Novel Online

Novel Online Penulis Novel di Fizzo dan KBM

❌ Niat Nikah Sama Najwa✅ Yang Sah Malah NazwaIni Akad Nikah atau Autocorrect Tuhan?! 😭💍_PART 1_Hari itu, matahari bersin...
24/03/2026

❌ Niat Nikah Sama Najwa
✅ Yang Sah Malah Nazwa
Ini Akad Nikah atau Autocorrect Tuhan?! 😭💍

_PART 1_
Hari itu, matahari bersinar lembut, seolah mengerti bahwa ini adalah hari yang sakral. Langit biru dihiasi awan putih tipis, dan angin berembus pelan seolah berbisik, "Selamat menempuh hidup baru."

Di depan rumah Blok E No. 14, tenda putih berdiri megah. Kursi tamu berjajar rapi. Sound system mengalun pelan dengan shalawat yang menyentuh hati. Semua terlihat sempurna—seperti mimpi yang akhirnya menjadi nyata.

Rafa duduk tenang di kursi akad. Setelan koko putih gading yang ia kenakan menyatu dengan nuansa acara. Tapi tangannya sedikit dingin, jari-jarinya mengepal di atas lutut. Jantungnya berdebar tak tentu. Bukan karena gugup, tapi karena bahagia yang sulit dijelaskan.

Hari ini ia akan menikah. Bukan dengan gadis sembarangan, tapi dengan Najwa—perempuan yang telah ia cintai diam-diam selama bertahun-tahun. Gadis yang ia kagumi sejak SMA. Perempuan yang tak pernah ia dekati secara langsung karena ingin menjaga adab dan kehormatan, tapi yang selalu hadir dalam doa-doanya selepas tahajud.

Ia tak pernah menyatakan cinta. Tak pernah menyapa lewat pesan. Ia hanya meminta ayahnya untuk melamar secara resmi, seperti laki-laki sejati.

"Namanya Najwa Nurfadila, Pak. Anaknya Haji Ahmad Ridwan. Rumahnya di Blok E. Gak jauh dari masjid komplek."

Ayahnya hanya mengangguk. Dan seminggu kemudian, lamaran pun berjalan lancar.

Rafa percaya, ini petunjuk dari Allah.

Tapi tak ada yang tahu… bahwa hari itu, takdir sedang menyiapkan kejutan yang tak bisa ditertawakan.

*

Acara dimulai. Khutbah nikah dibacakan. Wajah Rafa serius dan fokus, bahkan sempat dibilang mirip aktor sinetron religi oleh ibu-ibu tetangga yang nonton dari belakang. Tapi yang ia pikirkan hanya satu: Najwa.

Ia tidak melihat wajah calon istrinya. Ia tahu, dia berada di ruangan perempuan. Tapi suara-suara dari balik tirai, suara tawa kecil, suara ibu-ibu yang menenangkan sang mempelai perempuan—semuanya terdengar normal.

Hingga detik itu tiba.

“Rafa Naufal Hakim, dengan mas kawin tersebut, apakah kamu bersedia menikahi...”

Penghulu menatapnya serius. Semua orang diam. Jantung Rafa berdebar.

“…Nazwa Nufaila binti Ahmad Ridwan?”

Dunia mendadak membeku.

Sekejap. Nama itu... bukan Najwa.

Rafa mengerutkan dahi. Tapi tak sempat mengangkat tangan, tak sempat bertanya. Semua orang menatapnya. Ayahnya menepuk bahu. Ibunya tersenyum haru. Kakaknya memberi kode agar cepat diucapkan.

Dan entah mengapa, lidahnya bergerak sendiri.

“Saya terima nikah dan kawinnya Nazwa Nufaila binti Ahmad Ridwan dengan mas kawin tersebut, tunai.”

SAH.

Tamu bersorak pelan. Para ibu menitikkan air mata. Kamera mengabadikan momen. Semua terlihat bahagia… kecuali Rafa.

Beberapa Menit Setelah Akad
Rafa dibawa masuk ke ruang kecil yang dijadikan ruang rias pengantin. Sambil duduk, ia menunduk. Tangannya gemetar. Dadanya sesak.

“Tunggu. Namanya tadi... Nazwa? Bukannya harusnya Najwa?”

Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya kesalahan pengucapan. Mungkin hanya terdengar mirip. Mungkin hanya grogi. Mungkin...

Pintu terbuka. Seorang gadis masuk, dengan cadar khas pengantin betawi, didampingi ibunya yang tersenyum penuh bangga.

“Silakan, Rafa. Ini istrimu sekarang,” ucap ibunya.

Rafa berdiri. Jantungnya berdetak tak karuan. Pelan-pelan, gadis itu melepas cadarnya.

Dan… saat itulah semua harapan Rafa runtuh dalam hitungan detik.

Itu bukan Najwa.

“Assalamualaikum, Mas Rafa…”

“Wa... wa’alaikumsalam…”

Gadis itu menunduk sopan. Wajahnya sangat manis, lembut, tak ada yang salah darinya.

Kecuali... dia bukan perempuan yang Rafa cintai.

“Kamu… siapa? Di mana istriku?” tanya Rafa, dengan wajah penuh kebingungan dan suara tercekat.

Gadis itu mengangkat wajah. Wajah bulatnya terlihat ramah, matanya berbinar meski jelas gugup. Ia tersenyum… lebar sekali.

“Loh? Mas Rafa? Ya istrimu ya aku inilah! Masa iya aku datang ke nikahan orang?”

Rafa terpaku.

“Tapi… kamu bukan… kamu bukan Najwa!”

Suaranya meninggi, terdengar panik dan frustrasi.

Gadis itu—Nazwa—langsung mengerutkan kening.

“Yaa iya d**g, saya mah Nazwa. Emangnya Mas kira yang kamu nikahi itu siapa? Orang Jelas-jelas waktu akad nyebut namaku. Koq jadi nyari, Najwa? Ih, lucu bener salah nama!”

Rafa menatapnya tanpa bisa berkata-kata.

“Aku... aku nggak ngerti. Aku bilang ke Ayah buat ngelamar Najwa Nurfadila. Bukan kamu.”

“Kamu… kamu bukan perempuan yang aku cinta.”

Nazwa diam sebentar. Lalu, dengan nada santai dan ekspresi polos:

“Waduuh… bentar bentar… ini aku harus sedih dulu atau ketawa ya?”

Dia nyengir, lalu mendekat.

“Mas… kalau emang Mas salah pinang, ya aku juga salah dinikahin d**g. Yah, Waduh, kalau gitu aku korban d**g?”

Rafa makin bingung.

Nazwa mengangguk-angguk sendiri seperti sedang ngobrol dengan dirinya di cermin.

“Tapi yaudah, Mas. Tadi udah SAH, ya kan? Udah direkam juga, ditonton semua orang. Jadi mulai sekarang… yahh, kita suami istri deh.”

Dia menjulurkan tangan, ingin salaman.

“Perkenalkan, saya Nazwa. Sekarang aku istri sahmu,” Rafa masih terpaku. Kepalanya pening.

Nazwa mendekat, berbisik pelan dengan gaya conspiratorial:

“Tapi tenang aja, Mas. Saya nggak akan nempel kayak lem Korea kok. Kita bisa ngobrol baik-baik, bikin perjanjian, atau... ya, pisah secara elegan. Tapi setidaknya, jangan hari ini ya. Kasihan, tamu sudah banyak yang datang.”

Pintu diketuk. Ibunya memanggil untuk sesi foto.

Nazwa menarik napas panjang, lalu berdiri sambil mengibaskan gamisnya.

“Ayo, Mas. Kita tunjukin ke dunia, pasangan salah sambung juga bisa fotogenik!”

Dia melangkah keluar dengan senyum riang dan lambaian lucu.

Rafa masih di tempatnya. Matanya memandang kosong ke arah pintu.

Tadi pagi dia ingin menikah dengan perempuan yang ia cinta.

Tapi sekarang, dia malah sah jadi suami... perempuan yang seolah berasal dari galaksi lain.

"Bagaimana nasib pernikahanku setelah ini? Apa harus kandas sebelum dimulai?

*

Baca selengkapnya di KBM APP
Penulis : Bakul Cerita
Judul : SALAH JODOH

“Aku ditinggalkan karena dianggap ‘anak sawah’… tapi malam itu takdir mempertemukanku dengan pria yang mengubah hidupku....
22/03/2026

“Aku ditinggalkan karena dianggap ‘anak sawah’… tapi malam itu takdir mempertemukanku dengan pria yang mengubah hidupku.”

_PART 1_
“Jadi ini perempuan yang kamu perjuangkan sampai empat tahun itu?”

Kalimat itu meluncur tajam, tepat setelah pintu rumah ditutup.

Yuni berdiri di ruang tamu dengan punggung tegang. Tangannya masih digenggam oleh lelaki yang dicintainya—lelaki yang hari ini berjanji akan mengenalkannya sebagai calon istri. Tatapan sang ibu tidak ramah. Ia meneliti Yuni seperti barang retur—dari jilbab sederhana, baju sopan yang dipilih penuh pertimbangan, sampai sepatu datar yang bersih tapi jelas bukan barang mahal.

“Hmm…” perempuan itu mendecak.

“Katrok.”

“Mah,” lelaki di sampingnya akhirnya bicara, cepat, gugup. “Jangan gitu—”

“Kenapa?” potong ibunya. “Aku cuma jujur.”

“Rendy bilang apa kamu dibawa ke sini?” ulang ibunya, kali ini sambil menyilangkan tangan di dada.

“Untuk… silaturahmi, Bu. Mas Rendy ingin memperkenalkan saya sebagai..”

“Oh, memperkenalkan,” ibunya terkekeh pendek. “Kupikir cuma mampir. Soalnya kalau niat serius, biasanya orang tuanya ikut datang.”

Ia melirik ke belakang Yuni—ke pintu yang sudah tertutup rapat.

“Ini beneran kamu sendirian?”

“Iya, Bu. Orang tua saya di kampung.”

“Ya Allah,” gumamnya, tanpa rasa iba. “Berani juga, ya. Datang ke rumah orang sendirian, tanpa keluarga, tanpa siapa-siapa. Memang dari sana kebiasaannya begitu?”

Adik perempuan Rendy yang sejak tadi bersandar di dinding ikut tertawa kecil.

“Dari kampung, Mah. Mungkin biasa datang ke rumah orang tanpa permisi panjang. Di kampung mungkin gitu.”

Wajah Yuni memanas. Rendy menggenggam tangannya lebih erat, tapi mulutnya tetap bungkam.

“Orang tua kamu kerja apa?” tanya ibunya lagi, kini duduk perlahan di sofa. Pertanyaannya terdengar ringan, tapi matanya tajam.

“Petani, Bu.”

Hening sesaat.

“Hah.. Petani?”

Ibunya mengulanginya seperti kata yang aneh di lidah. “Pantas saja.”

“Pantas apa, Mah?” Rendy mencoba menyela.

“Pantas kelihatannya sederhana sekali,” jawab ibunya cepat. “Dari caranya berdiri, bicaranya pelan, matanya selalu menunduk. Itu ciri anak sawah."

"Anak tanah.” Adiknya menimpali, tanpa rasa bersalah.

“Mas, serius? Empat tahun yang kamu perjuangkan… ini?” Ia melirik Yuni sekilas, lalu mendengus.

“Nanti kalau lebaran, Mas pasti diajak pulang kampung. Dan disuruh nyangkul. Emang Mas mau…?”

“…bau lumpur, ha ha.."

“Jangan-jangan Mas pulang dari kampung bukan bawa oleh-oleh, tapi kapalan.” Ibunya ikut tertawa pendek, lalu mengangguk setuju.

“Begitulah. Anak petani itu hidupnya nempel sama tanah. Mau dipoles kayak apa juga, asal-usulnya tetap kebawa.”

“Kamu tahu nggak kenapa kamu baru dibawa kemari?”

Ibunya menyandarkan punggung ke sofa, tangan terlipat rapi di dada. Senyumnya tipis—tajam, seolah ia sedang membuka rahasia yang sengaja disimpan terlalu lama.

Yuni menoleh refleks ke arah Rendy.

Pegangan tangan itu masih ada. Hangat. Tapi entah kenapa, terasa seperti pegangan orang yang ragu.

Rendy menelan ludah. Pandangannya tidak lagi ke Yuni, melainkan ke lantai marmer mengilap di bawah kakinya.

“Mas Ren?” suara Yuni lirih.

“Maksud Mama kamu apa?”

Ibunya tertawa kecil, lalu menjawab lebih dulu.

“Karena selama ini anakku masih mikir,” katanya ringan.

“Masih berharap kamu bisa… berubah. Atau setidaknya, kami bisa mengubah kamu.”

Jantung Yuni berdegup keras.

“Mengubah… saya?” ulangnya pelan.

Rendy menghela napas panjang. Akhirnya ia bicara, tapi suaranya tidak sekuat yang Yuni harapkan.

“Aku cuma… pengin waktunya pas, Yun.”

“Pas?” Yuni tersenyum kecil.

“Pas yang bagaimana?”

Rendy mend**gak. Untuk pertama kalinya, ia menatap Yuni tanpa senyum.

“Aku tahu keluargaku seperti ini. Aku tahu latar belakangmu bakal jadi masalah. Aku cuma pengin… semuanya lebih siap.”

“Siap apa?” tanya Yuni, suaranya mulai bergetar.

“Siap nerima aku?”

Rendy terdiam.

Diam itu lebih kejam dari kata-kata ibu dan adiknya digabung jadi satu.

Ibunya menimpali, seolah menikmati momen itu.

“Anakku ini bukan nggak sayang sama kamu,” katanya.

“Dia cuma realistis. Dunia itu punya kelas, Nak. Dan sayangnya, kamu belum masuk.”

Yuni menatap Rendy lama. Terlalu lama.

“Jadi… selama empat tahun ini,” ucapnya perlahan, setiap kata seperti ditarik dari dada yang sesak, “aku diperjuangkan… sambil disembunyikan?”

Rendy menggeleng cepat. “Bukan disembunyikan. Ditunda.”

“Ditunda sampai aku cukup layak?” Yuni tertawa kecil, pahit. “Atau sampai aku menyerah sendiri?”

Rendy membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Tak ada jawaban.

Dan di situlah Yuni tahu.

Pegangan tangan itu akhirnya ia lepaskan sendiri.

“Aku pikir,” katanya pelan, menahan gemetar, “empat tahun itu bukti kalau aku cukup berharga untuk diperkenalkan tanpa syarat.”

Ia menatap Rendy, matanya berkaca-kaca tapi tidak jatuh.

“Ternyata… aku cuma proyek yang belum selesai.”

Ibunya mendecak pelan, seolah puas.

“Nah, kamu mengerti sekarang.”

Yuni mengangguk sekali.

Bukan pada ibu itu.

Bukan pada adiknya.

Tapi pada dirinya sendiri.

“Terima kasih,” ucapnya lirih, lalu melangkah mundur.

“Kalau memang selama ini aku cuma ditunggu untuk berubah… lebih baik aku pergi sebelum lupa siapa diriku sebenarnya.”

Rendy reflek maju selangkah. “Yun—”

Tapi Yuni sudah berbalik.

Yuni berjalan cepat meninggalkan rumah itu.

Langkahnya tidak teratur, napasnya naik turun. Malam terasa lebih dingin dari biasanya, padahal jaket tipis masih melekat di tubuhnya. Kata-kata ibu Rendy berputar-putar di kepala, bercampur dengan diam Rendy yang lebih menyakitkan dari semua hinaan.

Empat tahun.

Ditunda.

Supaya siap.

Yuni tertawa kecil di tengah trotoar yang sepi. Tawa tanpa suara, getir.

Tangannya gemetar saat ia membelok ke gang kosannya—gang sempit yang hanya muat satu motor, lampunya redup, dindingnya lembap, dan bau tanah basah masih tercium sisa hujan sore tadi.

Ia mempercepat langkah. Ingin segera mengurung diri. Ingin menangis tanpa saksi.

Tapi langkahnya mendadak terhenti.

Di ujung gang, seseorang terduduk bersandar di dinding. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, tapi posisinya tidak wajar. Kepalanya tertunduk. Satu tangannya menekan sisi perut, sementara tangan lainnya berlumuran d4r 4h.

Merah. Kontras dengan pakaian putih yang dikenakannya.

Yuni tersentak.

“Mas…?” suaranya refleks keluar, kecil dan ragu.

Lelaki itu mend**gak perlahan.

Wajahnya tegas, rahang kuat, alisnya tebal. Tampan—bahkan dalam kondisi pucat dan napas tersengal. Matanya tajam, tapi kini redup, seperti menahan sakit yang tidak kecil.

“Jangan teriak,” katanya pelan, suaranya berat dan serak.

“Aku nggak akan nyakitin kamu.”

Yuni menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena sakit hati.

“Mas… kamu berd4r 4h,” katanya, menunjuk tanpa sadar.

“Kelihatan, ya?” Ia tersenyum miring, lalu meringis menahan nyeri.

Yuni ragu. Otaknya berteriak untuk menjauh. Tapi kakinya justru melangkah mendekat.

“Siapa yang melakukan ini?” tanyanya pelan.

Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Yuni beberapa detik—dari wajahnya yang pucat, matanya yang masih basah, sampai jemarinya yang menggenggam tas kecil di dada.

“Kamu tinggal di sini?” tanyanya balik.

Yuni mengangguk.

“Kalau gitu,” katanya lirih, napasnya makin berat, “tolong… jangan tinggalin aku di sini.”

Kalimat itu terputus di tengah.

Tubuhnya tiba-tiba melemas.

“Mas—?”

Yuni refleks maju selangkah tepat saat kepala lelaki itu terkulai ke samping. Bahunya menghantam dinding gang dengan bunyi pelan, lalu tubuh tinggi itu melorot tak berdaya ke tanah.

“Mas! Hei!” Yuni berjongkok panik, kedua tangannya menahan bahu lelaki itu.

“Mas, bangun!”

Tak ada jawaban.

Matanya terpejam. Napasnya masih ada, tapi dangkal. Kemeja putihnya kini semakin basah oleh d4r 4h yang merembes di sela jari yang tadi menekan perutnya.

“Ya Allah…” suara Yuni bergetar.

Ia menoleh ke kanan-kiri gang. Sepi. Terlalu sepi. Tak ada siapa-siapa selain mereka berdua dan lampu redup yang berkedip seolah ikut ragu memberi cahaya.

Tangannya gemetar saat menyentuh p**i lelaki itu.

Dingin.

“Jangan m4 t! di sini,” bisiknya, hampir seperti doa.

Beberapa menit lalu, ia ditinggalkan oleh lelaki yang katanya mencintainya.

Sekarang, ia berlutut di hadapan lelaki asing yang bahkan namanya tak ia tahu—tak sadar, bersimbah d4r 4h, dan sepenuhnya bergantung padanya.

Yuni menelan ludah, dadanya naik turun.

Perlahan, dengan sisa tenaga dan tekad yang entah datang dari mana, ia menyelipkan bahu lelaki itu ke pundaknya.

Berat. Sangat berat.

“Sedikit lagi,” gumamnya sambil meringis. “Kosanku dekat… kamu harus bertahan.”

Langkahnya terseok di gang sempit itu. Kemeja putih lelaki itu menodai jilbab dan bajunya, d4r 4h hangat meresap tanpa izin.

Yuni tidak tahu siapa lelaki ini.

Tidak tahu mengapa ia terluka.

Tidak tahu bahwa ia baru saja menolong seseorang yang akan membalikkan seluruh hidupnya.

Yang ia tahu hanya satu—

Malam ini, setelah dihina dan ditinggalkan,

ia memilih untuk tidak meninggalkan orang lain.

Baca selengkapnya di KBM APP
Penulis : Bakul Cerita
Judul : Dihina Keluarga Mantan, Dinikahi Bos Tampan

Apa cuman aku yang nggak s**a suamiku gemar sedekah? Suamiku sangat baik, tapi hanya sama orang lain, sedangkan denganku...
08/04/2025

Apa cuman aku yang nggak s**a suamiku gemar sedekah? Suamiku sangat baik, tapi hanya sama orang lain, sedangkan denganku dan anak-anaknya dia...

***

Bab 7 _ Jawaban atau Kesempatan

Keesokan harinya, saat aku sedang menyuapi si bungsu yang tidak puasa, ponselku berdering. Sebuah pesan masuk dari kepala sekolah.

Kepala Sekolah: "Bu Salsa, selamat! Anda terpilih sebagai perwakilan dalam program pertukaran guru teladan ke luar kota selama tiga bulan. Mohon segera konfirmasi kehadiran Anda."

Aku menatap pesan itu dengan mata membelalak. Pertukaran guru teladan? Aku bahkan lupa pernah mendaftarkan diri. Dengan tangan gemetar, aku segera membalas.p

Aku: "Terima kasih, Pak. Ini kesempatan yang luar biasa. Saya akan berdiskusi dulu dengan keluarga."

Setelah mengirim pesan itu, aku termenung. Ini bisa jadi kesempatan terbaikku untuk keluar dari rumah ini—meski artinya aku harus meninggalkan anak-anak sementara. Hatiku mencelos membayangkan mereka tanpa aku. Tapi jika aku tetap di sini, aku tidak akan bisa melindungi mereka dengan baik.

Aku meneguk ludah, lalu melirik Rijal yang duduk di ruang tamu, asyik bermain ponsel. Aku mengumpulkan keberanian dan berjalan mendekat. "Bang, aku dapat tawaran pertukaran guru teladan selama tiga bulan," ujarku hati-hati.

Rijal mengangkat alis tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Terus?"

"Aku harus pergi ke luar kota."

Kali ini, dia mend**gak, menatapku dengan dahi berkerut. "Lah? Trus anak-anak gimana?"

“Kan biasanya juga sama pengasuh.”

“Lha, kan pengasuh biasanya cuman sampai sore. Terus malamnya bagaimana?”

"Mereka bisa sama kamu dulu sementara."

Rijal tertawa pendek. "Halah, bercanda lo? Gue kerja, mana sempat ngurusin anak-anak?"

"Kamu kan punya ibu dan adik-adik yang selalu ikut campur urusan rumah tangga kita. Masa mereka nggak bisa bantu?" Aku sengaja menekan nada suaraku.

Ekspresi Rijal langsung berubah. "Lo nggak usah ngomong aneh-aneh, Sa. Lo ibu mereka, tugas lo di rumah! Mau cari alasan kabur, ya?"

Aku menggigit bibir, berusaha menahan emosi. "Bang, ini kesempatan besar buat karier aku. Kalau aku bisa berhasil, masa depan kita juga lebih baik."

"Alasan! Udah, batalin aja! Gue nggak setuju." Hatiku mencelos.

“Tapi, Bang…!”

Aku menghela napas panjang, mencoba menahan gejolak emosiku. "Bang, dalam Islam, seorang istri boleh bekerja selama tidak melalaikan kewajibannya. Aku pergi bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk mencari ilmu dan meningkatkan kemampuan. Ini juga demi anak-anak kita."

"Lah, terus gimana dengan hadis yang bilang bahwa wanita sebaiknya di rumah? Rasulullah sendiri bilang bahwa rumah adalah tempat terbaik untuk seorang istri!"

Aku menatapnya, berusaha tetap tenang. "Bang, memang betul bahwa wanita dianjurkan untuk berada di rumah, tapi bukan berarti dilarang bekerja. Bahkan istri Rasulullah, Khadijah, adalah seorang pedagang sukses. Aisyah juga aktif mengajarkan ilmu kepada umat. Aku nggak meninggalkan anak-anak selamanya, Bang. Aku cuma pergi sementara, dan aku sudah memastikan mereka tetap dalam pengawasan."

Rijal mendengus. "Itu Khadijah! Lo bukan Khadijah! Lo itu istri gue, tugas utama lo ngurus rumah dan anak-anak setelah mengajar, bukan kelayapan!"

"Bang, aku nggak kelayapan. Aku ikut program resmi dari sekolah, sesuatu yang bisa bermanfaat buat banyak orang. Lagipula, dalam Islam, seorang suami itu punya kewajiban untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Tapi selama ini, Bang? Aku yang lebih banyak berjuang sendiri!"

"Jadi sekarang lo mau nyindir gue nggak bertanggung jawab?"

"Aku cuma ingin kita sama-sama adil. Kalau aku yang terus-menerus mengalah, di mana keadilan buat aku dan anak-anak?"

Penulis : Bakul Cerita
Judul : Maaf, Jika Aku Pergi!

😭

Address

Jalan Anggrek II
Jakarta
12330

Telephone

+628979619368

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Novel Online posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Novel Online:

Share