Dzikir Ratibul Haddad

Dzikir Ratibul Haddad Ratibul haddad dan istighosah sokmana santre sokarajjeh

25/01/2025
20/03/2019
10/02/2018

ASAL USUL BERDIRINYA (NU) NAHDHOTUL ULAMA'

بسم ﷲ الرحمن الرحيم

Ada tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab Chasbullah (Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan Kiai Cholil (Bangkalan). melukiskan peran ketiganya sebagai berikut Kiai Wahab sebagai pencetus ide, Kiai Hasyim sebagai pemegang kunci, dan Kiai Cholil sebagai penentu berdirinya.

Tentu selain dari ketiga tokoh ulama tersebut , masih ada beberapa tokoh lainnya yang turut memainkan peran penting. Sebut saja KH. Nawawie Noerhasan dari Pondok Pesantren Sidogiri. Setelah meminta restu kepada Kiai Hasyim seputar rencana pendirian Jamiyyah. Kiai Wahab oleh Kiai Hasyim diminta untuk menemui Kiai Nawawie. Atas petunjuk dari Kiai Hasyim p**a, Kiai Ridhwan-yang diberi tugas oleh Kiai Hasyim untuk membuat lambang NU- juga menemui Kiai Nawawie. Tulisan ini mencoba mendiskripsikan peran Kiai Wahab, Kiai Hasyim, Kiai Cholil dan tokoh-tokoh ulama lainnya dalam proses berdirinya NU.
Keresahan Kiai Hasyim
Bermula dari keresahan batin yang melanda Kiai Hasyim. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan mas**an dari kiai-kiai sepuh lainnya.

Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh ulama pesantren yag sangat berpengaruh di Jawa Timur.

Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah, hati Kiai Hasyim resah. Gelagat inilah yang nampaknya “dibaca” oleh Kiai Cholil Bangkalan yang terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (mukasyafah). Dari jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan hati yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung cucunya sendiri.
Tongkat “Musa”
“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik, Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat itu.
“Setelah membeerikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut kepada Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat Thaha ayat 17-23.

Allah berfirman: ”Apakah itu yang di tangan kananmu, hai musa? Berkatalah Musa : ‘ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya’.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat”, Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (p**a), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.”

Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai Cholil memberikan dua keeping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos ke Jombang. Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya erat-erat.
Meski sudah dibekali uang, namun As’ad memilih berjalan kaki ke Jombang. Dua keeping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia simpan di sakunya sebagai kenagn-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil itu teramat berharga untuk dibelanjakan.

Sesampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim. Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad merupakan utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan Kiai Hasyim, As’ad segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad seraya menyerahkan tongkat.

Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan penuh perasaan. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa masih ada pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!” jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.

Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak keberatan apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk mendirikan Jamiyyah. Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah terus dimatangkan. Meski merasa sudah mendapat lampu hijau dari Kiai Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta mewujudkan niatnya untuk mendirikan jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah dengan para kiai lainnya, terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan.

Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera berangkat ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab segeraa menuju kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai Wahab langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Kiai Wahab yang menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai Nawawie tidak serta merta p**a langsung mendukungnya, melainkan memberikan pesan untuk berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri itu supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak pakai uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai Nawawi.

Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat sampai dengan perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah rupanya berjalan cukup lama. Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, maskih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam.

Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.

Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adap**a yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang. Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).

Setelah para ulama sepakat mendirikan jamiyyah yang diberi nama NU, Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Nashir untuk membuat lambangnya. Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan menghadap Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya. “Gambar ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh Kiai Hasyim diminta membuat gambar lambang NU. Setelah saya buat gambarnya, Kiai Hasyim meminta saya untuk sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih lanjut,” papar Kiai Ridhwan seraya menyerahkan gambarnya.

Setelah memandang gambar lambang NU secara seksama, Kiai Nawawie memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar bumi dan sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.” Selain itu, Kiai Nawawie jug a meminta supaya tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie.
Bapak Spiritual
Selain memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendirian NU yaitu sebgai penentu berdirinya, sebenarnya masih ada satu peran lagi, peran penting lain yang telah dimainkan oleh Kiai Cholil Bangkalan. Yaitu peran sebagai bapak spiritual bagi warga NU. Dalam tinjauan Mujammil Qomar, Kiai Cholil layak disebut sebagai bapak spiritual NU karena ulama asal Bangkalan ini sangat besar sekali andilnya dalam menumbuhkan tradisi tarekat, konsep kewalian dan haul (peringatan tahunan hari kematian wali atau ulama).
Dalam ketiga masalah itu, kalangan NU berkiblat kepada Kiai Cholil Bangkalan karena ia dianggap berhasil dalam menggabungkan kecenderungan fikih dan tarekat dlam dirinya dalam sebuah keseimbangan yang tidak meremehkan kedudukan fikih. Penggabungan dua aspek fikih dan tarekat itu p**a yang secara cemerlang berhasil ia padukan dalam mendidik santri-santrinya. Selain membekali para santrinya dengan ilmu-ilmu lahir (eksoterik) yang sangat ketat –santrinya tak boleh boyong sebelum hafal 1000 bait nadzam Alfiah Ibn Malik, ia juga menggembleng para santrinya dengan ilmu-ilmu batin (esoterik).
Kecenderungan yang demikian itu bukannya tidak dimiliki oleh pendiri NU lainnya. Tokoh lainnya seperti Kiai Hasyim, memiliki otoritas yang sangat tinggi dalam bidang pengajaran kitab hadits shahih Bukhari, namun memiliki pandangan yang kritis terhadap masalah tarekat, konsep kewalian dan haul. Kiai Hasyim merupakan murid kesayangan dari Syaikh Mahfuzh at Tarmisi. Syaikh Mahfuzh adalah ulama Indonesia pertama yang mengajarkan kitab hadits Shahih Bukhari di Mekkah. Syaikh Mahfuzh diakui sebagai seorang mata rantai (isnad) yang sah dalam transmisi intelektual pengajaran kitab Shahih Bukhari.
Karena itu, Syaikh Mahfuzh berhak memberikan ijazah kepada murid-muridnya yang berhasil menguasai kitab Shahih Bukhari. Salah seorang muridnya yang mendapat ijazah mengajar Shahih Bukhari adalah Kiai Hasyim Asy’ari. Otoritas Kiai Hasyim pada pengajaran kitab hadits Shahih Bukhari ini diakui p**a oleh Kiai Cholil Bangkalan. Di usia senjanya, gurunya itu sering nyantri pasaran (mengaji selama bulan puasa) kepada Kiai Hasyim. Ini merupakan isyarat pengakuan Kiai Cholil terhadap derajat keilmuan dan integritas Kiai Hasyim.
Sebagai ulama yang otoritatif dalam bidang hadits, Kiai Hasyim memiliki pandangan yang kritis terhadap perkembangan aliran-aliran tarekat yang tidak memiliki dasar ilmu hadits. Ia menyesalkan timbulnya gejala-gejala penyimpangan tarekat dan syariat di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, ia menulis kitab al Durar al Muntasyirah fi Masail al Tis’a’Asyarah yang berisi petunjuk praktis agar umat Islam berhati-hati apabila hendak memasuki dunia tarekat.
Selain kritis dalam memandang tarekat, Kiai Hasyim juga kritis dalam memandang kecenderungan kaum Muslim yang dengan mudah menyatakan kewalian seseorang tanpa ukuran yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara teologis. Terhadap masalah ini, Kiai Hasyim memberikan pernyataan tegas:

“Barangsiapa mengaku dirinya sebagai wali tetapi tanpa kesaksian mengikuti syariat Rasulullah SAW, orang tersebut adalah pendusta yang membuat perkara tentang Allah SWT.”

Lebih tegas beliau menyatakan:

“Orang yang mengaku dirinya wali Allah SWT, orang tersebut bukanlah wali yang sesungguhnya melainkan hanya wali-walian yang jelas salah sebab dia mengatakan sir al-khushusiyyah (rahasia-rahasia khusus) dan dia membuat kedustaan atas Allah Ta’ala.”

29/12/2017

*DZIKIR ROTIBUL HADDAD*💐

*Khasiat Dzikir Pertama.*
Laa ilaaha ilallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa 'alaa kulli syai-in qadiir (3x)
"Tiada Tuhan yang sebenarnya berhak diibadahi, kecuali hanya Allah Yang Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, Dialah yang memiliki kerajaan ini dan memiliki segala puji. Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dialah yang sangat berkuasa atas segala sesuatu." 3x

a. Barang siapa membacanya maka baginya pahala sebesar pahala orang yang memerdekakan seorang budak dari keturunan Ismail as, ditulis baginya sepuluh amal kebaikan, dihapus darinya sepuluh dosa, diangkat sepuluh derajat dan dijaga dari godaan syetan sampai sore.
b. Dan jika membacanya pada waktu sore maka baginya pahala yang sama hingga pagi hari (Hadits).
c. Sebaik-baik bacaan yang dibaca Rasulullah SAW dan para nabi (Hadits).
d. Tidak ada satu amalanpun mampu mengalahkannya.
e. Tidak tersisa dengannya dosa. Allah memandang pada orang yang membacanya dengan pandangan rahmat dan barang siapa mendapatkan pandangan rahmat maka dia tidak akan terkena siksa (Hadits).

*Khasiat Dzikir Kedua.*
Subhaanallaahi walhamdulillaahi walaa ilaaha illallaahu wallaahu akbar (3x)
"Maha Suci Allah, dan segala puji hanya khusus bagi Allah, dan tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali hanyalah Allah dan Allah Tuhan Yang Maha Besar." 3x

a) Dalam Al-Qur'an bacaan ini disebut "AL-BAQIYATUS SHOLIHAT" sedang pahalanya amat sangat besar.
b) Rasulullah menamakan bacaan ini dengan "RIYADHUL JANAH" artinya kebun surga atau taman surga.
c) Rasullah mencintai bacaan ini lebih dari segala apa yang terkena sinar matahari.
d) Bacaan ini mengugurkan dosa hamba seperti gugurnya daun-daun dari atas pohon.
e) Bacaan ini adalah bacaan yang paling dicintai Allah.
f) Bacaan ini adalah tanaman surga.
g) Bacaan ini merupakan penyebab seorang hamba untuk mendapatkan surga.
h) Bacaan ini tergolong bacaan yang paling utama.
i) Pahala bacaan ini menyamai pahala orang yang memerdekakan seratus orang yang sedekah dengan kuda berkendali, berpelana di jalan Allah, juga menyamai pahala sedekah seratus onta.
j) Bacaan ini adalah benteng pemisah antara hamba dari api neraka.
k) Berat timbangan bacaan ini melebihi berat timbangan langit dan bumi.
l) Bacaan ini bisa mengganti kedudukan Al-Qur'an bagi orang yang tidak mampu membaca Al-Qur'an.
m) Barang siapa membaca bacaan ini maka ditulis baginya dalam setiap huruf sepuluh amal kebaikan (Hadits).
n) Bacaan ini adalah bacaan yang dibaca bangsa jin ketika mengangkat benda-benda berat.
o) Bacaan ini juga bacaan yang dibaca Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as ketika membangun Ka’bah, apabila mereka mebacanya terangkatlah batu-batu besar itu dengan sendirinya.

*Khasiat Dzikir ketiga.*
Subhaanallaahi wa bihamdihii subhaanallaahil 'azhiim (3x)
"Maha Suci Allah dengan segala puji kepada-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung." 3x

a) Dua kalimat, ringan di lidah tapi sangat berat di atas timbangan amal (mizan), dan sangat dicintai Allah SWT.
b) Bacaan ini termasuk bacaan (dzikir) yang paling utama
c) Barangsiapa yang membacanya maka ditulis baginya 124.000 kebaikan
d) Bacaan ini lebih dicintai Allah daripada segunung emas yang di-infaqkan ikhlas dijalan Allah.
e) Allah akan melebur dosa-dosa orang yang membacanya sekalipun lebih banyak daripada buih diatas air laut.
f) Bacaan ini adalah doa yang dibaca oleh semua makhluk. Sebab bacaan ini Allah memberikan rezeki pada seluruh makhluk
g) Bacaan ini jika dibaca: Subhaanallaahi wa bihamdihii subhaanallaahil 'azhiim astaghfirullah seratus kali setelah sholat sunnah fajar (qobla/sebelum subuh), maka dunia akan datang kepadamu dengan cara paksa, hingga kamu kewalahan menanggapinya.

*Khasiat Dzikir keempat.*
Rabbanaghfirlanaa watub'alainaa innaka antat tawwaabur rahiim (3x)
"Ya Allah ampunilah dosaku dan berikan aku tobat, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Penyayang." 3x

"Barangsiapa yang membacanya, Allah akan menjadikan baginya keterbukaan dari segala yang buntu baginya, jalan keluar dari segala kesempitan, dan akan menganugrahkan rezeki dari arah yang tak diduga-duga" (Hadist).

*Khasiat Dzikir kelima.*
Allahumma shalli 'alaa Muhammadin, Allaahumma shalli 'alaihi wa sallim (3x)
"Wahai Tuhan kami, berilah shalawat/rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad, Ya Tuhan Kami berilah shalawat/rahmat-Mu kepadanya dan kesejahteraan-Mu." 3x

a. Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling banyak membaca sholawat untukku. (Hadist)
b. Barangsiapa membaca sholawat untukku dari umatku maka akan ditulis baginya sepuluh kebaikan dan dihapus darinya sepuluh dosa. (Hadist)
c. Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Kahil: Sesungguhnya barangsiapa membaca sholawat kepadaku setiap hari tiga kali sebab cinta dan rindu kepadaku, maka pantas bagi Allah untuk mengampuni dosa-dosanya malam itu dan siang harinya. (Hadist)
d. Rasulullah SAW bersabda: sholawat kepadaku menepis kemiskinan dari orang yang membacanya. (Hadist)

*Khasiat Dzikir keenam.*
A'uudzu bikalimaatillahit taammaati min syarri maa khalaq (3x)
"Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan apa-apa yang diciptakan-Nya." 3x

a. Barangsiapa membacanya tiga kali maka tidak akan membahayakan dirinya dari sesuatu apapun. (Hadist)
b. Barangsiapa membacanya di sore hari, tidak akan membahayakan dirinya sesuatu pun sampai pagi, dan siapa yang membacanya pagi hari maka tidak akan membahayakannya dirinya sampai sore. (Hadist)
c. Barangsiapa menempati suatu tempat lalu membaca bacaan ini, tidak akan membahayakan dirinya dari sesuatu apa pun hingga pergi meninggalkan tempat itu. (Hadist)
d. Tergolong dzikir yang dahsyat dan manjur, apabila seseorang menekuninya maka segala urusannya akan lancar dan terpenuhi kebutuhannya.
e. Menjaga jiwa dan raga dari rasa sakit.
f. Barangsiapa membacanya di tengah malam akan menyaksikan hal-hal aneh dan ajaib.
g. Melumpuhkan dan menaklukan musuh.

*Khasiat Dzikir ketujuh.*
Bismillaahil ladziy laa yadhurru ma'asmihii syai-un fil ardhi walaa fis samaa'ii wahuwas samii'ul 'aliim. (3x)
"(Aku menjalani hidup pada siang atau malam ini) Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun dapat memberi mudharat, baik di bumi maupun di langit dan Dia- lah Tuhan yang maha mendengar lagi maha mengetahui." 3x

a. Barangsiapa yang membaca bacaan ini setiap pagi dan sore tiga kali, tidak akan membahayakan dirinya dari sesuatu apapun (HR.Tirmidzi)
b. Tidak akan terkena bencana yang datang mendadak dan tidak akan terkena stroke (HR.Abu Dawud)
c. Penawar racun dan segala yang mematikan
d. Keselamatan dari musuh dan kekejamannya.
e. Penjagaan bagi rumah dan isinya dari pencuri dan orang jahat

*Khasiat Dzikir kedelapan.*
Radhiitu billaahi rabba wa bil islaami diina wa bi Sayyidina Muhammadin Shalallaahu 'Alaihi Wasalaam nabiyyan wa rasuula (3x)
"Kami rela Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai agama kami, dan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan RasulMU." 3x

a. Diriwayatkan dari sahabat Tsauban: barangsipa membacanya maka dia berhak masuk surga. (hadist)
b. Dari Abu Said Al-Khudry meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: Barangsiapa ridho menjadikan Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad SAW sebagai nabinya maka ia berhak masuk surga. (Hadist)

*Khasiat Dzikir kesembilan.*
Bismillaahi walhamdulillaahi wal khairu wasy-syarru bimasyii-atillaah (3x)
"Dengan nama Allah dan segala punji hanya tertentu bagi Allah dan segala kebajikan dan kejahatan, ketentuan Allah." 3x

a. Barangsiapa yang membacanya tidak akan tersisa dari dosa-dosanya sedikitpun (Hadist).
b. Tidak ada seorang hamba yang membacanya, kecuali mencairlah syetan seperti mencairnya timah diatas bara api. (Hadist)
c. Apabila seorang membacanya, dicatat untuknya pahala ibadah tujuh ratus tahun. (Hadist)
d. Barangsiapa ingin selamat oleh Allah dirinya dari malaikat Zabaniyah yang sembilan belas (penjaga neraka) maka hendaknya dia membaca basmalah (Hadist)

*Khasiat Dzikir kesepuluh.*
Aamannaa billaahi wal yaumil aakhiri tubnaa ilallaah baathinaw wa zhaahiran (3x)
"Kami (menyatakan) beriman kepada Allah dan hari akhir, dan kami bertobat kepada Allah lahir maupun batin" 3x
a. Rasulullah SAW bersabda: Ucapkanlah lalu istiqomahlah
b. Barangsiapa merasakan was-was maka hendaklah dia membacanya. (Hadist)

*Khasiat Dzikir kesebelas.*
Yaa rabbanaa wa'fu 'annaa wamhul ladziy kaana minnaa (3x)
"Ya Tuhan kami, berilah kami maaf dan hapuskanlah apa – apa yang ada pada kami (dosa – dosa)."

a. Allah tidak akan diminta sesuatu yang lebih Dia cintai daripada diminta Afiah (keselamatan) di dunia dan di akhirat. (Hadist)
b. Memohon afiah tergolong doa yang paling utama dan padat maknanya.

*Khasiat Dzikir keduabelas.*
Yaa dzal jalaali wal ikraam, amitnaa 'alaa diinil Islaam (7x)
"Wahai Tuhan yang mempunyai sifat Keagungan dan sifat Pemurah, matikanlah kami dalam lingkungan agama Islam." 7x

a. Tekuni dan perbanyaklah bacaan tersebut diatas. (Hadist)
b. Rasulullah SAW mendengar seseorang membaca bacaan tersebut, maka beliau bersabda: kamu telah dikabulkan maka mintalah. (Hadist)

*Khasiat Dzikir ketiga belas.*
Yaa qawiyyu yaa matiinu ikhfi syarrazh zhaalimiin (3x)
"Ya Tuhan yang Maha Kuat lagi Maha Gagah, hindarkanlah kami dari kejahatan orang – orang zhalim." 3x

a. Aman dan selamat dari gangguan orang-orang jahat dan dholim, perbuatan jahat manusia.
b. Aman dan selamat dari gangguan bahaya binatang buas dan berbisa, kedengkian musuh, dari setiap marabahaya.
c. Aman dan selamat dari murka Allah serta hukuman-Nya.
d. Aman dan selamat dari apa saja yang membahayakan diri kita, membahayakan Islam dan kaum muslimin.

*Khasiat Dzikir keempat belas.*
Ash lahalllaahu umuural muslimiin sharafallaahu syarral mu'dziin (3x)
"Semoga Allah memperbaiki semua urusan kaum muslimin dan menghindarkan mereka dari kejahatan orang – orang yang s**a mengganggu" 3x

a. Membawa maslahat (manfaat yang sempurna) dan kebaikan segala urusan umat Islam
b. Apabila maslahat telah didapat oleh seseorang, maka seluruh cita-cita dan keinginan dunia akhirat akan didapat.
c. Mendapat ampunan Allah SWT menyeluruh bagi dirinya, keluarga maupun kaum muslimin.
d. Menjadi sebab ia, yang membacanya, di cintai dan dikasihi oleh Allah SWT.
e. Termasuk obat penyakit hati (dengki, iri hati, ghibah dsb)
f. Mendapat bimbingan Allah SWT dalam menjalani kehidupan yang lurus.

*Khasiat Dzikir kelima belas.*
Yaa 'aliyyu yaa kabiiru yaa 'aliimu yaa qadiiru yaa samii'u yaa bashiiru yaa lathiifu yaa khabiir (3x)
"Ya Tuhan yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, Maha Mendengar lagi Melihat, Maha Lemah Lembut lagi Maha Mengamati" 3x

a. Setiap nama-nama Allah akan mengantarkan kita kesatu derajat/martabat dari sekian banyak martabat di sisi Allah.
b. Rahasia dzikir Asma'ul Allah yang tak ternilai besarnya dan tak dapat diketahui bagaimana hakekat kemuliaan yang sebenarnya.

*Khasiat Dzikir keenam belas.*
Yaa faarijal ham, yaa kaasyifal gham yaa mal li'abdihii yaghfir wa yarham (3x)
"Wahai Tuhan yang melegakan dari duka cita, lagi melapangkan dada dari duka cita, lagi melapangkan dada dari rasa sempit. Wahai Tuhan yang s**a mengampuni dan menyayangi hamba – hambaNya." 3x

a. Diriwayatkan dari Ummil Mu'minin Aisyah ra.: Ayahku (Abu Bakar Shidiq ra) berkata kepadaku: maukah engkau aku ajari doa yang diajarkan Rasul kepadaku dan diajarkan nabi Isa as. Pada kaum Hawary. Seandainya engkau mempunyai hutang sebanyak gunung uhud niscaya Allah akan melunasinya? Aku menjawab: tentu aku mau, beliau berkata: bacalah dzikir ini (sebagaimana tersebut diatas)
b. Agar Allah SWT menghapuskan kesedihannya.
c. Agar Allah SWT melepaskan dari kesusahannya.
d. Agar Allah SWT mengampuni kesalahannya dan dikasihani-Nya

*Khasiat Dzikir ketujuh belas*.
Astaghfirullaaha rabbal baraayaa, astaghfirullaaha minal khathaaya (4x)
"Aku mohon ampunan Allah Tuhan pencipta sekalian makhluk, aku mohon ampunan Allah dari kesalahan." 4x

a. Maukah kalian aku beritahu tentang penyakit dan obat penyakit kalian? Ingatlah, sesungguhnya penyakit kalian adalah dosa, dan obatnya adalah istighfar. (Hadist)
b. Barang siapa memperbanyak istighfar, Allah akan berikan untuknya ketenangan dari rasa bingung, jalan keluar dari segala kesempitan dan Allah akan memberikan rezekinya dari arah yang tidak terduga. (Hadist)
c. Barangsiapa baca istighfar, tertanam untuknya satu tanaman di surga. (Hadist)
d. Imam Ali Al-Khawwash berkata: Sesungguhnya istighfar itu memadamkan amarah Allah SWT dan tiada yang lebih manjur bagi orang yang diberhentikan dari kerjanya atau dipenjara atau hutangnya lebih dari istighfar

*Khasiat Dzikir kedelapan belas.*
Laa ilaaha illallaah (25/50/100 x)
"Tiada yang wajib disembah selain Allah." (25/50/100 x)

a. Ibnu Abbas ra. meriwayatkan: diatas pitu surga tertulis Laa ilaaha illallaah Muhammad rasulullaah tidak aku siksa orang yang membacanya
b. Ibnu Abbas ra. juga meriwayatkan: sehari semalam adal 24 jam, dan kalimat Laa ilaaha illallaah Muhammad Rasulullaah itu ada 24 huruf. Barangsiapa yang membacanya maka akan melebur setiap satu huruf, dosa dalam satu jam, maka tidak akan tersisa satu dosa pun apabila seseorang membacanya setiap hari atau setiap malam.
c. Barangsiapa yang akhir ucapannya ketika akan mati Laa ilaaha illallaah, maka dia akan masuk surga.
d. Barangsiapa membaca Laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari hatinya dan memanjangkan bacaan sebab mengagungkannya, diampuni baginya 4000 dosa dari dosa besar. Sahabat bertanya : jika dia tidak punya dosa sebanyak itu? Rasul SAW menjawab: Diampuni untuknya dari dosa orang tua, keluarga dan tetangganya. (Hadist)

Khasiat Umum Wirid Ratib Al-Haddad
Habib Abdullah Al-Hadad mengatakan:
a. Barangsiapa menekuni bacaan ratib ini, Allah akan memberikannya meninggal dalam keadaan husnul khotimah.
b. Ratib yang kami susun akan menjaga kota selama ratib tersebut dibaca.
c. Ratib kami ibarat pagar besi mengelilingi seluruh kota yang dibaca didalamnya ratib.
d. Dapat memperkuat dan menyelamatkan akidah atau keimanan seorang muslim dari berbagai macam aliran sesat.

Silahkan di amalkan...

BarakAllahu fiikum. Aamiin...
Allahumma shalli alla sayyidinaa Muhammad

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dzikir Ratibul Haddad posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category