanya tentang masa kelahiran Raka.

“Waktu Raka lahir, rumah sakitnya masih menyimpan data lama?”

Aku heran.

“Kenapa?”

“Cuma tanya.”

Besoknya dia bertanya lagi.

“Gelang bayi waktu itu masih ada?”

Aku semakin curiga.

Aku masih menyimpan gelang kecil bertuliskan nama bayi dan nama ibuku di kotak kenangan.

Ketika kutunjukkan, wajah Bu Ratna berubah.

Dia memotretnya.

“Bu sebenarnya cari apa?”

“Tidak ada.”

Malam itu aku membuka kembali kotak dokumen kelahiran Raka.

Kartu imunisasi.

Fotokopi surat lahir.

Kuitansi.

Foto bayi.

Lalu aku menemukan sesuatu yang selama enam tahun tidak pernah kuperhatikan.

Pada salah satu lembar fotokopi catatan p**ang rumah sakit terdapat tulisan tangan:

Bayi Ny. Sari — B-17.

Aku melihat gelang yang kusimpan.

Di sana tertulis:

B-71.

Aku memotretnya.

Aku kirim ke Ardi.

Dia menelepon kurang dari semenit kemudian.

“Besok kita ke rumah sakit.”

Tetapi sebelum kami sempat pergi, Bu Ratna datang malam-malam.

Dia melihat dokumen di meja dan langsung berhenti di depan pintu.

Untuk pertama kalinya sejak semua tuduhan itu dimulai, aku melihat ketakutan di wajahnya.

“Dari mana kamu dapat kertas itu?”

“Dari berkas kelahiran Raka.”

Bu Ratna tidak menjawab.

“Kenapa gelangnya B-71 sementara catatan ini B-17?”

Tangannya mulai gemetar.

Ardi berdiri.

“Ibu tahu sesuatu?”

Bu Ratna duduk perlahan.

Lalu dia mengucapkan kalimat yang membuat pertengkaran tentang perselingkuhan mendadak terasa seperti masalah kecil.

“Waktu Raka lahir… ada satu kejadian yang tidak pernah Ibu ceritakan kepada kalian.”

📖 Ini baru sebagian dari kisahnya. Kelanjutan cerita dan akhir yang paling menegangkan serta dramatis sudah saya letakkan di tautan pada kolom komentar. 👇🔥
Jika belum terlihat, pilih “Semua Komentar” agar komentar yang berisi tautan tersebut muncul. 🔗✨

27/08/2026

Ibu Mertua Menuntut Tes DNA di Depan Semua Orang, Tetapi Saat Saya Menyetujui, Suami Justru Merebut Formulir dan Melarang Ibunya Melanjutkan
Bagian 1

“Kalau kamu yakin Naya benar-benar anak Dimas, lakukan tes DNA sekarang.”

Ibu mertua saya mengatakannya di depan sebelas orang.

Tidak berbisik.

Tidak mengajak saya masuk kamar.

Beliau meletakkan sebuah map bening di atas meja makan, tepat di antara opor ayam, sambal goreng ati, dan toples kerupuk yang belum sempat dibereskan.

Saya masih memegang sendok nasi.

Suami saya, Dimas, langsung berdiri.

“Bu, cukup.”

Tetapi Bu Mirna tidak memandang anaknya.

Matanya tertuju kepada saya.

“Kenapa cukup? Sudah lima tahun saya diam.”

Ruangan mendadak terasa panas.

Kakak Dimas berhenti makan.

Dua sepupunya saling pandang.

Ayah mertua saya duduk di ujung meja dengan wajah kaku.

Dan Naya, putri saya yang baru berusia lima tahun, sedang bermain balok bersama sepupunya di ruang tengah.

Untung ia tidak memahami percakapan kami.

Saya meletakkan sendok.

“Tes DNA untuk apa, Bu?”

Bu Mirna tertawa pendek.

“Jangan pura-pura tidak mengerti, Laras.”

Dimas memotong.

“Bu!”

“Diam dulu, Dimas.”

Saya menatap suami saya.

Aneh.

Seharusnya dia marah karena ibunya menuduh saya.

Tetapi yang saya lihat bukan sekadar kemarahan.

Ada ketakutan.

Bu Mirna membuka map.

Di dalamnya ada formulir sebuah laboratorium.

Saya membaca beberapa kata dari tempat duduk.

Pemeriksaan hubungan biologis.

Nama Dimas sudah ditulis.

Nama Naya juga.

Kolom saya masih kosong.

Ibu mertua saya ternyata tidak sedang melempar ancaman saat emosi.

Beliau sudah mempersiapkannya.

“Besok pagi kita pergi,” katanya.

“Semua biayanya saya bayar.”

Saya memandang formulir itu.

Kemudian kembali menatap beliau.

“Kenapa Ibu tiba-tiba meragukan Naya?”

“Tiba-tiba?”

Beliau mengambil ponselnya.

Sebuah foto ditunjukkan kepada seluruh meja.

Foto Naya ketika acara sekolah.

“Lihat wajahnya.”

Saya tidak mengatakan apa-apa.

“Naya makin besar makin tidak mirip Dimas.”

Saya hampir tertawa karena tuduhan itu begitu lemah.

Namun Bu Mirna belum selesai.

Beliau menggeser foto lain.

Foto seorang laki-laki berdiri di samping saya pada acara reuni kantor lama.

Namanya Arman.

Mantan rekan kerja saya.

Foto itu diambil enam tahun lalu.

Sebelum Naya lahir.

“Ini siapa?”

“Teman kantor.”

“Teman?”

“Iya.”

“Kenapa tangannya di bahumu?”

Saya melihat foto.

Arman memang berdiri dekat saya bersama lima orang lain yang sengaja dipotong dari gambar.

“Karena Ibu memotong fotonya.”

Saya membuka Facebook lama saya, menemukan unggahan asli, lalu menunjukkan bahwa itu foto grup.

Beberapa orang terlihat tidak nyaman.

Tetapi Bu Mirna tidak mundur.

“Foto bisa dijelaskan. Tanggal juga bisa dijelaskan.”

Saya menatapnya.

“Jadi sebenarnya Ibu mau apa?”

“Saya mau kepastian.”

Dimas memukul meja pelan.

“Tidak ada tes.”

Saya menoleh kepadanya.

Kalimat itu seharusnya membuat saya merasa dibela.

Entah kenapa justru membuat saya semakin curiga.

Bu Mirna juga memperhatikannya.

“Kenapa kamu takut?”

“Aku bukan takut.”

“Kalau begitu lakukan.”

“Naya anakku.”

“Buktikan.”

Saya menunggu Dimas mengatakan sesuatu.

Ia tidak mengatakan, Aku percaya Laras.

Ia hanya terus mengatakan tes itu tidak diperlukan.

Ada perbedaan besar antara dua kalimat tersebut.

“Mas.”

Dimas menoleh.

“Kenapa kamu tidak mau tes?”

Wajahnya berubah.

“Karena ini penghinaan.”

“Terhadap saya?”

“Terhadap kita.”

Saya memandangnya lama.

Kami sudah menikah enam tahun.

Saya tidak pernah berselingkuh.

Tidak pernah memiliki hubungan dengan Arman.

Tidak ada satu bagian pun dari diri saya yang takut terhadap hasil tes.

Jadi saya mengambil formulir tersebut.

“Baik.”

Dimas langsung bergerak.

“Laras.”

“Saya setuju.”

Bu Mirna tampak puas.

“Bagus.”

“Besok saya datang.”

Dimas merebut formulir dari tangan saya.

“Tidak.”

Semua orang memandangnya.

Saya mulai merasakan sesuatu yang lebih buruk daripada marah.

Kebingungan.

“Mas, saya yang dituduh selingkuh. Kenapa justru kamu yang takut?”

“Aku tidak takut.”

“Lalu berikan formulirnya.”

“Tidak perlu.”

Bu Mirna berdiri.

“Sekarang kamu mengerti kenapa Ibu curiga?”

Saya tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya, kecurigaan saya bukan lagi kepada ibu mertua.

Saya menatap suami sendiri.

“Mas, ada apa?”

Dimas mengambil kunci mobil.

“Kita p**ang.”

“Saya belum selesai.”

“Aku bilang kita p**ang.”

Nada suaranya membuat saya semakin yakin ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Saya membawa Naya p**ang.

Sepanjang perjalanan, kami tidak bicara.

Naya tertidur di kursi belakang.

Setelah sampai rumah, saya menunggu sampai anak kami dipindahkan ke kamar.

Kemudian saya berdiri di depan Dimas.

“Sekarang jelaskan.”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan.”

“Jangan lakukan itu.”

“Lakukan apa?”

“Bikin saya merasa bodoh.”

Dimas mengusap wajah.

“Saya tidak pernah tidur dengan Arman.”

“Aku tahu.”

Jawabannya begitu cepat sampai saya terdiam.

“Kamu tahu?”

“Iya.”

“Berarti kamu percaya Naya anakmu?”

Dimas tidak menjawab.

Jantung saya mulai berdetak lebih keras.

“Mas?”

Ia duduk.

Saya mengikuti.

“Jawab.”

Dimas memandang lantai.

“Aku tahu kamu tidak selingkuh.”

“Kalau begitu apa masalahnya?”

Tidak ada jawaban.

Saya mulai mengulang perjalanan lima tahun terakhir dalam kepala.

Kehamilan saya.

Persalinan.

Dimas menangis ketika Naya lahir.

Ia memotong tali pusat.

Ia tidur di kursi rumah sakit.

Ia belajar memandikan bayi karena saya takut.

Tidak pernah ada satu pun pembicaraan tentang keraguan.

“Apakah kamu pernah melakukan tes DNA sebelumnya?”

Dimas mengangkat kepala.

Wajahnya cukup menjadi jawaban.

Saya merasa udara di ruangan hilang.

“Kapan?”

“Laras…”

“Kapan?”

“Dua tahun lalu.”

Saya mundur satu langkah.

“Tanpa saya?”

Dimas mengangguk.

“Bagaimana?”

“Aku pakai sampel dari sikat gigi.”

Saya menutup mulut.

Bukan karena takut hasilnya.

Karena suami saya pernah diam-diam mengambil sampel biologis anak kami.

“Kenapa?”

“Ibu terus ngomong.”

“Dan kamu percaya?”

“Waktu itu aku sedang kacau.”

“HASILNYA APA?”

Dimas berdiri.

“Tesnya bukan seperti yang kamu pikir.”

“Apa maksudmu?”

Ia pergi ke kamar kerja.

Saya mengikutinya.

Dari laci paling bawah, ia mengambil sebuah amplop putih yang sudah terlipat.

Dua tahun.

Dokumen itu ada di rumah kami selama dua tahun.

Ia menyerahkannya kepada saya.

Saya membaca.

Nama Dimas.

Nama Naya.

Kemudian kesimp**an.

Saya membaca lagi.

Dan lagi.

Hasilnya menyatakan hubungan biologis ayah-anak tidak sesuai.

Kaki saya hampir tidak kuat berdiri.

“Tidak mungkin.”

“Aku tahu.”

“Ini salah.”

“Aku juga pikir begitu.”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Dimas memejamkan mata.

“Karena aku melakukan tes kedua.”

Saya menatapnya.

“Hasilnya?”

“Sama.”

Saya tidak mampu memahami.

“Saya tidak pernah selingkuh.”

“Aku tahu.”

“Kalau kamu tahu, kenapa hasilnya begitu?”

Dimas tidak menjawab.

Kemudian saya melihat sesuatu.

Amplop kedua.

Saya mengambilnya sebelum ia sempat mencegah.

Nama pada lembar pemeriksaan bukan Naya.

Bukan saya.

Nama itu:

Dimas Prasetyo — Surya Prasetyo.

Surya adalah ayah mertua saya.

Saya membaca bagian kesimp**an.

Kemudian menatap Dimas.

Sekarang saya mengerti mengapa ia begitu takut ketika ibunya menuntut tes DNA di depan keluarga.

Masalahnya mungkin memang bukan siapa ayah biologis Naya.

Masalahnya adalah siapa ayah biologis suami saya.

📖 Ini baru sebagian dari kisahnya. Kelanjutan cerita dan akhir yang paling menegangkan serta dramatis sudah saya letakkan di tautan pada kolom komentar. 👇🔥
Jika belum terlihat, pilih “Semua Komentar” agar komentar yang berisi tautan tersebut muncul. 🔗✨

Address

Jakarta
Jakarta
10110

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Lika Liku Rumah Tangga posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share