AlFatih Press

AlFatih Press Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from AlFatih Press, Publisher, Jalan Jimbaran 1A-14 Ruko Daan Mogot Baru Kalideres Jakarta Barat, Jakarta.

18/05/2020

Ringkasan Kebangkitan Bangsa Turki

Insya Allah coming soon..
29/05/2019

Insya Allah coming soon..

Saya jadi curiga, sepertinya hidup di alam kemerdekaan di negara Indonesia ini tidak ada bedanya dengan hidup di jaman H...
26/11/2015

Saya jadi curiga, sepertinya hidup di alam kemerdekaan di negara Indonesia ini tidak ada bedanya dengan hidup di jaman Hindia-Belanda. Tapi sebelum saya telusuri kemiripan-kemiripan antara jaman Indonesia dengan jaman Hindia-Belanda, saya ingin menjawab lontaran orang-orang yang mengatakan “negara ini sudah final”. Pandangan bahwa “negara ini sudah final” akan menghadirkan kesan bahwa keberadaan negara ini dengan semua perangkat hukumnya sudah final dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Padahal kenyataannya tidaklah seperti itu.

Dahulu, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini tidak pernah ada. Dia baru muncul ketika diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebelum wilayah tempat kita berdiam ini dinamai Indonesia, namanya adalah Hindia-Belanda (Netherland Indies). Sebelum orang Belanda datang kemudian membangun Hindia-Belanda di sini, beberapa bagian wilayah ini dikuasai oleh negara Mataram, Demak, Kesultanan Ternate, Tidore, dll. Kalau kita tarik lagi ke belakang, maka akan muncul nama-nama seperti Majapahit, Sriwijaya, Singosari, dll. Yang ingin saya katakan adalah, ternyata negara-negara itu berubah dan berganti. Sistem hukum, sosial, politik, dan perundangannya pun selalu berganti padahal wilayahnya itu-itu juga. Dengan kata lain, perkataan “negara ini sudah final” itu sebenarnya sangat menipu, sebab pada kenyataannya keberadaan negara-negara selalu berubah. Ada yang muncul, ada yang menghilang. Ada yang bangkit, ada juga yang runtuh.


Satu contoh lagi, dulu sebuah wilayah yang luas bernaung di bawah negara Khilafah Islamiyah. Pada tahun 1924, negara yang menaungi wilayah yang luas itu raib, berganti dengan Republik Sekular Turki.

Jadi sebenarnya tidak itu yang namanya ‘final’. Negara ini tidak final, akan selalu ada kemungkinan berubah di masa depan. Siapa tahu!



Indonesia Kok Mirip Hindia-Belanda

Ada sebuah kenyataan yang menyedihkan di negeri kita. Kita menyatakan bahwa kita telah bebas dari penjajahan, namun ternyata banyak kondisi yang ada di masa penjajahan masih harus kita rasakan hari ini setelah kemerdekaan itu kita raih. Padahal bukankah sudah seharusnya kondisi ketika merdeka itu berbeda dengan kondisi ketika dijajah?

Hindia-Belanda adalah sebuah negara koloni Kerajaan Belanda yang wilayahnya terletak di wilayah yang kita sebut Indonesia sekarang ini. Pusat pemerintahan Hindia-Belanda terletak di Batavia (sekarang Jakarta). Kepala pemerintahan tertinggi di Hindia-Belanda adalah seorang Gubernur Jenderal. Jelas sekali, bahwa hadirnya pemerintah Hindia-Belanda di negeri ini tidak pernah bertujuan untuk mensejahterakan inlander (pribumi). Kehadiran mereka murni hanya untuk mengeruk apapun barang berharga yang mereka temukan di negeri ini, kemudian mereka alirkan hanya untuk kepentingan dan keuntungan diri mereka sendiri.

Pada tahun 1830, Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch menetapkan sebuah kebijakan bernama Cultuurstelsel, belakangan mekanisme ini dikenal sebagai Tanam Paksa. Sistem ini mewajibkan siapapun yang memiliki tanah untuk menyisihkan 20% tanahnya guna ditanami komoditas ekspor yang amat dibutuhkan oleh pemerintah Hindia-Belanda, seperti kopi, tebu, dan nila. Hasil panen kemudian dijual kepada pemerintan Hindia-Belanda dengan harga yang ‘sudah ditentukan’ (ngerti kan kenapa saya kasih tanda kutip di situ?). Lebih dari itu, penduduk desa yang tidak punya tanah harus bekerja di lahan-lahan pemerintah sebanyak 75 hari dalam setahun. Aturan tinggal aturan, praktinya ternyata lebih parah dari itu. Lahan penduduk yang dirampas oleh pemerintah ternyata bukan cuma 20% tapi seluruhnya, hasil panennya pun diserahkan tanpa kompensasi. Rakyat yang tidak punya tanah pun wajib bekerja bukan 75 hari, tapi 365 hari.

Karena kebijakan keji ini telah berhasil memakmurkan negeri Belanda, van den Bosch dianugerahi gelar Graaf pada tahun 1839. Baru pada tahun 1870 kebijakan ini dihentikan karena orang-orang Belanda sendiri memandangnya sebagai sebuah kebijakan yang keji (yaiyalah keji!!!).

Kondisi tanam paksa di atas mirip sekali dengan apa yang terjadi di Indonesia sekarang ini. Pada jaman Hindia-Belanda rakyat tidak bisa menikmati sumber daya alam yang sesungguhnya menjadi milik mereka, hal yang sama terjadi pada jaman Indonesia. Berbagai ladang minyak dan barang tambang yang ada di negeri ini tidak bisa dinikmati rakyat karena sudah terlanjur dikuasai oleh korporat-korporat asing dengan legalisasi dari undang-undang pemerintah Indonesia. Korporat-korporat asing seperti Freeport, Newmont, Exxon, Chevron, dll. itulah yang menguasai dan mengeruk sumber daya alam kita, sementara kita sendiri hanya mendapatkan ampasnya. Lihatlah betapa ganasnya limbah tailing yang dihasilkan dari aktivitas penambangan Freeport di Papua. Yang jadi korban adalah rakyat.

Kedua kondisi ini mirip, yang membedakannya hanya satu: pada jaman Hindia-Belanda, orang-orang asing penjajah itulah yang langsung memerintah kita, sementara pada jaman Indonesia, yang memerintah adalah anak-anak negeri kita sendiri, tapi mereka berpihak kepada orang-orang asing penjajah. Di saat yang sama pemerintahan kita itu menipu kita dengan slogan-slogannya. Miris sekali. []

http://alfatihpress.com/blog/indonesia-mirip-hindia-belanda-bagian-1/

0 Indonesia Mirip Hindia-Belanda (Bagian 1) Posted on November 21, 2015 by Sayf Muhammad Isa Saya jadi curiga, sepertinya hidup di alam kemerdekaan di negara Indonesia ini tidak ada bedanya dengan hidup di jaman Hindia-Belanda. Tapi sebelum saya telusuri kemiripan-kemiripan antara jaman Indonesia de…

Manusia adalah makhluk yang sangat terbatas sekali. Manusia bisa saja membuat superkomputer canggih yang dapat menyelesa...
23/11/2015

Manusia adalah makhluk yang sangat terbatas sekali. Manusia bisa saja membuat superkomputer canggih yang dapat menyelesaikan segala jenis perhitungan di dunia ini tetapi belum ada yang dapat mengitung kapan ia akan meninggal atau menyelesaikan perhitungan dengan malaikat maut. Manusia pasti mati. Kita juga dibatasi dalam hal kemampuan. Nobodys perfect, that’s the rules. Setiap manusia mempunyai fungsi kerja dalam suatu peradaban, yang ia pilih. Seorang manusia dalam waktu yang terbatas -average 70 tahun- dan kemampuan yang terbatas, tidak bisa mengerjakan semua hal. That’s the fact.

Waktu kita sama, 24 jam. Walaupun waktu yang diberikan itu sama, tetapi –tentu saja- berbeda cara pemanfaatannya, dan berbeda-beda p**a artinya. Saya dulu sangat menyukai permainan video game –sekarang juga masih s**a-, ketika saya memainkan game balap mobil terkenal, ceritanya untuk mendapatkan license untuk bertanding di turnamen balap eksklusif di permainan itu saya harus menjadi juara pertama pada suatu selection trial race. Tapi saya selalu kalah. Setelah berlatih dan terus berlatih saya akhirnya mampu memimpin balap tersebut selama 3 lap, tetapi ketika final lap, mendekati garis finish, tiba-tiba mobil saya disalip dan saya jadi juara kedua dengan selisih 0.08 detik. Kesal campur sebel, akhirnya saya tidak pernah memainkan game tersebut lagi. Mungkin teman-teman juga sudah tidak asing dengan balap F-1 di televisi, ketika pit stop, 0.1 detik saja sangat berarti dan menentukan bagi mereka. Inilah yang saya sebut berbeda. Penghargaan waktu oleh seseorang akan relatif berbeda tergantung bagaimana ia memandang tujuannya. Lalu, kira-kira bagaimanakah memanfaatkan waktu yang paling efektif? Apakah dengan menjadi pembalap sehingga kita menghargai setiap detik ataukah seperti apa. Sekali lagi jawabnya ada pada tujuan kita.

Tidak ada yang menyangkal bahwa kita manusia lemah dan terbatas, berasal dari pencipta kita, dalam Islam Allah swt. Dan tidak ada yang menolak apabila saya nyatakan ketika kita sudah selesai menjalankan kehidupan di dunia ini kita akan kembali kepada pencipta kita, Allah swt. Tetapi, walaupun banyak orang yang tidak menolak kedua pertanyaan (dari mana dan akan kemana) yang saya kemukakan diatas, kebanyakan tidak mengetahui jawaban pertanyaan untuk apa kita hidup di dunia dan hubungan tujuan hidup dengan darimana hidup ini dan akan kemana setelah hidup. Faktanya adalah bahwa Allah menyertakan sejumlah aturan bagi manusia tentang bagaimana ia menjalankan aktivitasnya ketika Allah menciptakan manusia, dan faktanya lagi adalah bahwa Allah akan menilai setiap aktivitas manusia dengan standar aturan yang diberikannya ketika ia meninggalkan dunia. Hal ini membawa kita pada konsekuensi hidup; taat pada sejumlah aturan Allah jika ingin mendapatkan penilaian yang baik dari Allah swt. dan apabila kita ingin mendapatkan rewards-Nya yaitu surga, dibanding mendapat punishment-Nya yaitu neraka.

Masalahnya lagi, waktu manusia itu terbatas, dan surga itu mahal. Cara satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah dengan menyesuaikan aktivitas kita dengan sejumlah aturan tersebut. Ada 5 kriteria aktivitas kita, yaitu (1) wajib, (2) sunnah, (3) mubah, (4) makruh, (5) haram. Maka kita mesti mendahulukan yang wajib ketimbang yang sunnah, dan yang sunnah ketimbang yang mubah, sedangkan makruh apalagi haram adalah yang selalu kita usahakan untuk tidak dikerjakan. Lalu apabila ada 2 aktivitas fardhu yang bertabrakan, maka yang mesti didahulukan adalah fardhu individu ketimbang fardhu bersama. Dan yang mendesak waktunya dibanding yang leluasa. Tentu saja semuanya berdasarkan aturan Allah.

Singkatnya adalah, bagi setiap insan yang menyadari bahwa ia akan kembali kepada Allah dengan membawa setumpuk kertas ujian yang telah dinilai, maka ia mesti menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah. beribadah disini adalah dalam arti yang luas, bukan ibadah ritual. Ingat, bahwa Allah menurunkan Islam sebagai agama yang sempurna, ia mengatur kehidupan dunia sebagaimana ia mengatur urusan akhirat. Dengan kata lain, kita justru tidak diperintahkan untuk berada sepanjang waktu di dalam mesjid dan berdoa atau shalat, sebagaimana kita tidak pernah diperintahkan untuk bertapa di gunung yang paling tinggi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam Islam, belajar adalah ibadah, kerja adalah ibadah, berpolitik adalah ibadah, tidur adalah ibadah, dengan kata lain: setiap aktivitas seorang muslim bisa menjadi ibadah, yang akan dinilai oleh Allah dan mendapatkan tiket untuk memasuki surga-Nya.
Tapi manusia tetaplah manusia, manusia adalah makhluk tempatnya salah dan lupa, oleh karena itu, seringkali pahala yang sudah mereka tumpuk dengan susah payah akhirnya sedikit demi sedikit habis oleh maksiat-maksiat kecil yang jumlahnya sangat banyak. Oleh karena itu ada beberapa tips untuk memanfaatkan waktu secara cerdas dan tepat.

1. Ngaji (Islam) dan Baca buku
Seringkali kita meremehkan kedua hal yang penting ini, padahal kedua hal ini, jika disadari dan dilaksanakan akan memberikan banyak hal yang luar biasa bermanfat. Dengan membaca dan mengaji kita bisa menambah umur, menghemat umur sekaligus menghemat harta dalam waktu yang bersamaan. Saya beri sedikit illustrasi, buku adalah hasil pengalaman dan pengamatan penulis selama waktu tertentu yang dituliskan di dalam lembar-lembar yang dapat dibaca, berarti ketika kita membaca suatu buku, seolah-olah kita telah mengalami apa yang dialami oleh penulis, minimal berpengaruh dalam cara berpikir kita.

2. Berinvestasilah!
Dalam manajemen finansial, kita harus berusaha sedapat mungkin untuk menambah kolom aset kita, berinvestasi adalah salah satu contohnya. Yang saya maksud dengan berinvestasi adalah bagaimana agar tiket ke surga terus menerus kita kumpulkan tanpa kehadiran kita disana, atau saya lebih s**a mengatakannya membeli tambahan waktu, sehingga seolah-olah waktu kita lebih dari 24 jam. Bahasa keren dari investasi dalam Islam adalah: da’wah. Ketika da’wah kita meluangkan sedikit waktu, tetapi hasilnya luar biasa, setelah itu, bila yang kita da’wahi melaksanakan Islam yang kita sampaikan maka ia berpahala, dan kita pn mendapatkan aliran pahala tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Satu-satunya investasi di dunia yang tak kan pernah merugi. Jenis investasi lain misalnya adalah shadaqah.

Wallahu a’lam bi ash shawab

http://alfatihpress.com/blog/to-manage-things-that-never-turns/

0 To Manage Things That Never Turns Posted on November 21, 2015 by Felix Siauw Manusia adalah makhluk yang sangat terbatas sekali. Manusia bisa saja membuat superkomputer canggih yang dapat menyelesaikan segala jenis perhitungan di dunia ini tetapi belum ada yang dapat mengitung kapan ia akan mening…

Pada suatu ketika, tahun 1480 Masehi, sultan Muhammad al Fatih telah berhasil menaklukan sebuah kota di ujung Italia, be...
23/11/2015

Pada suatu ketika, tahun 1480 Masehi, sultan Muhammad al Fatih telah berhasil menaklukan sebuah kota di ujung Italia, bernama Otranto. Namun tak lama kemudian, beliau segera mempersiapkan kembali pas**an perang yang amat kuat, yang kualitas dan jumlahnya ditingkatkan lebih tinggi daripada penaklukan-penaklukan beliau sebelumnya. Tidak ada satu orang pun yang tahu ke manakah gerangan pas**an perang yang sedang dibangun ini akan digerakkan. Ini memang kebiasaan beliau, selalu merahasiakan tujuan penaklukan beliau selanjutnya. Yang mengetahuinya hanya diri beliau sendiri dan Allah swt.


Namun kaum Kristen Eropa mengetahuinya. Mereka tahu betul bahwa setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel, sutan Muhammad al Fatih pasti akan menaklukkan Roma, sebagaimana janji Rasulullah saw. Dan sultan Muhammad al Fatih telah berhasil menaklukkan Otranto, pas**an besar kali ini pastilah akan beliau arahkan ke untuk menaklukkan Roma. Kalau bukan ke sana, lalu ke mana lagi? Karena didorong oleh kengerian itu, Paus Sixtus IV tega meninggalkan rakyatnya di Roma dan melarikan diri ke Avignon (sebuah kota di selatan Prancis). Setiap hari kaum Kristen berdoa di gereja-gereja dan kapel-kapel.

Ketika pas**an perang untuk menaklukkan Roma itu akan bergerak dari Uskudar, Sultan Muhammad al Fatih jatuh sakit. Penyakit radang sendi yang telah beliau derita sejak tahun 1470 semakin parah. Namun semua itu tidaklah beliau hiraukan. Beliau tetap berangkat berjihad bersama pas**an beliau menuju Roma. Sayangnya, Allah berkehendak lain. Allah memanggil beliau pada tanggal 3 Mei 1481, dalam usia 49 tahun.

Kabar wafatnya Sultan Muhammad al Fatih kemudian tersebar. Duta besar negara eropa pertama yang mengetahui kabar ini berasal dari Venesia, Nicollo Cocco. Kemudian dia mengirim kabar kepada Diego Giovanni Mocenigo, Doge (istilah untuk pemimpin) Venesia, yang tiba tanggal tanggal 29 Mei 1488. Saat akan mengantarkan surat itu, sang kapten bersorak di hadapan Doge, “La grande aquila e’morta!” (elang yang perkasa itu sudah mati). Setelah membaca kabar lengkapnya dari surat yang dikirim Cocco, Doge langsung memerintahkan untuk membunyikan lonceng Marangona, lonceng besar yang ada puncak menara San Marco. Lonceng spesial itu hanya dibunyikan ketika ada momen-momen spesial, seperti matinya seorang doge, menangnya armada Venesia melawan musuh, dll. Dan wafatnya Sultan Muhammad al Fatih dijadikan sebagai salah satu momen khusus yang layak diapresiasi dengan membunyikan Marangona. Tak lama kemudian seluruh lonceng gereja berdentang bersama Marangona untuk memperingati wafatnya sang Grande Turco (orang Turki yang agung).

Berita wafatnya Sultan Muhammad al Fatih pun sampai juga ke telinga Paus Sixtus. Dia segera kembali ke Roma dan menembakkan meriam dari Castel Sant’Angelo, sebuah benteng besar di Tiberius di dekat Basilika Santo Petrus dan Vatikan. Seluruh lonceng dibunyikan dan Paus memimpin prosesi panjang yang melibat seluruh kolose kardinal dan seluruh duta besar dari Basilika Santo Petrus menuju gereja Santa Maria del Popoli. Perayaan meriah digelar selama tiga hari. Ketika berita itu sampai di belahan Eropa yang lain, perayaan-perayaan itu diulangi lagi di sana. Eropa gemetar dan tenggelam dalam euforia, ketika mendengar kabar bahwa Sultan Muhammad al Fatih wafat.

Hal ini menggambarkan kepada kita betapa disegani dan diperhitungkannya beliau sebagai seorang muslim. Setiap gerak beliau begitu menggetarkan kekufuran. Kita akan kembali memiliki pemimpin seperti beliau jika Khilafah Islamiyah kembali ditegakkan. Insyaallah dalam waktu dekat.

http://alfatihpress.com/blog/wafatnya-sultan-muhammad-al-fatih-dan-gegernya-eropa/

0 Wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih dan Gegernya Eropa Posted on November 14, 2015 by Sayf Muhammad Isa Pada suatu ketika, tahun 1480 Masehi, sultan Muhammad al Fatih telah berhasil menaklukan sebuah kota di ujung Italia, bernama Otranto. Namun tak lama kemudian, beliau segera mempersiapkan kembali…

Saya sering sekali mendapatkan fenomena baru yang sangat menarik untuk dikaji, salah satunya adalah apa yang akan saya t...
22/11/2015

Saya sering sekali mendapatkan fenomena baru yang sangat menarik untuk dikaji, salah satunya adalah apa yang akan saya tulis ini, saya memberi nama fenomena baru ini sebagai fenomena “unreasonable fear”, ketakutan yang nggak beralasan.

“Gimana nanti kalau saya udah nikah lalu saya nggak bisa membiayai keluarga saya?”

“Kalau syari’at Islam ditegakkan, nanti ada potong tangan, rajam dan pluralitas nggak terjaga, non-muslim akan dimarjinalisasi!”

“Bayangkan kalau tidak ada partai Islam di pemerintahan, dan tidak ada demokrasi, maka gerakan Islam akan diberangus habis, karena itulah kalian harus berterimakasih pada kami dan pada demokrasi!”

Nah, pernyataan-pernyataan seperti inilah yang saya kelompokkan sebagai unreasonable fear. Terkadang kita selalu menakutkan sesuatu yang belum jelas atau belum pasti, sedangkan bahaya di depan mata yang sudah kita alami tidak kita rasakan. Kita mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu sedangkan menafikkan sesuatu yang sudah tentu. Mari kita mulai kajiannya:

1. “Gimana nanti kalau saya udah nikah lalu saya nggak bisa membiayai keluarga saya dengan layak (miskin)?”

Ini adalah contoh sebuah pernyataan yang belum jelas, karena ciri-ciri pernyataan yang belum jelas mengandung kata-kata seperti: bagaimana nanti… seandainya… bila… andai saja… kalaulah… dan yang semacam dengannya. Berarti ketika seseorang berbicara seperti ini, dia menunjuk pada masa depan (yang tentu saja belum jelas). Unreasonable fear adalah menakutkan sesuatu yang belum jelas tetapi malah menafikkan yang sudah jelas. Ok, kalau ada seseorang yang menyatakan seperti diatas, maka itu adalah kemungkinan masa depan yang belum jelas, tetapi ada fakta yang sudah jelas yaitu: dia belum nikah dan dia belum bisa hidup dengn layak (miskin)!

Banyak orang yang belum menikah beralasan belum cukup materi-lah, belum siap-lah, belum mantap-lah, belum kaya-lah. Itu semua saya katakan unreasonable fear. Pertanyaannya adalah: apakah tidak menikah berkorelasi dengan harta? jawabannya tidak ada korelasinya. Artinya dia mengkhawatirkan seandainya dia menikah maka dia akan menanggung resiko begini dan begitu (hal-hal negatif), tetapi tidak pernah memikirkan resiko yang dia tanggung ketika dia tidak menikah (hal-hal negatif).

2. “Kalau syari’at Islam ditegakkan, nanti ada potong tangan, rajam dan pluralitas nggak terjaga, non-muslim akan dimarjinalisasi!”

Sama seperti pernyataan ini yang menakutkan sesuatu yang belum pasti dan semua pernyataan ini didasarkan pada asumsi bukan fakta. Yang ditakutkan, yaitu kengerian yang ditimbulkan penerapan syari’at Islam adalah belum pasti, malah fakta yang sudah terjadi tidak ditakutkan. Fakta membuktikan justru ketika dalam situasi tidak diterapkannya syari’at Islam, kriminalitas dan kekacauan dimana-mana dan jumlahnya sangat besar.

Data dari kepolisian misalnya, menyatakan selama Tahun 2006 terjadi tindak pidana aborsi sekitar 3,3 juta kasus dan perkosaan meningkat 200%. Data di LPA (Lembaga Pemasyarakatan Anak) Tangerang menunjukkan bahwa kejahatan seksual menempati urutan kedua setelah narkoba.

Di Jakarta, Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Wahyono mengatakan, kejahatan di DKI Jakarta terjadi setiap 9 menit 21 detik. Hal ini merupakan peningkatan dari tahun sebelumnya, 9 menit 33 detik. Jenis-jenis kejahatan yang dilakukan, antara lain, pemerkosaan, pemerasan dan pengancaman, pembunuhan, perjudian, pencurian kendaraan bermotor dan lainnya.

Indonesia juga merupakan negara teratas dibidang cybercrime (UNESCO, 2007). Di dunia internasional juga tersedia fakta yang tidak berbeda, American Demographic Magazine menyampaikan tersedia tidak kurang dari 4,2 juta website p***o yang 100 ribu di antaranya p***ografi anak dan 89% di antaranya berisi kekerasan seksual remaja melalui chat room.

Pada tahun 2006 lalu Kompas sempat mengeluarkan hasil survei yang sangat mengejutkan, yaitu 54% remaja Kota Kembang pernah berhubungan seks, persentasenya paling tinggi dibandingkan kota-kota besar lain, seperti Jakarta (51%), Medan (52%) dan Surabaya (47%).

Komnas Perlindungan Anak (2008) mennyampaikan hasil survei mereka kepada anak SMP, hasilnya 97 persen di antaranya mengaku pernah menonton film p***o 93,7 persen mengaku pernah berciuman serta happy petting alias bercumbu berat, dan yang lebih parah lagi 62,7 persen remaja SMP mengaku sudah tidak perawan lagi

Secara keseluruhan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira menyebutkan, jika sebelumnya kasus konvensional seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan pencurian kasus dari 153.392 kasus, kini menjadi 155.413 kasus di tahun 2008. Artinya ada 425 kasus setiap harinya, dan ini yang dilaporkan, yang tidak dilaporkan tentunya seperti fenomena gunung es.

Di dunia internasional justru lebih parah, sebagai contoh, dalam tulisannya The Most Dangerous Place on Earth, Dr Shahid Qureshi mempublikasikan bahwa di Amerika terjadi pembunuhan terjadi setiap 22 menit, perkosaan terjadi setiap 5 menit, perampokan terjadi setiap 49 detik, pencurian terjadi setiap 10 detik, dan menghabiskan US$674.000.000.000 setiap tahunnya untuk menangani kriminalitas di negaranya.

Aneh bukan, ada seseorang yang menakutkan penerapan syari’at Islam, tetapi tidak menakutkan kejadian-kejadian yang sudah ada di depan matanya dan dilihat dengan mata dan kepalanya sendiri setiap hari.

3. “Bayangkan kalau tidak ada partai Islam di pemerintahan, dan tidak ada demokrasi, maka gerakan Islam akan diberangus habis, karena itulah kalian harus berterimakasih pada kami dan pada demokrasi!”

Contoh bahasan kita yang terakhir adalah pernyataan ini, seringkali beberapa pengemban dakwah yang saya temui menggunakan kata-kata seperti ini sebagai pembenaran atas tindakan mereka yang plin-plan dan tidak jelas. Ini juga termasuk unreasonable fear. Mereka menakutkan sesuatu yang belum tentu adanya, menakutkan sesuatu yang belum pasti terjadi dan membuang jauh-jauh fakta bahwa saat ini justru telah terjadi sesuatu yang jelas-jelas menakutkan dan mengkhawatirkan. Fakta membuktikan bahwa justru dalam demokrasi, Islam dihinakan dan ummat muslim menghadapi berbagai masalah yang sangat pelik serta dalam sistem seperti inilah harakah Islam tidak memiliki izzah.

Ingat, ketika terpilih untuk kedua kalinya menjadi presiden AS di tahun 2003, Bush menyampaikan pandangannya tentang demokrasi “Jika kita mau melindungi negara kita dalam jangka panjang, hal terbaik yang dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi”. Dan atas alasan ”menyebarkan kebebasan dan demokrasi” itulah Irak diserang.

Atas nama demokrasi, AS yang memiliki 10.000 hulu ledak nuklir mendikte negara-negara muslim khususnya untuk tidak mengayakan nuklir dengan NPT (Nuclear Proliferation Treaty), dan membiarkan Israel dan negara-negara yang diinginkannya untuk mengembangkannya.

Dengan restu demokrasi p**a pada tahun berkali-kali BBM dinaikkan walaupun ummat tidak menyetujuinya dan hanya perlu persetujuan MPR dan DPR yang notabene katanya wakil dan suara dari rakyat. Sementara kenaikan BBM hanya menghemat 65 triliun rupiah, pemerintah menghabiskan sekitar 300 triliun untuk pemilu 2009 dan membagikan 700 triliun untuk koruptor kasus BLBI

Dalam demokrasilah justru kecenderungan ummat terhadap partai Islam menurun, Pengamat politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit menilai, jika kita membandingkan Pemilu 1955 dengan Pemilu 1999 terlihat bahwa pemilih partai sekuler meningkat sebanyak 35,6 persen, sedangkan pemilih partai Islam menurun 7,51 persen. Sementara anggota legislatif (DPR) partai-partai sekuler bertambah sebanyak 32,64 persen, sementara anggota legislatif partai-partai Islam menurun sebanyak 9,95 persen. Artinya, ada pembunuhan karakter sistematis yang dilakukan demokrasi terhadap partai Islam dengan membuat partai Islam menjadi partai Islam-sekuler sehingga ditinggalkan oleh basis pemilihnya.

Dan atas peran serta demokrasi, syari’at Islam belum diterapkan sampai sekarang, politik belah bambu antar harakah Islam, penurunan pamor dan elegansi gerak partai Islam, semuanya itu di-amini oleh demokrasi. Saiful Mujani, direktur LSI mengomentari survei yang menunjukkan turunnya kecenderungan masyarakat terhadap partai Islam ”hal ini terjadi karena orientasi nilai politik sekuler di kalangan muslim indo kian menguat. Aktivis islam gagal menerjemahkan nilai politik islam dalam bentuk gerakan dan kekuatan elektoral” (Kompas, 2009)

Dengan tipu daya demokrasi, kemenangan FIS di Aljazair dianulir setelah pada putaran pertama pemilu mereka berhasil mengantongi 80% suara, lalu esoknya muncul pernyataan dari harian Inggris “The Independent”: “Kadang-kadang diperlukan tindakan yang tidak demokratis untuk melindungi demokrasi” . Sama seperti kudeta militer di Turki setelah partai Refah memenangkan pemilu pada tahun 2007. Dan juga politik AS di palestina dengan menarik HAMAS masuk ke dalam parlemen lalu menekan, memenjarakan dan membuang mereka di Gaza. Apakah kita sudah lupa?

Karena demokrasilah, kita diminta mengakui kepentingan-kepentingan asing, mentoleransi kepentingan-kepentingan ummat lain yang berusaha menyesatkan dan memurtadkan umat muslim dengan segala cara mereka, menerima keberadaan ahmadiyah dan segala kesesatannya, membayar hutang-hutang konglomerat dengan pajak yang dipaksakan dan dzalim.

Jadi sebenarnya, pemberangusan kepada partai-partai Islam dan harakah Islam itu telah dilakukan, dan harus dipahami, bahwa pemberangusan ini tidaklah mesti dilakukan secara fisik (anarkis), justru pemberangusan yang dilakukan secara sistematis dan tanpa disadari oleh harakah Islam inilah yang lebih berbahaya. Tetapi fakta yang telah terjadi ini tidak dilihat, malahan sesuatu yang belum jelas dijadikan dalil untuk berbuat.

Yang paling penting. bagi seorang muslim, unreasonable fear ini akhirnya membawa suatu konsekuensi, yaitu bahwa dia lebih percaya dan yakin pada fakta di depan matanya (pragmatis) daripada fakta yang akan dijanjikan oleh Allah SWT (visioner), lebih jauh lagi, dia lebih takut kepada manusia ataupun sesuatu apapun yang bukan Allah dibandingkan rasa takutnya kepada Allah. Dan karena rasa takutnya yang lebih besar kepada manusia ataupun keadaan yang dibisikkan oleh setan, akhirnya dia meninggalkan ketaatan dan mencari dalil untuk membenarkan perbuatannya.

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman (TQS ali-Imraan [3]: 175)

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (TQS al-Maaidah [5]: 44)

Allah-lah dzat yang Mahabaik dan Mahatahu, tiada yang berjalan, terbang, merangkak, ataupun melata diatas bumi ini yang lebih tahu daripada Dia. Dialah yang menentukan apa yang kita bisa dan apa yang kita tidak bisa. Dialah sesungguhnya yang benar-benar harus kita takuti.

Kesimp**annya?

1. Maka menikahlah karena Allah telah menjamin untuk mencukupkan rizqi-Nya dan menolong dengan pertolongan-Nya pada orang yang menikah karena-Nya

Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui (TQS an-Nur [24]: 32)

“Ada 3 golongan manusia yang berhak ditolong oleh Allah, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

2. Maka terapkanlah syari’at Islam karena dengan itu Allah akan menurunkan berkah-berkah dari langit dan bumi dan ummat Islam tidak akan pernah tersesat

maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu (TQS al-Maaidah [5]: 48)

Aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Sesuatu tersebut ialah sesuatu yang jelas yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya (Sirah Ibnu Hisyam II, Hal 588)

3. Maka konsistenlah dengan perjuangan Islam sekalipun perjuangan ini meminta nyawa kita. Bukankah dakwah Rasulullah saw. dan para shahabat menuntut pengorbanan harta dan nyawa? apakah kita merasa lebih istimewa dibandingkan dengan Rasulullah dan shahabatnya sehingga kita tidak perlu merasakan makian, kengerian dan goncangan yang mereka rasakan? Bukankah jihad adalah jalan kita, mati syahid adalah harapan yang selalu kita berdo’a untuk itu sebelum tidur? Apa yang membuat kita takut kepada himpitan dan celaan dalam dakwah? takut terahadap pemberangusan? apakah jalan dakwah ini telah jalan orang-orang yang mencintai dunia? Allahummahfidzna min kulli dzalik..

karena saya akan datang kepada kalian dengan orang-orang yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan (Surat Khalid bin Walid kepada Hormuz-Gubernur Persia)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (TQS al-Baqarah [2]: 214)

Saya harap apa yang saya contohkan dengn 3 kasus diatas dapat diterapkan pada kasus-kasus yang serupa sehingga kaum muslim bisa terbebasdari fenomena semacam ini. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

http://alfatihpress.com/blog/unreasonable-fear/

0 Unreasonable Fear Posted on November 21, 2015 by Felix Siauw Saya sering sekali mendapatkan fenomena baru yang sangat menarik untuk dikaji, salah satunya adalah apa yang akan saya tulis ini, saya memberi nama fenomena baru ini sebagai fenomena “unreasonable fear”, ketakutan yang nggak beralasan. “…

Address

Jalan Jimbaran 1A-14 Ruko Daan Mogot Baru Kalideres Jakarta Barat
Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when AlFatih Press posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to AlFatih Press:

Share

Category