24/03/2026
❌ Niat Nikah Sama Najwa
✅ Yang Sah Malah Nazwa
Ini Akad Nikah atau Autocorrect Tuhan?! 😭💍
_PART 1_
Hari itu, matahari bersinar lembut, seolah mengerti bahwa ini adalah hari yang sakral. Langit biru dihiasi awan putih tipis, dan angin berembus pelan seolah berbisik, "Selamat menempuh hidup baru."
Di depan rumah Blok E No. 14, tenda putih berdiri megah. Kursi tamu berjajar rapi. Sound system mengalun pelan dengan shalawat yang menyentuh hati. Semua terlihat sempurna—seperti mimpi yang akhirnya menjadi nyata.
Rafa duduk tenang di kursi akad. Setelan koko putih gading yang ia kenakan menyatu dengan nuansa acara. Tapi tangannya sedikit dingin, jari-jarinya mengepal di atas lutut. Jantungnya berdebar tak tentu. Bukan karena gugup, tapi karena bahagia yang sulit dijelaskan.
Hari ini ia akan menikah. Bukan dengan gadis sembarangan, tapi dengan Najwa—perempuan yang telah ia cintai diam-diam selama bertahun-tahun. Gadis yang ia kagumi sejak SMA. Perempuan yang tak pernah ia dekati secara langsung karena ingin menjaga adab dan kehormatan, tapi yang selalu hadir dalam doa-doanya selepas tahajud.
Ia tak pernah menyatakan cinta. Tak pernah menyapa lewat pesan. Ia hanya meminta ayahnya untuk melamar secara resmi, seperti laki-laki sejati.
"Namanya Najwa Nurfadila, Pak. Anaknya Haji Ahmad Ridwan. Rumahnya di Blok E. Gak jauh dari masjid komplek."
Ayahnya hanya mengangguk. Dan seminggu kemudian, lamaran pun berjalan lancar.
Rafa percaya, ini petunjuk dari Allah.
Tapi tak ada yang tahu… bahwa hari itu, takdir sedang menyiapkan kejutan yang tak bisa ditertawakan.
*
Acara dimulai. Khutbah nikah dibacakan. Wajah Rafa serius dan fokus, bahkan sempat dibilang mirip aktor sinetron religi oleh ibu-ibu tetangga yang nonton dari belakang. Tapi yang ia pikirkan hanya satu: Najwa.
Ia tidak melihat wajah calon istrinya. Ia tahu, dia berada di ruangan perempuan. Tapi suara-suara dari balik tirai, suara tawa kecil, suara ibu-ibu yang menenangkan sang mempelai perempuan—semuanya terdengar normal.
Hingga detik itu tiba.
“Rafa Naufal Hakim, dengan mas kawin tersebut, apakah kamu bersedia menikahi...”
Penghulu menatapnya serius. Semua orang diam. Jantung Rafa berdebar.
“…Nazwa Nufaila binti Ahmad Ridwan?”
Dunia mendadak membeku.
Sekejap. Nama itu... bukan Najwa.
Rafa mengerutkan dahi. Tapi tak sempat mengangkat tangan, tak sempat bertanya. Semua orang menatapnya. Ayahnya menepuk bahu. Ibunya tersenyum haru. Kakaknya memberi kode agar cepat diucapkan.
Dan entah mengapa, lidahnya bergerak sendiri.
“Saya terima nikah dan kawinnya Nazwa Nufaila binti Ahmad Ridwan dengan mas kawin tersebut, tunai.”
SAH.
Tamu bersorak pelan. Para ibu menitikkan air mata. Kamera mengabadikan momen. Semua terlihat bahagia… kecuali Rafa.
Beberapa Menit Setelah Akad
Rafa dibawa masuk ke ruang kecil yang dijadikan ruang rias pengantin. Sambil duduk, ia menunduk. Tangannya gemetar. Dadanya sesak.
“Tunggu. Namanya tadi... Nazwa? Bukannya harusnya Najwa?”
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya kesalahan pengucapan. Mungkin hanya terdengar mirip. Mungkin hanya grogi. Mungkin...
Pintu terbuka. Seorang gadis masuk, dengan cadar khas pengantin betawi, didampingi ibunya yang tersenyum penuh bangga.
“Silakan, Rafa. Ini istrimu sekarang,” ucap ibunya.
Rafa berdiri. Jantungnya berdetak tak karuan. Pelan-pelan, gadis itu melepas cadarnya.
Dan… saat itulah semua harapan Rafa runtuh dalam hitungan detik.
Itu bukan Najwa.
“Assalamualaikum, Mas Rafa…”
“Wa... wa’alaikumsalam…”
Gadis itu menunduk sopan. Wajahnya sangat manis, lembut, tak ada yang salah darinya.
Kecuali... dia bukan perempuan yang Rafa cintai.
“Kamu… siapa? Di mana istriku?” tanya Rafa, dengan wajah penuh kebingungan dan suara tercekat.
Gadis itu mengangkat wajah. Wajah bulatnya terlihat ramah, matanya berbinar meski jelas gugup. Ia tersenyum… lebar sekali.
“Loh? Mas Rafa? Ya istrimu ya aku inilah! Masa iya aku datang ke nikahan orang?”
Rafa terpaku.
“Tapi… kamu bukan… kamu bukan Najwa!”
Suaranya meninggi, terdengar panik dan frustrasi.
Gadis itu—Nazwa—langsung mengerutkan kening.
“Yaa iya d**g, saya mah Nazwa. Emangnya Mas kira yang kamu nikahi itu siapa? Orang Jelas-jelas waktu akad nyebut namaku. Koq jadi nyari, Najwa? Ih, lucu bener salah nama!”
Rafa menatapnya tanpa bisa berkata-kata.
“Aku... aku nggak ngerti. Aku bilang ke Ayah buat ngelamar Najwa Nurfadila. Bukan kamu.”
“Kamu… kamu bukan perempuan yang aku cinta.”
Nazwa diam sebentar. Lalu, dengan nada santai dan ekspresi polos:
“Waduuh… bentar bentar… ini aku harus sedih dulu atau ketawa ya?”
Dia nyengir, lalu mendekat.
“Mas… kalau emang Mas salah pinang, ya aku juga salah dinikahin d**g. Yah, Waduh, kalau gitu aku korban d**g?”
Rafa makin bingung.
Nazwa mengangguk-angguk sendiri seperti sedang ngobrol dengan dirinya di cermin.
“Tapi yaudah, Mas. Tadi udah SAH, ya kan? Udah direkam juga, ditonton semua orang. Jadi mulai sekarang… yahh, kita suami istri deh.”
Dia menjulurkan tangan, ingin salaman.
“Perkenalkan, saya Nazwa. Sekarang aku istri sahmu,” Rafa masih terpaku. Kepalanya pening.
Nazwa mendekat, berbisik pelan dengan gaya conspiratorial:
“Tapi tenang aja, Mas. Saya nggak akan nempel kayak lem Korea kok. Kita bisa ngobrol baik-baik, bikin perjanjian, atau... ya, pisah secara elegan. Tapi setidaknya, jangan hari ini ya. Kasihan, tamu sudah banyak yang datang.”
Pintu diketuk. Ibunya memanggil untuk sesi foto.
Nazwa menarik napas panjang, lalu berdiri sambil mengibaskan gamisnya.
“Ayo, Mas. Kita tunjukin ke dunia, pasangan salah sambung juga bisa fotogenik!”
Dia melangkah keluar dengan senyum riang dan lambaian lucu.
Rafa masih di tempatnya. Matanya memandang kosong ke arah pintu.
Tadi pagi dia ingin menikah dengan perempuan yang ia cinta.
Tapi sekarang, dia malah sah jadi suami... perempuan yang seolah berasal dari galaksi lain.
"Bagaimana nasib pernikahanku setelah ini? Apa harus kandas sebelum dimulai?
*
Baca selengkapnya di KBM APP
Penulis : Bakul Cerita
Judul : SALAH JODOH