09/07/2022
ابن الذبيحين
IBNU ADZ-DZABIHAINI
Mua’awiyyah mengisahkan bahwa Rasulullah saw. pernah dipanggil oleh seseorang dengan julukan Ibnu adz-Dzabihain yang artinya keturunan dari dua orang yang hendak disembelih.
Siapakah yang dimaksud dengan dua orang yang hendak disembelih tersebut? yang pertama adalah Abdullah, ayahanda Nabi Muhammad saw., dan yang kedua adalah Nabi Isma’il, kakek moyang Nabi Muhammad saw..
BAGAIMANA KISAH PENYEMBELIHAN ABDULLAH?
Suatu ketika, Makkah mengalami paceklik. Masalah ini membuat Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad saw., bingung karena ribuan jamaah haji akan segera datang ke Makkah. Abdul Muthalib mengumpulkan para kabilah Quraisy untuk membicarakan permasalahan ini secepatnya. Di tengah pembicaraan, mereka teringat akan sumur yang pernah ada di dekat Ka’bah, yaitu sumur Zamzam. Sayangnya, sumur itu dikabarkan telah berabad-abad hilang dan tak ada yang tahu persis letak lokasi sumur itu berada.
Di tengah kegalauan Abdul Muthalib, Allah swt. memberikan petunjuk kepadanya. Lewat mimpinya, Abdul Muthalib seolah diberi tahu di mana tempat sumur Zamzam berada. Lantas dia pun mengutarakan maksudnya untuk menggali tempat tersebut. Namun, pembesar Quraisy menentang keras hasrat Abdul Muthalib menggali sumur Zamzam dikarenakan letaknya yang berada di antara dua berhala, Ash dan Nailah. Selain itu, mereka juga mengetahui Abdul Muthalib tidak berdaya karena yang mendukungnya hanya satu orang anaknya, yaitu al-Harits.
Ketika Abdul Muthalib menyadari bahwa hanya sedikit kemampuan yang dia miliki untuk menggali Zamzam, dia pun bernadzar, “Jika aku dikaruniai sepuluh anak laki-laki, dan setelah mereka dewasa mampu melindungiku saat aku menggali Zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka’bah sebagai bentuk qurban.”
Tahun demi tahun, anak-anak Abdul Muthalib pun menjadi besar dan telah genap sepuluh orang. Abdul Muthalib berniat merealisasikan rencananya menggali Zamzam, sambil bersiap-siap mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk pelaksanaan dari nadzar yang dia ucapkan.
Maka diadakanlah undian atas sepuluh anaknya, ternyata yang keluar adalah nama Abdullah, ayahanda Nabi Muhammad. Walaupun undian itu diulang berkali-kali tetap saja nama Abdullah yang keluar. Mengetahui hal itu, masyarakat menolak keras, mereka mengatakan tidak akan membiarkan Abdullah disembelih. Itu karena Abdulllah terkenal dengan hati yang bersih, lembut, memiliki senyuman yang meneduhkan bagi mereka yang melihat, serta anak yang sama sekali tidak pernah menyakiti orang lain.
Abdul Muthalib tidak mampu menghadapi tekanan ini, dan singkat cerita akhirnya Abdullah tidak jadi disembelih, dan sebagai gantinya Abdul Muthalib menyembelih 100 ekor unta untuk menunaikan nadzarnya.
SELANJUTNYA, BAGAIMANA KISAH PENYEMBELIHAN NABI ISMA’IL?
Alkisah, Nabi Ibrahim as. tidak memiliki anak hingga di masa tuanya, lalu beliau berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh,” (ash-Shafaat: 100). Allah swt.mengabulkan doa Nabi Ibrahim dengan menganugerahkan seorang putra yang diberi nama Isma’il.
Sewaktu Nabi Isma’il as. mencapai usia remaja, Nabi Ibrahim as. mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih puteranya Isma’il . Mimpi seorang nabi adalah salah satu bentuk wahyu dari Allah swt., maka perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim as.
“(Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar,’” (ash-Shafaat: 102)
Singkat cerita, Nabi Ibrahim pun berniat menyembelih Nabi Isma’il, saat hendak mengayunkan pedang, Allah swt. menggantikan tubuh Nabi Isma’il as. dengan domba jantan. Peristiwa ini merupakan ujian dari Allah swt., sejauh mana cinta dan ketaatan mereka kepada Allah swt., dan ternyata dalam ujian yang sangat berat ini, mereka lulus.
Nabi Ibrahim as. telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan mengorbankan putranya demi berbakti melaksanakan perintah Allah swt.. Sedangkan Nabi Isma’il as. tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam menjalankan perintah Allah swt. dengan menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan.
Dari sinilah asal mula sunnah berqurban yang dilaksanakan umat Islam setiap Hari Raya Idul Adha di seluruh penjuru dunia.