17/04/2026
Judul : PESONA SUAMI KULI KU
Original By Cerita Dewasa
PART 34 — Malam Penentuan
Suara sirine itu semakin mendekat.
Membelah malam.
Menusuk ketegangan yang sudah menggantung di udara sejak tadi.
Semua orang terdiam.
Tidak ada lagi suara teriakan.
Tidak ada lagi perlawanan.
Hanya napas yang berat… dan rasa takut yang mulai merayap.
Polisi datang
Dua petugas turun dari mobil patroli.
Lampu biru masih berputar.
Menyinari wajah-wajah tegang di halaman rumah mewah itu.
“Ada apa ini?” tanya salah satu polisi dengan suara tegas.
Ibu majikan langsung maju.
Wajahnya penuh amarah.
“Pak! Orang ini—” ia menunjuk Bara dengan kasar, “—memukul anak saya dan membuat keributan di rumah saya!”
Semua mata langsung tertuju ke Bara.
Salsabila refleks memeluk suaminya lebih erat.
Seolah takut Bara akan langsung direnggut dari sisinya.
Tuduhan pertama
Polisi menatap Bara dari atas ke bawah.
Wajah lebam.
Pakaian kotor.
Lutut yang hampir tidak kuat berdiri.
“Kamu yang mukul?” tanya polisi dingin.
Bara menarik napas panjang.
Ia tidak lari dari kenyataan.
“Iya, Pak. Tapi—”
“Sudah cukup!” potong ibu itu cepat.
“Tidak perlu alasan! Dia yang mulai duluan! Anak saya tidak pernah macam-macam!”
Pria itu—anak majikan—tersenyum tipis di belakang ibunya.
Seolah menikmati situasi.
Salsabila tidak tinggal diam
“BOHONG!”
Suara Salsabila memecah suasana.
Semua orang terkejut.
Ia maju satu langkah.
Matanya merah.
Air matanya belum berhenti.
“Suami saya tidak pernah cari masalah! Dia dipancing! Dia dipermalukan!”
Polisi menoleh ke arah Salsabila.
“Kamu istrinya?”
“Iya!”
“Kalau begitu, jangan memperkeruh suasana. Kita butuh fakta.”
Fakta… atau kekuasaan?
Satpam yang tadi melihat kejadian mulai ragu.
Ia ingin bicara.
Namun saat matanya bertemu dengan tatapan tajam ibu majikan—
ia langsung menunduk.
Diam.
Takut.
Karena di tempat itu—
kebenaran tidak selalu menang.
Yang punya kuasa—
lebih didengar.
Bara mengambil keputusan
Bara memegang tangan Salsabila.
Pelan.
Menenangkan.
“Bi… sudah.”
Salsabila menatapnya.
Tidak terima.
“Tidak! Kamu tidak salah!”
Namun Bara menggeleng.
Matanya tenang.
Tapi dalam.
“Aku laki-laki. Aku tahu resikonya.”
Ia menatap polisi.
“Saya ikut, Pak.”
Kalimat itu membuat Salsabila tersentak.
“Bar, jangan!”
Hati seorang istri
Salsabila memeluk Bara erat.
Seolah tidak ingin melepaskan.
“Kalau kamu pergi… aku sendirian…” suaranya pecah.
Bara mengusap rambut istrinya.
“Ini cuma sementara.”
“Tidak… aku takut…”
“Percaya sama aku.”
Kalimat sederhana.
Namun penuh keyakinan.
Borgol yang dingin
Polisi mendekat.
“Maaf, prosedur.”
Klik.
Borgol terpasang di tangan Bara.
Salsabila langsung menangis histeris.
“JANGAN! DIA BUKAN PENJAHAT!”
Namun tidak ada yang bisa menghentikan proses itu.
Bara hanya menunduk.
Menerima.
Bukan karena ia kalah.
Tapi karena ia memilih bertanggung jawab.
Tatapan terakhir
Saat digiring ke mobil polisi—
Bara menoleh.
Mencari satu wajah.
Salsabila.
Mereka saling menatap.
Dalam diam.
Dalam luka.
Dalam cinta yang sedang diuji.
“Jaga diri kamu…” bisik Bara.
Salsabila mengangguk sambil menangis.
Di balik bayangan
Rina berdiri di kejauhan.
Tersenyum puas.
Tangannya terlipat santai.
“Sekarang kamu jatuh, Bara…” bisiknya.
“Tinggal aku masuk…”
Matanya beralih ke Salsabila.
Yang kini terduduk lemas di tanah.
Sendirian.
Hancur.
Mobil melaju
Pintu tertutup.
Mesin menyala.
Mobil polisi perlahan menjauh.
Meninggalkan rumah mewah itu.
Meninggalkan Salsabila.
Yang kini hanya bisa menangis dalam diam.
Malam itu
Bukan hanya Bara yang terkurung.
Tapi juga…
hati Salsabila.
Dan tanpa mereka sadari—
ini bukan akhir.
Ini adalah awal dari ujian yang lebih kejam.
Karena di saat Bara berada di balik jeruji…
Salsabila akan menghadapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Sendirian.
BERSAMBUNG...